Dimmed

...Ibel gua, gak akan mati! Gak bakal secepat itu dia pergi! -Gibran...

...----------------...

Laura dan Aksa telah sampai di masion milik keluarga Rin. Aksa mengandeng Laura untuk masuk kedalam masion. 

Rin sedang berada dikamarnya bersama Alina. Rin memberikan Alina sebuah kalung dengan liontin berbentuk bunga. Kalung itu ia beli dua bulan lalu. Dan dua bulan itu ia sering menderita setiap malam karena penyakitnya.

"Bunda, jawab lina ya.  Jangan bohongin lina."

Rin mengangguk.

"Bunda sebenarnya mau pergi kan? Sama kayak mama, papa ku? Bunda sakit bukan karena kecapekan, tapi karena penyakit bunda kan? Penyakit kanker otak stadium tiga? Jawab lina bunda! Lina memang anak kecil, tapi lina bisa tau bunda bohong. Lina sedih liat bunda pura pura sehat." tanya Alina dengan emosi lalu ia terisak membuat hati Rin runtuh.

"Aa-lina sayang, ma-afin bunda" kata Rin memeluk Alina agar Alina tenang.

"Bu-unda ta-au ka-alo li-ina ii-itu be-elajar da-ari unda. " Isaknya semakin menjadi.

Karena Alina memang sangat cerdas, seperti Rin. Ia dapat mencari tau apa yang ingin ia tau dengan logikanya. Alina akan bertanya pada dokter,  perawat di Puskesmas atau pada guru yang mengajarnya. Alina mewarisi sifat dan karakter Isabella.

"Udah Alin jangan nangis, bunda mau Alina janji mau?"

"Janji apa bunda?"

"Janji, Alina gak boleh bilang kesiapapun tentang penyakit bunda. Dan jika bunda udah gak ada Alina gak boleh benci sama tuhan, karena Alina harus terus hidup dan jadi orang sukses nantinya." Kata Rin dengan senyuman mengembang.

Jari kelingking kecil yang semula akan menyentuh kelingking Rin, kini mengegam kedua tangannya. Seolah menolak janji itu. Ragu? Ya, itulah yang dirasakan oleh Alina.

"Tapi Lina takut nda."

"Gak usah takut sayang." Jawab rin tersenyum.

"Janji.." kelingking kecil itu akhirnya membentuk sebuah janji kelingking.

Rin memasangkan kalung yang ia berikan pada Alina. Setelah ia memakaikan kalung untuk Alina, ia mengajak Alina turun untuk duduk bersama kakaknya dan yang lain.

Di ruang tengah telah ada Laura dan Aksa. Duduk dan berbincang bersama sang kakak dan Gibran. Gibran yang melihat Rin, ia berdiri lalu berjalan kearah Rin.

"Gua pamit ya, ada urusan. Janga kesehatan jangan kecapekan." Kata Gibran sambil mengacak rambut milik Rin.

"Okey, tapi nanti main kesini lagi kan?" Tanya Rin seakan tak rela membiarkan Gibran pergi.

"Iya, gua main kesini kok. Lina jagain bunda ya. Kalo bunda bandel marahin aja." Pesan Gibran kepada seorang anak di sebelah Rin.

"Ahayyy siap komandan.." kata Alina dengan menggunakan tangannya untuk hormat pada Gibran.

"Hati hati Ibra. " Kata Rin lirih namun jelas., Ia hanya menatap punggung Gibran yang semakin jauh semakin tak terlihat.

Mungkin hanya perasaanku saja, ntah aku ketakutan akan kehilangan dirimu lagi.  -Batin Iabella Sabrina

Kini, Rin, Alina, Diego, Laura dan Aksa sedang berbincang banyak hal di ruang tengah. Terasa kehangatan namun bukan keluarga. Tapi, inilah pertemanan.

***

Suara mobil memasuki pekarangan masion keluarga Rin. Terdapat Satya dan Aruby keluar dari mobil yang terparkir di depan masion keluarga Rin.

Satya dan Aruby membawa beberapa anak jalanan, yang di didik oleh Rin dan Aruby. Anak anak yang masih berpakaian kusut tapi, tawa dan senyuman mereka merekah.

...***...

Gibran melajukan mobilnya kesebuah basecamp. Sesuai dengan kata Ryo. Gibran kembali ke basecamp. Tanpa Gibran menyadari mobil yang ia  kendarai di ikuti oleh beberapa orang bermotor.

Orang yang ia lihat dari jaketnya mereka bukan dari geng mafia. Gibran bernafas lega, baginya mereka seperti nyamuk. Ya, penganggu di jalanan. Gibran melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

Ia, sampai di tempat yang sepi. Ia memberhentikan mobilnya lalu turun.

"Kalian, kenapa mengikuti saya?"

"Kami bukan musuh. Kami disuruh oleh Ayah anda, untuk menjaga anda!"

"Saya, tidak memiliki ayah! Ayah saya telah meninggal! Dan saya tidak butuh penjaga!" Pekik Gibran.

"Kami , di suruh untuk menjaga anaknya bernama Aksa! Bukan kah itu nama anda!"

"Bukan!, Aksa masih di rumah itu. Tumben dia memberikan pengawal."  Jawab Gibran frustasi.

" Maaf, kami salah orang.  Karena kami harus menjaganya dari para pesaing bisnis ayah tuan. Karena nyawa tuan Aksa dalam bahaya."

Mendengar jawaban dari mereka, Gibran memasuki mobilnya dan menyalakan mesin. Dan melajukan mobilnya ke basecamp.

Sesampainya ia di basecamp, ia melihat anggotanya sebagian terluka. Ryo yang melihat Gibran datang, ia berjalan kearah Gibran.

Bugh

Bugh

Pukulan Ryo pada perut Gibran.

"Lu kenapa baru dateng?"

"Maaf, ada masalah di jalan tadi yo." Kata Gibran menatap sendu sahabatnya itu.

"Gimana kabar tuh cewek? Gimana laura?" Tanya Ryo yang masih emosi.

"Tuh cewe udah boleh pulang dan Laura dia buta yo." Kata Gibran lirih tapi terdengar jelas oleh Ryo.

Syok? Itu yang dirasakan oleh Ryo. Tidak dapat menjaga Laura saat itu. Emosinya berubah menjadi rasa bersalah.

" Karena kesalahan gua Lau jadi korban." Sesal Ryo

Ryo kini hanya menunduk.

"It's okey, itu kecelakaan bukan salah lu!" Pekik Gibran pada Ryo.

"Tuh cewek namanya Isabella Sabrina kan bos? " Tanya Ryo.

"Iya. Kenapa emangnya?" Tanya Gibran malas.

"Ternyata, dia orang yang sama. Orang yang selalu hibur ponakan gua yang tinggal di panti karena orang tuanya meninggal." Kata Ryo membuat Gibran berfikir.

"Ponakan gua namanya Alina Zahra, dan selalu panggil Rin dengan sebutan bunda. Tapi, kata Alina bundanya gak pernah ke panti tiga bulan terakhir. waktu gua kunjungi panti asuhan, dia ngerengek mau ketemu sama Rin. Tapi gua, gak tau rumahnya." Cerita Ryo yang didengar oleh anggota di basecamp itu.

"Rin itu, cewek unik, baik, penyang dan cantik. Makannya bos, jagain dia disaat saat terakhir dia." Kata Ryo.

Bugh

Bugh

"Ampun bos, sakit perut gua bos."  Kata Ryo dengan senyuman.

"Ibel gua gak akan mati! Gak bakal secepat itu dia pergi!" Pekik Gibran frustasi.

...***...

Satya dan Aruby masuk tanpa permisi. Di ikuti oleh lima anak jalanan. Sesampainya mereka diruang tengah dikejutkan oleh Laura dan Aksa yang berbincang dengan Rin.

"Aru, kok bisa ada musuh sih?"  Bisik Satya pada Aruby.

"Ntah, musuh kita kenapa bisa temenan sama Rin sih?" Tanya Aruby

"Gak tau."

Satya dan Aruby tersentak ketika Rin menyambut mereka.

"AKHIRNYA KALIAN DATANG JUGAA..." Teriak Rin

"Ehh.. iya dateng. Sorry,. Gak pencet bell." Kata Aruby.

"Duduk sini, Pesenan gua lu bawain ga, ru?"

"Bawa, nihh. Mau ku bantu ke atas?  Kaki lu kan masih sakit."

"Ya, udah ayok. Alin tunggu disini aja ya."

Aksa yang menatap Satya tak bersahabat. Kalo dia harimau ia akan menerkam Satya. Begitupun sebaliknya. Mereka adalah saingan dari kecil. Saingan dalam segala hal.

Aruby yang menatap Laura tak menyapa dan tak melihatnya ia hanya menghela nafasnya. Lalu mengikuti langkah Rin menuju kamar.

Disisi lain Aksa dan Satya saing menatap tajam, tiba tiba tatapan itu redup.

"Laura buta." Kata Aksa.

"Siapa sa?" Tanya Laura

"Satya, cowok yang bully lu waktu SMP." Jelas Aksa. Laura hanya mengangguk bahwa ia tau Siapa yang dimaksud Aksa.

Tiba tiba terputar memori lama di kepala Laura. Lemas rasanya mengigat semua hal itu. Tanpa Laura sadari, kepalanya terasa sakit dan dadanya terasa sesak, laura mulai kehilangan kesadarannya.

"Lau bangun, Lau!" Kata Aksa.

"Ternyata, trauma lu sama Satya sedalam itu Lau. Bahkan lu sampai keringat dingin dan pingsan." - batin Aksa.

Aksa memindahkan tubuh Laura di sofa.

***

Di kamar Rin, Aruby membantu Rin mengenakan make up. Dan membawakan rambut palsu dan make up yang Rin minta.

"Rin, lu kayaknya harus banyak istirahat." Kata Aruby sedang mengoleskan blus on pada pipi Rin.

" Gua gak mau kayak orang sakit! Selama gua punya kalian, anak jalanan dan anak panti gua gak akan kenapa napa." Jawab Rin yang mencoba liptin yang tadi dibawa oleh Aruby.

"Tapi Rin kondisi lu makin drop. Penyakit lu juga gak main main. Lu gak boleh pergi. Gua gak sanggup nantinya." Kata Aruby tanpa ia sadari carian bening telah keluar dari kedua matanya.

"Gua mau kemana sih, gua disini selalu sama lu! Inget kata kata itu Ru."  Jawab Rin dengan senyuman mengembang.

"Karena lu, gua tau banyak hal perihal hidup. Karena gua gak mungkin sanggup kehilangan guru gua tentang hidup." Kata Aruby membuat jantung Rin berdetak kencang.

"Mungkin, gua bakal sembuh. Kalo di kasih ijin sama tuhan gua." Kata Rin membuat hati Aruby terkoyak. 

"Mau gua minta lu sembuh kayak dulu, kalo kita beda tuhan.."  sejenak Aruby terdiam, lalu mengucapkan hal yang selama ini ia tidak pernah katakan

"Mana bisa dikabulin." Cairan bening itu tak hentinya membasahi pipi putih Aruby.

"Udahlah, masih banyak waktu. Main sama gua jangan bosen. Dih, cengeng lu gitu aja nangis." Ledek Rin pada sahabatnya.

"Lu ngeselin, gua lagi banjir mata air. Lu bercandain."  Jawab Aruby menyeka air matanya.

"Cuci muka sana, abis tuhh kita turun. Main sama anak anak panti. Terus masak masak." Kata Rin

"Iya iya, dasar bawel amat kek emak emak."

Rin mengemasi alat alat make up dan menyingkirkan rambut palsunya. Seusai Aruby mencuci muka mereka akhirnya turun. Rin yang membawa kado, lalu menghampiri anak jalanan. Memberikan kado masing masing satu.

Aksa terkagum melihat Rin yang akrab dengan anak anak jalanan. Senyum dan tawa yang tidak pernah ia lihat dari Rin. Membuatnya ikut tersenyum sejenak.

"Rin, bahkan kalo lu sama kakak gua. Belum pernah gua lihat senyuman itu. Kakak gua beruntung punya lu" -batin Aksa

"Buka dong kadonya"

"Baik bunda....." Jawab mereka bersamaan.

"Bu-uku belajar." 

"Bagus banget unda"

"Yey buku baru.."

"Bunda, kak Arzan kangen sama bunda." Kata seorang anak.

"Kak Arzan, sering ngajarin kalian ya? Gimana kabar kak Arzan?" Tanyarin pada lima orang anak di depannya.

"Kak Arzan...." Jawab seorang anak ragu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!