Arzan's Last Breath

...Tadi aku berdoa, jika bisa hari hari terakhir diriku aku ingin melihat mu tetap seperti dulu. Sampai usai tugas ku di dunia ini. -Batin Rin....

Rin  mengigat hal hal kecil bersama Arzan,  hal yang sulit untuk dilupakan.  Sama seperti janjinya kepada Gibran.

"Bangun, jangan bobo mulu. Katanya mau main sama anak jalanan? Kamu bohong lagi ke aku."  Isak Rin

"Hmmm, ak-ku gak bobo." Suara Arzan terdengar tidak begitu jelas.

"Akhirnya kamu sadar, kamu jangan bobo lama lama dong! Aku takut" kata Rin  yang terisak  didekat tangan kekar milik Arzan.

Rin membuka pintu,  lalu memberitahu jika Arzan telah sadar. Meski kemungkinan ia sembuh cukup lama tapi kabar itu membuat ayah Arzan merasa tenang.

"Tadi aku berdoa, jika bisa hari hari terakhir diriku aku ingin melihat mu tetap seperti dulu. Sampai usai tugas ku di dunia ini."  Batin Rin.

...----------------...

Sudah dua hari Rin tidak masuk sekolah, kini ia telah siap dengan seragamnya. Ia tidak di jemput oleh Aksa melainkan di jemput oleh Gibran.

Dalam otak Rin, ia hanya menebak nebak apa Gibran adalah orang yang sama di rekaman CCTV saat ia cek dulu? Apa benar gibran yang membuat Arbian hampir mati?

"Gibran, setahun lalu ada kecelakaan tunggal. Kira kira setahun yang lalu kamu pernah ke sini gak ya?" Tunjuk Rin tepat di daerah itu.

"Ohh, pernah. Aku cuma lewat sih. Bukannya yang kecelakaan itu anak mafia? " Tanya Gibran.

"Bagaimana Gibran tau, sedangkan ia gak pernah sekalipun melihat Arbian, dan berita itu hanya orang terdekat Arzan yang tau." - batin Rin

"Kamu sebenarnya siapa?" Tanya Rin

"Aku Gibran lah, kamu pikir aku siapa?" Tanya Gibran menatap wajah Rin dengan heran.

Rin terdiam sejenak. Mengigat kejadian itu perlahan.

" Kamu bohong,! kamu juga salah satu orang yang ingin membunuh Arzan anak dari om Dava!"  Tuduh Rin yang kini pikirannya kacau.

Gibran  mengerem mendadak mobilnya yang hampir sampai sekolah Rin.  Ia menyelami ingatan satu tahun lalu. Ia yang dahulu selalu mencoba membunuh Arzan. Karena kebenciannya pada ayah Arzan.

"Engga Rin! " Rahangnya  mengeras dan menahan emosinya.

"Lu bohong sama gua! Anggap gua udah mati setelah pertemuan ini! Lu kejam Gib!  Ternyata semua yang Satya kasih ke gua itu bukan cuma candaaan!" Kata Rin lalu turun dari mobil menggunakan kruk.

...----------------...

Arzan  collapse, ayahnya yang melihat Arzan tak sadarkan diri berteriak pada dua penjaga didepan ruang rawat Arzan.

"PANGGIL DOKTER CEPAT !!"

"BAIK BOS?"

Setelah perintah itu kedua penjaga mencari dokter yang menangani Arzan.  Tak lama kedua dokter datang bersama suster dan dua penjaga.

"Tolong anak saya!"

"Baik pak, bapak bisa keluar biar kan kami memeriksa Arzan."

Ayah Arzan keluar dari ruang rawat. Pikirannya kian kacau melihat anak laki lakinya collapse tiba tiba. Tangan Arzan yang ia pegang tadinya hangat tiba tiba menjadi dingin.

"Zan jangan tinggalin ayah." Badan Dava lemas ia bersandar di kursi rumah sakit.

Sedangkan didalam ruang rawat dokter dan suster berusaha menyelamatkan Arbian. Detak jantung Arbian kian melambat.  Bedside Monitor menunjukkan lemahnya detak jantung Arbian.  Suster telah menyiapkan AED [(automated external defibrillator)  atau dikenal dengan alat pacu kejut jantung ].

Pada pacuan pertama detak jantung Arbian tetap melemah.

Pacuan kedua tidak ada reaksi

Pacuan ketiga detak jantung Arbian menghilang di Bedside Monitor terdapat garis lurus yang menunjukkan detak jantung Arbian tidak ada.

Pacuan keempat tidak ada reaksi.

"Suster catat tanggal 9 Juli 2021 waktu meninggal pukul 07.07 WIB, saya akan memberi tahu keluarganya. "

Suster, mengambil sebuah pulpen dan menulis tanggal dan jam Arbian meninggal.  Sedangkan dokter yang menangani Arzan keluar ruangan. Didepan ruang rawat  Dava berdiri .

"Bb-agaimana kondisi anak ssa-aya?"

"Yang ikhlas pak, anak anda telah tiada. Kami telah berusaha semaksimal mungkin." Kata dokter

"ENGGA MUNGKIN".  Dava berlari masuk ke dalam ruang rawat lalu memeluk badan Arzan. Badannya kian lemas melihat kenyataan putranya telah tiada.

"NAKK BANGUN!!"

"KASIH AYAH KESEMPATAN !"

"NAKK BANGUN, PUTRA AYAH HARUS KUAT. NAKK"  Dava memeluk tubuh Arbian yang terasa dingin, hatinya putus asa.

...----------------...

Gibran berdiri didepan danau, hal itu ia lakukan untuk membuatnya merasa tenang.  Tidak habis pikir gadis yang ia cintai tidak mempercayainya. 

Dadanya terasa sesak mengingat perkataan gadis itu "Lu bohong sama gua! Anggap gua udah mati setelah pertemuan ini! Lu kejam Gib!  Ternyata semua yang Satya kasih tau ke gua itu bukan cuma candaan!"  Kata kata yang terus terulang dalam pikirannya.

"Apa lu sebenci ini bell sama gua?"

"Apa spesialnya dia sampai lu suruh gua anggap lu udah gak ada ?"

"Gua hidup karena gua pingin temuin lu!"

Pertanyaan yang muncul dalam benak Gibran, membuat cairan bening mengalir  deras membasahi pipinya.

"Ayah? Apa aku salah membalas dendam kepada orang yang membuat ayah meninggal?" -batin Gibran

Gibran kini berbaring diatas rerumputan, menatap daun di atasnya.

"Andaikan, aku seperti daun. Mempunyai banyak teman." Kata itu keluar dari mulut Gibran dengan senyuman hambar.

Gibran tertidur dibawah pohon rindang tempat yang ia akan kunjungi tiap kali merasa sesak dengan kehidupannya.

...----------------...

Rin tidak terlihat pucat, karena make up yang ia gunakan. Make up yang dibawa oleh Aruby. 

"Ternyata menyakitkan, menjauh dari lu Gib.  Karena gua gak sanggup melihat lu nyakitin orang yang gua sayang." Gumam Rin

Pelajaran dimulai, meski kata dokter ia harus beristirahat dan mengurangi aktivitas, Rin tetaplah Rin selalu ingin terlihat baik baik saja dimata banyak orang.  Ia sesekali menahan rasa sakit di kepalanya.

Rin berencana sepulang sekolah mampir ke rumah sakit. Melihat bagaimana keadaan Arzan.

Dering jam istirahat telah berbunyi. Rin berjalan menyusuri lorong sekolah menuju sebuah perpustakaan. Sesampainya di dalam perpustakaan ia membaca buku fiksi dan membawa buku puisinya. Terkadang ia ingin menulis hal hal yang dapat menenangkannya.

Rin mengeluarkan pulpennya ia perlahan menulis di lebar kertasnya.

"Jika memang takdir, aku ingin pulang dalam dekapan kakakku. Dan jika masih sedikit waktu ijinkan aku bicara dengan Arzan." -Rin

Rin menghembuskan nafasnya, masih teringat kata kata seorang dokter yang menanganinya "kamu bisa saja hidup lebih lama jika mampu melawan penyakit dan menjaga diri kamu" "dua bulan itu bukan waktu yang lama" "penyakitmu udah tipe 3 tingkat kesembuhannya kecil." " Kamu semangat seperti almarhum adikku" kepala Rin terasa sakit ketika ingatan itu muncul.

...----------------...

Dava menyuruh kedua penjaga membereskan barang yang ada diruang rawat Arzan. Ada dua kotak di temukan oleh penjaga, dekat dengan pakaian Arzan. Satu kotak tertulis untuk Rin gadis yang aku cintai, terimakasih untuk tujuh tahun dengan kehangatanmu dan satu lagi tertulis untuk ayah yang membuat ku bertahan hingga sekarang.

Ayah Arzan menyiapkan pemakaman untuk Arzan  dan memberi kabar kematian putranya pada Rin.

...----------------...

Gibran melajukan mobilnya menuju basecamp. Pikiran kian kacau dan membuat melaju dengan kecepatan tinggi.

Teringat perkataan Rin "Anggap gua udah mati" kata kata itu membuat Gibran kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Seorang gadis sedang menyebrang dengan membawa bunga lily putih, saat di tengah jalan ia akan menyebrang mobil hitam dari barat menuju utara dengan kecepatan tinggi menabrak gadis itu. Gadis dengan tag name Aliana Alexander. Telah tergeletak setalah kepalanya terbentur dan mengeluarkan darah cukup banyak.

Gibran yang menabrak gadis itu, hanya mengerem mendadak tanpa niat menolong Aliana, karena perasaan takutnya. Ia melarikan diri dari kecelakaan itu. Lalu melanjutkan mobilnya menuju basecamp.

Sesampainya ia dibase , Gibran menceritakan kejadian itu pada wakil ketuanya. Rasa bersalah kini menyelimuti hati Gibran.

...----------------...

Aliana di temukan oleh temannya yang akan berjalan menuju sekolah seusai mengambil fotocopy soal latihan.

"AALIN....." Teriak Bara

"GAK, GAK MUNGKIN INNA.."

Bara menghubungi orang tua Aliana dan menelpon rumah sakit terdekat. Selang lima menit ambulans akhirnya datang.

Tubuh Aliana dipindahkan ke dalam ambulans. Sedangkan Bara mencari cctv yang ada di daerah itu.  Akhirnya ia menemukan satu rumah yang memiliki cctv. Bara mengetuk pintu itu. Sembari memberi kabar pada Rin guru yang mengajarinya dulu.

...Bu Cantik...

^^^Bu, ina kecelakaan.^^^

^^^Dan dikategorikan tabrak lari.^^^

Lina baik baik saja?

Apa pelakunya belum diketahui?

^^^Saya, sedang memeriksa cctv^^^

^^^dekat kejadian bu. Tolong bantu saya menemukan pelaku tabrak lari bu.^^^

Kirim rekaman cctvnya.

Biar aku bantu cari pelaku

dari plat kendaraan.

^^^Baik nanti aku kirim. Jika,^^^

^^^mendapatkan rekaman cctvnya^^^

Okey.

Balasan singkat dari Rin telah membuatnya sedikit lega. Pasalnya ia adalah cowok culun dengan kaca mata yang selalu dibully oleh temannya.  Namanya adalah Albara Zeoloeny murid pertama Rin hanya beda satu tahun dari Rin.

Albara Zeoloeny atau lebih di kenal sebagai bara adalah orang jenius ia bersekolah dengan beasiswa dan bekerja paruh waktu sebagai pelayan di sebuah cafe.

Pintu rumah terbuka dan menampilkan anak kecil berusia tiga tahun.

"Appa, ada rang ya cayi appa" teriak anak itu setelah melihat Bara.

"IYA PAPA KESANA." Teriak ayah dari anak itu.

Tangan mungil itu memegang kaos milik ayahnya.

"Ada keperluan apa nak?"

"Bolehkah saya melihat rekaman cctvnya sekitar jam 08.30 WIB?"

"Boleh boleh, masuk aja nak anggap aja rumah sendiri. Maaf ya rumahnya berantakan." Senyum ramah dari pemilik rumah.

Bara di antar keruang cctv dan melihat rekaman cctvnya. Saat ia lihat ia menemukan mobil hitam dengan nomor plat mobilnya B 6113 RAN. Bara mengulang rekaman cctv lalu memindahkan ke handphone miliknya.  Tak lupa ia mengirim rekaman itu pada Rin.

Setelah itu Bara menuju rumah sakit tempat Aliana dirawat.

...----------------...

Dua pesan masuk dari Bara dan ayah Arbian.

...Bara...

/Send vidio

^^^Nanti aku bantu, temani Aliana.^^^

Setelah Rin menjawab pesan dari Bara, ia membuka pesan dari ayah Arbian.

...Om Dava...

Om cuma mau kasih kabar

Arzan udah boleh pulang hari ini, Isabella kesini ya, Arzan nungguin kamu dari tadi.

^^^Iya om, nanti aku mampir.^^^

^^^Sehabis pulang sekolah.^^^

Pesan masuk dari ayah Arzan pukul setengah delapan. Hati Rin kian terasa tenang mendengar kabar Arzan sudah boleh pulang. Ia akan kerumah Arzan karena ia tadinya mendengar sekolah akan memulangkan muridnya jam setengah sembilan karena ada rapat komite sekolah untuk membahas kurikulum.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!