Belasan menit di toilet, Giselle Oliver menunjukkan batang hidungnya pada Nathan yang tampak sedang duduk di sofa sambil melihat ponsel.
"Yuk?" ajak Giselle, membuat laki-laki itu berdiri dari dudukannya.
Mereka berdua berjalan ke arah pintu, belum Giselle membuka, pintu itu sudah terbuka terlebih dahulu hampir mengenainya.
"Hai, Ed!" sapa Nathan, melihat sosok Edward yang terlihat terkejut karena mendapatinya berduaan di dalam kediamannya.
Melihat Edward, Giselle hanya membuang muka.
"Ngapain kalian berduaan di sini?" tanya Edward, antara marah dan lelah jadi satu.
"Tadi antar titipan dari Oma, ada di kitchen."
Giselle tak ambil pusing, ia berjalan melewati suaminya itu tetapi yang ada tangannya malah ditarik hingga langkahnya terhalang.
"Mau ke mana?" tanya Edward lagi.
"Oh iya, kita mau keluar. Mau ikut?" sahut Nathan.
"Saya nggak ijinin kamu keluar hari ini," ujar Edward pada istrinya itu.
Giselle mencoba menepis tangan Edward, tetapi tidak bisa.
"Edward, jangan kasar-kasar ke dia," sela Nathan.
"Bukan urusan lo!" bentak Edward.
Nathan tercengang, begitu juga dengan Giselle.
"Masuk!" perintah Edward, sudah berapi-api. "Saya bilang masuk!"
"Edward!" Nathan mulai marah, ia tak terima Edward bersikap kasar pada Giselle.
"Bukan urusan lo! Diem lo!" katanya lagi.
Nathan bungkam, ia paham betul jika Edward sudah marah besar, pasti bahasanya menjadi gue-elo.
"Nathan, kayaknya next aja kita main. Aku ada urusan sama Edward," ujar Giselle sambil tersenyum terpaksa pada lelaki itu.
Nathan mengangguk tanda mengerti. "Kalau ada apa-apa hubungi aku."
Giselle balas mengangguk.
Selagi Giselle diseret masuk oleh Edward, Nathan berjalan melewati mereka. Sekeluarnya Nathan, suami-istri itu kembali saling pandang dengan api yang sama-sama membara.
"Ngapain aja sama Nathan berduaan di sini?" tanya Edward, mencoba tenang tapi tidak bisa.
"Nggak ngapa-ngapain."
"Kamu itu punya suami! Walau saya cuman suami kontrak kamu, kamu tetap istri saya! Apa kata orang kalau kamu berduaan terus sama cowok lain?" omel Edward.
Giselle menatapnya kesal. "Aku nggak peduli apa kata orang. Yang penting hati aku tenang, itu udah cukup."
"Giselle!"
"Aku bukan kamu, Edward! Jangan samain aku sama kamu!"
Edward hening.
"Aku tahu semuanya! Aku tahu kenapa kamu benci sama Nathan dan kenapa kamu belum bisa lupain Laura! Aku tahu!"
"Kenapa kamu selalu bawa Laura?!"
"Kamu masih suka kan sama dia?" terka Giselle.
Edward menarik napasnya dalam, ia keluarkan perlahan beberapa kali sebelum menjawab pertanyaan gadis itu. "Saya nggak ada hubungan apa-apa sama dia, Giselle!"
"Tapi hubungan kamu sama dia belum usai," ujarnya terbata-bata. "Aku nggak akan larang-larang kamu untuk berhubungan sama Laura, tapi juga jangan batasi hubungan aku sama siapa pun."
"Mau kamu apa sebenarnya? Kenapa setiap ada masalah selalu bawa-bawa Laura?!"
"Aku mau kamu adil."
Edward menghela napasnya. Melihat Giselle menangis lagi sudah membuatnya kembali merasa bersalah. Tanpa pikir panjang, ia menarik tubuh Giselle ke dalam pelukannya.
Giselle awalnya memberontak, tetapi lama kelamaan dia terdiam, menerima tubuhnya dalam pelukan hangat Edward sambil menangis sesunggukan.
Edward pun begitu, ia merasa agak tenang setelah memeluk gadis itu sambil membelai rambut panjangnya. Meski ia tidak tahu apa yang sudah ia lakukan saat ini, ia merasa nyaman.
"Oke, maaf ya," ucap Edward tanpa gengsi. "Maaf kalau saya udah sakitin kamu, membuat kamu merasa nggak adil, saya minta maaf."
