"Aku pamit pulang dulu ya," ucap Reynaldi.
Viona menampakan wajah tak suka, dia pun enggan melepaskan pelukannya. Seakan dirinya melarang Reynaldi untuk pulang ke rumah.
"Sabar ya, besok aku jemput kamu ya pulang kerja! Sekarang aku harus pulang dulu, aku sudah berjanji sama Khanza akan pulang hari ini." Reynaldi mencoba memberi pengertian kepada kekasihnya itu. Karena bagaimanapun, dia sudah memiliki seorang istri dan juga anak.
Reynaldi baru saja sampai di rumah. Melihat sang ayah pulang, tentu saja Khanza sang anak sangat bahagia. Dia langsung berlari menghampiri sang ayah. Sebelum hadirnya Viona, hubungan Reynaldi dengan sang anak sangat dekat. Semua waktunya tercurah hanya untuk keluarganya.
"Khanza, ayah kamu itu baru pulang. Biarkan ayah kami istirahat dulu! Nisa, kamu didik anak kamu itu!" celetuk Mama Ratih.
Nisa langsung mengajak Khanza ke kamarnya, tetapi dia berpesan kepada sang anak agar tak mengganggu sang ayah yang baru pulang. Reynaldi sudah masuk lebih dulu, bersikap tak peduli kepada anak dan istri. Sebelumnya dia tak pernah bersikap seperti ini, Reynaldi selalu berada di depan untuk membela anak dan istrinya dari sang mama.
"Ayah, oleh-olehnya mana? Ayah aku kemarin beli boneka baru, bagus tidak Yah boneka aku?" tanya Khanza kepada sang ayah.
Khanza ikut naik ke ranjang, menghampiri sang ayah sambil menunjukkan boneka yang dia beli kemarin saat ke Mall. Bukannya mendapatkan pujian dan perhatian dari sang ayah, dirinya justru mendapat bentakan dari sang ayah.
"Mas, kamu kok kasar sih sama anak? Lihat, Khanza sampai menangis karena di bentak kamu," tegur Nisa kepada sang suami. Dirinya sampai melongo melihat sikap suaminya kepada sang anak. Selama ini suaminya tak pernah bersikap seperti itu. Justru, jika dia memarahi Khanza suaminya pasti langsung mengingatkan tak boleh bersikap keras kepada anak.
"Makanya kamu didik anak kamu! Kamu lihat 'kan kalau aku baru saja pulang, aku ini di sana kerja bukan santai. Aku ngantuk, ingin tidur," sahut Reynaldi.
Untuk menutupi kesalahannya, Reynaldi justru bersikap dingin. Harusnya yang bersikap seperti itu adalah Nisa. Awalnya Nisa berniat ingin bertanya kepada suaminya, tentang kebohongan yang dilakukan suaminya. Bagaimana dia bisa bicara, jika sikap Reynaldi yang seakan menolak untuk berbicara dengannya.
"Bun, ayah kok sekarang berubah, sih? Ayah menjadi galak. Apa ayah sudah tak sayang lagi sama aku?" tanya Khanza kepada sang Bunda.
"Kok Khanza bicara seperti itu? Kata siapa ayah tak sayang sama kamu? Ayah itu baru pulang, ingin beristirahat. Bukan tak sayang sama Khanza," sahut sang bunda lembut.
Meskipun dirinya pun merasakan hal yang berbeda dari suaminya, Nisa berusaha agar Khanza tak membenci ayahnya. Dia harus memberi pengertian kepada sang anak.
"Mengapa aku merasa asing dengan suamiku sendiri? Aku merasa berbeda berada di dekatnya. Bahkan Khanza pun merasakan hal yang sama. Sampai dia bilang, ayahnya tak lagi menyayangi kamu." Nisa bermonolog dengan hatinya.
Tatapannya kini mengarah ke wajah suaminya. Nisa terus memandangi wajah suaminya, tanpa sadar air matanya menetes satu persatu. Nisa menahan rasa sesak di dadanya. Dia takut, kalau ucapan mertuanya menjadi kenyataan. Untungnya saat itu Khanza sudah tidur.
"Jika memang benar apa yang dikatakan mertuaku, aku harus apa? Ya Allah aku mohon, tolong beri aku kesabaran. Semoga hal itu tak pernah terjadi di rumah tangga kami! Tolong lindungi suami aku, di mana pun dia berada," ucap Nisa dalam hati.
Baru saja dirinya hendak memejamkan matanya, menyusul suami dan anaknya. Ponsel Reynaldi berdering, tetapi yang punya masih saja tertidur pulas. Hingga akhirnya Nisa bangkit dari ranjang dan berjalan mengambil ponsel suaminya yang masih berada di saku celananya.
"Di password?"
Tak biasanya sang suami mengunci ponselnya dengan password. Kecurigaan Nisa semakin bertambah kepada sang suami. Dia yakin kalau suaminya memiliki rahasia, yang tak ingin diketahui dirinya.
"Nomor siapa ini?"
Nisa tampak ragu untuk mengangkatnya, dia takut kalau nantinya sang suami marah kepadanya. Hingga akhirnya dia memilih untuk membangunkan suaminya. Berkali-kali dia membangunkan suaminya, tetapi suaminya seperti orang yang sedang pingsan.
"Ya ampun Mas, kamu kok tidur seperti orang pingsan saja? Memangnya kemarin di sana kamu tak tidur," gerutu Nisa.
Sampai akhirnya, ponsel suaminya berdering kembali. Hingga akhirnya dia mencoba mengangkatnya.
"Ay ...," ucap Viona memulai pembicaraan.
"Si-siapa kamu?" tanya Nisa, dengan suara yang bergetar. Nisa tampak shock. Saat mendengar suara wanita yang memanggil suaminya Ay.
Viona memilih mengakhiri panggilan, sama halnya dengan Nisa. Viona pun merasa kaget, karena ternyata Nisa yang mengangkat telepon darinya.
Hati Nisa terasa panas, hingga akhirnya dia membangunkan suaminya dengan kasar. Baru kali ini dia bersikap seperti ini kepada suaminya, dia sangat marah. Dia merasa sedih.
"Mas, bangun! Bangun, Mas!"
Nisa terus membangunkan suaminya, menggoyang-goyangkan tubuh suaminya. Hingga akhirnya perlahan Reynaldi membuka matanya.
"Kamu itu apa-apaan sih? Kamu tahu 'kan, kalau suami kamu itu sedang tidur?" bentak Reynaldi.
"Ini kenapa ponsel kamu dikunci, Mas? Selama ini kamu tak pernah memakai password, kamu tak pernah mempunyai rahasia dengan aku. Ini nomor siapa, Mas? Sejak tadi dia menghubungi kamu, dia. memanggil kamu dengan sebutan Ay," ungkap Nisa.
Untuk menutupi kesalahannya, Reynaldi justru terlihat lebih marah. Dirinya merasa tak suka, karena istrinya mengangkat telepon ponsel miliknya.
"Untungnya aku sudah memakaikan password di ponsel aku, jika tidak pasti kamu sudah mencari tahu semuanya. Yang, suami itu juga memiliki sebuah privasi, yang tak semua harus diketahui istrinya. Teman-teman aku di kantor juga sama kok, banyak yang menggunakan password di ponselnya. Sudahlah, hal sepele saja kau ributkan!" Reynaldi mengelak.
"Terus, siapa wanita itu?" cecar Nisa kembali. Dia. Masih butuh penjelasan dari suaminya.
"Paling juga, orang salah sambung. Sudahlah, hal sepele saja kamu jadikan besar," sahut Reynaldi ketus.
"Aku tahu, kamu itu sedang bohongin aku 'kan Mas? Diam-diam, kamu bertemu dengan wanita lain," desak Nisa.
"Oh, sekarang kamu sudah berani menuduh suami sendiri? Harusnya kamu mikir dong, aku ini kerja untuk keluarga! Mana ada waktu aku untuk selingkuh. Berangkat pagi dan pulang selalu malam, sabtu minggu tugas keluar kota. Bagaimana aku berselingkuh? Dosa kamu menuduh suami menjalin hubungan dengan wanita lain," celetuk Reynaldi. Reynaldi memilih untuk mengelak, dengan berkata bohong kepada istrinya.
Nisa menjelaskan kepada suaminya, kalau dirinya sempat menghubungi Adi sang asisten suaminya. Namun, Adi mengatakan kalau dirinya sedang tak ada tugas kantor. Lagi pula jika Reynaldi pergi, pastinya Reynaldi akan mengajak Adi kemana pun dia pergi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 341 Episodes
Comments
Shinta Dewiana
nisa lo kan pinter...masak sih enggak lo selidikin dulu...jgn oon lah..
2024-05-29
1
fifid dwi ariani
trus ceris
2023-02-09
0
Teh Yen
jd sebel aku smaa.reynaldi hanya karena cinta massa lalu blom kelar sampai menelantarkan ank istri esmosi jiwa aaah bacanya 😤😤😤
2022-11-29
1