Street Number 70

...**Arzan Putra Dava, laki** laki yang tulus memberi warna dalam kehidupanku. Laki laki dengan segala rahasia.  -batin Rin...

Rin kini berada didepan gerbang sekolah menunggu taksi online yang ia pesan. Tak lama sebuah taksi berhenti di depan Rin. Supir taksi menurunkan jendelanya.

"Nona Rin?"

"Iya pak, saya."

"Saya taksi yang nona pesan tadi."

"Terimakasih pak."

Rin masuk kedalam taksi dan menyebutkan alamat tujuannya. Jalan mawar nomor rumah 70. Perumahan elit yang ia akan kunjungi.

"Pak nanti mampir ke toko buah dulu ya, mau beli beberapa buah buat teman saya." Kata Rin sambil menghitung uangnnya.

"Baik nona."

"Itu pak ada toko buah, mampir dulu pak." Kata Rin dengan senyuman.

Taksi berhenti di depan penjual buah. Rin turun dari taksi meski memakai kruk. Ia tersenyum sambil memilah buah anggur dan apel.

"Buah kesukaan Bian, pasti nanti kamu langsung makan semua buahnya." -batin Rin

"Buk, anggur satu kilo sama apelnya dua kilo ya." Kata Rin.

Setelah ibu penjual toko menimbang buah yg ia pesan. Rin membayar lalu berpindah ke toko bunga. Ia membeli tiga bunga lily. Bunga kesukaan Arbian.

Setelah selesai ia kembali ke dalam taksi.

"Sudah pak, mari kealamat itu."

Dibalas oleh supir taksi dengan anggukan.

Kurang lebih lima belas menit Rin telah sampai dipekarangan rumah elit, ia mengeluarkan uang dua ratus ribu.

"Makasih ya pak, ini ambil saja kembaliannya." Kata Rin masih dengan senyuman

"Tapi nona ini kebanyakan seharusnya 120 ribu " kata supir itu

"Gak apa pak."

Rin melihat bendera kuning didepan rumah Arbian. Hatinya kian sesak, senyumannya menghilang. Dalam benaknya ia bertanya siapa yang meninggal.

Rin mengambil buah buahan dan bunga yang ia beli tadi. Ia berlari kedalam rumah Arbian dengah wajah yang cemas. Kakinya kini dapat berjalan dengan normal. Rasa sakit yg ia rasa menghilang karena kecemasan pada  Arbian.

"OM, SIAPA YANG MENINGGAL?"

"yang tabah ya nak, Arbian udah pulang."

"ENGGAK GAK MUNGKIN ARBI, OM TOLONG BILANG INI BOHONG!!."  Rin masuk kedalam rumah menemukan Arbian yang tertutup oleh kain. Rin membuka kain itu dan melihat wajah Arbian.

Dadanya sesak namun air matanya tak bisa mengalir.

"ZAN BANGUN! GUA SAYANG LU! JANGAN GINI! KATANYA MAU MAIN SAMA ANAK JALANAN BARENG AKU! "

"AA-KU UDAH BELIIN BUAH KESUKAAN KAMU ARZAN, BUNGA KESUKAAN KAMU. ARZAN BADAN KAMU DINGIN BANGET. ARZAN JANGAN PERGI. AKU GAK SANGGUP  LIAT KAMU TIDUR KAYAK GINI."

Kata demi kata keluar dari bibir Rin. Kini cairan bening keluar dari mata Rin membasahi pipinya.

Rin kini memeluk tubuh Arbian kepalanya menyandar didada bidang Arzan. Ia berharap dapat menemukan detak jantung Arzan namun nihil.  "tubuh kamu dingin banget" kata Rin yang Rin tersenyum dengan asam.

"Kamu sungguh sungguh dengan kata kata itu ya Zan, kamu akan pergi dahulu karena kamu gak sanggup kehilangan aku ya Zan. Arzan lu cowok yang buat gua nyaman dan ini pelukan terakhir gua." Batin Rin.

"Arzan kamu, berhasil pulang duluan sebelum aku."

"Selamat terbebas dari dunia yang menyakitkan ini Arzan. Kamu gak akan dipukuli ayahmu, kamu juga tidak akan menjadi incaran para musuh ayah mu." Kata Rin lirih.

"Sekarang langitku bisa tidur nyenyak. Terimakasih untuk warna yang kau ciptakan dihidup ku."

"Arzan Putra Dava, laki laki yang tulus memberi warna dalam kehidupanku. Laki laki dengan segala rahasia." -batin Rin

Pemakaman Arzan pukul sebelas siang. Karena tidak menunggu orang dari luar.

Seorang gadis menghampiri Rin lalu mengajak Rin ke kamarnya.

"Kak ini pakaian buat kakak, kakak ganti baju ya." Kata gadis itu.

Rin hanya mengangguk

Baju hitam dengan jilbab hitam yang diberikan muat ada tubuh Rin. Ia menatap cermin melihat dirinya dipantulan cermin.

"Kamu kuat Bel, jangan nangis lagi. Kita sholatin Arzan ya. Jangan nangis lagi. Ku mohon hatiku sanggup." 

Setelah berbicara di depan cermin ia berjalan dan membuka pintu kamar itu. Matanya masih sembab. Wajahnya pucat.

"Apa kamu tau? Ini hal paling menyakitkan melihatmu terlelep selamanya."

***

Gibran, emosinya tidak terkontrol ia meminum banyak bir. Ia Memikirkan Rin dan memikirkan gadis yang ia tabrak. Pikirannya benar benar kacau. 

Ia mabuk,  Ryo yang menyuruhnya berhenti minum namun gibran menolak.  " Rin jangan benci aku. Maafin aku. lu dimana ibel ?"  Kata gibran terus menerus.

"Mungkin hanya Ibell yang bisa  buat bos tenang. " Pikit Ryo, lalu mencari ponsel milik gibran untuk menghubungi Rin.

(DRETTT...)

(DRETTT...)

(DRETTT...) Ponsel Rin berada diatas meja rias. Sedangkan Rin berada di dekat Arbian.

"Ahh, ayolah angkat Bel"  kata Ryo yang terus mencoba menghubungi Rin.

***

Tatapan kosong Rin pada Arzan yang terbaring di depannya.  Ia mengigat betapa bahagianya ia dulu didekat Arzan.

"Kamu datang dalam hidupku kamu ciptakan warna dan kebahagiaan. Dan sekarang kamu kasih tau aku rasa kehilangan lagi."

"Kamu hanya datang membawa arti warna. Setelah tugasmu selesai kamu pergi tanpa pamit."

Cairan bening kembali membasahi pipinya Rin. Ia mengusap Air matanya seperti anak kecil. Lalu tersenyum.

"Kamu gak sukakan aku sedih, maka dari itu aku akan melepasmu dengan senyuman. Katamu senyuman ku itu paling manis." Kata Rin lirih dengan senyuman asam.

***

"RAAA... ADA KABAR BAGUS !!" Teriak Aksa  yang berjalan kearah Laura.

"Kabar apa?"

"DOKTER UDAH NEMUIN DONOR MATA BUAT LU."  Kata Aksa tersenyum.

"Gak usah. buat orang lain aja, gua ikhlas kok.  Gua udah ikhlas pengelihatan gua di ambil Sa. Buat orang lain aja."

"Jangan gitu, inget tuhan udah ngambil pengelihatan lu, terus dikembaliin lagi sama tuhan. Masa lu nolak pemberian Tuhan?"

"Ehh kok, hmm. Oke"

"Oke apa?"

"Oke gua ikutin apa kata lu." Kata Laura dengan senyuman mengembang.

Aksa melihat senyuman yang telah lama hilang.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!