Satya menoleh ke belakang, dan benar saja Rin berada di bangku belakang Satya dengan segelas jus mangga kesukaannya.
"Maaf, lu jadi tau semuanya." Ucap Satya berpindah ke bangu belakang.
"Dari awal gua udah ngerasa kok. Umur gua gak lama kayaknya. Mau bantu gua gak?" Rin mengukir senyuman manisnya tetapi dalam hatinya terasa sakit.
"Bantuin apa?"
"Rahasia dong." Rin menyengir
"Lu tadi ke rumah Arzan?"
"Huum, Arzan udah pulang dan gak akan kembali." Kata Rin sambil melihat gelas didepannya.
"Rin lu udah tau, terus apa yang akan lu lakuin sekarang? Gibran cowok yang berbahaya."
"Laporin aja ke polisi, apa ku bilang sama om Dava aja?"
" Rin lu tau temen gua tadi bilang apa! Gibran ketua mafia! Walau dia lembut sama lu dia sembunyiin fakta tentang dirinya!"
"Iya gua tau."
"Dan lu juga belum tau apa tujuan Gibran yang mau bunuh Arzan setahun lalu. Menurut gua Gibran gak mungkin ngelakuin hal sejahat itu, pasti ada alasannya."
"Heumm...itu kita bahas nanti aja."
"Tapi Rin, penyakit lu makin parah, kalo lu gak bahagia. Mau sampai kapan lu pura pura sehat? Mau sampai kapan? Gua lemah terbayang kita gak bisa bicara kayak gini lagi suatu saat." Kata Satya lirih namun terdengar jelas oleh Rin.
"Apa sih, apa? Gua gak akan pergi gua akan jadi sahabat Satya selamanya! Selalu di sisinya. Lu percayakan sama gua?" Kata Rin yang sekarang menunjuk dada Satya."
"Gimana gua mau percaya? Lu aja terus terusan tumbang mulu goblokkk!"
"Iya gua tumbang mulu ya. Hari ini dan seterusnya gua gak akan tumbang. Karena gua pasti sembuh." Kata Rin dengan tawa kecil.
"Ya, lu harus sembuh. Temenin gua sampai gua punya anak istri." Kata satya dengan senyuman.
"Okey, okey. Gua bilang ke Bara ga? Soal Gibran?"
"Bilang aja, tapi kalo bilang ke bara...." Rin tidak melanjutkan kalimatnya ia berfikir sejenak
"Kenapa?"
"Kalo Bara gegabah diri dia sendiri yang akan celaka."
"Hmm. Gua telfon Bara ya, kasih kabar klao kita udah tau." Senyum gadis itu.
Rin menelpon bara beberapa kali. Namun tidak di jawab oleh Bara. Satya mengajak Rin untuk kerumah sakit melihat kondisi Aliana.
***
Gibran terbangun melihat sekeliling basecamp, ia bangun lalu menuju mobilnya. Ryo segera menghampiri Gibran yang tertatih menuju mobil.
"Lu mau kemana?"
"Gua harus cari tuh cewe yang gua tabrak!"
"Lu masih setengah sadar karena minum! Stay sini bangsat!
"Orang tuanya pasti sedih! Gua harus minta maaf sama orang bersangkutan!"
"Biar gua aja! Biar gua lindungin ketua gua!" Kata Ryo yang kini di tatap tajam oleh Gibran.
"GAK! KALO GUA YANG HARUS DI PENJARA GUA SIAP!" Kata Gibran menatap Ryo.
"Gib, lu punya keluarga. Biar gua yang gantiin lu!"
"Terus? Gimana sama keluarga lu?" Tanya Gibran membuat Ryo terdiam.
Gibran menemukan tempat dirawat gadis itu. Ia dan Ryo segera pergi menuju lokasi yang dikirim oleh orang yang ia suruh.
Terlihat seorang laki laki mengenakan seragam duduk didepan ruang ICU. Lelaki yang ia lihat, terlihat sangat cemas. Gibran melihat mata lelaki itu menatap gadis yang ia tabrak denga tatapan sendu, dengan alat medis yg berada di badan gadis itu.
Gibran semakin merasa bersalah melihat kondisi gadis yang ia tabrak. Tiba tiba terdapat dua orang menghampiri lelaki yang ia perhatikan tadi. Yang tak lain adalah orang tua Aliana.
" Om, maafin Bara gak bisa jagain Lia."
"Bukan salah kamu, ini musibah."
"Dokter bilang apa nak?" Tanya ibu Aliana.
" Dokter bilang ginjal Aliana rusak dan tulang rusuknya mengenai jantungnya. Kata dokter ia membutuhkan persetujuan untuk operasi.
Ibu Aliana membekap mulutnya, perlahan cairan bening membasahi pipi ibu Aliana. Ia menangis tanpa suara mengetahui fakta yang mengiris hatinya. Badannya menjadi lemas.
"Keluarga nona Aliana?"
"Iya, ada apa sus?" Tanya ayah Aliana
" Pasien harus segera menjalani operasi. Karena ada yang mau mendonorkan jantungnya."
"Baik, tolong sembuhkan anak saya." Pria paruh baya itu langsung menandatangani berkas yg di berikan.
Disisi lain Gibran mendengar kondisi Aliana, cukup membuatnya semakin menyesal meninggalkan Aliana sendiri sehabis ia tabrak.
Gibran merasa takut untuk mengakui kesalahannya, ia berusaha untuk memberanikan diri mendekati orang tua Aliana dan Bara ditempat duduk. Gibran berjalan dengan tangan bergetar ia membuka pembicaraan.
"Assalamualaikum, maaf pak, bu anak anda menjadi seperti ini karena saya, tidak sengaja menabraknya. Maaf saya meninggalkan ia sendiri di tengah jalan. Maafkan saya pak, buk. Saya siap jika harus dihukum." Kata Gibran dengan air mata yang keluar.
"Jadi kamu? Kamu yang buat putri saya seperti ini? Sudahlah nak, ini musibah gak apa, terima kasih kamu mau mengakui kesalahan mu." Ayah Aliana memeluk Gibran.
Pelukan seorang ayah yang tidak ia rasakan sejak lama. Cairan bening semakin deras keluar dari matanya. Sudah sangat lama ia tidak di peluk seperti ini. Seakan ia menemukan ayahnya kembali. Kalimat yang terus terulang dari mulut Gibran.
"Maafkan saya. Terimakasih."
Bara yang melihatnya, merasa senang, ia melihat seseorang mau mengakui kesalahannya secara langsung. Ia melihat mata Gibran sebelum Gibran mengakui kesalahannya, yang ia lihat hanyalah penyesalan dan kesedihan. Namun, saat ia melihat mata Gibran lagi mata itu mengisyaratkan tatapan seorang anak yang haus kasih sayang.
Bara mencoba bersifat netral, meskipun hatinya luluh tak ada bekas dendam seusai melihat mata Gibran.
"Mungkin kamu seperti aku? Atau kamu terlalu lama sendiri tanpa seorang ayah." -batin bara
Seusai ayah Aliana melepaskan pelukan ia berniat membayar seluruh biaya rumah sakit Aliana.
"Om, tante biar saya merasa lebih lega. Saya berniat membayar seluruh pengobatan Aliana."
"Tapi nak, biayanya tidak sedikit. Kamu juga pasti masih sekolah sama seperti Bara."
"Tidak pak, saya sudah lulus dan bekerja. Maka dari itu saya akan bertanggung jawab untuk biaya rumah sakit. Dan Bara terima kasih telah membawa Aliana kerumah sakit."
"Yoi, ma bro."
"Saya, sekalian pamit, untuk mengurus administrasi Aliana. " Gibran bersalaman dengan kedua orang tua Aliana. Lalu memeluk Bara membisikan "jagain Aliana, lu sayang kan sama dia?" Gibran melepaskan pelukannya lalu menuju administrasi rumah sakit.
Ryo menghampiri Gibran. Ia melihat senyuman gibran yang tidak pernah ia lihat.
"Gibran, are you oke?"
"Yeahh, I'm oke." Jawab Gibran sambil membayar.
"Lha anjir lu kerasukan apaan?"
"Pukul nih?" Ia mengepalkan tangannya.
"Kok kayak anak kecil......Lu salah minum obat? " Tanya Ryo yang menertawakan Gibran.
"Gak, ayok balik."
Ryo dan Gibran keluar dari rumah sakit, ia berpapasan dengan Rin.
"Puas lu, Aliana masuk rumah sakit? Semuanya karena lu. Arzan meninggal, sekarang Aliana dirawat." Kata Rin menusuk kehati Gibran.
"Gua udah minta maaf sama keluarga Aliana dia maafin gua. Gua gak ada sangkut-pautnya sama kematian Arzan!"
"Lu gampang banget bilang gak ada? Gua liat mobil dengan plat yang sama di CCTV satu tahun lalu. Awalnya gua gak percaya, tapi emang bener lu yang buat Arzan kecelakaan, kalo gak ada lu dia gak mungkin sakit!"
"Rin, gua gak setega itu celakain orang, mungkin saat itu gua gak sadar karena abis minum. Rin maafin gua, gua gak sanggup liat lu marah. Gua bakal lakuin apa aja buat lu."
"Apa aja? Jangan nangis kalo gua pergi selamanya!" Hanya satu kalimat mampu membuat hati Gibran kembali merasakan sakit.
"Okey, gua gak akan nangis. Jadi lu maafin gua?"
"Iya, Arzan aja maafin lu masa gua gak maafin kesalahan lu. Dulu gua udah lacak mobil lu. Pas Arzan bangun dia minta gua jangan di lanjutin dan bilang gua udah maafin kok karena ini takdir." Senyum Rin.
"Hai, Rin. Marahin nih bocah tadi dia minum banyak."
"Gak ku balas, chat mu kalo masih minum. Dah ya mau masuk dulu."
"Lu Ryo kan? Anak om Steven?"
"Dan lu Satya temen kecil gua." Tawa Ryo.
"Gua duluan ye." Kata Satya mengikuti Rin kedalam rumah sakit. Sedangkan Ryo dan Gibran menuju parkiran.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments