"Kamu tak kerja Rey? Ini 'kan hari kerja," ujar Mama Ratih.
"Iya, aku hari ini cuti. Kemarin-kemarin aku sibuk terus, hari ini aku ingin mengajak Khanza ke arena bermain di Mall," sahut Reynaldi.
"Ya ampun Rey kamu sampai segitunya, mau mengajak Khanza main saja sampai segala cuti. Seperti ada urusan penting saja. Nisa, lain kali anak itu dididik! Jangan dibiasakan seperti itu, mengganggu Ayahnya kerja. Nanti kalau Ayahnya dipecat, gimana? Tau rasa kalian," tegur Mama Ratih.
"Sudahlah Ma, tak perlu terlalu banyak ikut campur urusan rumah tangga anak. Mereka 'kan sudah dewasa, biarkan saja! Bagus justru kalau Rey menyadarinya, Papa lihat memang akhir-akhir ini dia sering kali pulang malam dan Sabtu Minggu kemarin kerja juga. Karier penting, keluarga juga jangan dilupakan," ucap Papa Faisal.
"Papa ini, selalu saja belain si Nisa. Belain itu anak sendiri, kurang kerja keras apa coba si Rey? Banting tulang berangkat pagi pulang malam, Sabtu Minggu juga kerja. Tak pikir rasa lelah lagi, berjuang demi keluarga. Ini yang diperjuangkan justru tak tahu diri, masih saja menuntut ini itu," celetuk Mama Ratih.
Rey sang Pahlawan kesiangan tentu saja langsung membela istrinya, demi mengambil hati istrinya menutupi kedoknya. Padahal dia punya rencana tersendiri mengapa dia mengajak anak dan istrinya pergi di saat jam cuti. Dia berencana Sabtu dan Minggu ini, waktu untuk Viona. Dia sudah berjanji akan bersikap adil.
"Sudah, sudah! Pagi-pagi malah meributkan hal yang penting. Anak kita sudah berumah tangga, kita sebagai orang tua harus mendukung anak melakukan yang baik untuk anaknya dan mengingatkan anak kita jika dia kalau menjalankan tugasnya sebagai suami. Jangan malah menggurui atau membela anak yang salah. Wajar jika Nisa menuntut hal itu. Papa yakin, kamu juga kalau menjadi Nisa pasti protes. Tak mungkin tidak, istri model kamu. Papa pulang telat sedikit saja, langsung di mengoceh mulut kamu," sahut Papa Faisal.
Selama 5 tahun Nisa selalu sabar menghadapi sikap ibu mertuanya, dia hanya memendam perasaannya dalam hati. Dia mencoba untuk bertahan, meskipun hatinya terasa sakit mendapatkan penghinaan dari ibu mertuanya.
Rey mengajak Khanza dan Nisa ke atas, untuk menghindari ocehan dari mama-nya.
"Yah, kenapa sih nenek selalu saja bicara ketus sama Bunda? Padahal Bunda itu tidak salah. Kenapa nenek selalu bersikap jahat sama kita? Memangnya kita salah apa? Khanza tak suka memiliki nenek seperti itu. Tak seperti Nenek Anita yang selalu menyayangi Khanza, Nenek Anita juga tak pernah marahin aku," ungkap Khanza.
"Khanza Sayang, Nenek Ratih bukan jahat dan tak suka sama kita. Gaya bicara dia memang seperti itu. Setiap orang memiliki gaya bicara yang berbeda. Jadi, kita sebagai makhluk sosial, kita harus menghargai perbedaan itu. Kata siapa Nenek Ratih tak sayang sama Khanza? Nenek Ratih sayang juga kok sama Khanza. Sudah ya Khanza jangan sedih lagi, Ayah dan Bunda 'kan sayang sama Khanza. Sekarang saja Ayah mau mengajak Khanza main. Benar 'kan Ayah?" tanya Nisa kepada Rey dan Rey hanya menganggukkan kepalanya.
Ada perasaan bersalah yang dirasakan Reynaldi, begitu jahatnya dia merenggut kebahagiaan anak dan istrinya. Demi untuk kebahagiaan dirinya sendiri. Sungguh egois sekali dirinya.
Tawa riang kebahagiaan mengiringi kebersamaan Reynaldi bersama Khanza. Khanza terlihat sangat senang. Senyuman terbit di sudut bibir Nisa. Semoga kecurigaan dan rasa takut kehilangan cinta suaminya, tak menjadi kenyataan.
Kini mereka sedang dalam perjalanan menuju Mall, mereka adalah pasangan yang harmonis dan keluarga yang bahagia. Namun, itu dulu. Sebelum hadirnya Viona di hidup Rey. Kini cinta suaminya telah terbagi untuk wanita lain. Mengkhianati pernikahan mereka, diam-diam suaminya bersetubuh dengan wanita lain.
