Reynaldi mengajak Khanza ke toko mainan yang berada di Mall itu, sesekali mereka juga foto berdua untuk mengabdikan momen kebersamaan mereka. Mereka tampak bahagia. Setelah itu Reynaldi mengajak Khanza ke sebuah toko perhiasan yang berada di Mall itu, dia ingin membelikan satu buah cincin bermata berlian.
"Aku yakin, kamu pasti senang," ucap Reynaldi dalam hati. Reynaldi ingin membuktikan, meskipun dirinya memiliki wanita idaman lainnya, Reynaldi tetap ingin menjalankan tugasnya dengan baik sebagai seorang suami dan Ayah bagi Khanza.
"Mas, dimana? Aku sudah selesai belanjanya," ucap Nisa di panggilan telepon dengan Reynaldi.
"Tunggu dulu ya! Aku sebentar lagi ke sana," sahut Reynaldi dan Nisa mengiyakan.
Ternyata Nisa bukan hanya membeli satu buah gamis, satu buah atasan, dan juga sandal buat sang bunda. Dia juga membeli satu buah sepatu, tas, 3 set pakaian dalam, dan dua buah gamis. Tak lupa membeli kosmetik. Nisa ingin mencoba berhias dan memperhatikan penampilannya.
"Pasti Mas Reynaldi senang, kalau aku pakai itu," Nisa bermonolog dengan hatinya. Dia masih berusaha untuk mempertahankan rumah tangganya.
Hingga akhirnya Nisa membeli dua buah lingerie berwarna hitam dan merah yang menyala, untuk menarik perhatian suaminya. Berharap suaminya tak akan berpaling darinya.
Reynaldi mengerutkan keningnya, dirinya merasa kaget saat melihat sang istri sudah menenteng banyak kantong belanja. Reynaldi merasa Nisa menjadi berubah, dia tak mengenal sosok wanita di hadapannya. Setelah semalam dibuat tercengang, karena permintaan uang 10 juta dan juga istrinya menjadi liar di ranjang. Kini dirinya dibuat tercengang, karena istrinya belanja macam-macam.
Reynaldi mengajak istri dan anaknya untuk makan, karena mereka sudah melewatkan makan siang. Kini mereka sudah berada di restoran Jepang siap saji, sesuai pilihan Khanza yang menginginkan makanan bento.
"Bun, apa aku boleh naik perosotan?" tanya Khanza kepada sang bunda.
"Boleh, Sayang. Tetapi hati-hati ya," ujar Nisa.
Kini hanya tinggal dirinya dan suaminya. Nisa meraih ponselnya dan juga struk pembayaran dari dalam tasnya. Dia mulai menghitung semua biaya yang dikeluarkan untuk membeli barang-barang tersebut.
"Totalnya menjadi tujuh juta delapan ratus ribu. Ini Mas struknya," ujar Nisa, sambil menyerahkan struk-struk pembayaran.
"Yang, maaf. Aku boleh bertanya sama kamu? Kamu itu kenapa sih? Entah mengapa Mas merasa sikap kamu berubah, Mas sampai tak mengenal sosok Mas sendiri," ungkap Reynaldi.
"Maksud kamu apa Mas, bertanya seperti itu kepada aku? Kamu keberatan aku belanja macam-macam? Kalau keberatan, ya sudah tak usah kamu ganti. Gampang 'kan? Seperti itu saja repot," sahut Nisa ketus.
Reynaldi menjelaskan, bukan seperti itu maksud ucapan dia. Dia hanya mengungkapkan perasaan anehnya, melihat sikap istrinya.
"Apa semua ini bentuk protes kamu ke aku?" tanya Reynaldi yang kini menatap wajah istrinya.
"Protes? Memangnya kamu kenapa? Sebenarnya aku tak ada maksud apa-apa sih. Aku hanya sudah merasa bosan saja, menjadi istri dan menantu yang baik. Kalian saja bisa memperlakukan aku tak baik, mengapa aku tak bisa melakukan hal yang sama ke kamu dan mama kamu," jawab Nisa.
"Sekarang begini saja, Mas! Mas mau bayar semua ini atau tidak?" tanya Nisa tegas, dan Reynaldi menjawab akan membayarnya.
Reynaldi langsung mengambil ponselnya dan mentransfer sejumlah tagihannya. Dia tak ingin bertengkar dengan istrinya, terlebih makanan sudah datang dan Khanza sudah bersama mereka untuk makan.
"Kamu kira, aku suka melakukan hal yang tak biasa aku lakukan? Aku juga sedih Mas, mengapa aku sampai seperti ini. Kamu tahu tidak? Betapa kecewanya aku sama kamu Mas. Apa karena aku hanya orang desa seperti yang sering kali mama kamu ucapkan kepada aku, hingga kamu bebas menginjak-injak harga diri aku? Kamu pikir aku bodoh? Yang bisa kamu bisa permainkan sesuka hati kamu," ucap Nisa dalam dalam hati.
Nisa dan Reynaldi terlihat sama-sama diam, sibuk dengan pemikirannya sendiri. Sesekali Reynaldi melirik ke arah istrinya yang terlihat cuek, dan sibuk dengan makanannya. Reynaldi selesai makan lebih dulu, dan menunggu istrinya selesai makan. Dia ingin memberikan cincin berlian yang dibeli tadi.
"Ayah, aku makannya habis dong," ucap Khanza, dan Reynaldi memuji Khanza anak yang pintar.
Setelah semua sudah selesai makan, sudah mencuci tangan, dan berniat untuk pulang. Reynaldi mengeluarkan satu buah kotak kecil berwarna merah dari saku celananya, dan memberikannya kepada sang istri.
"Apa ini?" tanya Nisa kepada sang suami.
Reynaldi menyuruh Nisa untuk membukanya, dan Nisa langsung terkejut. Saat melihat satu buah cincin bermata satu, mata cincin itu terlihat bersinar.
"Bagus banget, Mas. Makasih ya, Mas! Aku suka banget. Ini matanya berlian ya, Mas? Bersinar banget soalnya," ungkap Nisa. Matanya bersinar-bersinar.
"Pas, Mas. Makasih ya Mas," ungkap Nisa menunjukkan perasaan bahagianya.
"Apa aku harus seperti ini dulu, Mas? Membuat aku mendapatkan cinta suamiku kembali," gumam Nisa dalam hati.
"Mas, kamu mau pulang duluan? Aku sepertinya ingin ke salon dulu deh. Mau merapikan rambut aku, aku juga sudah lama tak facial dan creambath. Mumpung kamu lagi libur, aku ingin memanjakan diri. Nanti aku pulang sendiri saja, takutnya lama bisa berjam-jam," ucap Nisa.
Lagi-lagi perubahan Nisa membuat suaminya tercengang. Istrinya benar-benar berubah. Reynaldi akhirnya memutuskan untuk menunggu istrinya di arena bermain sepuasnya. Dia akan menunggu sampai istrinya selesai.
Nisa ke salon, sedangkan Reynaldi pergi menemani Khanza di arena bermain. Reynaldi duduk di tempat menunggu, sedangkan Khanza asik bermain. Reynaldi menyenderkan kepalanya di sofa, dan memejamkan matanya. Justru bayangan Viona yang hadir di pikirannya.
Padahal dirinya memiliki istri yang sempurna dan juga anak. Kehidupan rumah tangganya juga harmonis, tetapi setan sudah merasuki hatinya. Menyesatkan dirinya ke perzinaan. Hingga dirinya terpikir untuk menghubungi Viona.
Nisa menatap layar ponselnya, dan melihat whatsapp-nya. Memperhatikan nomor telepon suaminya yang terus dalam keadaan online. Dadanya terasa sesak. Suaminya selalu membuat dirinya untuk bahagia, tetapi setelah itu suaminya langsung menyakiti hatinya kembali.
"Sebenarnya Mas Reynaldi selingkuh sama siapa? Apa wanita itu lebih segalanya dari aku? Mengapa dia bisa tergoda seperti itu?" Nisa bermonolog dengan hatinya sendiri.
"Jangan marah dong, Sayangku! Aku 'kan ingin menyenangkan hati istri aku dulu, lusa dia mau berangkat dan aku sepenuhnya milik kamu," rayu Reynaldi. Selama istrinya pergi ke Yogya, Reynaldi sudah memutuskan tinggal bersama Viona.
"Ya, sudah! Besok giliran aku yang shopping ya! Masa iya, hanya Nisa saja yang shopping. Aku juga mau di beliin sama kamu," protes Viona.
"Iya, Sayangku," sahut Reynaldi membuat hati Viona berbunga-bunga.
Nisa sudah terlihat lebih fresh, dengan penampilan rambut baru. Wajahnya juga terlihat segar, tidak kusam lagi.
"Semoga, aku bisa mendapatkan kembali cinta suamiku yang hilang," ucap Nisa sambil melangkahkan kakinya keluar dari salon dan menghampiri ke tempat arena bermain Khanza.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 341 Episodes
Comments
Sunarmi Narmi
Yes....hempaskan pelakor dgn elegan Nisa.....Go job 👍👍👍👍
2024-10-19
0
Ziasfi Anna
lbknya cari tau,ngebatiiin doang dasar oneng
2023-09-13
0
STARLA my journey
namgis n sesek bacany
syukurlah aku bahagia hidup sendiri
srmua pria cendrung musang di dunia nyats
tp emg bnyk yg baik
tp di duniaku Tdk
2023-04-18
0