Accident

" Udah faham belum? gua ngantuk mau tidur." kata Rin

"Belum faham..." kata Satya, Aruby, Ziffran dan Defandra secara bersamaan.

Satu jam sudah Rin berada dirumah Satya. Tiga soal, Rin mengajari teman temannya hingga akhirnya mereka paham. Ia dan teman-temannya akan menginap di rumah Satya. Sekarang sudah pukul 22.00 WIB mereka merasa mengantuk dan masuk ke kamar tamu yang tersedia.

***

Suara adzan terdengar jelas dari handphone Rin, tanda waktu untuk ia beranjak dari tempat tidur dan menghadap sang pencipta.

"Rin mau kemana?" Kata Syifa

"Itu panggilan Tuhan ku, syif. Kamu tidur lagi saja." Kata rin yg sudah sampai kamar mandi.

"Ahh kamu ibadah ya, kita beda agama yang seagama sama kamu dari kita berempat cuma si Ziffran." Kata syifa dengan senyum.

"Gak apa, emang takdir tuhan kita dipertemukan dengan beda agama." Jawab Rin seusai wudhu.

Lalu mengenakan mukena dah mengelar sajadahnya untuk sholat.

***

Udara sejuk mengisi kamar Aksa, suara adzan terdengar jelas. Suara burung berkicau membuat Aksa terbangun dari tidurnya lalu berwudhu dan hendak sholat kemasjid.

Aksa memang anak dari seorang berada bisa dibilang kaya dan kental dengan agama. Aksa dari kecil sangat bandel dulu ia pernah berkelahi hingga dirawat dirumah sakit saat SD.

Ia di juluki sebagai elang dalam keluarga itu, karena tatapan tajam dan gesit sehingga sulit sekali menjahilinya.

Selesai sholat subuh ia berdo'a "Semoga kau adalah masa depan ku Rin. Aamiin" tanpa ia menyadari telah menyebut nama panggilan seorang Isabella Sabrina, sudut bibir Aksa tersenyum. Aksa bersiap untuk pergi ke sekolah.

***

"Udah selesai Rin? Ibadah lu?" Tanya Syifa.

"Udah syif, gua duluan yg mandi apa lu duluan yg mandi?" Balas Rin.

"Lu duluan aja, gua masih ngantuk." Kata syifa sedang merapikan bantalnya untuk tidur lagi.

"Okey." (Rin masuk ke kamar mandi)

Ziffran sedang mencoba membangunkan dua temannya yang masih tertidur dengan pulas,

"BANGUNNN....ALARM NYALA MULU, BANGUN KAGAK"

"WOIII.... BANGUN..."

"HAISHHH... GUA MANDI DULUAN!"

Teriak Ziffran yang tak di respon kedua temannya itu hingga ia mengacak-acak rambut sendiri karena kesal. Pada akhirnya Ziffran memutuskan mandi terlebih dahulu baru membangunkan mereka lagi.

Jam digital telah menunjukkan pukul lima lebih empat puluh menit. Rin, Ziffran dan Syifa sudah selesai bersiap untuk kesekolah. Sedangkan dua temannya masih mandi.

Rin berpamitan kepada dua temannya Ziffran dan Syifa untuk kesekolah duluan, karena ia murid baru jadi awal sekolahh harus patuh dulu, pikir Rin.

" Gua duluan ya, murid baru gak boleh telat." Kata Rin sambil menepuk pundak kedua sahabatnya itu.

"Okey tiati..." Teriak keduanya melihat Rin sudah menyalakan motornya.

" Dua temen lu tuh lama bener, pegel nih kaki. Bisa bisa gua laper lagi." Kata Syifa dengan raut wajah kesal.

(Suara motor Rin semakin menjauh) tanda bahwa Rin memang terburu buru.

***

Aksa memasuki mobil lalu melajukan mobilnya menuju sekolah. Mobil Ferrari putih melaju di jalanan kota bandung menuju sekolah, melewati angin dan pohon yang menyapa sejuk pagi hari ini.

Seakan hati Aksa merasa senang, karena mulai hari ini ia akan antar jemput Rin seperti janjinya saat basket kemarin. Sudut bibir Aksa naik seakan hari ini akan ada hal tak terduga.

Baru setengah jalan akan kesekolah tapi,ada kerumunan yang menghadangnya.

"Aishhh, ada apaan sih?" Aksa keluar dari mobil dan memasuki kerumunan tersebut.

Seorang gadis mengenakan seragam sekolah yang sama dengannya terbaring lemas dijalan dengan darah yang keluar dari dahinya dan luka di bagian tangannya. Wajahnya menghadap kekanan sedangkan Aksa berada di kiri gadis itu. Betapa terkejutnya Aksa saat ia tau wajahnya.

"Telepon ambulans" kata seorang ibu.

"M-maaf, ini teman saya. Agak minggiran " Kata Aksa tertatih melihat wajah rin bersimbah darah.

"Bisa tidak anda mengangkatnya sendirian?" Kata seorang pekerja kebersihan.

"Insyaallah bisa." Lalu Aksa mengangkat Rin untuk dipindahkan ke mobilnya. Tak lupa ia menelpon orang bengkel untuk mengurus sepeda motor Rin.

***

Aksa sedang menelepon wali kelas Rin dan wali kelasnya.

...Bu Ira cantek...

...(Berdering)...

"Assalamualaikum, Bu Ira. Saya ingin memberitahukan kalo anak murid ibu yang bernama Isabella Sabrina kecelakaan tadi pagi bu. Sekarang ia di IGD bu, lukanya lumayan parah. Jadi saya harap ibu bisa menulis di absen Isabella sedang sakit. Itu saja bu dari Aksa."

"Wa'alaikummusalam, iya nak. Semoga cepat pulih murid baru ibu itu." Jawab sang guru

" Aamiin, bu. Wassalamu'alaikum." Aksa menutup teleponnya.

''''

...Guru galak...

...(Berdering)...

"Hallo, Bu Margaret. Aksa gak bisa masuk sekolah bu, lagi jagain temen di rumah sakit. Mohon ya bu, tulis di absen Aksa ijin." Kata aksa pada wali kelasnya

"Kamu pasti berbohong kan? Send bukti biar saya percaya!" Suruh wali kelasnya

Lalu aksa segera mengirim foto kepada wali kelasnya sebagai bukti bahwa ia memang berada dirumah sakit. "Udah ya bu." Katanya langsung menutup telepon.

Dokter keluar dari ruangan Isabella, lalu bertanya pada aksa

"Anda siapanya gadis itu?"

"Saya kakaknya dok, ada apa ya?" Jawab Aksa bohong.

"Ikut saya" dokter mengajak aksa keruangannya.

Sampai dalam ruangan Aksa diberi tau bahwa kaki kiri Isabella patah, dan harus dilakukan operasi pada kaki kirinya. Aksa menyetujui operasi tersebut.

Setelah itu ia menunggu didepan ruang operasi, wajah gadis yang ia lihat sedang menutup mata dan peralatan yang menempel untuk membantu bernafas.

"aku punya allah, dan akan kupastikan doa ku untuknya sampai kelangit." Batin Aksa

[Di sekolah]

Wali kelas dari Isabella menghubungi nomor ayah Isabella, namun sayang ayah Isabella berada diluar kota. Tertulis dua nomor yang satu milik ayah Isabella dan satu lagi nomor milik Diego.

...Walkel Ibel...

Assalamualaikum, nak. Adek kamu kecelakaan, ia sedang dirawat di rumah sakit Medika sehat. Lukanya cukup parah kata anak murid saya yang lain. Bisakah anda kesana untuk megurus adik kamu.

Pesan singkat dari wali kelas telah terkirim, namun sayang pesan yang dikirimkan gak kunjung dibaca.

Ibu Ira berjalan menuju kelas IPA-1 memberitahu kepada muridnya bahwa salah satu murid yang baru saja pindah kemarin kecelakaan.

"Eeeh Ibu Ira.... Cantik deh, sekarang jangan soal ya, praktek aja." Kata Sandra dengan senyum.

"Kalian semua duduk dulu, ibu hari ini ada rapat. Mau kasih tau kekalian teman kalian yang duduk di bangku itu (menunjuk bangku kosong milik Isabella) sedang dirawat, jadi mohon doanya biar cepat pulih." Kata bu Ira, lalu melangkah keluar kelas.

Pov Diego on

(Derrttt..dertt..) dering hp Diego diatas meja. Diego segera mengambil handphonenya mendapati satu pesan masuk dari wali kelas adiknya.

"Pasti nih anak buat masalah lagi pasti, tuh anak kalo g diem susah,ck." Duganya.

Diego membaca dengan teratur tak lama ia tersentak medapati kalimat kecelakaan dalam pesan itu. Diego berdiri mengambil jaket dan kunci mobil yang ada di atas meja.

"LU MAU KEMANAAAA.. BENTAR LAGI MASUK!!" Teriak Valno pada Diego.

"BILANG KE GURU, ADA URUSAN ADEK GUA MASUK RUMAH SAKIT!!" Balas Diego dengan cepat, lalu berlari menuju parkiran. Sampai lah ia diparkiran, lalu ia menyalahkan mobilnya. Tapi, saat akan keluar satpam sekolah menghalanginya

"PAKKK, BUKA TUH GERBANG URANG MAU KERUMAH SAKIT !! ADEK URANG KECELAKAAN!!" kata Diego yang tidak bisa mengendalikan emosinya.

Sesaat setelahnya satpam itu membuka gerbang membiarkan mobil hitam merah lolos dari sekolah.Di perjalanan ia kerumah sakit medika, ia terus saja berkata "Kenapa gak hati hati ibelnya kakak, kalo kayak gini kakak cemas. Ibel tuh satu satunya wanita dalam keluarga, kakak belum siap kalo kehilangan Ibel setelah kehilangan bunda." Tanpa sadar air matanya menetes hingga mobil itu berhenti di parkiran rumah sakit Medika Sehat.

Pov Diego off

Diego keluar dari mobil dan berlari menuju IGD, nampak mencari namun tak ada, alhasil ia bertanya kepada suster yang sedang menata obat.

"Sus, dimana korban kecelakaan? Atau Isabella Sabrina?" Pertanyaan keluar dari bibir yang gemetar.

"Maaf, mas .. pasien yang bernama Isabella Sabrina sedang dioperasi, jadi ia berada di ruang operasi sekarang." Kata suster.

"Hah? Apa? Operasi? Operasi apa?" Tanya Diego cemas.

"Operasi pada kaki kirinya, akibat kecelakaan kaki kiri nona Isabella patah." Jelas suster.

"Makasih, sus." Keringat dingin mulai keluar dari dahi Diego, wajah seolah tak percaya masih terlihat.

Setelah semua informasi yang ia dapat dari suster, ia berjalan mencari ruang operasi. Diego melihat seorang laki-laki berseragam OSIS duduk sendiri didekat pintu ruang operasi.wajahnya nampak sedih. Diego mendekat keruang operasi.

"Lu, kenapa gak sekolah?" Tanya Diego sambil mengamati laki laki itu.

"Temen gua kecelakaan, kak. Terus gua bawa dia ke rumah sakit ini. Dia tadi ditabrak lari oleh orang." Jelas Aksa pada Diego.

"Maksud lu Isabella Sabrina yang kecelakaan?" Tanya Diego mendesak.

Mata elang milik Aksa melihat Diego, lalu menjawabnya "iya, temen gua Isabella Sabrina, kok lu bisa tau?" Tanyanya heran.

"Jelas, tau gua kakaknya. Gua kira lu yang nabrak adik gua!" Kata Diego asal.

"Bukan, tadi pagi gua berangkat ke sekolah nah di tengah perjalanan ada kerumunan. mobil gak bisa lewat jadi gua samperin. Gua liat adik lu udah pingsan, gua bawa kesini." Cerita singkat Aksa.

"Okey, by the way, gua titip adek gua kalo disekolah. Emang tingkah dia rada rada tapi tu anak baik. Gua pingin ada orang yang jagain adek gua, karena gua beda sekolah sama dia." Jelas Diego.

"Okey, kak. Insyaallah kalo gua sanggup aja." Jawab Aksa dengan senyuman kecut.

Aksa dan diego mulai mengobrol didepan ruang operasi menunggu Isabella Sabrina keluar dari ruangan itu.

Setelah menunggu hampir satu jam akhirnya Rin keluar dari ruang operasi dan dipindahkan ke kamar rawat yang telah dipilih oleh Aksa. Kamar rawat VIP yang ia pilih berukuran lumayan besar dengan nuansa putih.

...

Rin masih tertidur dalam obat bius, semua alat masih terpasang pada Rin. Kakaknya duduk pada kursi didekat Rin.

Diego memegang tangan rin dan berkata "bunda maafin Diego gak bisa jaga Ibel, bunda... Apa perlu Diego pindah? Agar bisa jaga ibel?" Kata Diego yang perlahan meneteskan air mata.

Aksa yang melihatnya merasa sesak seakan atmosfer di ruangan itu berubah. Seakan Ibel akan pergi suatu saat.

Setelah sepuluh menit, akhirnya Rin terbangun dari tidurnya dan merasakan pusing pada kepalanya karena obat bius.

" A-aku dimana?" Tanya Rin dengan bibir bergetar.

Aksa mendekat lalu berkata " rumah sakit, Rin." Katanya dengan senyuman.

"K-kakak kok kesini? Kakak gak kesekolah? Nanti ayah marah kalo tau kakak bolos." Kata gadis itu yang melihat Diego dengan khawatir jika ayahnya memarahi kakak kesayangannya.

"K-kamu juga kenapa disini? Kamu kan harusnya sekolah?" Kata Rin menatap tajam Aksa.

"Santuy, hari ini ada rapat. Jadi gua mintain ijin buat lu sama gua." Kata Aksa.

"Ya udah, kakak tinggal kalo udah baikan tuh badan kamu, jangan lupa pulang." Pesan Diego yang tubuhnya sudah tak terlihat dari kamar rin.

"Aksa, sinii.. duduk. Gua mau nanya kaki gua patah kah? Pasti yang kiri kan" tanyanya sambil senyum.

"Iya, kiri. Mulai besok gua antar jemput lu.jangan ngeyel" tatapan elang milik Aksa menatap Rin.

"Iya, btw mari jadi sahabat selamanya." Kata rin sambil mengulurkan jari kelingking kanannya pada Aksa.

"Okey, sahabat" mengulurkan jari kelingkingnya ke Rin dengan senyuman.

"Hanya sahabat ya rin? Apa tidak ada sedikit rasa buat ku?" batin Aksa.

Akhirnya, apa yang ditunggu datang. Seorang suster memberi tahu jika Rin boleh pulang asal tidak banyak mengerakkan kakinya sampai gips di kaki kirinya dilepas.

Aksa mengantarkan Rin pulang, melaju diantara jalan kota yg agak sepi, Rin memulai obrolan.

"Btw, lu janji kan antar jemput gua?" Tanya Rin membuka obrolan.

"Iya, tenang aja gua gak pelupa dan ceroboh kayak lu." Sindir Aksa

"Weyy, kalo ngomong gua tuh gak ceroboh cuma kurang tepat ajaa." Elak Rin

Aksa terkekeh melihat wajah gadis disampingnya cemberut "sama aja itu Rin, nih ya pandai sihh tapi kang buat onar!"

"Kok lu tauu? Kok bisa lu tau gua buat onar?" Tanya Rin

"Tau lah lu kira gua g ada temen di sekolah lama lu! Lu di pindah kesini karena beasiswa, tapi tuh sifat jail lu bikin orang puyeng kan?" Tanya Aksa yang kini menatap manik mata Rin.

"Gua gak jail cuma gabut aja kok, gua tuh gak pernah jail tauu." Elak Rin yang kini mukanya seperti kepiting rebus.

"Idih...gak mau ngaku!" Tawa renyah aksa menembus telinga Rin.

"Ihhh... Rese banget sih lu? Dasar tepung bumbu sasa!" Ledek Rin

...

Mobil Ferarri putih telah sampai perumahan elit dikota bandung.

Terpopuler

Comments

Story Telling

Story Telling

humm

2022-11-23

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!