Reynaldi merasa terkejut dengan nominal yang disebutkan istrinya. Karena sebelumnya sang istri tak pernah bersikap demikian. Nisa adalah tipe istri penurut yang tak banyak keinginan. Dia mau menerima berapa pun yang diberikan suaminya.
"Kenapa terkejut? Bukankah uang itu lebih baik untuk aku daripada diberikan untuk Pelakor?" sindir Nisa membuat Reynaldi tak berkutik.
Sampai saat ini Viona memang tak pernah meminta uang dari Reynaldi, tetapi bukankah Reynaldi tetap harus mengeluarkan uang untuk yang tak penting yang seharusnya untuk keluarganya. Rasa sakit yang dia rasakan, membuat dia ingin bersikap kejam terhadap suaminya.
Reynaldi tak bisa mengelak. Dia terpaksa menuruti keinginan istrinya, agar sang istri tak marah padanya dan meninggalkan dirinya. Reynaldi menuruti keinginan istrinya, mentransfer sejumlah uang yang diminta istrinya. Tentu saja hal itu membuat Nisa tersenyum.
"Sudah aku transfer ya. Ingat ya jangan pulang lama-lama, nanti aku kangen sama kalian," ucap Reynaldi.
"Baiklah, suamiku Sayang. Terima kasih transfernya. Aku bahagia sekali, membuat aku semakin cinta sama kamu," goda Nisa. Jemari Nisa berjalan menyusuri wajah Reynaldi dan turun menyusuri leher dan tubuh Reynaldi. Membuat tubuh Reynaldi berdesir hebat. Membangkitkan hasrat kelelakian Reynaldi.
"Sayang, aku menginginkannya! Beri aku bekal dulu dong," ucap Reynaldi dengan suara yang sudah terdengar berat.
Malam ini Nisa tampak liar tak seperti biasanya, membuat suaminya semakin menggila. Sebenarnya Nisa tak ingin melakukan hal ini, melakukan seperti seorang ja*lang yang memuaskan pelanggannya.
"Kamu luar biasa Sayang, malam ini," puji Reynaldi.
"Oh, ya? Lebih luar biasa aku atau ja*lang kamu?" sindir Nisa membuat Reynaldi salah tingkah, merasa malu.
"Terus saja bahas yang tak penting. Masih saja berpikir aku punya memiliki wanita idaman lain. Ngapain juga aku mencari kepuasan lain, jika istriku sudah sangat sempurna," ungkap Reynaldi sambil memeluk tubuh indah istrinya. Nisa memiliki postur tubuh ideal, tubuh yang langsing dan tinggi badan 165 centimeter. Memiliki kulit berwarna putih dan mulus. Bisa dikatakan sempurna. Seharusnya Reynaldi tak perlu mencari lagi.
Sedangkan Viona memiliki tubuh yang lebih padat dan berisi. Dia juga memiliki payu*dara yang lebih besar dari sang istri. Bukan itu saja, dia memiliki sensasi liar di ranjang. Tentu saja membuat Reynaldi menyukainya. Namun, malam ini Reynaldi menyukai apa yang dilakukan istrinya.
"Sayang, hari ini aku ada rencana kemana?" tanya Reynaldi kepada sang istri sambil menikmati sarapan pagi bersama istri dan anak tercinta.
Pagi ini Nisa tak membuatkan sarapan pagi untuk suaminya. Dia lebih memilih membelikan nasi uduk untuk dirinya, suaminya, dan juga anaknya. Dia tak lagi memikirkan mertuanya makan apa. Jika mertuanya bisa bersikap jahat kepadanya, mengapa dirinya tak bisa? Selama ini, dirinya sudah berusaha untuk sabar.
"Lihat kelakuan istri kamu. Dia tak lagi membuatkan sarapan untuk kamu. Kemarin pun dia tak memasak makanan untuk kami makan. Dia memilih pulang telat dan membeli makanan di luar," ujar Mama Ratih yang tiba-tiba saja datang menghampiri meja makan dan mengoceh.
"Apa benar itu Sayang yang diucapkan Mama?" tanya Reynaldi yang kini menatap ke arah istrinya.
Awalnya Nisa tampak terlihat cuek, tak mempedulikan ucapan ibu mertuanya. Dia lebih memilih untuk fokus makan. Namun, sang suami menunggu jawaban darinya.
"Iya, mulai kemarin aku sudah tak memasak lagi untuk makan satu rumah. Lagi pula, bukannya Mama kamu tak menyukai masakanku? Masakan menantu yang tak inginkan. Lantas, untuk apa aku harus memasak lagi? Lebih baik uang belanja itu aku tabung, untuk membeli keperluan aku," sahut Nisa ketus.
"Kau dengar sendiri 'kan Rey? Istri kamu itu sudah berani dengan Mama kamu sendiri. Lama-lama terlihat 'kan sifat aslinya? Untuk apa kamu pertahankan lagi wanita itu, lebih baik kau kembali dengan Viona. Yang jelas-jelas sepadan dengan kita," sindir Mama Ratih.
"Oh, jadi Viona namanya? Ya sudah, kalau Mas ingin bersamanya. Ceraikan aku sekarang juga!" ucap Nisa ketus. Semua terbukti. Dia yakin semua ini andil ibu mertuanya yang tak pernah menyukai dirinya, yang mencari wanita lain untuk anaknya.
Reynaldi terlihat sangat marah dengan sang Mama, karena membahas masalah Viona. Memperkeruh suasana, membuat rumah tangga dirinya dengan Nisa semakin memanas. Dia tak menyangka kalau Mama-nya akan mengungkapnya di depan Nisa.
"Dengar aku Nis, semua yang di ucap Mama itu tak benar! Aku tak memiliki hubungan sama wanita mana pun. Ku mohon, jangan tinggalkan aku!" pinta Reynaldi kepada Nisa.
Nisa tak mempedulikan ucapan suaminya, dia memilih untuk naik ke kamarnya. Hatinya sudah teramat sakit.
"Aku ini memangnya salah apa sih Ma? Sampai Mama sebegitu bencinya dengan aku? Padahal selama ini, aku selalu berusaha menjadi menantu yang baik untuk Mama. Meskipun Mama selalu bersikap tak baik kepada aku. Apa karena aku tak sepadan dengan anak kamu? Hingga kamu begitu benci kepada aku. Apa aku tak patut mendapatkan kebahagiaan, karena aku terlahir dari keluarga sederhana," ucap Nisa diiringi isak tangis.
Nisa tak mampu membendung perasaannya lagi. Air matanya semakin mengalir deras. Hatinya terasa sakit, dan dadanya terasa sesak.
"Ma, kenapa Mama bicara seperti itu kepada Nisa? Mama dengarkan kalau Nisa meminta pisah dengan aku? Sampai kapan pun aku tak pisah sama dia. Untuk urusan memasak makanan untuk satu rumah ini, Rey setuju dengan ucapan Nisa. Selama ini Rey sudah mempekerjakan ART untuk bekerja di sini, ya sudah dia saja yang memasak. Karena Nisa di sini bukanlah seorang pembantu, tetapi dia adalah istri aku," ucap Reynaldi.
"Lagi pula apa yang diucapkan Nisa memang benar, bukankah Mama memang tak pernah menyukai masakan Nisa? Percuma saja dia memasak, yang ada justru menjadi mubazir," ucap Reynaldi lagi. Membuat Mama Ratih merasa kesal. Karena anaknya lebih membela Nisa daripada orang tuanya sendiri.
Awalnya, setelah sarapan pagi Reynaldi berniat akan langsung berangkat bekerja. Namun, tragedi di meja makan membuat Reynaldi merasa tak tega harus meninggalkan istrinya sendiri. Dia yakin, kalau saat ini istrinya pasti sedang merasa sedih. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk izin tidak pergi ke kantor.
Reynaldi menghampiri sang istri yang sedang menangis di ranjang. Lagi-lagi mama-nya membuat istrinya menangis. Padahal selama ini Reynaldi sangat tahu, kalau istrinya selalu bersikap baik kepada mama-nya. Dia yakin, apa yang dilakukan saat ini oleh istrinya adalah sebuah bentuk protes kepada mama-nya. Sebagai suami yang baik, tentu saja dia akan membela istrinya. Terlebih istrinya berada di posisi yang benar. Dia sangat tahu sifat istrinya.
"Aku mengerti perasaan kamu saat ini, pasti hati kamu merasa sakit. Maafkan Mama aku ya! Tak sepantasnya dia bicara seperti itu kepada kamu," ucap Reynaldi sambil mengelus rambut istrinya dengan lembut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 341 Episodes
Comments
Sunarmi Narmi
Wau...pelakor lebih gemoy dn semok bahenol to..../Facepalm//Facepalm//Facepalm/..tmbah susu besar...semua laki" jls mau Thor...pinter jg author nya /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
2024-10-19
0
Shinta Dewiana
cengeng....tu si sok perhatian...padahal pecundang..
2024-05-29
0
akuatya
nisa ini tipe istri indosiar apa apa nangis cengeng bgt Taj wkwk
2024-05-25
0