"Gibran lu pulang ?" Kata lelaki di belakangnya
Itu adalah suara kakak Gibran, bernama Andreo Steven. Laki laki dengan selisih umur dua tahun dengannya. Berkulit putih dan beralis tebal.
"Kakak! Bagaimana bisa?"
"Ahaha... Sejak ayah meninggal gua juga dikira meninggal ya, karena mereka nemuin tas gua di deket tebing pantai. " Kata Reo mengusap figura kecil penuh debu.
"Terus kakak kemana selama itu?"
"Gua? Gua gak sengaja masuk kapal dan ikut kapal itu sampai di dermaga Amerika. Di usia gua sekecil itu gua gak sengaja ikut ikut ke Amerika. Sampai akhirnya gua mengerti banyak bahasa mereka."
"Kak pulanglah bersama ku!"
"Ayah dan ibu ku sudah meninggal! Sejak itu aku tidak peduli, tapi adik kecil ku pasti merindukan ku. Hahahah." Tawa Reo.
"Gak, kakak pulang ke rumah ku, bukan ke laki laki busuk dan licik itu!"
"Nanti gua pikir pikir dulu."
"Aku lagi ngumpulin banyak bukti soal kematian ayah! Ayah dibunuh sama laki laki itu kak!"
"Apa kamu bilang, aku dengar berita ayah jatuh dari tangga!"
"Aku disana kak, ayah meninggal karena ditusuk. Aku ingin bercerita pada kakak tapi kakak gak pernah pulang sebelum kejadian itu."
"Maksudnya kamu ingin menceritakan tentang ayah tetapi aku?"
"Iya, aku melihat lelaki itu menjatuhkan ayah. Lalu menusuk ayah dengan pisau." Kata Gibran pada kakaknya.
"Gib, gua gak ngerti tapi ini keterlaluan! Apa bunda tau?"
"Bunda tau maka dari itu ayah di beritakan meninggal karena jatuh dari tangga. Dan bunda melarang diadakan otopsi."
"Pasti lu sangat tertekan hari itu, maaf ya dek. Gua gak ada waktu saat lu butuhin gua."
"Pasti kakak juga susah hidup dinegara orang. Gak enak.
"Engga, aku di adopsi oleh salah satu keluarga. Mereka menyayangi ku. Keluarga yang mengadopsi ku istrinya dapat berbahasa Indonesia." Lirikan mata Reo melihat banyaknya kemasan obat dibelakang adiknya itu. Dengan jeli ia dapat membaca jenis obat yang hampir habis.
"Waaah, keren. Jadi agama kakak masih Islam atau Ganti?"
"Syukurlah keluarga yang adopsi gua, salah satu keluarga Islam. Aku boleh nanya gak dek?"
"Bolehh kak, apa?"
"Kenapa kamu minum sebanyak itu? Kamu sakit? Atau ini yang dapat membantu mu dari tekanan yang diberikan tua bangka?" Tanya Reo yang memegang bahu Gibran.
Gibran hanya menunduk diam. Seolah tidak dapat mengatakan apa yang ia minum.
"Haii... Malah ngelamun! Obat anti depresan, dan beberapa obat lainnya sefurstasi itu lu?" Sambil mengumpulkan botol obat obatan Gibran.
Pertanyaan Reo hanya di jawab oleh anggukkan.
"Haishh yaudahlah. Nih tempat tinggal gua, lu bisa kapan aja datengin gua. Gua cabut dulu dek. Banyak orang yang harus ku urus."
"Makasih kak."
Setelah memberikan katu nama dan alamatnya, Reo tersenyum lalu melambaikan tangan di depan pintu. Ia meninggalkan tempat itu menuju rumah sakit. Reo adalah dokter yang telah menyembuhkan banyak orang pengidap kanker. Ia pintar dan memiliki hidup dan fasilitas serba mewah dan terpenuhi. Ia berada di Indonesia karena banyaknya permintaan dari Ikatan Dokter Indonesia untuk membantu beberapa orang yang belum dapat di tangani.
***
"Maaf, tolong tebus obatnya di apotik bawah. Terima kasih." Kata suster sambil memberikan resep obat Rin.
"Sama sama sus, Rin gua tinggal dulu ya. Ambil obat lu. Okay" tanya Satya.
Rin hanya mengangguk lemas, karena badannya terasa nyeri lagi, kepalanya terasa sakit seperti tertimpa reruntuhan. Rin melihat Satya telah keluar dan menutup pintu, kini Rin hanya sendirian.
Tak lama seseorang membuka pintu, mengenakan pakaian serba hitam. Rin melihat dengan samar semua alat yang ada di tubuhnya, ia copot dengan paksa. Ia melihat lambang kepala naga di jaket pria itu.
"Kaa-muu, Ma-au a-apain aku?" Tanya Rin dengan sedikit tenaga tersisa.
"Culik kamu!" Jawaban cepat pria itu, lalu memindahkan rin pada kursi roda. Ia menyuruh seseorang perempuan untuk melepaskan pakaian rumah sakit Rin. Perempuan itu menganti pakaian Rin dengan hati hati.
"A-aku m-masih s-sakit." Kata Rin lirih.
"Aku tau, tapi ini perintah!" Kata perempuan itu.
"Udah Re!"
"Okay, thanks." Rendy kembali kedalam lalu mendorong kursi roda dengan hati hati, menuju besmen lantai empat agar ia tidak bertemu dengan Satya.
Sesampainya ia didepan mobil, ia langsung melajukan mobilnya keluar dari rumah sakit.
"Sorry, kita bawa lu! Gua denger lu anak kandung dia yang dikira mati."
"Dia?" Lirih Rin.
"Yang tinggal di Singapura."
"Ntah lah." Kata Rin.
"Palsuin aja kematian lu! Kita bakal cari cara supaya lu sembuh! Dengan syarat tentunya! Ya gak Qil?" Tanya Rendy pada Qilla.
"Yoi, lu mau gak?"
Tak lama, mereka telah sampai di masion megah milik bos mereka.
"Wakil ketua dan panglima perang udah bawa cewe yang di inginkan bos!" Kata salah satu satpam.
"Kita duluan ya mang."
Rendy mendorong kursi roda Rin menuju masion megah itu, terdengar suara tepuk tangan dari beberapa orang. Saat Qilla membuka pintu masion.
***
"Rin, gua udah ambil obat lu." Kata Satya saat membuka pintu ruangan Rin.
Ia terdiam, melihat ruang rawat itu berantakan, monitor dan semua alat di matikan infusnya pun masih ada.
"RINNN LU KEMANA?" Teriak Satya, yang mengacak rambutnya dengan frustasi.
"MAAF GUA GAK BISA JAGA LU!" Tangisnya yang bergegas mengecek ruang cctv. Sambil menelpon mamanya.
"Hallo ma, Rin gak ada dikamar. Dia gak ada saat aku kembali dari pengambilan obat."
"HAH? APA NAK SERIUS?"
"Iya ma, seluruh alat bantu untuk rin udah di matikan. Infusnya pun dicabut kalo dilihat."
"Apa? Mama segera kesana."
Tut..tut.. (Telepon terputus)
•••
Sesampainya ia didepan ruang CCTV, terdapat satu satpam disana.
"Pak, boleh cek CCTV sebentar? Teman saya tidak ada dikamarnya monitor dan alat bantunya telah mati. Serta infusnya masih ada."
"Hah, silahkan anda masuk meminta izin pada dia." Satpam itu menunjukan seorang lelaki yang mengamati monitor.
Satya pun masuk dan meminta izin, dan dizinkan
"Pak, saya izin ingin melihat CCTV pak!"
"Silahkan, sini cek saja."
Satya mengamati CCTV itu, ia melihat seseorang berpakaian serba hitam dan tertutup membawa Rin keluar dari rumah sakit. Satya mengamati mobil yang membawa Rin.
"Pause, pak !" Penjaga CCTV menuruti perkataan Satya.
"Plat nomornya, bentar pak saya izin memotret layar monitor CCTV itu."
Satya memotret sisi belakang pada CCTV dengan plat nomor B 21 DAN. Ia berfikir sejenak tetang plat nomor itu.
"Makasih ya pak, saya mau cari teman saya dahulu."
"Yo, sama sama."
Satya menelepon kantor polisi untuk melacak mobil dengan plat nomor yang ia temukan. Polisi pun terkejut tentang apa yang dikatakan oleh Satya.
"Maaf, untuk keamanan bersama kami tidak dapat memberikan informasi tentang mobil ini !"
"Kenapa?"
"Kamu jangan cari siapa pemilik mobil itu, siapapun orang yang ia bawa tidak akan pernah lepas darinya."
"Maksudnya? Pemilik mobil itu berbahaya?"
"Iya, bisa dikatakan seperti itu. Ia berbahaya! Jangan mencari orang yang dibawa oleh mobil itu. Atau kamu akan celaka. Tapi, kemungkinan orang yang di bawahnya akan tetap hidup."
"Apa maksudnya?"
"Temanmu, mungkin ada hubungannya dengan mereka. Dan karena itu mereka membawanya! Lupakan teman mu anggap dia telah tiada!"
Telepon di matikan sepihak oleh polisi.
"Arghhh sialan!" Teriak Satya frustasi mengacak rambutnya. Dan memukul tembok beberapa kali.
"Sorry, gua gak bisa jaga in lu cantik." Air mata Satya menetes di iringi langit yang sedari tadi mendung dan menurunkan rintik hujan. Tubuh Satya kini basah karena air hujan.
(Drett...Drett...) Handphone Satya berdering telepon dari bunda.
"Gimana nak? Gimana Rin sudah kamu temukan?"
"Belum, yang membawa Rin bukan orang sembarangan bun."
"Usahakan tetap cari Rin, pasti tidak jauh nak. Bunda khawatir."
"Iya bun, Satya juga sudah meminta bantuan beberapa teman Satya. Sabar ya Bun."
"Iya nak."
Satya menutup teleponnya sepihak.
••••
"Apa? RIN NGILANG? YANG BENER LU !" Tanya Gibran pada orang yang ia tugaskan untuk mengecek keadaan dan posisi rin berada.
"IYA BOS, SAYA LIAT MOBILNYA. MIRIP DENGAN MOBIL KETUA GANG BLACK ROSE. "
"BLACK ROSE? MAKSUD LU ZIDAN? ZIDAN UDAH NGILANG 3 TAHUN!"JANGAN BERCANDA!
"IYA BOS. SAYA TIDAK BERCANDA."
"KALO BLACK ROSE BANGKIT KITA MUSTAHIL UNTUK MELAWANNYA. SEMUA USAHA SIA SIA UNTUK BAWA RIN PULANG!" Telepon telah diputuskan sepihak oleh Gibran, yang kini merasa kehilangan lagi.
"ARGHHH, RIN LU ADA HUBUNGAN APAAN SAMA BLACK ROSE!" Gibran merendamkan dirinya kembali dalam bak mandi.
••••
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments