Sikap dingin istrinya membuat dirinya merasa serba salah. Dia yakin kalau istrinya saat ini sedang marah besar, merasa sangat kecewa. Karena selama ini istrinya tak pernah seperti itu. Nisa istrinya adalah wanita yang lemah lembut, sabar, dan penutur. Saat ini dirinya seperti memberontak, sebagai bentuk protesnya kepada sang suami.
"Ah, pusing," ucap Reynaldi sedikit berteriak.
Reynaldi terlihat mengacak-acak rambutnya, dia merasa pusing dengan hidup yang dia buat sendiri. Akibat keserakahan dirinya, yang menginginkan keduanya. Padahal dulu hidupnya tenang, tentram, dan damai. Memiliki istri yang menjalankan tugasnya dengan baik sebagai seorang istri.
Perasaan itu hanya sesaat, semuanya berubah saat Viona menghubungi dirinya. Mengirimkan pesan mesra untuknya.
"Selamat pagi kekasih hatiku, calon suami aku, calon imam aku, dan laki-laki yang sangat aku cintai. Aku merindukan kamu," tulis Viona di pesan chat dengan emoticon love. Membuat Reynaldi tersenyum, rasa salahnya kepada sang istri musnah sudah.
"Aku juga merindukan kamu. Rey junior kangen juga sama kamu," sahut Reynaldi. Percakapan yang tanpa sadar telah menjerumuskan Rey kepada perzinahan. Padahal semua sudah dia dapatkan dari istrinya. Namun, dia masih saja mencari kepuasan dari wanita lain.
Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk bertemu, padahal Rey tahu kalau saat ini istrinya sedang marah dan mencurigai dirinya. Namun, dia tak mempedulikannya lagi.
"Nanti selepas pulang kerja, aku akan menjemput kamu di tempat kerja kamu. Sampai ketemu nanti, tunggu aku sampai datang ya," ujar Reynaldi, tentu saja hal itu membuat Viona merasa senang.
"Yes, akhirnya kamu datang menemui aku," Viona bersorak gembira di atas penderitaan wanita lain. Padahal dia sama-sama seorang wanita.
"Sekarang kamu benar-benar berubah Mas. Biasanya, setiap kamu sampai kantor. Kamu langsung menghubungi aku. Kalau aku marah, kamu selalu membuat aku tersenyum kembali. Aku benar-benar tak mengenal sosok suami aku yang sekarang," ucap Nisa lirih.
Setelah mengantarkan Khanza ke sekolah, Nisa kembali ke rumah. Namun, akhir-akhir ini dia menjadi tak bersemangat untuk melakukan apapun. Dia lebih memilih langsung masuk ke kamar, membaringkan tubuhnya. Merilekskan tubuh dan pikirannya. Akhir-akhir ini dia sedang dirundung kesedihan.
Suaminya sudah banyak membuat dirinya menangis. Namun, semakin hari sikap suaminya semakin menjadi. Entah sampai kapan dia memiliki kesabaran, Nisa juga merasa tak tega jika anaknya harus kehilangan sosok ayah di hidupnya.
"Selama ini aku selalu sabar menghadapi penghinaan Ibu kamu, karena kamu selalu menguatkan aku. Namun, jika kamu terbukti mengkhianati aku. Aku tak akan segan-segan untuk pergi dari hidup kamu. Tak ada yang perlu aku pertahankan. Untuk apa aku berjuang sendiri, sedangkan kamu justru menghancurkan semuanya," ucap Nisa dalam hati.
"Ayo Nis, kamu harus menjadi wanita yang kuat! Kamu jangan lemah seperti ini, semua ini justru akan membuat kamu semakin terpuruk. Justru kamu harus bisa tunjukkan, betapa menyesalnya dia jika kamu pergi dari hidup kamu," Nisa bermonolog dengan hatinya.
Nisa menatap wajah dan seluruh tubuhnya di depan cermin, dia memutar-mutar tubuhnya melihat dengan seksama apa kekurangan dirinya. Meskipun bibir berkata dirinya harus kuat, tetapi hati tak bisa membohonginya. Air matanya terus menetes. Hatinya terasa sakit dan dadanya terasa sesak.
Kakinya seakan tak memiliki kekuatan untuk bertumpu, Nisa bersimpuh di lantai. Hatinya saat itu terasa rapuh.
"Kamu tega, Mas! Kamu yang buat aku jatuh cinta kepada kamu, dan kamu juga membuat aku menangis. Dimana cinta yang kamu miliki dulu untuk aku," ucap Nisa diiringi isak tangis.
Nisa mencoba menghapus air mata di wajahnya, dia berusaha untuk kuat menatap dunia demi buah hatinya.
"Apapun yang terjadi nanti kepada aku, aku ikhlas ya Allah. Aku serahkan semuanya kepada kamu ya Allah."
Untuk menenangkan hatinya, Nisa berniat untuk pulang ke rumah orang tuanya yang berada di Yogyakarta. Sudah lama dia tak mengunjungi Bundanya. Saat ini Bunda hidup sendiri di kampung, karena Nisa dan sang kakak keduanya menetap di Jakarta. Keduanya mendapat jodoh orang Jakarta.
"Sudah lama juga aku tak mengunjungi rumah Mba Rania. Khanza pasti senang bertemu dengan Nabila," gumam Nisa dalam hati.
Nisa adalah anak kedua dari pasangan Bunda Anita dan Ayah Arman. Nisa memiliki seorang kakak bernama Rania, usianya lebih tua tiga tahun darinya. Saat ini kakaknya juga sudah berkeluarga dan memiliki satu orang anak. Kehidupan Nisa lebih beruntung dari sang kakak. Suami sang kakak hanyalah pegawai staf biasa, sedangkan suaminya memiliki jabatan manager.
Ayah Nisa telah meninggal sejak Nisa duduk di bangku SMA. Sang bunda yang selama ini berjuang untuk membesarkan dirinya dan sang kakak. Bundanya berjuang keras, agar kedua anaknya bisa berkuliah di universitas. Untungnya Nisa dan kakaknya mendapatkan beasiswa, hingga sang bunda tak terlalu besar harus mengeluarkan uang untuk menyekolahkan keduanya.
Bunda Anita berprofesi sebagai tukang jahit di kampungnya. Dia juga kerap menerima pesanan kue dari orang-orang yang sudah berlangganan kepadanya. Meskipun Nisa terlahir dari keluarga yang sederhana, dia mampu membuktikan menjadi wanita yang hebat.
Cita-cita dia harus terhenti demi menjadi ibu rumah tangga mengurus anak dan suaminya. Namun, hal itu tak patut dia sesali. Bunda Anita pun mendukungnya, mengingat bahwa kodratnya seorang wanita yaitu menjadi istri dan seorang ibu.
"Kamu pasti bisa, Nis! Kamu bukanlah wanita yang bodoh dan lemah," ucap Nisa yang terus menguatkan dirinya.
Nisa mencuci mukanya, dan bersiap-siap untuk menjemput sang anak di sekolah. Mulai hari ini, Nisa memiliki tekad untuk tidak bersikap lemah. Luntur sudah kepercayaan dirinya kepada sang suami. Dia lelah kalau terus menerus harus bertengkar dengan suami, hingga akhirnya dia memutuskan untuk mendiamkan suaminya. Dia serahkan semuanya kepada Allah, karena hanya Allah yang bisa membolak-balikan hati seorang manusia.
"Kita makan bakso dulu yuk, Khanza mau 'kan? Hari ini Bunda tidak memasak," ujar Nisa kepada sang anak.
Selama ini dia selalu memasakkan makanan untuk satu rumah. Namun, ibu mertuanya masih saja tak menghargai dirinya. Bahkan kerap menghina masakannya, padahal dia sudah berusaha untuk memasak makanan yang enak.
Mulai hari ini dirinya memutuskan untuk tidak memasak, memilih untuk membeli makanan matang. Berusaha untuk tidak peduli dengan orang lain, karena hatinya merasa sakit kala mengingat tak ada yang memperhatikan perasaan hatinya.
"Kalian pikir, aku tak bisa bersikap tegas? Kalian salah, aku memiliki hati dan mulai hari ini aku bukanlah Nisa yang bisa kalian Injak-injak. Aku adalah Nisa wanita yang kuat," ucap Nisa dalam hati. Meskipun dirinya merasa berat bersikap seperti ini. Namun, dia sudah memiliki tekad untuk memberi pelajaran. Agar mereka menyadari adanya dia hidup mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 341 Episodes
Comments
Shinta Dewiana
minta buka hapenya dong nisa...
2024-05-29
1
Ayu Nuraini Ank Pangkalanbun
klo udah berselingkuh akan mengubah ap pun kecuali penyesalan nnt
2023-03-06
0
Ayu Nuraini Ank Pangkalanbun
y lah suami berselingkuh masa hrs bersikap baik LG ck,
2023-03-06
0