"Khanza senang sekali, bisa jalan-jalan lagi sama Ayah. Terima kasih Ayah, Khanza sayang sama Ayah," ucap Khanza sambil mendaratkan kecupan di pipi sang ayah.
"Kok Ayah saja yang di cium? Bunda kok tak di cium? Memangnya Khanza hanya sayang sama Ayah saja? Tak sayang Bunda?" sindir Nisa.
"Sayang dong! Justru Sayang banget sama Bunda. Nanti, kalau aku sudah dewasa. Aku ingin menjadi seperti Bunda yang menyayangi suami dan anaknya. Aku juga ingin memiliki suami seperti Ayah yang menyayangi anak dan istrinya. Ayah jangan buat Bunda menangis lagi ya! Aku tak tega melihat sedih," ungkap Khanza dan Rey hanya menganggukkan kepalanya.
Wajahnya seakan tertampar oleh ucapan sang anak. Rey berjanji dalam hatinya, untuk bisa bersikap adil dengan keduanya. Dia tak ingin menyakiti hati istrinya lagi, dengan berkata kasar. Meskipun di belakang istrinya dia berselingkuh, dia tetap menjalankan tugasnya sebagai suami dan Ayah dan baik untuk keluarga kecilnya.
Akankah Rey tega merebut kebahagiaan anaknya? Menghilangkan tawa riangnya berganti kesedihan, karena perbuatan dirinya. Tentu saja Rey tak ingin melakukan hal itu. Anaknya tak berdosa dalam hal ini, dia tak ingin anaknya menjadi korban.
"Ayah, Bunda," teriak Khanza memanggil kedua orang tuanya. Dia sangat bahagia melihat kemesraan orang tuanya lagi. Khanza sedang naik komedi putar. Sedangkan Rey tampak merangkul sang anak. Tak akan ada yang percaya, jika rumah tangga mereka ada pengkhianatan dari suaminya.
"Makasih ya Mas, aku bahagia sekali melihat Khanza bisa tertawa seperti itu," ucap Nisa dan Rey hanya menganggukkan kepalanya.
"Yang, aku ke toilet dulu ya," ucap Rey kepada sang istri dan Nisa menganggukkan kepalanya.
Reynaldi berniat menghubungi Viona, agar tak merusak momen kebersamaan dirinya dengan Nisa dan juga anaknya. Inilah waktunya untuk bisa menghubungi Viona, karena setelah di rumah Rey tak mungkin bisa menghubungi Viona.
"Ay, kamu di mana? Kok kamu pakai baju bebas? Memangnya kamu hari ini tidak bekerja? Kamu lagi di Mall ya?" Serentetan pertanyaan terlontar dari bibirnya.
"Iya, hari ini aku cuti. Aku lagi ada di Mall, lagi mengajak Khanza dan Nisa main. Semalam aku sempat bertengkar sama dia, dia sudah mulai mencurigai hubungan kita. Hingga akhirnya aku berbohong saja. Aku bilang sama dia kalau kamu itu lagi ada masalah sama suami kamu, terus kamu minta tolong sama aku. Aku juga bingung, kok dia bisa tahu kalau aku semalam tidak lembur dan Sabtu Minggu kemarin bukan tugas kantor," ujar Rey membuat wajah kekasihnya cemberut.
"Enak dong bisa bermesraan sama istri kamu di belakang aku? Pasti kamu juga masih berhubungan suami istri 'kan sama Nisa? Terus, fungsinya aku apa? Ya sudah besok-besok kalau kamu pengen, minta saja sama istri kamu," ujar Viona ketus.
Rey dapat melihat kecemburuan Viona, wajah terlihat kesal. Karena mereka kini melakukan panggilan video. Rey berbohong kepada Viona, kalau dirinya sudah tak lagi berhubungan suami istri dengan Nisa. Rey memohon agar Viona jangan marah padanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 341 Episodes
Comments
Sunarmi Narmi
Ini jg Thor..anak 4 thun ngak mungkin bisa ngomong sprti itu....maaf masukan aja 🙏
2024-10-19
0
Shinta Dewiana
binatang kalian...pezina
2024-05-29
0
Windarti08
mana bisa pelakor cemburu pada istri sah, melarang sang suami untuk berhubungan dengan istri sahnya yg jelas-jelas halal, yg ada justru dilarang dan haram hukumnya Klondike berhubungan sama situ!😡
geran, jaman sekarang pelakor lebih galak dan ganas daripada istri sah🤦♀😏
2023-04-06
3