Deal ya! Kita sepakat menjalin hubungan lagi ya Ay," ucap Reynaldi dan Viona menganggukkan kepalanya. Wajah mereka terlihat bahagia, seperti seseorang yang sedang kasmaran. Mulai hari itu Reynaldi mulai mendua. Membagi cintanya untuk Nisa istrinya dan juga Viona.
"Ya sudah, kita pulang sekarang yuk! Aku tak ingin Nisa mengetahui hubungan kita. Untuk sementara waktu, kita harus merahasiakannya," ujar Reynaldi, mencoba memberi pengertian kepada Viona.
Reynaldi mengantarkan Viona terlebih dahulu sebelum dirinya pulang. Selama perjalanan mereka tampak mesra. Viona meletakkan kepalanya di bahu laki-laki yang baru resmi menjadi kekasihnya. Sesekali Reynaldi mengelus rambut Viona dengan mesra dan membubuhi kecupan di pucuk rambut Viona.
"Aku langsung pulang ya, Ay. Nanti kalau aku sudah sampai, aku kabarin kamu ya," ujar Reynaldi dan Viona tampak menganggukkan kepalanya.
"Akhirnya, aku bisa bersamanya lagi," ucap Reynaldi dengan senyum yang mengembang.
Mobil Reynaldi telah sampai di rumah. Dirinya langsung naik ke atas. Untuk memberi kenyamanan kepada istri dan anaknya, Reynaldi memberikan fasilitas lengkap di atas. Hanya memasak saja, yang harus melakukannya di bawah.
"Ayah," ucap Khanza yang langsung berhamburan memeluk sang ayah.
"Ayah mandi dulu," ujar Reynaldi. Sikap dingin Reynaldi membuat Nisa mengerutkan keningnya. Setiap Reynaldi pulang dari kantor, dia langsung menggendong putri kecilnya yang saat itu berusia 4 tahun.
Tentu saja hal itu membuat sang anak menangis, bahkan Reynaldi terlihat sedikit mendorong, seperti menolak. Nisa mencoba memberikan pengertian kepada sang anak.
"Mas, mau makan di sini atau di bawah? Biar aku siapin," ujar Nisa.
"Aku sudah makan tadi di luar sama teman," sahut Reynaldi cuek.
Padahal selama ini, setelah menikah dengan Nisa tak sekalipun dirinya makan di luar. Reynaldi selalu menahan rasa lapar dan segera pulang. Dia selalu ingin makan masakan istrinya. Malam ini dirinya tampak berbeda.
"Mungkin ini hanya perasaan aku saja," Nisa mencoba meyakinkan perasaannya.
Nisa hanya menatap bingung sikap suaminya yang berubah, sejak pertama datang. Bahkan saat ini Reynaldi justru sibuk memainkan ponselnya. Padahal sebelumnya, Reynaldi kerap bermain dengan sang anak sebelum tidur setelah pulang bekerja.
"Ayah, ayo main sama aku," rengek Khanza.
"Ayah lagi sibuk, sudah main saja sama Bunda," ujar Reynaldi, bahkan dirinya masih fokus memainkan ponselnya. Untungnya Khanza mengerti.
"Mengapa aku merasa akhir-akhir ini sikap Mas Reynaldi berubah. Apa ini hanya perasaan aku saja," gumam Nisa yang sesekali melirik ke arah suaminya yang senyum-senyum sendiri.
Reynaldi dan Khanza sudah terlelap, sedangkan Nisa masih terjaga. Diam-diam Nisa mengambil ponsel suaminya. Alangkah terkejutnya dia, saat mendapati ponsel suaminya yang menggunakan password.
"Ya Allah, pantaskah aku mencurigai suamiku? Rahasia apa yang dia tutupi dari aku. Aku merasakan hal yang berbeda dengan sikap suamiku saat ini. Apa mungkin dirinya mendua di belakang aku," ucap Nisa lirih.
Membayangkannya saja, dadanya terasa sesak. Apalagi kalau sampai hal itu terjadi. Rasanya tak sanggup, jika harus berbagi dengan wanita lain.
"Tidak! Tidak! Aku tak boleh berpikir buruk tentang suamiku! Mas Reynaldi sangat mencintai aku, tak mungkin dia berpaling dari aku," Nisa terus menguatkan hatinya.
Sebagai seorang istri, ada sebuah firasat yang Nisa rasakan. Namun, dirinya berusaha untuk melawan perasaannya. Selama lima tahun menikah, pernikahan mereka selalu dibumbui perasaan cinta. Reynaldi selalu bersikap romantis.
Nisa menatap lekat wajah suaminya, yang sedang tertidur pulas. Dirinya berharap, kalau semua ini hanya sebuah perasaannya saja. Berpikir, kalau suaminya kini sedang pusing dengan pekerjaannya. Sebagai seorang istri tentu saja harus mengerti.
"Nanti, Mas pulang agak malam ya. Soalnya Mas lembur. Kalau kamu sama Khanza mengantuk, tidur saja! Tak perlu menunggu Mas," ujar Reynaldi saat sang istri tengah memakaikan dasi. Nisa terlihat hanya mengangguk patuh.
Nisa dan Khanza mengantarkan Reynaldi hingga depan pintu rumah. Sebelum berangkat, seperti biasa Reynaldi mencium kedua pipi anak dan mengecup kening istrinya. Sedangkan Nisa mencium tangan suaminya sebagai rasa hormat kepada sang suami.
"Aku ingin lihat, apakah hal ini akan terus seperti ini nantinya. Aku yakin kalau Viona mampu memporak-porandakan kebahagiaan mereka," ujar Mama Ratih dalam hati, senyum sinis terbit di sudut bibirnya.
Mertua dan nenek yang begitu tega, justru merasa bahagia kalau pernikahan anaknya bersama Nisa kandas dan cucunya merasakan kedua orang tuanya berpisah. Padahal selama ini Nisa tak pernah berbuat salah, dia selalu menjadi menantu yang baik. Meskipun Mama Ratih tak pernah menyukai dirinya. Mama Ratih merasa cemburu dengan sikap anaknya yang begitu perhatian kepada istrinya.
Reynaldi sudah sampai di depan kantor Viona, menunggu sang pujaan hati keluar dari kantor. Reynaldi sudah mulai berbohong kepada sang istri, demi bisa bersama sang kekasih. Bahkan mereka tak malu bermesraan di tempat umum.
"Kita mau kemana?" tanya Viona.
"Ada deh, aku ingin memberi kamu surprise," sahut Reynaldi membuat kekasihnya tersenyum.
"Kamu memang tak pernah berubah Ay, aku benar-benar menyesal karena dulu menyakiti hati kamu dengan lebih memilih dia. Padahal akhirnya, aku kembali juga ke kamu. Karena kamu yang selalu buat aku bahagia," ungkap Viona.
"Sudah tak perlu dibahas lagi! Yang terpenting sekarang kita sudah bisa bersama lagi," sahut Reynaldi.
"Iya, tetapi ceritanya berbeda. Kamu sudah menjadi milik wanita lain, sedangkan aku—" ucapan Viona terhenti, karena Reynaldi meletakkan jari telunjuknya di bibir Viona. Netra mereka saling bertemu.
"Aku mohon sabar dulu! Aku janji akan menikahi kamu. Namun, untuk sekarang aku mohon kamu sabar dulu ya," ungkap Reynaldi dan Viona hanya menganggukkan kepalanya. Seakan terhipnotis pesona kekasihnya itu.
Reynaldi dan Viona tampak mesra, seakan dirinya tak ingin terpisah. Namun, Reynaldi harus pulang. Bagaimana pun Nisa masih menjadi istrinya, dan dia masih menutupi perselingkuhannya. Dia tak ingin Nisa mencurigai dirinya.
Jam menunjukkan pukul 11 malam, Reynaldi baru saja sampai di rumah. Dia melihat istri dan anaknya yang sudah tertidur. Entah mengapa perasaannya kepada istrinya terasa hambar. Pernikahan hanya sebuah status.
"Mas, besok kan hari libur. Khanza mengajak jalan-jalan," ujar Nisa kepada suaminya, saat sarapan pagi.
Nisa merasa kaget, jantungnya seakan melompat. Sungguh dirinya merasa terkejut, saat mendengar suaminya menggebrak meja makan. Berbeda dengan Nisa dan Khanza yang merasa kaget dengan sikap Reynaldi. Mama Ratih justru tersenyum puas.
"Tak usah manja! Kamu 'kan bisa mengajak Khanza pergi. Tak harus sama aku! Aku ini sudah pusing sama pekerjaan, jangan kamu tambah lagi dengan hal yang tak penting," bentak Reynaldi.
"Astaghfirullah, Mas. Tak perlu seperti itu, Mas tinggal bilang saja baik-baik! Kalau memang Mas tak sempat," sahut Nisa lirih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 341 Episodes
Comments
Shinta Dewiana
pecundang...lo rey...klu udah enggak suka talak aja ngapain marah2
2024-05-29
0
Cahaya
oohhhhj jadi mamah rey cmburu ank ny rimants sama usti ny sama cucu ny sndiri yaudah nikah aja sama anak ny sndiri ada tah irang tua macam tuh
2023-03-28
0
Quenza
Nisa nanti kalo kamu dibuang Ama Rey jangan mau ya kalo diajak balikan lagi,jangan kayak Rey udah ditinggal viona masih aja gitu balik lagi 😏😏
2023-02-26
1