"Hiks ...." Giselle menangis meraung-raung karenanya. Ia sadar tangisnya sudah membasahi kemeja putih yang Edward gunakan.
"Mau maafin saya?" tanya Edward.
Giselle menggelengkan kepalanya, persis seperti bocil sedang ngambek.
"Kejadian di rumah sakit, antara saya sama Laura itu benar nggak ada apa-apa. Habis dia peluk, saya langsung menghindar," jelas Edward, masih membiarkan gadis itu menenangkan diri dalam pelukannya.
Edward sendiri tidak paham, kenapa ia harus menjelaskan semua ini. Tetapi ia rasa ini jalan terbaik agar pertengkarannya dengan Giselle selama berhari-hari agar cepat membaik.
"Sumpah?" tanya Giselle, melepaskan pelukan itu.
Edward mengangguk, diiringi dengan bunyi petir yang menggelegar di luar sana.
"Sumpah kamu udah nggak ada rasa ke Laura?"
Edward mengangguk lagi sambil melihat gadis yang ada di depannya itu. "Makanya jangan marah, saya berani sumpah kesambar geledek kalau rasa saya buat dia nggak ada."
"Hus! Jangan ngomong gitu, lagi ada petir!" ujarnya kesal.
Edward tertawa kecil. "Buktinya nggak kesambar kan?"
Giselle terdiam, menghapus air matanya.
"Saya minta tolong, jangan dekat-dekat sama Nathan. Itu aja kok," kata Edward kemudian, sambil meletakkan tangannya pada ubun-ubun Giselle.
"Sebenci itu kamu sama Nathan? Nathan sepupu kamu dan kalian cuman salah paham."
"Walau semua itu salah paham, kejadian Nathan dan Laura itu tidak bisa dibenarkan, Giselle."
Giselle mengiyakan, itu memang benar. Tapi bukan berarti ia juga harus membenci Nathan, kan?
"Tapi Nathan baik ke aku."
"Dia pasti ada maunya, kamu belum terlalu kenal sama dia."
"Tapi aku bisa kalau tiba-tiba jauhin dia, apalagi dia baik banget."
Edward mendengus kesal. "Oke, aku nggak larang kamu berteman sama dia. Tapi tolong jangan terlalu dekat, apalagi sampai berduan kaya tadi."
"Tapi aku nggak ngapa-ngapain sama Nathan, dia masuk cuman karena pinjem toilet."
"Iya aku percaya."
Giselle tersenyum seketika. Hatinya yang beberapa hari ini acak-acakan kembali tertata secara perlahan.
Ia tak percaya kini ia dan Edward bisa begitu dekat. Ia juga tak percaya Edward begitu sabar untuk memberinya penjelasan meski ia tadi sudah mengomel seperti singa kelaparan. Apalagi kini, Edward masih saja menatapnya dengan hangat. Rasanya Giselle ingin sekali mengecup bibir Edward.
Giselle menggeleng-gelengkan kepalanya sebelum imajinasinya berlayar semakin jauh. Ia menjauhkan dirinya dari Edward dengan mundur beberapa langkah meski aroma tubuh Edward begitu wangi membutnya ingin menempel terus.
"Malam ini mau jalan-jalan?" tawar Edward.
"Ke mana?" tanya Giselle cepat.
"Kamu mau ke mana? Saya turutin."
...----------------...
Giselle tidak bisa membendung senyumnya sejak tadi hingga kini di malam Minggu saat sedang antre es krim yang sedang viral.
Edward tidak bisa berbuat apapun, masalahnya ia sudah berjanji akan menuruti kemana pun Giselle mau untuk menebus kesalahannya. Mereka sudah berdiri lama, hampir setengah jam tetapi masih saja belum bisa mencapai bagian kasir untuk membeli es krim.
"Emang es krimnya seenak itu?" tanya Edward mulai lelah.
Giselle mengangguk. "Enak banget, kemarin lusa Morgan beliin ini."
"Morgan?" alis Edward naik seketika.
Giselle mengangguk lagi. "Iya Morgan, beliin aku sama Shania."
Laki-laki itu mendengus kesal. "Saya bisa belikan kamu es krim yang lebih enak dan lebih mahal daripada Morgan. Mau?"
Gadis itu menggeleng. "Aku maunya ini."
"Hufth."
Edward ragu akan perasaannya kali ini. Entah kenapa ia kesal jika istrinya itu menyebut nama lelaki lain, apalagi tadi siang saat melihat istrinya dan sepupunya keluarga dari apartementnya, kesalnya bukan main.
Namun Edward tidak paham, apa ia menyukai gadis ini atau hanya merasa nyaman karena setiap hari mereka selalu bersama.
"Terus di makan di mana? Nggak ada tempat." Edward celingak-celinguk mencari kursi kosong.
"Di mobil aja, kemarin aku sama Morgan sama Shania juga makan di mobil. Soalnya pasti tempatnya penuh."
"Morgan lagi, Morgan lagi," celoteh Edward.
"Hah?" Giselle yang menangkan omongan Edward pun keheranan.
"Nggak apa," ujar Edward cuek.
Hampir satu jam, mereka akhirnya bisa memsan es krim yang sedang viral itu. Giselle memesan cone rasa coklat, sedangkan Edward yang tak terlalu suka es krim hanya memesan sebotol air minum.
Karena Edward hanya memesan air minum, Giselle pun tak berhenti mengomel dan berkata Edward akan menyesal jika mengetahui rasa es krimnya seenak itu.
Mereka berdua masuk di mobil yang ada di parkiran, selagi Giselle masih mengiming-iming Edward dengan es krim yang sedang lahap ia makan Edward hanya menyembunyikan senyumnya sambil menatap antrian pembeli es krim di depan sana.
"Padahal enak banget, kamu nyesel beneran deh. Coba deh!" ucap Giselle menawarkan.
"Nggak usah," sahut Edward yang kini mengalihkan pandangannya pada gadis di sebelahnya itu.
"Ini coba, dikit aja." Giselle ngotot, dia ingin Edward benar-benar menyesal karena tidak membeli es krim sampai-sampai ia tak sadar bibirnya sedang belepotan. "Coba, Cobain dikit aja!" paksanya.
Edward tertawa kecil melihat tingkah laku Giselle yang menggemaskan.
"Cobain Edward!" ujarnya lagi, menyodorkan es krim itu.
"Ya udah kalau kamu maksa," sahut Edward.
Edward mendorong tangan kanan Giselle yang memegang es krim itu hingga merapat di kaca pintu, kemudian ia memajukan tubuhnya ke arah Giselle. Dengan gerak cepat, wajah mereka bertemu, kemudian bibir mereka menyatu satu sama lain.
Kiss.
Edward kembali menciumnya, bukan sekedar kecupan seperti pertama kali, tetapi benar-benar mencium bibir Giselle yang penuh dengan es krim.
Rasanya manis, menggiurkan, membuat jantung mereka sama-sama cepat berdetak.
Giselle hanya bisa diam, perlahan menutup matanya sambil membiarkan Edward yang tak henti menyapa bibirnya. Tangannya yang memegang es krim mulai tremor, namun Edward mengambil alih es krim itu hingga Giselle bisa lebih rileks.
Sekitar dua menit, laki-laki itu melepaskan bibirnya dari bibir Giselle. Ia bisa melihat tatapan mata Giselle yang penuh tanya akan perilakunya barusan.
"Iya enak, manis," ujar Edward kemudian sambil tersenyum.
Giselle menelan ludahnya, masih tak menyangka lelaki itu menciumnya dengan lembut baru saja.
Seakan tak terjadi apa-apa, Edward mengembalikan es krim pada Giselle lalu mulai menyalakan mobilnya. "Ke mana lagi kita malam ini?"
Giselle diam mematung.
"Giselle Oliver?" panggil Edward.
"Hah?" katanya sambil memakan cepat es krimnya karena salah tingkah.
"Mau ke mana lagi kita?" tanya Edward.
Giselle menengok pada Edward, tidak tahu kenapa lelaki itu kini menatapnya tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun. "Ke mana ya ... ke ...."
"Mau pulang atau ke mana?"
"Ke ... ke ...."
Belum Giselle menjawab, Edward kembali mendekatkan wajahnya pada wajah Giselle. Terlihat sangat jelas, Giselle sedang kebingungan karenanya.
Edward tersenyum pada gadis itu.
"Kenapa lagi? Mau apa lagi?" omel Giselle.
Edward tertawa lepas sambil menjitak kepalanya. "Galak banget." Edward membersihkan es krim di bibir Giselle dengan jarinya. "Mau pulang? Kita lanjut di apart?" godanya.
Mendengar godaan Edward, spontan Giselle mengamuk. Tidak ada lagi kata salting dalam dirinya, ia langsung menjewer telinga Edward hingga Edward merintih kesakitan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments