Ma ….”
“Sudah, tak perlu banyak berpikir! Yang ada nanti kamu kehilangan dia lagi untuk kedua kalinya. Lebih baik kamu ketemu saja dulu sama dia,” ucap Mama Ratih, memotong ucapan sang anak.
Semenjak Rey mengetahui Viona hadir kembali, hatinya menjadi gundah gulana. Dia lebih senang duduk santai di teras rumahnya sambil menikmati secangkir kopi dan juga rokok. Pikirannya melayang akan kenangannya dulu bersama mantan kekasihnya.
Sejak tadi dirinya terlihat gelisah, membolak-balikkan ponselnya. Berpikir atas apa yang akan dia lakukan. Namun, perasaannya masih terasa berat untuk kepada sosok istrinya.
“Hai, apa kabar? Aku Rey.” Tulis Reynaldi di chat yang dia kirim ke Viona.
Pandangannya mengarah terus ke layar ponselnya. Menunggu mantan kekasih membalas pesan darinya. Membuat dirinya lupa akan sosok istri yang dia cintai.
“Hai juga. Kabar kamu gimana?” balas Viona.
Seberkas senyuman terbit di sudut bibir Reynaldi. Dia merasa bahagia, karena gayung bersambut. Seperti seorang anak muda yang mendapatkan balasan dari wanita yang dia cintai. Tentu saja hatinya saat itu berbunga-bunga. Bunga-bunga cinta hadir kembali di hati Rey, setelah sekian lama mati.
Obrolan mereka rupanya semakin asyik. Dalam sekejap Rey tertambat hatinya kembali pada sang mantan kekasih. Rona bahagia terpancar dari wajahnya.
“Mas, Mas sedang berkomunikasi dengan siapa? Aku cari-cari, ternyata Mas di sini,” ucap Annisa yang datang secara tiba-tiba menghampiri Rey yang sedang asyik chat dengan Viona.
“Kamu ini bikin kaget saja. Aku ingin santai dulu di sini. Sudah sana, tunggu aku saja di kamar. Aku habiskan dulu kopinya,” ujar Rey ketus. Tanpa sadar dirinya sedikit membentak istrinya. Hal itu tentu saja membuat sang istri merasa kaget. Karena selama ini Rey tak pernah seperti ini. Dia justru kerap mengajak Annisa untuk menemani dirinya mengobrol.
Annisa memilih untuk tidak memperpanjang, dia langsung mengikuti perintah suaminya untuk menunggunya di kamar. Walaupun hatinya kecewa, dirinya masih saja menghormati suaminya. Pamit untuk masuk lebih dulu ke kamar, dan Rey hanya menganggukkan kepala dan fokus kepada ponselnya.
“Tak biasanya Mas Reynaldi seperti ini. Entah mengapa aku merasa ada hal yang berbeda dengan sikap Mas Reynaldi kepadaku. Sebenarnya ada apa ya? Apa yang terjadi dengan Mas Reynaldi? Mengapa akhir-akhir ini sukanya berubah tak seperti biasanya,” gumam Annisa dalam hati.
Annisa terdiam saat melihat sang suami memasuki kamar mereka dan langsung naik ke ranjang, tanpa sepatah kata pun terlontar dari bibirnya. Hingga akhirnya Annisa memberanikan diri untuk bicara, menanyakan atas apa yang terjadi dengan suaminya.
“Mas, maaf Mas aku ingin bicara sebentar sama kamu,” ucap Annisa yang memilih membangunkan suaminya.
“Kamu ini apa-apaan, sih? Aku ngantuk, besok saja! Lebih baik kamu tidur dari pada mengganggu aku,” bentak sang suami, membuat tubuh Annisa bergetar. Karena dirinya kaget. Bahkan bagi Annisa, wajah suaminya begitu menakutkan.
Suara azan telah berkumandang, jam alarm pun telah berbunyi. Tanda waktunya Annisa harus membuka matanya untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslimah, yaitu menjalankan salat subuh. Annisa menatap wajah suaminya yang masih tertidur pulas. Tak biasanya sang suami belum juga bangun.
“Mas, bangun yuk! Sudah azan subuh, ayo kita salat berjamaah,” ucap Annisa lembut.
“Aku masih ngantuk! Kamu salat duluan saja,” ujar Reynaldi, bahkan dirinya enggan membuka matanya.
Annisa beristighfar dan mengelus dadanya agar dirinya bersabar. Hingga akhirnya Annisa memilih untuk salat subuh sendiri. Jam sudah menunjukkan pukul 05.15 WIB, sang suami masih saja tidur.
“Ya Allah sebenarnya ada apa dengan suamiku? Mengapa aku merasa seperti tak mengenal dirinya,” ucap Annisa lirih.
Annisa mencoba membangunkan suaminya kembali, mengingatkan untuk salat dan juga bersiap-siap berangkat ke kantor. Pagi ini, Reynaldi membuat sang istri meneteskan air matanya.
“Sudah, jangan cengeng! Aku hanya bentak sedikit saja sudah menangis, apalagi aku berbuat lainnya,” sindir Reynaldi.
“Kamu bilang aku cengeng? Kamu benar-benar berubah, Mas. Selama ini kamu tak pernah berkata demikian, di saat aku menangis karena bersedih, kamulah orang yang selalu menguatkan aku, menghapus air mataku, dan sebagai pundak untuk aku bersandar. Namun, beberapa hari ini aku seperti tak mengenal suamiku. Aku merasakan hilangnya cinta suamiku,” ungkap Annisa.
“Memangnya apa yang ingin kamu lakukan lagi untuk aku? Jawab Mas, jangan diam! Aku ingin dengar perkataan dari bibir suamiku!”
Reynaldi memilih untuk tidak menjawab, dirinya memilih untuk pergi meninggalkan Annisa yang masih meneteskan air matanya. Bahkan saat ini air matanya mengalir lebih deras. Demi menghindari sang istri, Reynaldi pergi tanpa sarapan lebih dulu. Dia pun pergi tanpa berpamitan dengan istrinya, seperti biasanya. Memberikan kecupan di kening, dan sang istri mencium tangannya.
“Kamu kenapa, Mas? Mengapa sikap kamu tiba-tiba berubah padaku? Apa salah aku padamu? Kemana cinta kamu selama ini kepadaku,” ucap Annisa diiringi isak tangis.
“Bunda kenapa? Mengapa Bunda menangis,” ucap Khanza yang saat itu terbangun dan menghampiri sang bunda yang sedang termenung dengan air mata yang sudah membasahi wajah cantik sang bunda.
“Tidak, Nak! Bunda tak menangis, mata Bunda hanya terkena debu. Anak Bunda sudah bangun, sini Bunda cium,” ujar Annisa sambil. Menghapus air mata di pipinya. Kemudian membawa tubuh mungil sang anak ke dalam pelukannya.
“Demi kamu, Bunda akan berusaha kuat! Doakan Ayah, semoga Ayah selalu menyayangi kita,” ucap Annisa dalam hati. Seakan dirinya berbicara kepada sang anak.
Reynaldi baru saja sampai di kantor, wajahnya terlihat tersenyum bahagia saat melakukan panggilan video dengan Viona. Mereka berjanji akan bertemu selepas pulang kerja.
“Ok, sampai ketemu nanti! Selamat bekerja Sayang, Miss You,” ucap Viona manja. Membuat Reynaldi semakin menggila, tak ingat bahwa dirinya telah menyakiti hati istrinya.
Waktu yang dinanti telah tiba, Reynaldi telah sampai di sebuah kafe tempat dirinya berjanjian dengan Viona. Viona telah sampai lebih dulu di sana. Menyambutnya dengan senyuman manisnya. Kini mereka sudah duduk dengan posisi saling berhadapan.
“Hai, akhirnya takdir mempertemukan kita lagi. Apa kabar?” tanya Viona membuka obrolan.
“Hai juga. Sepertinya kita memang berjodoh, ke mana pun kamu pergi akhirnya berlabuh di hati aku. Perasaan aku ke kamu tak pernah berubah,” ungkap Reynaldi, membuat Viona merasa bahagia.
Bagaimana tidak? Hatinya begitu bahagia, karena ternyata perasaan Reynaldi kepada tak berpaling. Walaupun dia telah menikah dengan wanita lain, dan bahkan telah memiliki anak di pernikahan mereka.
“Gombal! Kalau kamu cinta, tak mungkin kamu menikah dengan wanita itu,” sahut Viona.
Tanpa basa basi, Reynaldi langsung meraih tangan Viona, dan menggenggamnya dengan mesra. Kedua mata mereka saling memandang, tatapan mata mereka menunjukkan bahwa mereka saling mencintai. Meskipun kini statusnya telah berbeda.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 341 Episodes
Comments
Dewi Anjasmaraa
semoga suatu saat rey akan menyesal dunia akhirat
2024-11-23
0
Shinta Dewiana
cih...dasar rey goblok..
2024-05-29
0
Dwi Setyaningrum
nyesel nyesel deh km Rey..aku sumpahin km ga akan pernah bahagia
2024-01-07
0