Wounded

"Parah banget!" Satya menatap Rin  seakan ingin menerkam mangsanya.

"Biarin.." kata Rin dengan senyuman.

"Bunda, jadi bilang tidak?" Kata Satya pada ibunya.

"Iya... Jadi bunda mau jujur sama Rin. Rin gak boleh sedih ya!"

Dibalas anggukan oleh Rin

"Rin itu bukan, anak kandung dari ayah Rin. Rin itu anak angkat, dan bunda yang bawa kamu untuk di adopsi sebagai pengganti bayi yang telah meninggal."

"Hah?"  Respon Rin yang kaget.

"Nama asli kamu  Zayyara Claufi, kamu berasal dari keluarga Claufi. Bunda mengetahui ini semua karena bunda melihat seseorang yang mirip sekali dengan mu. Saat bunda cari tau gadis itu, gadis itu berasal dari keluarga Claufi. Keluarga besar yang sekarang mereka tinggal di Singapura. Kamu, salah satu keluarga Claufi yang masih di Indonesia."

"Gak bunda, ini gak mungkin."

"Keluarga Claufi kehilangan Putri keduanya, saat penyerang yang dilakukan oleh rekan bisnisnya. Anak itu di yakini meninggal karena masuk kedalam jurang dan di dekat jurang terdapat aliran sungai yang sangat deras. Anak Itu adalah kamu, saat bunda bertanya siapa yang menitipkan mu. Bunda mencoba mencari orang tersebut. Tetapi, bunda menemukan fakta bahwa kamu di temukan terbaring, Di dekat jurang itu."

"STOP... INI GAK MUNGKIN BUNDA!"

"Kamu boleh tanyakan pada ayahmu, jika tidak percaya!"

Rin dengan cepat mengecek ponselnya, iya mencari nomor ayahnya. Ia menelpon berulang kali.  Hingga panggilan itu di terima

...Ayah...

"Hallo yah, aku mau bertanya hal penting."

^^^"Iya, ada apa?"^^^

"Apakah benar aku anak angkat?"

^^^"KAMU TAU DARI MANA ?"^^^

"Jadi benar? aku anak angkat?"

^^^"Kamu anak saya, bukan anak angkat!"^^^

"Tapi ayah hanya sayang dengan kakak seusai bunda meninggal! Ayah jangan bohong!"

^^^"Iya kamu anak yang saya adopsi! Tapi kamu telah saya anggap seperti anak sendiri!"^^^

"Terima kasih, yah. Aku ingin kembali pada keluarga kandungan ku!" Cairan bening mengalir deras dari kedua mata Rin. Ia menutup telepon itu sepihak. Kenyataan ini membuatnya sangat kecewa.

***

"Rin udah ya, jangan nangis. Katanya mau pulang!"  Kata Satya

Rin hanya mengangguk sambil mengusap air mata yang terus menerus keluar.  Hatinya kecawa oleh kenyataan.  Pikirannya kian kacau. Dadanya terasa sakit. Luka yang ia tahan tak sanggup ia tahan lagi.  Ia menangis, wajahnya berubah menjadi merah padam, ia tak sanggup menahan emosinya lagi.

"Kenapa? Kenapa harus aku?  Kenapa sakit rasanya ?"

"Lu tenang Rin, lu kuat. Kapan kapan kita kunjungi Singapura, kita cari keluarga lu!" Kata Satya yang sekarang memeluknya.

"Tapi gua gak pernah nyangka, hal ini terjadi. Gua capek Atya, gua lelah dengan Kenyataan ini. Gua capek...." Rin mengusap air mata yang keluar.

"Lu kuat, makannya diuji kayak gini sama tuhan. Lu gak boleh nyerah. Ada gua yang terus dukung lu. Gua gak mau lu sedih. Ayok... dong bangkit. Alina nanti nangis kalo liat bundanya lemah gini." Kalimat terakhir Satya membuat Rin berfikir.

"Iya... Aku harus kuat ya, buat Alina. Aku gak mau liat dia sedih." Kata Rin yang kini melepaskan diri dari pelukan Satya.

Lega? Iya, itulah yang Satya rasakan kini. Ia melihat temannya kembali tersenyum dan bersemangat lagi.

"Gua mau pulang!" Kata Rin yang kiri berfikir untuk pulang."

"Nanti, kalo udah dibolehin pulang!"

"Kesel dah lah. "

Satya mengacak rambut Rin, tapi rambut yang ia acak rontok dengan sendirinya.

"Rin, lu?" Satya menatap Rin dengan ribuan pikiran yang saling beradu di kepalanya.

"Rontok lagi ya, ini alasan gua potong pendek. Gak cantik lagi ya aku?" Rin tersenyum menahan air matanya yang akan lolos.

"Lu tetep cantik, karena gua kenal lu. Istirahat aja disini ya. " Kata Satya dengan lembut.

Rin mengangguk, lalu ia mencoba untuk tertidur. Ia bahkan tak mengerti kenapa ia selalu mendapatkan hal yang bahkan, ia tidak berharap terjadi.

****

"LAURA.....SNACK GUA ABIS! LU RAMPAS SEMUA SNACK GUA?" Teriak Gibran didepan kulkas.

"IYA.... GUA YANG AMBIL, BELI AJA LAGI LU KAN BANYAK UANG!"  Suruh Laura yang tak ingin kalah dengan Gibran.

"CIH, LU KIRA UANG KAYAK DAUN?" bentak Gibran dengan amarahnya.

"YA LU KAN TINGGAL TELEPON UANG DATENG!"

"BOS SABAR BOS." Kata anak buahnya.

"UDAH LAH, GUA PERGI! JANGAN CARI GUA!" Kata Gibran lalu meninggalkan masionnya.

"LU MAU KEMANA? GUA IKUT." Teriak Laura.

"GAK!" Gibran berjalan menuju mobilnya.

Mobil hitam itu meninggalkan masion mewah itu. Kecepatan tinggi itu memcah jalanan kota. Ia menuju sebuah rumah tua, rumah yang dahulu ia tinggali sebelum ayahnya meninggal.

***

"GAK... JANGAN... TOLONGG..."

"Haii... Bangun, kamu gak apa Rin?"

Nafas Rin teregah engah seakan dikejar singa, wajahnya yang memperlihatkan ketakutan. Kini  Satya hanya dapat memeluk Rin. Untuk menenangkan Rin.

"Guaa takut, kenapa gelap? Kenapa gua mimpi gua kecelakaan karena disandra? Gua takut !" Adu Rin pada Satya.

"Shut... Itu hanya mimpi, gak akan jadi kenyataan. Sekarang lu tenang ya." Suruh Satya.

Setelah Rin merasa tenang, ia berpindah posisi. Ia memandang Rin yang telah tertidur disampingnya.  Satya tau, Rin hanya berpura pura dan segalanya adalah palsu, ia melihat wajah rin yg pucat. Rambut Rin mulai rontok. Berat badannya pun berkurang drastis.

Badan yang dulu nampak atletis sekarang seperti kulit dan tulang saja. Rona bibirnya pun juga memucat. Gadis itu sekarang seakan putri tidur.  Dengan alat bantu dan obat ia tetap hidup.

***

Rumah tua tak berpenghuni, sebutan yang cocok untuk rumah yang dikunjungi Gibran. Rumah yang usang dan tidak terawat. 

"Yah... Aku bertemu dengan gadis itu. Tapi, aku harus siap kehilangannya." Kata Gibran sambil membersihkan foto usang milik ayahnya.

"Yah... Gibran capek, Gibran pingin pulang. Alasan Gibran tetap bertahan walau di atur oleh pria itu karena gadis kecil itu."

"Yah... Kalo gadis itu pergi, apa aku bisa tetap setegar ini dalam topeng ini?"

"Ayah, aku kangen pelukan ayah. Ayah selama ayah pergi aku tidak pernah mendapatkan pelukan hangat dari bunda atau lelaki itu."

"Ayah... Kenapa tuhan gak adil? Ayah kenapa harus aku? Yah aku meminum obat obat ini yah.." isak Gibran sambil mengeluarkan obat obatan. Salah satunya obat anti depresan.

"Ayah aku cacat! Cacat mental, cacat yang akan selamanya bersarang di ragaku! "

"Yah, kepalaku tiap malam terasa sakit. Emosiku kadang lepas, dan jari ini penuh luka karena aku memukul kaca dan tembok.."

"Ahh maaf yah, aku malu ma

luin ya nangis mulu kalo kangen ayah. Tapi tenang yah, aku akan tetap hidup walau nyatanya aku telah terbunuh sejak ayah tidak ada."

Setelah Kalimat itu terucap Gibran mengusap air matanya. Ia akan melakukan hal ini untuk menyembuhkan diri bila di Indonesia. Rumah itu tidak terawat sejak di tinggalkan, setelah Gibran berada di Indonesia ia menyuruh seseorang memperbaiki dan memotong rumput yang menutupi rumah itu. Rumah itu sekarang sedikit terurus oleh Gibran.

"Yah... Aku capek, sama penyakit ini. "

***

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!