Orphans

"anak anak kumpul dulu sini?" Kata ibu panti

...****************...

Hari ini, udara cukup sejuk. Rin masih duduk dengan selang oksigen yang masih terpasang. Bercanda dengan sang kakak membuatnya lebih bersemangat.

Gibran yang sendari tadi melihat dari jendela. Di temani oleh anak panti asuhan Kasih Ibu. Karena ia tau keinginan wanita yang ia cintai itu dari buku Rin yang disimpan rapi dibawah batal Rin.

...****************...

Flashback on

Gibran siang itu melihat Rin menulis disebuah buku sehabis kakaknya keluar dari ruangannya. Gibran meneliti raut wajah Rin yang sangat khawatir seusai menutup buku.

Hingga ia penasaran, sebenernya apa yang ditulis oleh Rin. Sampai malam tiba ia memasuki ruangan Rin. Dan mengambil perlahan buku catatan Rin.

Gibran meneliti setiap lembar ke lembar lainya. Hanya ada puisi hingga hampir sampai pada halaman terakhir. Ia menemukan tulisan Rin, sebuah tulisan tentang keinginan gadis itu.

Keinginannya sederhana namun mampu membuat hati Gibran terkoyak. Setelah membacanya ia mengembalikan bukunya dibawah bantal milik Rin.

Flashback off

***

(Tok..Tok..) suara ketukan Gibran.

(Ceklek..) Gibran membuka pintu dan memberikan isyarat kepada anak panti agar jangan ikut masuk dulu.

"Hai, udah baikan?" Tanya Gibran.

"Udah kok." Jawab Rin dengan senyuman.

"Gua ada hadiah buat lu. Tapi pakai ini dulu.." kata Gibran tersenyum dan mengikat penutup mata.

"Kenapa harus ditutup mata ku ibra?" Tanya Rin

"Biar surprise, hitungan ke tiga lu buka aja penutup matanya." Suruh Gibran pada Rin.

Gibran memberi isyarat kepada ibu penjaga panti agar anak panti masuk keruangan Rin. Ada seorang anak perempuan ia menangis melihat kondisi Rin yang duduk dengan selang oksigen.

Anak perempuan itu menahan tangisnya dalam hati. Gibran pun mulai menghitung. Dan Diego hanya tersenyum melihat kejutan yang di siapkan oleh Gibran.

"Satu..."

"Dua..."

"Tiga.. buka penutup matanya bell" suruh Gibran.

Seperti ekspetasi Gibran ia melihat senyum. Anak anak panti berada disini. Seakan Rin tidak percaya.

"Ibra, anak anak panti"

"Iya kakak, cepat sembuh kak. Nanti kita main lagi ya kak." Kata anak panti bersamaan.

"Iya sayang, nanti kakak main lagi sama kalian kalo kakak udah sembuh."

"B-bunda.." anak perempuan itu menangis memegang tangan Rin.

"Iya sayang, kenapa?" Jawab Rin.

"Aku sayang nda. Nda gak bakal pergi seperti mama kan? Tanya anak kecil bernama Alina Zahra.

"Engga sayang, bunda disini kan sama Alin. Jangan berfikir kayak gitu." Kata Rin yang menahan tangisnya.

Bagi Rin, Alina adalah adiknya. Sedangkan bagi Alina, Rin adalah pengganti dari orang tua Alina yang meninggal karena kecelakaan beruntun.

Alina semakin murung, melihat wajah Rin. Wajah yang bagi Alina itu pucat. Tidak seperti tiga bulan lalu saat ia bermain dengan Alina.

"Bunda, jangan tinggalin lina seperti papa dan mama yang udah ninggalin lina sendirian. " -Batin Alina

Sisi lain Gibran sedang tersenyum, melihat Rin lebih ceria. Gibran mengambil beberapa foto saat Rin bersama dengan anak anak panti.

"Senang engga bell?" Tanya Gibran.

"Makasih Gibran." Jawab Rin

"Selama itu membuatmu nyaman. Akan ku lakukan apa pun itu selama kamu gak berfikir tentang kematian bell." -batin Gibran.

Alina menatap Rin sendu, anak kecil itu sangat ingin memeluk Rin. Anak yang diselamatkan dalam kecelakaan maut yang dahulu baru berusia tiga tahun sekarang sudah akan masuk usia SD.

Anak yang di didik oleh Rin dengan kasih sayang hingga sifat yang Rin miliki semuanya menurun pada Alina. Tentunya sifat jail dan pintar dalam situasi apa pun.

Alina tahu orang yang ia anggap sebagai bunda memiliki penyakit Astrositoma. Karena catatan medis yang tidak sengaja ia temukan lalu membaca isinya. Catatan itu yang membuatnya khawatir. Walau bundanya tersenyum. Senyumannya mengisyaratkan kesedihan.

"Bunda, aku gak mau pulang. Aku mau disini sama bunda." Kata Alina

"Kamu juga harus pulang sama kakak ya." Jawab Gibran.

"Engga mau, lina mau sama bunda. Lina mau sama bunda. Lina gak mau pulang. Lina mau bunda. " Jawab lina merengek pada Gibran.

"Gak apa Ibra, biarin alin disini. Gak tega liat dia ngerengek gitu." Kata Rin dengan senyuman.

"Bunda, kakak yang itu kakaknya bunda kan?" Tanya alina melihat ke arah Diego.

"Iya sayang, kakak bunda."

"Kalo kakak yang itu siapanya bunda?" Alina menunjuk Gibran yang akan mengantarkan anak panti pulang.

"Sahabat bunda."

"Bell, gua antar mereka pulang ke panti asuhan dulu." Lambaian dari Gibran dan anak panti membuatnya tersenyum.

Seusai, Gibran pergi Diego mendekati Alina. Diego meneliti Alina, dan ia mendapati Alina mirip sekali dengan Rin saat kecil.

"Alina Zahra, udah makan belum?" Tanya Diego.

" Belum, belum makan kakak. Aku akan makan kakak, karena makan nasi terus aku bosan." Jawab Alina membuat Rin tertawa renyah, tapi disisi lain Diego tak menyangka jawaban yang alina berikan mirip dengan Rin saat ditanya ayahnya dahulu. Kenangan itu seakan terputar didalam otak Diego.

"Rin, gua gak nyangka lu punya seseorang kayak nih bocah." Senyuman Diego mengembang melihat Alina. Diego mengangkat alina dan mendudukkan tubuh Alina di pangkuannya.

"Nanti kalo udah boleh pulang, aku ajak kakak ke suatu tempat." Kata Rin dengan senyuman.

"Kata dokter, hari ini lu udah boleh pulang. Dan gua mau tebus obatnya." Kata Diego.

"Yey, bunda boleh pulang." Sorak Alina.

***

Aksa sedang menemani Laura duduk di tepi kolam renang. Sesudah pulang dari rumah sakit. Laura langsung pingsan. Karena traumanya amat sangat mendalam. Baginya tempat yang gelap dan sepi itu menyeramkan. Saat dirumah sakit ada Aksa dan Gibran yang selalu mengajaknya berbicara.

Tapi saat sampai dirumahnya hanya ada nenek dan pembantu. Sepi itulah definisi rumah Laura. Tidak ada canda tawa, tidak ada seseorang yang mengajaknya berbicara. Laura sangat sulit beradaptasi dengan dirinya sekarang. Setiap takut ia akan pingsan.

"Sa, kapan aku bisa lihat lagi?" Tanya Laura.

"Setelah dapat pendonor mata, kamu bisa liat lagi lau. Sabar ya jalanin dulu." Aksa mengusap pucuk kepala Laura.

"Aku pingin main sama Rin lagi sa. Dia temen cewek ku pertama." Kata Laura sendu.

"Nanti kita kerumahnya aja, kata kak Diego Rin udah boleh pulang." Jawab Aksa menatap air didepannya.

"Oke, anter aku ke kamar mau ganti baju. Boleh minta tolong kamu yang pilihin Sa?"

"Iya aku pilihin baju buat kamu lau."

Laura berganti baju dibantu oleh suster yang dipekerjakan oleh neneknya. Dress putih dan rambutnya terurai membuat Laura terlihat cantik.

Laura memakai kaca mata dan keluar dari kamarnya.  Aksa menunggu sahabatnya itu di ruang tamu. Dengan perlahan laura berjalan dengan perawat di sampingnya.

Sampai ia di ruang tamu, meraba mencari Aksa.

"Aku disini, tenang gak ku tinggalin." Kata Aksa dingin.

"Makasih Sa, lu selalu bantuin gua. Harusnya lu cari teman lain yang bisa jalan sendiri tanpa bantuan tongkat. Maafin gua yang buta ini dan sering ngerepotin lu." Kata Laura merasa ia tidak pantas walau hanya berteman dengan Aksa.

"Apaan sih lu, lu tuh sahabat gua. Gak usah lu mikir yang lain. Belum tentu, orang yang baru bisa gantiin posisi lu lau!" Jawab Aksa emosi.

Aksa emosi bukan karena Laura. Tapi karena ia tidak pernah sekalipun ingin meninggalkan Laura. Karena Laura juga hidupnya.

Jika Laura tidak ada di kehidupannya mungkin ia telah lelah Dengan hidupnya. Karena tanpa sifat Laura yang sangat mirip dengan almarhumah bundanya, Aksa tidak akan mampu bangkit dari keterpurukannya.

"M-maf Sa.."

"Ya udah, ayok kerumah Rin." Aksa mengandeng tangan Laura.

***

Gibran, Rin dan Diego telah sampai didepan rumah dengan nuansa putih.  Rumah yang hanya ada pembantu dan satpam. Rumah yang sangat sepi tanpa kehangatan keluarga.

"Udah sampai akhirnya.." kata Diego setelah turun dari mobil

"Mau ku gendong apa jalan sendiri?" Tanya Gibran pada gadis di depannya.

"Gi jalan sendiri aja, bentar." Rin mengangkat telepon dari sahabatnya yang sering ia suruh menemui anak jalanan.

...Aruby...

Udah sembuh belum?

^^^Udah Ru, gua^^^

^^^dah pulang^^^

Anak anak ingin ketemu lu

Terutama anak jalanan

Yang biasa lu ajarin.

^^^Main aja kesini,^^^

^^^Tapi gua gak ada makanan^^^

Soal makan ada bos Satya

^^^Oke, terserah lu.^^^

^^^Lu beli make up banyak gak?^^^

^^^Gua harus make up, biar gak pucet.^^^

Nanti gua bawain santai aja.

Udah dulu ya. Istirahat girl

^^^Okey, hati hati kalo keseni.^^^

Telepon ditutup sepihak oleh Rin, lalu dengan senyuman mengembang ia berjalan melewati Gibran dan Diego dengan Alina disampingnya mengikuti langkah Rin. Diego dan Gibran hanya bertatapan seolah bertanya tanya "rin kenapa?"

Diego meninggalkan Gibran sendirian. Diego memasuki dengan membawa obat yang ia tebus dari rumah sakit.  Sedangkan Gibran mengurungkan niatnya untuk masuk, karena sebuah chat dari wakilnya.

...Ryo Ardana...

Hallo bos, kapan

mampir ke basecamp

^^^Gak tau^^^

Anak anak nanyain lu Mulu.

Semenjak lu kenal cewek

yang dibawa Laura. Lu jadi

jarang ke basecamp.

Siapa tuh cewe? Cewek

yang bertahun tahun lu cari?

^^^Iya, dia cewe yang^^^

^^^gua cari selama ini.^^^

Tau gitu gua bunuh

tuh cewe biar lu gak

lupa lu juga punya

keluarga di basecamp!

^^^Lu jangan macem macem Yo.^^^

^^^Jangan sentuh dia.^^^

^^^Kalo sampai dia kenapa napa^^^

^^^gua gak bisa maafin lu Yo^^^

Sekali aja bos,

lu datengin basecamp

Apa lu lebih pentingin cewek itu?

Bos, kita butuh lu.

Basecamp kemarin diserang

Dan lu kemana?

Bahkan lu gak angkat telepon gua.

Gua capek Gi

^^^Gua juga capek Yo.^^^

^^^Gua bakal ke basecamp^^^

^^^setelah urusan gua selesai.^^^

Cepet balik basecamp.

Anak anak nungguin lu.

^^^Okey.^^^

Gibran mengacak rambutnya, ia hampir lupa jika ia juga mempunyai keluarga diluar sana.  Ryo hanya membaca chat dari Gibran.

Gibran melangkah memasuki rumah, tempat tinggal Rin. Sedangkan Aksa masih dalam perjalanan kerumah Rin. Laura yang diam saja di samping Aksa.

Dalam diamnya ia ketakutan. Tarumanya karena kecelakaan membuatnya selalu berusaha untuk memikirkan hal hal lain.

Terbesit di ingatan Laura kata neneknya, saat malam itu.

"Nenek, gak suka orang nyusahin. Kamu harus bisa sendiri walau nenek pekerjakan suster untuk rawat kamu. Tetap kamu harus bisa sendiri."

Kata kata itu membuat Laura runtuh dan trauma. Trauma atas kepergian yang sekian kali ia lihat.

...****************...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!