"Assalamualaikum, Mba. Bagaimana kabar Mba sama Nabila sekarang?" tanya Nisa mengawali pembicaraan dengan sang kakak.
"Waalaikumsalam. Alhamdulillah kabar Kakak baik. Kabar kamu bagaimana, Nis," sahut sang kakak.
"Alhamdulillah kabar aku sama Khanza baik, Mba. Rencananya Sabtu ini aku ingin menengok Bunda ke Jogja. Mba mau ikut tidak?" tanya Nisa.
Selama ini, yang sering banyak membantu sang Bunda adalah Nisa. Karena perekonomian Nisa lebih baik dari sang kakak. Lagi pula, selama ini Reynaldi adalah sosok menantu yang baik. Dia selalu memikirkan mertuanya di kampung. Reynaldi merasa bertanggung jawab, karena dirinya dulu yang menyuruh Nisa sang istri untuk berhenti bekerja. Sebelum menikah dengannya, Nisa sempat mengatakan kalau dirinya harus membantu ibunya di kampung.
Nisa sempat menolak dirinya berkali-kali, dengan alasan dia harus bekerja demi bisa membiayai ibunya. Karena Nisa adalah tulang punggung di keluarganya, kondisi sang kakak sangat pas-pasan. Namun, Reynaldi terus meyakinkan dirinya dan berjanji akan menggantikan posisi Nisa.
"Maaf Dek, Mba tak bisa ikut. Kemarin Mas Tyo sempat sakit lama, jadi insentifnya di potong. Salam saja ya sama Bunda! Maaf Mba belum bisa nengok Bunda. InsyaAllah nanti pas libur lebaran, semoga ada rezekinya," jawab sang kakak.
"Kalau Mba mau ikut, aku bisa belikan tiket untuk Mba dan Nabila. Kita naik kereta saja, sekalian Nabila sama Khanza jalan-jalan," ujar Nisa.
"Tidak perlu, Dek! Kamu sudah terlalu banyak membantu Kakak, lebih baik uangnya kamu simpan. Jadi, nanti kalau suatu saat kamu perlu. Kamu tak repot, punya tabungan sendiri," ujar sang kakak.
Benar yang diucapkan sang kakak. Selama ini Nisa jarang sekali menabung untuk dirinya sendiri. Dia hanya menyisakan uang pemberian uang dari suaminya, untuk keperluan selama satu bulan. Dia lebih senang membantu sang kakak dan Bundanya.
"Benar kata Kak Rania, aku harus memiliki tabungan sendiri untuk masa depan Khanza. Tak boleh mengandalkan Mas Reynaldi saja. Aku juga menjadi terpikir memiliki usaha, untuk menambah pendapatan," gumam Nisa.
Daripada uangnya dipakai untuk memasak satu rumah, uangnya lebih baik disimpan untuk dijadikan tabungan. Dirinya dan Khanza bisa beli makanan di luar atau masak hanya untuk anaknya. Dari pada mengurus orang yang tak menghargai, lebih baik dia mengurus dirinya dan sang anak.
"Bunda memangnya mau ke rumah Nenek?" tanya Khanza.
"Iya, Sayang. Khanza mau 'kan? Nanti Bunda izin sekolahnya sama bu guru," ucap Nisa.
"Iya, Khanza mau Bun. Khanza kangen sama nenek," sahut Khanza.
Dari pada memikirkan rumah tangganya yang terancam karam, Nisa lebih memilih untuk menghibur diri sendiri dan bangkit dari keterpurukan melakukan hal yang positif.
Setelah menjemput sang anak dan makan bakso, Nisa dan Khanza pulang ke rumah. Nisa tak peduli, ibu mertuanya kelaparan.
"Tak biasanya anak ini tak masak? Bi, si Nisa tidak masak? Kemana ini anak, jam segini belum pulang," ucap Mama Ratih. Jika seperti ini, baru ditanyakan. Saat menantunya memasak dan di rumah terus, selalu di sindir.
"Iya, Bu. Sebelum berangkat menjemput Khanza, Bu Nisa sudah bilang kepada saya. Kata Bu Nisa hari ini dia lagi malas masak. Ibu di suruh beli makanan dari luar saja," jelas sang ART.
Tentu saja ucapan sang ART membuat Mama Ratih merasa kesal.
"Berani sekali dia berucap seperti itu? Oh, sudah berani bertingkah dia. Biar nanti aku laporkan Reynaldi, biar dia tahu kelakuan istrinya di rumah," gerutu Mama Ratih.
Nisa dan Khanza baru saja sampai rumah. Dia hanya mengucap salam dan pergi begitu saja melewati sang ibu mertua yang sedang duduk menonton TV.
"Dari mana saja kamu, jam segini belum pulang? Benar kamu tadi sempat bilang sama Bi Surti, kalau kamu hari ini tidak memasak?" tanya Mama Ratih dengan tatapan tajam.
"Iya, Ma benar. Bukannya Mama tak menyukai masakan aku? Jadi, aku sudah memutuskan untuk tidak akan memasak lagi. Untuk selanjutnya biar Bi Surti saja yang memasak, mungkin saja masakan dia lebih enak tak seperti masakan menantu yang tak diinginkan Mama," sahut Nisa dan langsung pergi meninggalkan ibu mertuanya.
"Nisa! Saya belum selesai bicara sama kamu! Dasar wanita kampung, tak memiliki tata krama. Lihat saja, aku akan laporkan kelakuan kamu sama Rey. Biar Rey tahu kelakuan istri yang selama ini dimanja. Tau rasa kamu, kalau Rey nanti meninggalkan kamu dan lebih memilih wanita lain. Dasar wanita sombong," umpat Mama Ratih.
Meskipun dirinya berusaha untuk kuat, dirinya tetap memiliki hati. Ucapan mertuanya yang terakhir, begitu menyakiti hatinya.
"Lihat saja Mas, kalau sampai melakukan hal itu kepadaku! Kamu atau aku yang akan terpuruk?" ucap Nisa dalam hati.
Nisa tak ingin bertengkar dengan mertuanya di depan sang anak, hingga akhirnya dia lebih memilih untuk diam tak melayaninya. Nisa yang memiliki sifat lemah lembut, kini berubah menjadi wanita yang berani, tak mudah ditindas, dan pendendam.
"Bunda, kenapa si Nenek selalu jahat kepada Bunda? Padahal Bunda tak salah apa-apa," ucap Khanza.
"Biarkan saja, Sayang! Bunda juga tak berniat melawan Nenek, bagaimanapun Nenek adalah orang tua Ayah. Bunda hanya ingin memberikan pelajaran berharga, agar bisa lebih menghargai orang. Khanza 'kan tahu, kalau selama ini Bunda selalu bersikap baik dengan Nenek," jelas Nisa kepada sang anak.
"Ya sudah biarkan saja. Lebih baik Khanza bantu Bunda bereskan baju untuk kita bawa ke rumah Nenek. Besok Bunda mau izin ke Bu guru, kemungkinan kita di rumah nenek selama satu minggu," ucap Nisa dan Khanza tampak menganggukkan kepalanya.
Sebenarnya Nisa berat melakukan hal ini. Selama ini dia tak pernah pergi meninggalkan suaminya selama ini. Ini adalah hal pertama kali yang Nisa lakukan setelah menikah dengan Reynaldi. Setelah menikah dengan Reynaldi, Nisa selalu pulang kampung bersama suaminya.
"Kamu harus bisa Nis, kamu butuh ketenangan! Agar Mas Reynaldi merasa, saat tak ada kamu!" Nisa bermonolog dengan hatinya. Lagi pula, Khanza tampak antusias untuk pergi ke rumah neneknya. Padahal selama ini Khanza tak pernah jauh dengan sang Ayah.
"Selesai! Tinggal perlengkapan mandi, keperluan Khanza, cemilan, dan oleh-oleh untuk Bunda," ucap Nisa.
Nisa berencana hanya membawa satu buah koper dan satu tas milik Khanza dan dirinya. Nisa berencana ingin membelikan oleh-oleh baju untuk sang Bunda. Besok dia ingin mengajak sang anak ke Mall.
Reynaldi sudah sampai di depan kantor Viona, sudah menunggu kekasih pujaannya keluar dari kantornya. Wajahnya tersenyum, saat melihat kekasih pujaan hatinya berjalan menghampiri mobilnya.
"Halo, cantik," puji Reynaldi membuat wajah Viona tersipu malu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 341 Episodes
Comments
Shinta Dewiana
oh...menjijikan bener tu si rey
2024-05-29
0
S
menurutku Nissa lamban kurang bertindak cepat.Hingga pasangan penghianat itu berkali kali berbuat dosa.
2024-03-29
0
🍒⃞⃟🦅 Nengnong3 ²²¹º
klo org lagi jatuh cinta,liat waria pun serasa memandang bidadari..
blm aja tuh dapat karma nya c reynaldi n mak nya
2024-01-10
0