Stubborn Isabella

Laura duduk diatas kasur, memakan cemilan sambil menonton acara tv. Ia hanya menghela nafas meredam amarahnya mengigat Rin. Rasa cemburu kian memenuhi hatinya. Laura menyibukkan diri dengan berbagai kesibukan. Di masion mewah milik Gibran.

***

Satya telah sampai di rumah sakit Medika Insan, ia bergegas menuju ruang UGD, menggendong tubuh lemah Rin, yang kini kulitnya kian memucat. Ia memanggil suster dan dokter yang berada dirumah sakit itu.

Beberapa suster bergegas menyiapkan tempat untuk Rin berbaring. Beberapa menit kemudian ibu Satya dengan wajah panik mencari sosok Rin. Ia menemukan Rin telah terbaring dengan beberapa alat. Ia berbicara dengan Satya di sampingnya.

"Atya, s-sakit. Atya, kepalaku s-sakit. " Air mata Rin menetes. Seakan tertusuk hatinya melihat sahabatnya kesakitan Satya menenangkan Rin. Ia memegang tangan Rin.

"Tahan ya, aku yakin kamu mampu." Nada suara Satya berubah menjadi lembut. Terasa sangat menyakitkan, namun takdir ini sangat sulit untuk dirubah.

Perlahan lahan nafas Rin telah teratur, rasa sakitnya perlahan reda. Reaksi dokter yang menangani Rin pun puas.

"Untung, cepat di bawa kerumah sakit ini. Tapi penyakitnya sudah sangat parah." Kata seorang dokter dengan serius.

Mata cantik Ibu Satya setelah mendengarkan penjelasan dari dokter Nania tergambarkan perasaan khawatir. Hanya dirinya dan ayah Rin yang tahu siapa Rin sebenarnya. Rin hanyalah anak yang di adopsi saat bayi untuk mengantikan anak perempuannya yang meninggal setelah dilahirkan. Badan ibu Satya melemas mendengar perjelas dokter Nania. Ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar.

"Nania, bisa kah, penyakit itu hilang dari anak ini?"

"Sangat sulit karena ini merupakan kanker otak, yang telah mencapai stadium empat." Nania menggeleng kan kepala.

"Jaa..dii.. enggak gak mungkin anak ini hanya hidup sesingkat ini. Gak mungkin." Kata Ibu Satya seakan, akan kehilangan anaknya sendiri.

"Bunda, jangan seperti ini. Kasian Rin kalo melihat bunda seperti ini! Kita bicara diluar ya!" Kata Satya pada ibunya.

Ibu Satya hanya mengangguk, lalu berjalan keluar.

"Nak, kenapå kamu gak cerita ke bunda?"

Satya mengeleng "Karena itu permintaan Rin, aku hanya memenuhinya. Aku ingin bunda juga tau karena itu aku bawa Rin kesini." Jelas Satya

"Rin itu, dia adalah putri pengganti. " Kata bunda Satya tiba tiba, membuat Satya terdiam.

"Putri pengganti? Apa itu bunda?"

"Rin tidak memiliki hubungan darah dengan keluarganya. Dia adalah anak yang di adopsi oleh ayahnya, setelah putrinya meninggal saat di lahirkan. Rin hanya seorang anak pengganti. Aku yang membawa Rin." Kata ibu Satya di samping anaknya.

"Lalu, siapa orang tua kandung Rin?" Tanya Satya dengan keingin tahuannya.

"Dia anak dari keluarga terhormat setelah bunda cari informasi dua tahun setelah mengambil Rin dari panti. Ia mempunyai kembaran. Dulu keluarga kandung Rin berada di kota ini. Tiba tiba mereka pindah satu persatu ke Singapura. Kabar terakhir kembaran dari Rin telah meninggal akibat kecelakaan pesawat." Kata ibu Satya.

Badan Satya terasa kedinginan mendengar kenyataan ini. Pantas saja, setelah ibunya Rin meninggal ia tidak di anggap oleh ayahnya. Ternyata banyak sekali rahasia yang disimpan sejak ia berada di keluarga itu. Pikiran Satya tak terkendali. Hawa diruang tunggu itu terasa sangat dingin.

"Bunda, bolehkah aku kembali pada kesukaanku?" Tanya Satya dengan serius.

"Lakukan sesukamu, yang penting kamu tau batasan, seorang manusia." Kata wanita paruh baya itu.

Satya hanya mengangguk, ia mengeluarkan ponsel yang tidak ia sentuh selama beberapa tahun terakhir. Ia menghubungi nomor seseorang. Telepon itu tersambung.

"How's it going there?" Tanya Satya.

"Not good! You come back here right away!" Kata seorang pria luar negeri pada sambungan telepon itu.

"I can't go back yet, I have business to attend to!" Kata Satya.

Satya menutup telepon itu sepihak, ia mengacak-acak rambutnya yang tidak terasa gatal. Emosinya meluap setelah mengetahui tentang Rin, yang bahkan Rin sendiri tidak tau.

***

Setelah beberapa saat meluapkan emosi di atas gedung dengan berteriak. Satya turun menuju ICU, tempat rin sementara Rin di rawat karena kamar inapnya penuh.

Sesampainya ia di ICU, ia melihat Rin duduk sambil menulis. Ia ingin menghampirinya, langkahnya terhenti ketika wanita paruh baya memanggil Satya, yang tak lain adalah ibunya. Satnya menuju tempat ibunya berdiri.

"Nak, biarin Rin selesai nulis ya." Senyuman tulus terurai diwajahnya.

"Kenapa? Apa ibu tau sesuatu tentang Rin?"

"Setau bunda Rin suka nulis, apa saja yang ia ingin in selalu ia tulis. Bunda mengetahui ini ketika almarhum bunda Rin bercerita."

"Baik, bun." Anggukan dari Satya.

***

Di ranjang ICU, Rin membuat pulpennya menari diatas kertasnya. Kata demi kata terangkai menjadi sebuah kalimat. Dalam lubuk hatinya ia ingin tetap hidup disisi Satya sahabatnya. Namun takdir yang selalu membuatnya mundur.

Rin melihat Satya berdiri didepan ICU, ia melambaikan tangan dan tersenyum. Badannya masih terasa nyeri, ia menyembunyikannya dalam topengnya.

Satya berjalan menuju arah Rin. Rin menyambut Satya dengan senyuman.

"Darimana aja ? Gua gabut banget. Pulang aja yok. Gua udah mendingan." Kata Rin

"Mendingan? Mendingan darimana? Lu terus aja pake topeng, apa lu gak capek?"

"Iya ini mendingan dan bisa duduk." Senyuman Rin mengembang.

"Rin gua mohon! Jujur sama diri lu sendiri." Satya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Gak bisa, kalo gua jujur gua gak bisa kayak sekarang!" Kata Rin yang sekarang semakin keras kepala.

"Lu! Gitu mulu. Umm... Jangan pesimis lah !" Kata Satya.

Rin hanya diam dan menatap kedua mata Satya dengan ribuan pertanyaan yang ada di otaknya. Satya, yang melihat Rin menatap dirinya dan mengunci pandangannya ia segera menengok kesamping kiri.

"Nona Rin, ruang kamar pasien telah tersedia, jika nona Ingin dipindahkan biar saya catat." Kata seorang perawat.

"Gak sus, saya akan pulang!"

"Tapi nona dilarang untuk pulang, kata dokter minimal seminggu disini, untuk memeriksa penyakit anda."

"Biarkan saya pulang, saya lelah selalu dirumah sakit?" Kata Rin.

"Tidak nona, nona harus menuruti apa kata dokter."

Tiba tiba, Rin melepas infus yang masih melekat di tangan kanannya. Suster yang disampingnya terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Rin.

"Nona... Jangan begini..." Suster itu berkata dengan panik.

Rin tidak memperdulikan perkataan suster, ia berjalan keluar, dengan kedua kaki jenjangnya yang sedikit nyeri, tangan yang gemetar dan kepala yang merasakan pusing.

***

"Lauu, lu ngapain kemasion gua?" Tanya Gibran

"Numpang tidur!" Jawab Laura.

"Gua curiga, lu kesini cuma karena itu, gua curiga lu lagi ada problem kan?"

"******, bener sih. Gua ada problem, gua cemburu noh, sama yang namanya Isabella Sabrina." Laura tertawa.

"Makannya jadi cewek yang kecewakan, mandiri kayak Rin gak manja sama orang lain." Kata Gibran pada Laura.

"Kapan gua manja, gubluk?" Laura melotot melihat jawaban Gibran.

"Udah lah, cewek ribet banget. Kalo Rin kan simple." Jawabnya lalu meninggalkan pintu kamar.

"Ehh, awas ya lu. " Laura mendengus kesal.

Laura melahap dua cemilannya dengan kesal, raut wajahnya terlihat merah karena emosi. Ia tidak menyangka, Gibran membela gadis itu. Rasa irinya kepada Rin semakin menjadi, ia ingin sekali gadis itu menghilang. Baginya Rin hanyalah, orang baru yang masuk kehidupan Aksa dan Gibran tiba tiba.

"Gadis lemah kayak lu, gak pantes dapetin perhatian dari Aksa dan Gibran!" Laurå melihat layar ponselnya, ia melihat beberapa postingan Instagram Rin.

***

Satya mencekal tangan Rin, Rin terhenti karena tangannya ditahan.

"Rin, dirawat dulu ya?"

"Gak! gua gak mau. Kalo masih nahan gua lu bukan sahabat gua lagi!" Kata Rin yang menatap lurus pintu.

"Rin! Gua mohon. Gua tau seberapa lu selalu menderita saat ayah lu balik! Rin bunda juga mau kasih tau kebenaran siapa lu! Jadi lu harus sembuh!"

Rin menengok kebelakang, ia bertanya tanya.

"Apa maksudnya?" Tanya Rin dengan tatapan sendu.

"Kamu, punya saudara kembar. Dan keluarga yang sekarang jadi keluarga lu itu, bukan keluarga kandung lu!" Jelas Satya singkat.

"Gak mungkin! Gua adek kandungnya kak Diego Al Bryan. Lu ngomong apa?" Kata Rin yang kini khawatir dengan kenyataan yang akan ia dapat.

"Lu dirawat dulu disini, kamarnya juga luas. Biar nanti bunda yang jelasin. Biar lu faham." Satya memeluk Rin, ia menenangkan sahabatnya.

"Ini gak mungkin, gua cuma anak angkat?" Rin mengelengkan kepalanya dan satya segera menuntun Rin duduk diranjang pasien.

"Sus tolong ya.." kata Satya.

"Baik." Suster itu mengangguk, lalu mengambil infus dan jarum infus. Dengan pelan pelan suster menyuntikkan jarum infus. Hanya beberapa saat jarum infus itu terpasang kembali ditangan kanan Rin.

Tatapan Rin sekarang kosong, ia mencoba menerima siapa dirinya, namun selalu tertolak oleh hatinya. Ia diantar menuju kamar pasien diruang VIP 12B. Dalam ruangan itu nuansanya putih dan bersih.

"Udah sampai. Kalo mau makan sesuatu bilang aja nanti gua pesanin."

"Enggak, gua gak mau makan. Maksud dari kata kata lu itu apa?" Tatapan sendu keluar dari kedua mata Rin.

Satya tersenyum, ia ingin menceritakan apa yang bundanya katakan tadi. Namun, untuk sekarang ia tidak dapat mengatakannya. Ia melihat kondisi Rin yang dari lama semakin kurus dan pucat meskipun tertutupi oleh make up.

"Satya, ditanya tuh dijawab!" Kata Rin dengan emosi.

"Ini jawab." Satya tertawa melihat wajah Rin yang kini kesal padanya.

"Lu mah, suka banget bikin orang penasaran. Lu tuh gak pernah gak ngeselin, pasti selalu ngeselin." Rin mendengus kesal.

Seorang dokter paruh baya, memasuki ruangan inap Rin. Ia tak lain adalah bunda dari Satya. Ia tersenyum dan berjalan menuju Rin dan Satya.

"Nak, gimana perasaan mu?"

"Kesal, nih anak bunda ngeselin banget! Aku tanya malah dijawab, ini jawab." Rin menatap Satya tidak bersahabat. Seakan, akan terdapat ajakan duel.

"Kamu kayak gak tau aja Satya gimana?."

"Anak bunda ngeselin banget, aku tau." Jawab Rin.

Sedangkan Satya tertawa melihat wajah Rin yang merah padam karena kesal kepadanya. Satya sangat ingat, Rin selalu seperti ini kalo ia kesal padanya.

"Plakk..." Rin menabok dada bidang milik Satya.

"Aduhh... Nabok gak liat tempat mana yang di tabok."

"Biar lu rasain dada disentuh cewe." Balas Rin.

***

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!