Mobil milik Aksa telah sampai dirumah Rin, rumah bernuansa putih klasik yang di kelilingi taman.
"Thanks, sa. Udah anterin gua."
"Urwell, Rin. Gua langsung pulang ya." Kata Aksa
"Lu gak mau mampir bentar? Main gitu?"
"Sorry Rin, gua udah di tungguin temen gua." Jelas Aksa pada Rin
"Oke, Sa. Tiati." Kata Rin
Mobil milik Aksa telah meninggalkan rumah Rin. Rin berjalan masuk dengan kruk yang ia pakai.
Sampai ia dalam kamar, melihat kembali hasil tes dua hari lalu.
"Gak apa Ibel, semesta memang sejahat ini. Dan takdir ini lumayan sulit untuk di terima." Batin Ibel
Flashback on
...Kelas Satu Sd...
Rin sedang memakan buah dengan laki laki yang sebangku dengannya.
"Ibra, aku masih punya banyak buah dirumah."
"Ibra, gak bisa main kerumah Ibel. Nanti, Ibra dimarahin ayah sama bunda." Jawab Ibra sedih.
"Ibra, jangan sedih. Besok aku bawa banyak buah. Biar aku bisa makan buah yang banyak sama Ibra." Jawab ibel kecil dengan semangat.
"Iya, terserah ibel mau bagaimana." Senyuman Ibra mengembang.
Bel pulang telah berbunyi.
Ibel dan Ibra mengunggu jemputan. Ibra yang tak memperhatikan jalannya.
"Ibraaaa, awasss." Ibel kecil berlari kearah Ibra.
Brukkk
Ibel terpental, dan Ibra selamat. Hanya luka kecil di kaki dan tangan Ibra. Namun, Ibel kecil terbentur di kepalanya lumayan keras. Hingga darah segar keluar dari hidung dan mulut nya.
"Ibell, kamuu berdarah. Ibel jangan tinggalin Ibra." Kepala ibel sudah di pangkuan Ibra. Ibra menangis melihat temannya terluka.
"Ibla..jangan sedih. Ibel kuatt, Ibel akan selalu ada buat Ibla. Ibel janji." Jawab Ibel mengusap air mata ibra, sebelum kehilangan kesadarannya.
Ibel kecil koma tiga hari. Saat ia masuk sekolah ternyata temannya telah pindah dari sekolah tersebut.
Saat pulang sekolah Ibel menangis sejadinya dikamar, karena Ibel kecil sangat ingin bertemu Ibra.
Tapi kenyataannya, Ibra telah di bawa oleh orang tuanya pindah ke korea.
Flashback off
"Ibraa... Apa kita bisa bertemu nanti?" Batin Rin
***
[Danau]
Seorang laki laki bermata hazel menatap lurus danau di depannya.
"Ibel dimana?" -batin lelaki itu
"Ibraa, bunda cariin ternyata kamu disini." panggil wanita paruh baya.
"Ada apa bunda cari Ibra?"
"Papa kamu dua hari lagi pulang." Kata wanita itu.
"Bunda, dia bukan papa ku! Papa ku udah pergi selamanya dari aku, saat masih Tk!" Sentak Ibra pada bundanya.
Wanita paruh baya itu melangkah meninggalkan Ibra di danau belakang rumahnya.
"Ibel, apa kita gak akan pernah ketemu?" Teriak Ibra frustasi.
***
Gibran Stevano Aditya adalah putra tiri dari seorang pebisnis internasional, yang mendapatkan apa saja yang ia inginkan kecuali kasih sayang. Gibran atau sering di panggil oleh Ibel dengan nama Ibra adalah ketua gang mafia terbesar, yang sangat di takuti oleh gang mafia lainnya.
Gibran mempunyai mata hazel dan tubuh perfeksionis. Gibran sendiri ahli dalam bidang bela diri dan olahraga. Walaupun begitu nilai ia disekolah terbilang mendekati sempurna.
(Derttt....derttt)
...Laura...
Gi, ntar malem ada balapan ikut ga?
^^^Ikut, jam berapa?^^^
22.00, dateng! Gua punya kejutan buat lu
Read
Pesan dari laura cukup menarik bagi Gibran, pasalnya Gibran sudah cukup lama tidak ikut dalam balapan.
***
Pukul sembilan malam
Laura pov on
"Murid baru yang tadi gak masuk, mau gua ajakin deh. Lagian gua gak ada temen. Kayaknya dia satu frekuensi sama gua" pikir ku. Aku membuka handphone, dan menanyakan soal gadis itu kepada Aksa, Aksa adalah sahabat ku dari kecil.
...Aksara Jawa...
^^^Sa, punya nomor cewe baru di sekolahan kita ga?^^^
Punya
^^^Send sini^^^
Buat apa?
^^^Gua pingin punya tmn cewe sekali kali^^^
Oke
/Send kontak Isabella
Udah
^^^Ok thanks^^^
^^^Read.^^^
Namanya Isabella, aku save lalu aku chat Isabella.
...Isabella murid baru...
^^^Allo..^^^
y, sp ?
^^^Anjir singkat amat mba^^^
^^^Gua sahabatnya Aksa^^^
^^^Kenalin gua Laura.^^^
^^^Gua dapet kontak lu dari Aksa^^^
Ooo
Salam kenal, gua Isabella Sabrina
Panggil Rin aja.
^^^Pingin ajak lu liat balapan, lu mau ga?^^^
Balap? Mau.
^^^Gua jemput lu,^^^
^^^Share lock^^^
/Sahre lock
^^^Sipp^^^
Aku berganti pakaian, lalu turun dan mengambil kunci mobil.
Laura pov off
Gibran menyalahkan mobilnya menuju tempat balapan. Sedangkan disisi lain Laura menghampiri Rin untuk menonton balapan. Tak kurang dari sepuluh menit Laura telah sampai di depan rumah Rin.
Rin yang menunggunya di teras rumahnya langsung berjalan agak cepat dengan kruk, menghampiri mobil hitam di depan rumahnya.
"Balapan didaerah mana emang?" Tanya rin memecah keheningan.
"Didekat kota, ntar lu juga tau." Jawab Laura.
"Oke" jawab rin singkat
"Rin, kaki lu kenapa?" Tanya Laura yang melihat kaki rin
"Cuma kecelakaan aja biasalah." Jawab rin santai.
(Derrttt...Derttt..)
Laura mengangkat telpon dari Gibran
"Lu dimana?"
"Lagi di jalan 5 menit lagi sampai, bos!" Jawab Laura
"Ok" saluran telepon diputus sepihak oleh Gibran.
Mobil hitam yang memecah dinginnya angin malam telah sampai di tujuannya. Dekat kota dan sepi. Hanya anggota geng geng motor yang berkumpul untuk sekedar melihat atau mengikuti balapan.
Laura menghentikan mobilnya. Ia membuka pintu bagasi mobil agar Rin tidak kecapekan karena harus berdiri dengan kruk.
"Rin, duduk sini aja.."
Laura mengandeng tangan Rin ke bagasi mobil. Dan ia menepuk bagasi mobilnya sebagai kode duduk sini. Rin duduk di sebelah Laura. Gelang yang dipakai oleh Rin menyita perhatian Laura, karena seakan tidak asing dengan gelang yang dikenakan oleh Rin.
"Rin, itu gelang kapel ya?" Tanya Laura melihat gelang Rin.
"Huum, gelang ini gelang yang dikasih sama seseorang. Samaan sama dia tapi, gua gak tau di sekarang dimana." Kata rin dengan sedikit merendahkan suaranya.
"Sorry, Rin gua gak maksud."
Seorang cowok, menepuk pundak Laura,
"Lau, tumben bawa teman?" Tanya cowok itu meneliti Rin.
"Anak baru di sekolah gua, lama gak keluar juga sama cewe. Keluar bareng kalian mulu bosen." Ledek Laura terkekeh.
"Ntar gua mau kenalan sama temen lu. Udah di tunggu anak balapan dibawah." Tanya cowok itu meninggalkan Rin dan Laura.
***
Suara mesin mobil terdengar, seorang gadis berjalan ke tengah jalan membawa kain putih, tangan gadis itu menjatuhkan kain putih tanda di mulainya balapan.
Mobil hitam dan pink mulai melaju, melaju memecah udara dingin di kota. Tidak lebih dari lima belas menit mobil hitam yang digunakan Gibran telah sampai dan mobil pink milik seorang gadis menyusulnya.
"Yahh anjing, gua kalah." Kata gadis itu sambil melirik kearah Rin.
"Terima aja sih Ca..". Kata kedua temannya.
Gadis itu menatap tajam Rin, ia berlari kearah Rin dan tiba tiba memeluknya.
"Gua kangen banget, sama lu!" Kata gadis itu saat memeluk Rin.
"Caca kah? Tanya Rin dengan lirih, dan gadis itu melepas pelukannya.
"Yep, kaki knp kaki?" Tunjuk gadis itu seperti anak kecil.
"Kecelakaan marin."
"Ooo." Kata gadis itu.
Laura menyela pembicaraan mereka.
"Wait...wait.. kalian saling kenal?" Tanya Laura dengan raut bingung.
"Hmm." Jawab caca malas.
"Rin, kalo udah sembuh ajarin gua balapan biar menang dari tuh cowok." Tunjuk caca kepada Gibran yang sedang berjalan kearahnya.
"Lu aja yang gak bisa balap. Gak usah lu ajarin nih cewe!" Suruh gibran yang menatap Rin.
"Sorry...lu siapanya Isabella Sabrina emangnya? Sok ngelarang?" Tanya caca
Rin hanya melamun melihat mereka adu bicara. Lamunan Rin tiba tiba terhenti ketika ada pertanyaan dari Gibran.
"Nama lu Isabella Sabrina?" Tanya Gibran menatap Rin dalam.
"Aku pernah melihat tatapan yang sama, tapi dimana?" -batin Rin
"Iya, itu nam-" belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Gibran memeluk Rin.
"Ibel, ini Ibra. Maaf baru bisa nemuin Ibel." Kata Gibran lirih, isakan gibran terdengar oleh Rin, Laura dan Caca
"Iya, ga apa." Jawab Rin singkat.
Sedetik kemudian Gibran melepas pelukannya dan berteriak "TUHAN TERIMAKASIH." Suara bergetar dan air mata yang jatuh dari pelupuk Gibran, membuat Rin berdiri menghampirinya lalu memeluk Gibran dan berbisik "aku udah tepati janjiku."
Semua orang yang ada di tempat tersebut melihat hal yang tak biasa, karena Gibran tidak pernah sekalipun memperlihatkan air matanya keluar. Air mata yang lolos jatuh karena melepaskan rindu yang amat dalam.
Laura yang melihat perubahan sikap Gibran semakin tak paham. sebenarnya kenapa mereka dapat mengenal anak baru, terutama Caca yang populer di sekolah dapat mengenal anak baru ini.
"Lihat Ibelnya Ibra udah ketemu gengs.!" Seru caca memecah keheningan itu.
"Diem Ca, Gak liat gua lagi ngapain?"
"Hehe.. sorry bos. Gua gemes, dari dulu pingin temuin kalian berdua tapi susahnya kayak pelajaran mtk." Setelah berkata itu Caca langsung berlari pergi meninggalkan tempat balapan.
"Ibra , lepas pelukannya. Aku malu." Kata Rin lirih.
"Bentar lagi oke."
"Umm.. kaki ku ibra hm." Beberapa detik kemudian ibra tersadar bahwa kaki kiri Rin di gips.
Ibra melepaskan pelukannya, pikirannya masih tidak percaya apa yang terjadi hari ini.seperi mimpi indah Ibra setelah bertahun-tahun terwujud.
***
Suara adzan subuh terdengar, Rin bangun dari tidurnya, lalu melakukan aktivitas seperti biasa. Tak lama ia pun turun membuat roti bakar seperti biasa untuk sarapan.
Disisi lain Gibran masih tertidur pulas di kasur kingsizenya. Suara alarm saja berlalu setelah ia mematikan alarm, lalu tidur kembali dengan mimpi indahnya .
Sedangkan Aksa telah selesai mandi dan sholat subuh, kebiasaan Aksa membaca surah al mulk di pagi hari. Seusai membaca, ia pun berolahraga ria di halaman rumahnya.
Sejuk udara pagi menemani Aksa joging pagi ini. Tak luput ia membawa seekor kucing berbulu putih. Aksa mengajaknya jalan jalan.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments