"Reo! Lu udah berapa kali gua bilang! Ini bisa buat lu mati!!" Perkataan Zidan dengan nada tinggi.
"Gua capek! Cewek gua main dibelakang gua!" Kata Reo dengan emosi membanting botol anggur yang ia pegang.
"Jangan rusak acara perayaan! Lu mau ikut perayaan atau gak?" Suara dingin Zidan terdengar mencekam di telinga Reo.
Reo hanya mengangguk, lalu bangkit dan menuju kamar mandi. Reo membersihkan diri di kamar ruang bawah tanah yang disediakan khusus untuk Reo. Luka sayatan yang ia gores dengan kaca di bagian paha dan pinggangnya sehabis mandi masih mengeluarkan darah.
"Mana kota P3K lu?" Tanya Zidan disampingnya.
"Gua gak apa apa, biarin gua sendiri." Setelah perkataan Reo keluar Zidan menatap tajam Reo seolah memaki Reo "Goblok, sakit gini bilang gak apa?"
Zidan mencari kotak P3K yang ada dalam laci. Ia membuka gel obat, dengan hati hati ia membalut luka kakak tirinya. Luka di pinggang dan paha akibat goresan kaca sedikit banyak membuat hatinya sakit.
Setelah selesai membalut luka Zindan mendongak untuk melihat wajah Reo. Reo hanya terdiam dengan sakit hatinya seakan ia tidak sanggup untuk hidup. Reo mengusap air matanya. Lalu, Zidan duduk di samping Reo dan memeluknya.
"Lu itu cengeng! Dari dulu lu cengeng! Nangis aja yang keras!" Zidan mengerti perasaan saudara tirinya.
Zidan tau jika Reo memiliki riwayat penyakit mental yakni BPD (borderline personality disorder) saat ia duduk di bangku SMA.
Reo menangis, semakin menjadi. Ia terisak seperti anak kecil berusia 3 tahun kehilangan permen.
(tok...tok...tok) suara ketukan tiba tiba
Asisten Zidan memberikan setelan Jas untuk acara nanti malam. Setelah ia benar-benar tenang ia berganti pakaian.
"Nah gini kan cakep kakak gue!....lu keluar sama gue sekarang nanti gue panggil deh beberapa cewe buat lu!"
"Gak perlu!"
"Okay deh.." Zidan keluar dari ruangan di ikuti oleh kakaknya.
...----------------...
Rin yang melihat banyak sekali orang mendekorasi rumah, dan menyiapkan banyak makanan. Ia tersenyum, untuk pertama kalinya ada pesta untuk dirinya. Karena keluarganya dulu tidak pernah merayakan hari ulang tahunnya. Semuanya hanya untuk kakaknya.
"Kakak, maafin aku ya. Aku pergi biar aku sembuh. Di sini aku merasa memiliki keluarga. Mungkin aku tidak akan pulang." -batin Rin.
Zidan berjalan ke arah Rin, Rin tersenyum hangat pada Zidan.
"Nih baju nanti di gunain, senada dengan pakaian ku."
"Siap komandan." jawab rin dengan tawanya yang renyah.
"Kamu kalo butuh apa-apa bilang ke aku atau ke yang lain, biar ku bisa penuhi kemauan kamu. Oh iya aku mau buat kesepakatan setelah pesta sama kamu."
"Kesepakatan? Kesepakatan apa?" Tanya Rin penasaran.
"Nanti kamu juga akan tau"
Zidan meninggalkan Rin sendiri, ia berbincang dengan teman-temannya. Rin hanya bertanya-tanya dalam pikirannya dan menebak-nebak kesepakatan yang dimaksud Zidan.
"Udah lah, mau kesepakatan apa pun itu iya in aja nanti!"
Rin menuju kamarnya, untuk mencoba baju yang diberikan Zidan. Pikiran menjadi bingung, bukankah dress code warna hitam mengapa lelaki itu memberikan warna putih?
...----------------...
Hari selanjutnya, acara pesta perayaan untuk kesembuhan Rin. Hari ini pesta yang diadakan oleh Zidan sangat tertutup. Bahkan harus masuk dengan sebuah Id Card. Kekayaan Zidan tidak dapat di ragukan lagi.
"Lu berlebihan Ziii, perayaan segede ini. Udah kayak mau pertunangan aja." Pekik Rin dengan tawa renyah.
"Hari ini gue mau lu jadi tunangan gue, makannya perayaan sebesar ini.." Kata Zidan tiba-tiba.
"Hah? Wait...You're serious?" Rin tidak percaya ia akan menjadi pendamping Zidan.
"I'm serious, will you be my wife someday?"
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments