"Perkenalkan saya Andreo." Seorang laki laki dengan tubuh tinggi menyapanya di sebuah kamar, didalam masion yang sangat mewah. Ia memperkenalkan dirinya dihadapan gadis yang terbaring dengan alat alat di tempat tidurnya.
" Lu cepetan cek keadaan adik gua!" Kata lelaki yang berada di sampingnya.
"Iyeee." Reo mulai mengecek keadaan gadis yang tertidur. Ia melihat wajah yang pucat.
Ingatan Reo terhadap wajah gadis yang ia periksa tidak asing bagiannya. Ia memeriksa Rin dan ia terus berfikir siapa gadis ini kenapa ada pada wallpaper handphone adiknya itu.
"Gimana?" Tanya Zidan disampingnya.
"Dia masih bisa keluar dari penyakitnya, asalkan dia semangat untuk hidup." Kata Reo pada teman baiknya.
"Lu serius?"
"Iya gua serius! Tapi setau gua lu gak punya adik cewe bro!" Tanya Reo tiba tiba.
"Dia cewe yang pernah bantuin gua waktu gua kecelakaan parah pas balapan. Gua pingin dia sembuh! Dia udah dibuang sama keluarganya dari kecil dan naasnya dia gak pernah di anggap anak di keluarga yang angkat dia sebagai anak." Kata Zidan mengigat hal yang paling menyakitkan untuknya.
"Sorry, bro. Nih, Gua kasih resep obat. Lu cari tuh obat sama gua bantu kemoterapinya." Kata Reo
"Gua bakal buat cewek ini sembuh walaupun nantinya dia gak bisa maafin gua karena gua menjauhkan dari temen temennya."
"Bro, dia udah berapa kali kemoterapi?"
"4 kali kemoterapi, rambutnya mulai rontok akibat kemoterapinya. Bye the way, gua minta tolong 2 bulan kalo bisa secepatnya sembuhin penyakitnya!" Kata Zidan
"Kalo izinkan sama Allah dia bisa sembuh. Gua, pulang duluan kalo ada apa apa telepon aja Dan, byee..." Reo meninggalkan masion mewah milik Zidan.
Setelah Reo pergi, Zidan menyuruh anak buahnya untuk membeli resep obat itu resep yang di tinggalkan Reo berisi enam macam obat dan menbeli beberapa infus.
•••
"Sayang, dia siapa?" Tanyanya genit pada Zidan seraya memegang lengan Zidan.
"ZIV LEPAS! GUA UDAH GAK ADA HUBUNGAN SAMA LU NGAPAIN KESINI? KEMANA LU PAS GUA SEKARAT?" Bentak Zidan pada Zivanna.
"Dan, aku kesini karena aku mau perbaiki hubungan kita! Please, maafin aku! Kasih aku kesempatan lagi." Kata Zivanna seraya memegang erat legan Zidan.
"GUA BILANG LEPAS YA LEPAS! ATAU GUA PATAHIN TANGAN LU?" Jawab Zidan dengan nada tinggi.
"Kamu kok jahat banget sama aku? Aku kan dateng baik baik!"
"JAHATAN MANA? LU ATAU GUA, NGACA !"
"USIR NIH CEWE DO!"
"SIAPP BOS." Jawab Dozi
"MBAA YOK IKUT SAYA KELUAR."
"GAK, SAYA MAU BICARA SAMA BOS KAMU!"
"TAPI BOS SAYA GAK MAU! KELUAR YA KELUAR. MAU SAYA KASARIN?"
"ENGGAK.." Zivanna pun keluar dengan hentakan sepatunya yang memekakkan telinga.
"Beres bos."
"Lu juga keluar aja, gua mau jagain nih cewe. Dan suruh bibi bawain makanan, gua leper Do."
"Okay bos!" Dozi segera keluar lalu memberitahu kepada pembantu di sana.
•••
"Apa hubungannya lu sama Zidan? Sampai lu dibawa tiba tiba?" Gibran melajukan mobilnya ketempat tinggal Reo.
"Hallo, kak. Aku dalam perjalanan kerumah kakak. Ada yg mau aku cerita in."
Sore hari Gibran sampai di masion kakaknya, nuansa putih klasik dan beberapa benda antik di dalamnya.
"Kak, mewah juga masion kakak!"
"Mau cerita apaan? Sini duduk di ruang game gua!"
Gibran hanya mengekor di belakang Reo. Sesampainya ia didalam ruang game ia melihat salah satu bingkai foto dengan foto kakaknya bersama lelaki seusianya. Gibran mengambil bingkai foto itu, ia meneliti wajah teman sang kak. Sedangkan kakaknya sedang keluar dari ruangan itu dan mengambil air minum. Gibran mengusap bingkai foto itu dan ia melemas melihat foto kakaknya bersama lelaki yang tidak asing.
"Kenapa Zidan dan kakak gua terlihat bahagia di foto ini? Siapa cewe dibelakang mereka?"
"Kamu lihat apa Gib?" Reo mendekati Gibran dan mendapati Gibran memegang bingkai foto.
"Ohh foto itu, dia saudara tiri gua. Nama panggilannya Zidan bayak yang takut sama dia, oh iya yang dibelakang itu cewe yang udah buat Zidan pulih. Sekarang cewe itu sakit dan dirawat sama Zidan dirumahnya."
"Siapa namanya kak? Siapa nama cewe itu?"
"Namanya Isabella Sabrina, dia sangat pucat bahkan seakan tidak ingin hidup. Dia terlihat sangat sedih."
"APA ISABELLA SABRINA? Itu orang yang aku sayang kak!"
"Gua tau, tapi gua gak bisa bantu lu karena berurusan sama Zidan gua gak akan sanggup. Zidan itu saudara tiri gua, karena gua anak angkat."
Kepala Gibran terasa sakit karena tidak ingin mempercayai perkataan kakaknya. Gibran terdiam beberapa saat.
"Lu gak usah khawatir sama tuh cewe, Zidan cuma mau balas budi! Demi kebahagiaan tuh cewe Zidan gak pernah gangguin lu lagi!"
"Jadi pas dia ngilang itu, sebenarnya dia sama Rin? Rin yang ngobatin? Rin punya pengetahuan tentang medis?"
"Dia adalah jelmaan dari kebaikan, dia sangat cantik walau gua tau sekarang wajahnya sangat pucat. Kondisinya udah lebih baik."
Setelah mendengar perkataan dari sang kakak dia meninggalkan masion itu, hatinya terasa lega. Namun, terdapat kecemburuan. Gibran melajukan mobilnya lumayan pelan, ia menelepon Satya.
"Hallo Satya, gua tau posisi Rin. Tapi kita gak bisa kesana! Kondisi rin udah lebih baik daripada di rumah sakit. Bilang ke mama lu, kalo Rin aman dan baik baik aja!"
"Okay, thanks for this useful information!"
"Same, I hung up the phone!"
•••••
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments