"Jangan ngambek dong Ay, hari ini aku sengaja cuti ingin mengambil hati Nisa dulu. Semalam dia sempat meminta pisah sama aku. Hari Sabtu dan Minggu adalah waktu untuk kamu. Aku ingin mengajak kamu ke Garut, sepertinya enak berendam air hangat bersama kamu. Sudah ya jangan ngambek lagi, aku sayang sama kamu," rayu Rey membuat Viona sudah bisa tersenyum lagi.
"Benar ya? Kamu nggak bohongin aku 'kan? Pokoknya aku ingin kamu prioritaskan aku! Titik!"
Reynaldi mengiyakan. Sungguh terlalu. Membela Viona sang perebut suami orang dibandingkan istri sahnya. Bisa-bisanya dia berpikir dan berencana ingin berendam di air hangat. Memiliki sensasi tersendiri untuknya.
"Kemana sebenarnya Mas Reynaldi? Mengapa lama sekali?" Nisa bermonolog dengan hatinya. Mata Nisa mengarah sekeliling, ingin rasanya dia menghampiri sang suami yang pergi meninggalkan dirinya cukup lama. Tetapi, lagi-lagi karena anak. Dia tak mungkin meninggalkan anaknya. Waktu berpihak dengannya. Dia mengantarkan sang anak sampai sang anak menaiki kereta yang berkeliling memutari Mall.
"Khanza berani sendiri 'kan berkeliling naik kereta? Bunda ingin ke toilet dulu soalnya," ucap Nisa.
"Iya Bun. Khanza berani kok," sahut Khanza. Nisa melambaikan tangannya melepaskan kepergian anaknya menaiki kereta untuk berkeliling Mall yang berada di lantai paling atas. Mall itu memiliki fasilitas bermain anak-anak sangat lengkap. Reynaldi dan Nisa sering mengajak Khanza ke sana.
Langkah Nisa terhenti, dan mengerutkan keningnya saat melihat suaminya tertawa riang begitu bahagia saat sedang melakukan video call.
"Mas, Reynaldi video call sama siapa ya? Mengapa dia terlihat bahagia sekali, bahkan lebih bahagia saat melakukan video call sama aku dan Khanza," gumam Nisa. Penuh dengan tanda tanya.
Nisa berjalan menghampiri suaminya, membuat Reynaldi tersentak kaget. Wajahnya berubah pucat, terlihat gugup. Jantungnya berdegup sangat kencang. Dia langsung menekan tombol merah mengakhiri panggilan video dengan Viona.
"Kamu video call sama siapa? Aku lihat kamu bahagia sekali ekspresinya," ucap Nisa.
"Kok kamu ke sini? Khanza mana? Kenapa tak bersama kamu?" tanya Reynaldi balik. Dia justru tak menjawab pertanyaan dari Nisa, dan justru mengalihkan pembicaraan.
"Oh itu? Tadi aku lagi video call sama teman kantor. Masa sih aku kelihatan bahagia banget? Perasaan biasa saja, memang sih tadi aku sempat tertawa," ucap Reynaldi berbohong.
"Sudah yuk, ke sana lagi. Kasihan Khanza. Khanza mana? Kok kamu tinggal sih?" tanya Reynaldi.
Dia mengajak Nisa, agar Nisa tak membahas lagi. Mengalihkan. Nisa masih terlihat banyak diam, hatinya masih terus mencurigai suaminya. Meskipun Reynaldi sudah menunjukkan sikapnya seperti dulu, entah mengapa hati Nisa masih merasa mengganjal.
"Sudah mainnya? Bagaimana senang tidak anak Ayah hari ini?" tanya Rey kepada sang anak. Kini Khanza dalam gendongannya.
Reynaldi diam-diam di balik tubuh Khanza melirik ke arah sang istri yang terlihat lebih banyak diam. Dia yakin pasti istrinya sedang mencurigai dirinya. Reynaldi terus menggerutu dalam hati, mengapa dirinya bersikap bodoh. Padahal dirinya baru saja mengembalikan kepercayaan istrinya lagi, sekarang sudah membuat Nisa mencurigai dirinya kembali.
"Ayah, Khanza senang sekali hari ini. Karena bisa ditemani Ayah lagi. Nanti, kalau Ayah libur kerjanya. Aku mau ke sini lagi," ungkap Khanza.
"Iya, Ayah janji. Tetapi nanti ya, kalau Ayah sudah gajian. Sabtu ini, Ayah juga tak bisa. Karena Ayah ada lembur di kantor," ucap Reynaldi berbohong. Nisa sampai menengok ke arah suami, saat mendengar ucapan suaminya yang mengatakan kalau Sabtu ini suaminya akan lembur.
"Andai aku bisa mengikuti Mas Reynaldi," ucap Nisa lirih dalam hati.
Mereka kini sudah di restoran ayam kriuk, makanan ini sesuai dengan permintaan Khanza. Reynaldi dan Nisa menuruti keinginan anaknya. Reynaldi tampak kikuk duduk berhadapan dengan istrinya. Dia berpura-pura seperti tak ada apa-apa. Padahal dalam hatinya dia merasa tak tenang, merasa takut kalau sang istri akan bertanya kembali saat di rumah.
"Setelah ini, Ayah ingin mengajak kamu ke toko mainan dan kamu bebas memilih mainan apapun yang kamu suka," ujar Reynaldi kepada sang anak, membuat Khanza bersorak gembira.
Reynaldi mencoba mencairkan suasana, merangkul istrinya dan sesekali mendekati bibirnya ke pipi istrinya. Menunjukkan keromantisan kepada istrinya, tetapi Nisa justru masih terlihat cuek.
"Kenapa? Kok dari tadi kamu diam terus? Masih marah sama aku? Masih curiga?" tanya Reynaldi kepada sang istri.
"Iya, aku masih curiga sama aku. Aku yakin kalau kamu diam-diam memiliki rahasia di belakang aku," sahut Nisa ketus.
"Ya ampun, Sayang. Sini lihat aku, tatap mata aku? Sekarang kamu lihat, apa kamu melihat kebohongan di mata aku? Berapa kali aku bilang kepada kamu, kalau aku tak akan mungkin mengkhianati kamu? Kamu itu sangat sempurna untuk aku? Bodoh sekali aku, kalau sampai meninggalkan kamu," ucap Reynaldi sambil memegang kedua pundak istrinya. Netra mereka saling bertemu.
"Maafkan aku, Sayang. Tetapi aku janji, sebisa mungkin aku akan berusaha menjadi suami yang baik untuk kamu dan juga Ayah yang baik untuk Khanza. Meskipun cinta aku terbagi," ucap Rey dalam hati. Sorot mata Reynaldi tak bisa ditutupi, Bisa melihat ada kebohongan terlihat di mata Reynaldi.
Khanza menghampiri kedua orang tuanya yang sedang terlihat tegang. Menunjukkan mainan yang dia pilih, dan Reynaldi langsung membelinya. Walaupun harga mainan itu sangat mahal. Rey tak peduli. Dia ingin membahagiakan anaknya.
"Sekarang aku bisa mengalah Ay, tetapi tidak untuk besok-besok. Aku akan buat waktu kamu, tersita untuk aku dan perlahan rasa cinta kamu akan luntur kepadanya," ucap Viona dalam hati. Dia tampak tersenyum sinis. Viona berniat merebut Reynaldi seutuhnya dari tangan Nisa.
Demi seorang pelakor, Reynaldi rela menyakiti hati istrinya. Mengkhianati cinta istrinya. Lebih membela selingkuhannya. Menghalalkan segala cara, untuk tetap bisa bersama Viona.
"Sayang, sudah dong jangan marah terus! Nanti cantiknya hilang loh," rayu Reynaldi. Setelah kejadian di Mall siang tadi, Nisa lebih banyak bersikap diam. Hanya sekadar melayani suami saja, tetapi tak berbicara.
Suasana terasa canggung, setelah Khanza tidur. Nisa memilih pindah tidur di sofa. Nisa berharap, kegelisahan hati dan kecurigaan yang dia rasakan saat ini dapat terungkap. Meskipun nantinya dia akan merasakan sakit hati, kalau nyatanya suaminya terbukti selingkuh.
Seperti biasa, setiap pagi Nisa bangun pagi dan menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya. Setelah itu dia menyiapkan pakaian yang akan digunakan suaminya.
Reynaldi sudah terlihat rapi dan bersiap-siap untuk bekerja. Namun sebelum dirinya berangkat, dia menyempatkan waktunya untuk sarapan bersama. Setelah itu barulah dirinya berangkat ke kantor. Seperti biasa, Nisa dan Khanza mengantarkan Reynaldi sampai garasi.
"Sampai kapan kamu seperti ini, mendiamkan aku?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 341 Episodes
Comments
Shinta Dewiana
setan2....pinter banget lo boong
2024-05-29
0
Teh Yen
firasat istri tak pernah salah nis harusnya kamu ngikutin suamimu sesekali biar tau dia berbohong tidka d belakangmu
2023-02-21
1
fifid dwi ariani
trus berkarya
2023-02-09
0