Room IGD

"Pegel semua, badan gue. udah kayak kuli. Kalo sakit lagi ini penyakit emang ngeselin!" Batin Rin mengejek dirinya sendiri.

"""

Pagi ini, langit dihiasi awan mendung. Kendaraan berlalu lalang. Sekolah masih sepi. Jam masih menunjukkan pukul enam. Udara sejuk yg mengisi ruang kelas menambah kesan gelap.

Suara langkah kaki terdengar di koridor sekolah. Rin telah sampai disekolah, ia berjalan di koridor menuju kelasnya. Tak jauh lagi Rin sampai diruang kelasnya. Tiba tiba seseorang memanggilnya.

"RINNN..." teriak Aksa seraya berlari.

Rin menoleh, mendapati seorang Aksa berlari menuju arahnya. Tanpa aba aba Aksa memeluk Rin. Lalu bertanya padanya.

"Aku tadi kerumah kamu, tapi kata kakakmu udah berangkat. Aku khawatir" Jelas Aksa pada Rin.

"Lepas pelukannya! Gua gak kenapa napa santai aja." Jawab Rin dingin.

"Kok kamu, jawab aku datar dan bentak? Aku tanya baik baik lho." Jawabnya seraya melepas pelukannya

"Gak apa." Lalu berjalan ketempat duduknya.

Aksa heran melihat respon Rin yang sangat dingin kepadanya. Ia berpikir keras apa ia berbuat salah terhadap Rin. Kemarin biasa saja tidak ada yang salah dan tidak seperti Rin yang kemarin Aksa kenal.

"Maaf sa, ini cara biar lu jauh dari gua." - batin Isabella Sabrina

Drett..drett..

...Gibran...

Dah di sekolah ?

^^^Udah^^^

Dah sarapan?

^^^Udah Ibra.^^^

^^^Ibra dah makan?^^^

Belum, ntar ibra makan

Semangat sekolah

^^^Makasih Ibra^^^

^^^Ibra juga mangat belajar.^^^

Dah dulu sayang

^^^Iya Ibra.^^^

"Siapa yang chat? Pacar lu ya?" Tanya Aksa disamping Rin.

"Sahabat." Jawab Rin masih dingin.

Tiba tiba Rin merasakan sakit di kepalanya. Semakin iya berusaha menahan rasa sakit semakin ia merasa kesakitan. Dan semakin ia membendung air matanya semakin banyak yang keluar. Nyeri luar biasa di bagian kepalanya. Membuat ia lemah untuk bergerak.

"Aku, harus kuat. Gak boleh keliatan sakit didepan Aksa." -batin Isabela Sabrina

"Lu gak apa Rin? Muka lu kayak nahan rasa sakit" tanya Aksa meneliti wajah Rin.

"Gak apa kok, sans." Jawabnya tersenyum.

"Beneran?"

"Iya, Sa gua gak kenapa nap-" 

"Lu bohong!"

"S-sakit" rintihan lirih rin di ikutin darah keluar dari hidungnya.

Aksa yang melihat Rin mimisan.Tanpa persetujuan dari Rin , ia mengendong tubuh Rin lalu membawanya ke ruang UKS.

"T-turunin aku sa," kata Rin bergetar.

"Gak, liat lu sakit kayak gini ngebuat gua juga ngerasa sakit!"  Tolaknya

"T-tapi Sa, ini cuma mimisan"

"Diam, gua denger rintihan lu kesakitan! Lu fikir gua bodoh bisa lu bohongin?"  Air mata keluar dari mata Aksa, hatinya seakan tercabik melihat wajah Rin yang kini telah pucat.

"Sa, m-maaf. B-bawa aku kerumah sakit" kata rin pelan dan bergetar.

Setelah mendengar permintaan Rin, Aksa menuju tempat parkir untuk mengambil mobil untuk mengantarkan Rin kerumah sakit.

Wajah Rin sudah pucat pasih, Aksa melajukan mobilnya memecah ramainya kota. Tak butuh waktu yang lama, ia sampai dirumah sakit. Ia mengangkat Rin dari kursi mobil ke ruang IGD dengan berlari kecil. Setelah itu, Aksa menunggu Rin di luar IGD, terduduk dengan tubuh yang kini melemas.

"Bunda, apa Aksa akan kehilangan lagi? Setelah Zea?" - batin Aksa

Ada ketakutan dalam hati Aksa apa ia akan siap kehilangan seseorang yang mirip dengan sahabatnya dulu. Apa ia harus kehilangan lagi. Tanpa sadar air matanya lolos begitu saja.

Pipi putihnya dibasahi air mata yang belum berhenti. Hatinya merasakan sesaknya atmosfer. Dan tubuhnya melemas karena seseorang.

***

Ruang IGD

Semua alat telah terpasang di badan Rin, wajah yang dulu ceria sekarang terlihat tenang. Kondisinya kini kritis disebabkan oleh anemia yang kambuh. Sedangkan golongan darah Rin sangat sulit di dapat, Yakni Bn negatif.

"Sus, pasien membutuhkan darah B negatif karena anemianya kambuh, tolong carikan segera golongan darah B negatif!" Perintah dokter pada suster yang bersamanya.

Suster tersebut mengangguk paham yang diperintahkan oleh dokter. Lalu ia keluar dari ruang IGD.

Aksa yang melihat suster keluar segera bangkit dari duduknya dan mendekati suster itu.

"Sus, gimana keadaan teman saya?" Tanyanya dengan nafas memburu

"Saya belum dapat menyampaikan, biar dokter saja yang menyampaikan kodisi teman anda nanti."

"Tapi sus, saya khawatir!" Jawab Aksa melemas kembali

"Mas, tolong hubungi keluarga teman mas. Karena teman mas Sangat membutuhkan darah B negatif. Karena persediaan darah B negatif di rumah sakit ini telah habis."  Suster itu kembali masuk.

"Hallo kak.." sambungan telepon terjawab

"Kak, Rin butuh darah. Persediaan darah di rumah sakit medika gak ada yang B negatif." Adunya pada kakak Rin.

Sambungan telepon itu terputus.

***

Gibran mulai khawatir karena chat yang sedari tadi ia kirimkan tak ada jawaban dari Rin. Gibran mulai membuka laptop untuk melacak keberadaan Rin. Lokasi menunjukkan sebuah rumah sakit. Seakan mimpi buruk.ia berdiri, mengambil bjaket dan kunci mobilnya.

Ia menuju lokasi yang ia lacak tadi, lalu menelpon seseorang.

"Hallo, saya butuh pendonor darah B negatif, carikan untuk saya dalam waktu sepuluh menit akan bayar anda 10 juta" perintah Gibran pada seseorang

Gibran menutup teleponnya,ia melajukan mobilnya. Telepon Gibran berdering dari seseorang yang tadi ia telepon.

"Saya mendapatkan pendonor darahnya tuan, tolong share location."  Telepon diputuskan sepihak oleh Gibran.

Segera orang suruhan Gibran mengirim lokasi rumah sakit.

Gibran sudah mengetahui penyakit Rin. Semalam setelah ia bertemu dengan Rin, ia menyuruh orang kepercayaannya untuk mencari rekam medis atas nama Isabela Sabrina dan segala sesuatu yang berhubungan dengan Rin. Dari situlah ia mengetahui penyakit yang disembunyikan Rin penyakit autoimun yang sulit disembuhkan anemia yang tidak biasa.

***

"Dok, pendonor darah buat nona Rin sudah siap, dia dikirim oleh tuan Gibran. Kata nona Luna."

Aksa yang sedari tadi melemas kini ia bersyukur karena ada seseorang yang mau mendonorkan darahnya untuk sahabatnya.  Ia mulai berdzikir dan berdoa untuk Rin.

Seorang laki laki dengan seragam rapi, badan bagus dan logo sekolah yang ia kenal sedang berjalan mendekati Aksa .

"Lu? Ngapain lu disini?" Tanya laki laki itu

"Temen gua sekarat noh di dalem" kata Aksa

" Jangan bilang lu temennya Ibel !" Tebaknya

Aksa mengangkat satu alisnya, tanda ia tak mengerti.

"Ibel tuh siapa?, Gua nungguin temen gua Rin." Kata Aksa

Aksa menganggukkan kepalanya. 

"Rin, nama panjangnya siapa?  Isabella Sabrina bukan?"

"Lha kok lu tau bang? anjir ada apa-apa nih?"

"Anjir, asal lu tau Isabella Sabrina itu cewek yang selama ini gua cari!" Kata Gibran

"Hah? Bercanda lu!" Jawab Aksa

"Kita pindah ke Korea dulu, jadi gadis kecil yang selamatin lu, itu cewek yang ada didalam sana." Tunjuk Aksa pada ruang IGD

Flashback on

Hari sebelum Ibel  bangun dari komanya, Gibran kecil menangis dikamarnya, karena di paksa oleh ayah tiri dan bundanya untuk ikut pindah ke Korea.  Gibran kecil itu ingin menjenguk dan menunggu temannya sampai temannya pulih.

Seorang anak laki laki membuka pintu kamar Gibran kecil.

Ceklek....

"Kak Gibran kenapa? "  Anak kecil itu mengusap air mata Gibran.

"Ka-kak ngin dicini Ca, ka-kak gak mau ikut.  teman kakak yang nolongin ka-kak macih cakit. Dia belum bangun." Jawab Gibran pada saudara tirinya bernama Aksa

"Kakak nurut ayah ya, ikut pindah. Akca gak mau picah ma kakak."  Kata Aksa kecil.

Suara Aksa kala itu menjadi kelemahan Gibran, akhirnya Gibran  ikut pindah ke Korea karena permintaan Aksa. Baginya selain Isabela, ada Aksa yang sangat berharga.

"Kakak ikut ya, akca mohon cama kaka. Nanti kok kita pulang kecini lagi kita temuin teman kaka itu." Kata Aksa menenangkan Gibran.

Gibran mengangguk setuju atas ucapan adiknya.  Tangan mungil Aksa mengandeng tangan kecil Gibran. Membawanya keluar dari kamarnya.

"Ayah bunda kakak mau ikut, aku berhacil bujuk kaka."   Sorak Aksa heboh

Pukul sepuluh mereka berangkat ke bandara. Tapi, karena permintaan Gibran mereka mengantarkan Gibran melihat temannya. Dengan syarat Gibran harus mendapatkan nilai tinggi  dan mampu membagi waktunya untuk belajar bisnis kala itu.

Flashback off

Tak habis fikir ternyata yang di cari dan dicintai oleh kakak tirinya itu adalah teman barunya. Isabella Sabrina nama yang cantik secantik wajahnya.

"Jadi, dia cinta pertama lu? Jawab gua kak!" Tanya Aksa dengan badan kian melemas

"Iya, dan sampai sekarang gua tetep mencintainya!" Kata Gibran

Kalimat yang barusaja keluar dari mulut Gibran membuat detak jantungnya tidak normal terdapat sesak di sana.

"Apakah aku harus mengorbankan perasaanku untuk kakakku?" -batin Aksa

"Lu gak apa?" Tanya Gibran menepuk bahu adiknya itu.

"Gak apa kak?" Jawab Aksa terlepas dari lamunannya.

Pendonor darah yang lima belas menit tadi diruangan itu kini ia telah keluar. Tanda pengambilan darah telah selesai. Tanda bahwa transfusi darah telah di lakukan.

Seorang suster keluar dengan Rin yang terbaring di atas ranjang rumah sakit.

"Maaf, saya mau memindahkan pasien ke bangsal VVIP yang telah di pilih oleh tuan Gibran. Kondisi nona Isabella telah setabil dokter menyuruh kami memindahkan nona" Kata suster meninggalkan mereka

"Nih bayaran lu!"  Gibran memberikan uang yg ia janjikan kepada seseorang gadis remaja dengan pakaian sederhana.

"Te-erimakasih tuan, akhirnya saya bisa membawa ibu kerumah sakit." Kata gadis itu.

Tak lama seorang dokter keluar dari ruang IGD,

"Dok, saya ingin tau lebih detail mengenai pasien tadi." Kata Gibran

"Ikut keruangan saya tuan!"  Suruh dokter itu

Gibran mengikuti langkah dokter itu sampai diruangan dokter.  Dokter itu mulai menceritakan tentang penyakit yang Rin derita. Jika anemia Rin semakin parah maka penyakit rin bukan hal sepele.

***

Gibran yang sedang berjalan melewati lorong menuju ke bangsal tempat Rin, kepalanya kiat pusing dan dadanya terasa sesak. Aksa yang berjalan dari taman menuju bangsal Rin. Ia melihat kakaknya yang melemas dan bersandar ditembok rumah sakit.

Aksa pun berlari melihat kakak yang ia sayangi hampir terjatuh. Aksa tau betul Gibran memikirkan hal yang diluar kuasanya. Hingga ia hanya bisa melemas.

"Kak lu gak apa?"

"Gak apa, bawa gua ke bangsal Rin" kata Gibran pada adiknya.

***

Kini mereka berada telah berada di bangsal Rin.

Aksa duduk di sofa dan memainkan ponselnya.  Sedangkan Gibran duduk di samping tempat tidur Rin. Gibran megusap pucuk kepala Rin lalu memegang tangan dan mencium tangan Rin. Air mata gibran lolos mengalir.

"Jangan pergi lagi, aku akan kacau melihat mu seperti ini." - batin Gibran Stevano Aditya

Gibran terisak pelan, karena tak sanggup membayangkan bagaimana ia akan kehilangan sosok perempuan yang ia cintai dari kecil. Sesak didada Gibran tak kunjung hilang.

Mata elang Aksa melirik kakaknya yang menangis didekat temannya. Alat yang terpasang di badan Rin cukup membuat batin Aksa tercabik.

"Kak, aku gak sanggup liat air mata kakak, maafin ayahku kak sering memukuli kaka. Hati ku terasa sesak melihat kakak menangis." - batin Aksa

***

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!