...Lantas, aku harus bagaimana setelah kehilanganmu ? -Isabella Sabrina...
Jenazah Arzan dikebumikan, air mata Rin kembali keluar. Perihal mengikhlaskan itu sulit untuk Rin. Ia mengusap air matanya lalu tersenyum kembali. Baginya ini menyakitkan namun untuk Arbian ini hal yang dinantikan oleh sosok Arbian.
"Lantas mengapa aku bersedih, ini adalah hal Arzan inginkan. Ketenangan." Batin Rin. Rin mengualas senyuman masam.
Rin menuju kamar untuk mengambil ponselnya diatas meja rias. Terdapat notifikasi dari WhatsApp panggilan tak terjawab dari Albara lebih dari lima kali. Rin dengan cemas ia menghubungi Bara.
...Bara...
Bu, cepat cari pelakunya.
Saya tunggu.
^^^Hoo itu okey.^^^
Kok suara anda seperti
habis menangis, bu?
^^^Kebanyakan minum es doang, Bar^^^
Saya kira kenapa.
^^^Lanjut jagain ye^^^
Siap komandan.
Kini Rin tenggelam dalam kesedihannya, dunianya benar benar hancur. Ia masih terbayang oleh wajah Arzan.
Sangat terasa sesak dadanya mengigat senyuman tulus lelaki yang meninggalkannya sendirian didunia. Kepala Rin terasa sakit seperti ditusuk oleh ribuan jarum. Memang benar, seseorang yang terpuruk karena kehilangan lebih lebih ia memilki penyakit kanker akan sangat sulit disembuhkan.
Rin masih menangis dirumah Arzan. Ia tidak ingin meninggalkan kamar Arzan. Aroma kamar yang mirip dengan bau tubuh Arzan membuatnya sedikit tenang. Mau berpura-pura bahagia sangatlah susah. Wajah Rin menjadi pucat pasih badannya terasa ngilu, tenaganya hilang pandangannya mulai kabur dan kesadarannya menghilang.
***
Alika Quiny Dava mendekati Rin yang ia kira tertidur akibat kelelahan. Ia mencoba untuk membangunkan Rin. Namun, saat ia menyentuh lengan Rin. Ia terkejut lengannya sedingin air di kulkas. Ia berteriak sambil mencari minyak kayu putih.
"PAPAAA....PAPAAAA."
"TOLONGG PAAAA."
Teriaknya dengan kencang. Dava dan bodyguard berlari mencari dimana putrinya. Ia menemukan Alika mengelus punggung tangan milik Rin.
"Pa, panggil dokter kesini. Kak cantik suhu badannya kayak kak Arzan." Kata gadis itu menatap lekat wajah Rin yang pucat pasih.
Dava membuka ponsel dan mencari nomor dokter pribadinya, pria paruh baya itu menelpon dokter ahli dalam yang ia kenal selama bertahun-tahun. Namanya Ciana Nania.
...Nania...
^^^Hallo, Na. Gua butuh^^^
^^^bantuan lu sekarang!^^^
^^^Cepat kesini, rumah gua!^^^
Baik Bos
Dava lalu mengakhiri panggil dengan sepihak.
Pembantu dan Alika terus menggosok lengan tangan dan lengan kaki Rin. Agar suhunya kembali normal. Sepuluh menit berselang, Nania datang dan membawa asistennya. Koper yang dibawa asistennya adalah perlengkapan medis.
"Biar kan saya priksa dulu."
Nania mendekat menyorotkan cahaya ke mata Rin. Ia menyuruh Asistennya untuk mengeluarkan tabung oksigen yang ada di dalam mobil. Fallan Evano, berlari menuju mobil dengan cepat. Seusai, ia mengambil tabung oksigen. Nania telah memasang infus. Setelah itu ia memasang selang oksigen di hidung Rin.
Fallan Evano POV ON
"Gadis malang, padahal kamu seumuran denganku. Tapi kamu begitu lemah. Apa mungkin kamu punya penyakit yang tidak diketahui siapa pun kecuali dirimu sendiri. Bear.. " -batinku
Aku menatap lekat wajah polos dan pucat milik gadis didepan ku. Dia sangat menggemaskan. Ingin sekali aku dekat dengan gadis ini. Tapi sayang, mana mungkin aku bisa. Aku hanya tersenyum dapat melihat gadis yang begitu menggemaskan seperti bear.
Aku adalah Fallan Evano, asisten dari dokter Nania. Aku adalah anak magang dirumah sakit. Aku mahasiswa semester lima. Umurku bari tujuh belas tahun.
Fallan Evano POV OFF
Suhu tubuh Rin mulai kembali, ia merengkuh kesakitan pada tubuhnya. Nania yang memahami kondisi Rin, ia menyuruh Fallan mengambil obat anti nyeri dengan dosis yang lumayan tinggi. Nania menyuntikkan obatnya. Hingga perlahan rengkuhan kesakitan Rin menghilang.
Ia mengerti siapa gadis ini, karena ia pernah melihat adiknya bernama Arsela memeriksa Rin beberapa kali. Setiap orang yang di periksa adiknya pastinya ia mempunyai penyakit kanker.
Rin mulai sadar, ia mengigat apa yang terjadi dan pesan dari Bara. Ia masih merasa pusing tapi ia harus segera mencari tau pelaku tabrak lari lina.
"Om, saya mau pulang." Kata Rin
"Biar di antar Alika ya?" Sahut Alika
"Iya, Jawab Rin dengan lemah."
Nania melepas infus dan oksigen yang di gunakan oleh Rin. Fallan masih menatap lekat wajah lugu Rin.
"Ini nomor ku, hubungi aku kalo merasa sakit ya." Fallan menyodorkan sebuah kartu nama miliknya.
"Iyaa." Rin menjawab dengan mengulas senyuman.
Rin diantar pulang oleh Alika. Sesampainya ia dirumah.
"Dahhh... Cepat sembuh kakak cantik." Kata Alika lalu melajukan ferarinya meninggalkan rumah Rin.
Rin memasuki rumah lalu merebahkan diri di atar kasurnya. Ia mencari nomor Satya, mengirim pesan pada Satya.
...Satya...
^^^Aku butuh bantuan kamu,^^^
^^^cari pelaku tabrak lari.^^^
^^^/Send video^^^
Okey, akan ku carikan.
Setelah ia menghubungi Satya, ia melihat dirinya didepan kaca. Seakan lelah dengan dunianya. Sampai kapan ia akan berpura pura terlihat bahagia.
Hidungnya kini mengeluarkan banyak sekali darah. Rin mimisan sedangkan hanya ada dirinya sendiri dalam rumah ini. Diego sedang sekolah mungkin juga sedang mengikuti ekstrakurikuler.
***
Laura, hari ini menjalani operasi mata. Ditemani oleh sahabatnya. ia masuk ruangan operasi.
Operasi pada matanya sudah berjalan tiga jam. Aksa yang menunggu dengan setia di depan ruang operasi merasa khawatir.
Ia berdoa dalam hatinya untuk keberhasilan operasi mata Laura. Karena bagi Aksa senyuman Laura lebih berharga dari apapun itu.
Operasi mata laura telah selesai pukul tiga sore, operasi laura berjalan lancar. Perban yang ada di mata Laura akan dibuka beberapa hari setelah operasi dilakukan.
***
Satya telah menemukan yang ia cari, ia terkejut mobil dengan plat nomor yang diberikan Rin. plat mobil yang sama yang telah menabrak Arbian satu tahun lalu.
Setelah Satya memastikan plat nomor itu, ia menghubungi koneksinya yang berada di kepolisian untuk sedikit meluangkan waktu berbincang dengan dirinya.
Di cafe, Satya bertemu temannya Niola Rangga. Satya membicarakan hal mengenai plat mobil dan tabrak lari, dengan Rangga. Tiba tiba Rangga, memberi tahu bahwa nama pelaku sekaligus pemilik plat nomor adalah Gibran Stevano Aditya. Karena Rangga sendiri yang dahulu menyelidiki kecelakan Arbian.
Satya, sangat terkejut mendengar perkataan temannya itu. Tanpa ba bi bu temannya itu langsung meminta untuk tidak mencari tau dan berurusan dengan pelaku. Karena menurutnya Gibran adalah laki laki paling kejam dan mempunyai tahta tertinggi di dunia mafia di Indonesia. Rangga lalu meninggalkan Satya sendirian, karena Rangga telah di panggil oleh atasannya.
Satya memikirkan bagaimana ia memberi tahu Rin soal pelaku yang Rin sendiri dekat dan mengenalnya? Terasa sakit bak dihantam oleh ribuan peluru. Bukan hati Satya yang terasa sakit, namun hati Rin.
Rin berada di cafe yang sama dengan Satya. Rin yang sehabis mimisan ingin mengenang tempat yang ia kunjungi bersama Arbian tetapi hal yang ia dapat bukanlah kenangan namun fakta pahit akan seorang teman masa kecilnya.
"Jadi, benarkah ini tuhan? Kau renggut kesayanganku dan kau juga renggut kepercayaanku terhadap sahabatku?" -batin Rin.
Air mata Rin tidak jatuh, hanya amarah sekarang yang terukir didalam hatinya yang kini terasa sakit. Takdir tak ada hentinya mempermainkan dirinya.
Rin membuka ponselnya, mengirimkan sebuah pesan pada Satya. Pesan yang Satya tidak menduganya.
...Satya...
^^^Gua, udah tau semuanya^^^
^^^jangan khawatir^^^
Lu tau apa?
^^^Hal yang lu sendiri^^^
^^^bingung mau bilang ke gua^^^
Hah?
^^^Gua di meja belakang meja lu^^^
Satya menengok kebelakang memastikan Rin berada di cafe yang sama.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments