"Kapan kamu bangun lau? "
Udara malam telah mengisi kamar Laura, Obat biusnya kini telah habis ia telah tersadar. Dengan Aksa dan Gibran di kamar Laura.
"Aku dimana? Haii siapa yang matiin lampu? Cepet nyalahin! Aku fobia gelap!" Isak Laura.
"Lau, ini lampunya udah nyala gak ada yang matiin lampunya." Kata Aksa lirih.
" Ini gelap, Sa. Sa gua takut. Sa kenapa semuanya gelap." Isak Laura membuat air mata Aksa dan Gibran lolos keluar.
"Lau, tenang lau." Kata Gibran tak berdaya.
"Apa aku buta, Gi ? Jawab aku ! Aku takut disni gelap Sa." Isakan semakin menjadi.
"Lau, lu tenang dulu. Dokter bilang kamu buta permanen. Karena ada pecahan kaca yang masuk ke mata kamu." Kata Aksa sambil memegang tangan Laura.
"Tapi Sa, aku takut. Ini gelap semua gak ada cahaya, gak ada lampu. Kenapa Tuhan gak adil, Sa? Setelah Ayah dan bunda pergi selamanya, lalu ini? Aku cuma tinggal sama nenek Sa! Lu tau itu! Gimana nenek nanti pasti sedih. " Tangis Laura semakin menjadi.
Aksa memeluk Laura, untuk menenangkannya, sudah lama sekali sejak kepergian kedua orang tuanya. Aksa tidak melihat gadis itu menangis seperti ini. Bahkan Laura tidak pingsan karena fobianya.
"Lau, ikhlas ya. Nanti kita pulang kita kasih tau nenek kamu. Lau gak boleh sedih! Biar nenek gak sedih liat lau." Kata Aksa.
"Lau, lu harus bisa lawan rasa takut sama gelap dengan gitu. Nenek lu gak bakal ngerasa khawatir dan sedih." Kata Gibran.
"Iya, insyaallah." Kata Laura.
...****************...
Flashback on
Laura dan beberapa anak geng Gibran, sampai di sebuah bengkel. Karena Laura ingin mengambil mobil kesayangannya. Mobil dengan warna putih dihiasi beberapa cat silver.
Karena mobilnya telah selesai diperbaiki ia dan beberapa anak geng itu melajukan mobilnya ke mall, mobil yang ia kendarai sendari di ikuti dua mobil hitam. Sampai ia di mall, berbelanja membeli beberapa keperluan basecamp.
Laura Varsa Melodi adalah bendahara dari geng Flos Clypeus, gang yang telah menginjak generasi ke tiga.
Laura dulunya anak seorang mafia, karena dua tahun yang lalu kedua orang tuanya telah meninggal akibat sabotase yang dilakukan oleh pamannya. Karena sabotase itu Laura kehilangan kedua orang yang ia sayangi.
Sesudah ia berbelanja ia langsung berpamitan kepada wakil ketua. Badan yang lelah membuat Laura melaju dengan kecepatan tinggi, sebelumnya ia meletakan sebuah kaca diatas spedometer.
Namun, saat akan berbelok mobil yang ia kendarai remnya telah blog membuat ia menabrak sebuah pohon. Mobilnya ringsek dan kaca yang ia letakkan jatuh dan kaca mobilnya pecah, pecahannya mengenai matanya dan wajah.
Flashback off
...****************...
Pagi ini, Rin berbincang dan bercanda dengan kakaknya. Lama sekali ia tak pernah merasakan bercanda dengan kakaknya. Pantas saja Rin membaik begitu cepat. Doa yang dilangitkan dan khawatir sang kakak adalah kekuatan ia bangun. Kakaknya begitu menyayanginya, dalam diamnya selama ini.
"Kakak kalo aku cerita tentang penyakit ini apa kakak bisa seceria ini nanti?" - batin Isabella Sabrina.
"Nih makan dulu, kakak suapin." Kata Diego yang membawa mangkuk bubur.
"Gak mau, itu hambar kak. Masakan rumah sakit gak enak." Kata Rin.
" Harus makan, biar sembuh. Nanti kita makan diluar kalo udah boleh pulang." Kata Diego lirih.
" Iya, kak. Ya udah suapin. Pasti rasanya enak kalo kakak yang suapin." Rin tersenyum lebar.
Diego menyuapi adiknya dengan perlahan.
Satu suapan
Dua suapan
"Kakak belum makan kan? Kakak makan sama Rin aja." Kata Rin lirih namun jelas
" Engga, nanti kakak makan di kantin aja. Lagian ini kan cuma dikit. Nanti kamu gak kenyang. Aaaa." Jawab Diego sambil menyuapi Rin.
"Kakak kalo kakak sakit, apa bisa Rin menyuapi kakak seperti ini?" -batin Rin
"Makasih kak, kakak jangan sakit ya." Kata Rin.
Mereka berdua saling berbincang, mengenai semua tentang sekolah, teman dan kegiatan masing masing. Rin meminum obat. Obat yang sangat mahal harganya. Obat yang menemani dia dua bulan terakhir. Obat yang menemani dia dalam topeng baik baik saja.
"Kak, kalo Rin bohong kakak marah enggak nanti?" Tanya Rin menatap mata kakaknya.
"Mungkin akan marah, kenapa nanya gitu?"
" Gak apa kak, ingin tau aja." Rin tersenyum
" Semesta, itu lucu. Semesta kadang jahat dan kadang baik. Semesta itu seperti takdir susah ditebak alurnya." Kata Diego mengusap kepala Rin.
" Rin gak jahat kan sama kakak?"
"Enggak, Rin itu baik seperti bunda."
Kata Diego membuat Rin merasa sangat jahat, menyembunyikan penyakit. Yang bahkan dokter sangat sulit untuk mengobatinya. Penyakit yang membuat beberapa aktivitasnya terhenti.
Sejak dua bulan yang lalu, Rin sangat jarang menemui anak jalanan yang ia ajari membaca dan menulis. Ia dilarang untuk beraktivitas terlalu berat.
Penyakit yang dapat merenggut nyawanya kapan pun. Jika, imun melemah dan kehilangan banyak darah. Ia ingin selalu bersama kakaknya hingga hari itu datang.
"Jika aku diberi kesempatan, akan ku korbankan hidupku untuk kakak." - batin Isabella Sabrina.
Tok...tok..tok..
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan, ternyata sosok laki laki yang ia kenal membawa buah dan bunga. Gibran menjenguk Rin.
"Ibra... Dirumah ku udah gak ada buah. Kayak waktu kita kecil. Harusnya aku yang ngasih kamu buah bukan kamu yang bawain buah sebanyak ini" Lirik Rin pada buah yang diabawa Gibran.
"Gimana keadaan Ibel?" Tanya Gibran
"Udah jauh lebih baik." Jawab Rin.
" Dunia emang gak adil, setelah kepergian Gibran, bunda juga pergi. Ayah dan kakak bahkan tidak melihat ku seusai kepergian bunda. Setelah aku menerima surat hasil tes. Rasanya runtuh. Tapi kenapa? Aku harus mempunyai penyakit ini. Saat Gibran kembali dan kakak juga kembali melihatku?" -Batin Isabella Sabrina.
"Bell, bell oiii." Panggil Gibran.
"Maaf, aku ngelamun ya?"
" Iya , kamu dari tadi ku tanya. Mau dikupasin buah yang mana? "
"Apel aja kalo gitu, kakakku kemana? Perasaan tadi duduk di sofa."
" Tadi katanya mau makan di kantin." Jawab Ibra dan Rin bernafas lega.
"Oooo..."
Mereka saling berbincang, hingga satu pertanyaan keluar dari mulut Gibran. Membuat Rin syok.
" Ibel penyakit lu parah. Tapi tetep bisa gini ya pura pura sehat. Jangan gini Ibel lu buat gua gak bisa ngapa ngapain. Setiap gua liat lu senyum hati gua sakit. Kenapa lu gak mau bilang? Sampai kapan lu rahasiain soal penyakit lu?" Tanya Gibran frustasi.
"Maaf Ibra. Tapi kenapa Ibra bisa tau?"
" Karena gua khawatir, khawatir kehilangan lu untuk kedua kalinya. Khawatir lu pergi lagi! Gua kayak orang bodoh Bel ! Cuma bisa diem." Air matanya lolos jatuh meski tak banyak.
" Ibra, gak bodoh. Terima kasih karena sudah kembali kesini. Tapi, siapa sangka takdir sulit untuk dilawan." Jawab Rin tenang dengan senyuman.
"Gua pingin lu hidup lama, jangan pernah nyerah. Karena gua gak sanggup kehilangan lu lagi." Gibran memeluk erat tubuh Rin.
"Iya Gibran Stevano Aditya, Isabella Sabrina akan terus hidup. Bersama Gibran." Kata Rin membuat batin Gibran tenang.
Seseorang mengetuk pintu, lalu seorang membuka pintu dengan satu orang lagi dibelakangnya. Aksa yang menggandeng Laura mendekati ranjang milik Rin.
"Sa, mana Rin?" Tangan itu mencari tangan Rin.
"Pagi Rin, udah baikan?" Tanya Aksa
"Sa, Lau kenapa matanya di perban?" Tanya Rin menatap Laura.
"Haii, Rin. Gua gak kenapa napa. Ini kemarin kata dokter cuma buta permanen." Laura tersenyum dan duduk di samping ranjang Rin. Kini ia memegang tangan Rin.
" Kok bisa? Lu kecelakaan?" Reaksi Rin yang tak diduga oleh Laura.
"Iya, kecelakaan. Gimana kondisi lu? Sakit apa sampai lu tiba tiba baru sampai sekolah langsung di anter Aksa kerumah sakit?" Tanya Laura.
"Baik Lau, ini cuma kecapekan aja."
"Jangan sakit sakit, kakak beradik khawatir sama lu." Kata laura santai.
"Kakak beradik?"
"Iya, siapa lagi kalo bukan Aksa sama Gibran." Jawaban Laura membuat Rin kaget.
"Baru tau."
"Ekhemm.." dehem Aksa dan Gibran
Mereka mengobrol, membahas planning yang akan mereka lakukan setelah lulus. Nyatanya seorang Isabella Sabrina hanya berbohong tentang planningnya.
"Jika, diijinkan akan ku temui anak jalanan dan anak panti asuhan kasih ibu. Karena mereka membuatku menjadi rumah bagi mereka." - batin Isabella Sabrina
Setelah selesai berbincang, Aksa, Laura dan Gibran berpamitan untuk mengantarkan laura pulang. Karena Gibran dan Aksa akan menjelaskan bagaimana Laura menjadi buta, pada nenek Laura.
Rin yang sendari tadi duduk, kini ia mengambil bukunya. Buku yang ia gunakan untuk menulis puisinya dulu. Tapi kini, beralih menjadi buku untuk menulis keinginannya.
"Kepala ku sangat pusing, dan memoriku mulai memudar. Efek dari penyakit ini gak main main." -batin Rin.
Dengan kepala yang terasa sakit. Ia menulis tulisan kedua, tapi nyatanya ada ketakutan. Apa ia bisa sampai hari itu nantinya.
Tulisan kedua
Akan ku temui anak jalanan dan anak panti asuhan kasih ibu. Karena mereka membuatku menjadi rumah bagi mereka.
Aku rindu dengan senyuman dan antusias mereka. Anak anak dengan segudang mimpi.
Apa mereka merindukan kakak yang lemah ini?
^^^Isabella Sabrina^^^
^^^2 Juli 2021^^^
Rin tersenyum mengingat betapa, antusiasnya mereka. Saat, Rin mengajari mereka membaca dan menulis. Saat Rin membawa makanan untuk mereka. Dan saat ia mengunjungi panti asuhan.
Suara hujan menemaninya dalam lamunan, lamunan saat melihat bundanya dalam mimpinya. Lamunan tentang masa kecilnya. Sejenak ia melihat hujan di luar. Hujan, ia merindukan bermain hujan.
Lama sekali ia tak perah bermain hujan, karena kondisinya yang dari dua bulan lalu sudah semakin lemah. Dulu yang ia hanya menganggap penyakitnya angin lalu. Kini ia seperti menginginkan hari hari yang tenang untuk kepergiannya.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments