Aku Mau

Hujan turun membasahi semua yang ada di bumi, membuat beberapa titik tergenang air dan mengakibatkan banjir. Langit hitam, petir dan kilat beririrangan menyapa. Angin yang kencang membuat sebagian pengendara menghentikan kendaraan untuk berteduh di pinggiran.

Langkah kaki gadis itu menapak di area koridor rumah sakit, bahu dan rambutnya sedikit basah karena ia berkendara di kala hujan baru saja. Seperti biasa, ia berjalan melewati beberapa ruangan hingga membawanya pada ruangan yang ia tuju.

Langkahnya terhenti, ia menyembunyikan dirinya sambil mengintip dari luar kamar. "Edward?" ucapnya, saat mendapati Edward kini sedang ada di dalam ruangan Ibunya dirawat.

Laki-laki dewasa itu tampak sedang berdoa di pinggir, begitu juga dengan Nico. Melihat hal itu, Giselle tersenyum dan terharu dalam hati. Senyumnya teralihkan saat seorang perawat memanggilnya untuk ke bagian kasir.

Kasir rumah sakit itu pun menjelaskan bahwa tagihan rumah sakit yang sebelumnya mereka tagihkan sudah terbayar lunas, begitu pula dengan tagihan-tagihan yang masih berjalan sudah ada seseorang yang menjamin.

"Siapa?" tanya Giselle dengan alis yang mulai berkerut.

"Mohon maaf, kita tidak bisa sebutkan. Yang jelas mbak Giselle nggak perlu mikir biayanya lagi."

Giselle langsung berdiri dari kursi, langkah kakinya bergerak cepat kembali menuju ruangan kamar Ibunya di rawat.

Sial, tetapi Edward sudah tidak ada di sana.

Gadis itu pun kembali melangkah cepat menuju arah luar parkiran rumah sakit dengan harapan bisa menemukan lelaki itu.

Benar, ia bisa melihat sosok Edward, tetapi Edward sudah di dalam mobil dan mobil itu sudah pergi melaju meninggalkan rumah sakit.

Giselle tak mau menyerah, ia berlari kencang ke parkiran motor yang tak jauh darinya. Dengan gerak cepat ia menarik gas motornya dengan penuh, melewati orang-orang dengan handalnya seperti pembalap. Di depan sana, masih terlihat mobil mewah Edward yang berhenti karen lampu merah lalu lintas, namun belum ia mencegat mobil itu, lampu merah berubah hijau hingga mobil Edward kembali menjauh.

Giselle semakin cepat mengendarai motornya, beberapa kali ia menyalakan klakson agar yang ada di dalam itu mengetahui kehadirannya, tetapi tetap mobil itu tak mengetahui kehadirannya.

Meski cipratan air hujan yang menggenang di jalanan membasahi tubuhnya, meski rintik hujan kembali menyapa kulitnya ia tetap melanjutkan perjalanannya untuk mengejar mobil itu.

Jika tidak di kejar dari mana ia bisa menemui Edward lagi? Bahkan ia tak memiliki nomor ponsel Edward. Meski sebenarnya ada cara lain, yang terpikirkan oleh Giselle saat ini hanyalah langsung menemui lelaki itu.

Mobil Edward yang melaju dengan cepat ikut membawa masuk motor yang Giselle tumpangi ke area perumahan, tak Giselle rasakan gerimis yang terasa kecil sebenarnya sudah membasahi sebagian pakaiannya. Tak hanya itu, waktu juga tak terasa jika ia sudah mengejar mobil itu selama lebih dari dua puluh menit.

Gerbang rumah si pemilik mobil tiba-tiba terbuka saat melihat mobil Edward, mobil itu pun masuk ke dalam. Sebelum gerbang tertutup, motor Giselle menerobos dan membuat penjaga gerbang ribut mengejarnya.

Pwiitt, pwiittt!

Bunyi peluit pun membuat heboh sekitar rumah kediawan Van Lewis.

"Berhenti! Neng, henti!"

Pwiit, pwiit.

Edward dan Nico yang baru mengehentikan mobil di tempat biasanya dan turun dari mobil pun terheran-heran melihat motor yang melaju ke arah mereka seakan hendak menabrak.

Namun motor itu berhenti tak jauh dari mobilnya berhenti.

Si pengendara melepas helm, kemudian turun dari motor dan berjalan ke arahnya. Pengendara yang terlihat cukup basah itu membuat Edward dan Nico keheranan.

"Woi! Mau apa hayo mau apa!" ujar pak Dodik, tukang kebun yang ikut mengejar Giselle barusan. Pak Dodik menangkap gadis itu.

"Ih apaan sih bapak! Saya bukan orang jahat!" omel Giselle mencoba melepaskan dirinya dari pak Dodik.

"Maaf den, kita kelolosan. Biar kita amankan ini anak kecil nggak jelas," ujar pak Dodik dibantu oleh security penjaga gerbang.

"Anak kecil apanya! Saya udah gede, bapak!" sahut Giselle.

"Eh, eh, lepasin!" ujar Nico, menghampiri keributan itu dan membantu Giselle lepas dari tim pengaman. "Kalian boleh pergi."

"Tapi den ...."

"Dia kenalan saya," sahut Edward.

"Oh ya? Maaf den, kami tidak tahu."

"Ya sudah kalian boleh pergi."

Pak Dodik dan tim pengaman pun kembali ke lokasi masing-masing, meninggalkan Edward, Nico, dan Giselle di area dekat pintu rumah.

"Kamu kan orangnya?" terka Giselle, berjalan untuk lebih mendekat ke arah Edward.

Edward memicingkan matanya pada gadis itu.

"Kamu kan yang lunasi biaya rumah sakit Mama aku?" Giselle memperjelas.

Kini Edward mengerti maksudnya. "Iya, saya."

"Mau kamu apa? Ini trik kamu kan biar saya terima tawaran kamu?" kesal gadis itu.

Edward menghela napasnya. "Terserah kamu mikir apa. Yang jelas niat saya membantu ikhlas, saya udah nggak mengharapkan kamu menerima tawaran itu. Lagi pula ini udah lewat tenggat waktu 'kan?" tanya balik Edward. "Saya kan beri kamu waktu tiga hari untuk berpikir, ini udah jalan hari ke empat. Jadi saya udah nggak berharap apa pun."

Giselle terdiam, Edward menjawab pertanyaannya dengan begitu santai. Yang terdengar dari mulut Giselle hanya suara bersin beberapa kali, dia seperti sedang terserang flu.

"Hachim!"

"Hachim!"

Hidungnya sampai memerah, rasanya gatal.

"Aku bakal ganti semuanya," ujarnya setelah bersin. "Makasih, udah dibantu."

Edward kini yang terdiam sambil memandang gadis itu.

"Hachim!"

Di tengah keheningan mereka, sebuah mobil lagi masuk ke area rumah dan memarkir mobilnya tepat di sebelah mobil Edward.

Seorang wanita dengan rambut terurai badai keluar dari mobil. Pakaiannya begitu nyentik, wajahnya cantik, dan raut wajahnya terheran-heran melihat kehadiran Giselle yang kini ada di pandangannya.

"Hei, kamu siapa?" tanyanya dengan nada penasaran, begitu pula dengan tatapannya. "Oh my god, Edward! Dia siapa?"

"Teman Edward, Mam," jawab Edward.

"Oh my God, kenapa kamu basah kuyup sayang?" tanyanya lagi. "Edward! Mami nggak pernah ajarin kamu ya acuh dengan orang yang membutuhkan bantuan!" omelnya kemudian.

Hanabila, dia adalah Ibunda Edward. Meski wajahnya judes dan tampak seperti ibu-ibu sosialita, Hanabila sangat ramah dan begitu peduli dengan lingkungan maupun manusia-manusia yang hidup di bumi. Dia tidak sombong meski hartanya bergelimpangan.

"Sayang, ayo masuk yuk. Tante pinjemin baju yah, baju kamu basah kuyup gini."

Giselle menggelengkan kepalanya. "Hahah, nggak usah tante. Saya, saya udah mau pulang."

"No, masih hujan deras sekali di sana. Bisa-bisa kamu tenggelam kalau menerjang hujang. Yuk ikut tante!"

Hanabila menarik paksa Giselle masuk ke rumah, Giselle mencoba meminta pertolongan pada Edward. Namun Edward juga bingung harus melakukan apa.

"Mampus lo," bisik Nico. "Giselle beneran udah nampak di mata nyokap lo, pasti habis ini makin di suruh nikah lo sama dia."

Edward menghela napasnya. "Gimana dong?"

Nico mengangkat bahu. "Gue nggak tahu."

...****************...

Masih menggunakan kemeja kantor, Edward duduk di ruang tengah keluarganya dan sedang disidang oleh Hanabila selagi Giselle merapikan diri di kamar tamu.

Hanabila mondar-mandir, duduk, mondar-mandir, duduk sedari tadi sambil menngomel kepada Edward yang hanya bisa membisu jika sedang diomeli olehnya. Tak hanya Hanabila yang mengomel, tetapi Oma yang sudah mendengar cerita dari Hanabila ikut mengomel kepada Edward.

"Mami nggak pernah ya ajarin kamu jadi cowok kaya gitu! Kamu itu laki-laki Edward, harusnya kamu ada inisiatif dong apalagi dia teman kamu," omel Hana.

"Udah nggak mau nikah, ngabaikan perempuan lagi. Mau kamu apa?" tambah Oma.

"Kasihan dia Edward, tadi waktu Mami gandeng dia badannya panas loh!"

"Siapa sih? Yang mana kok Oma nggak tahu?" tanya Oma kepo.

"Iya dia lagi mandi, Oma. Nanti juga ke sini," jelas Hana.

"Emang teman kamu yang mana? Tumben kamu bawa teman perempuan ke sini!" selidik Oma.

"Dia nggak bawa Oma, kata Nico perempuan malang itu mengejar Edward naik motor makanya dia basah kuyup."

"Edward! Kamu nggak boleh gitu, Oma nggak suka cucu Oma seperti itu! Kamu mau Oma coret dari kartu keluarga beneran ya?"

Edward benar-benar bungkam. Masalah kecil seperti itu menjadi sebuah drama panjang lebar di rumahnya jika sudah berurusan dengan Mami dan Omanya. Jika ia menjelaskan pun percuma, pikir Edward sama dengan yang lain bahwa wanita selalu benar dan laki-laki selalu salah.

Bahkan munculnya Giselle ke ruang tengah semakin membuatnya terpojok. Mami dan Omanya menyambut Giselle dengan amat ramah sambil terus mengomelinya, wajar saja Giselle merasa lucu hingga tertawa kecil.

"Maafkan cucu Oma ya, dia memang kaku kalau ke perempuan nggak tau dia tu nurun siapa padahal keluarga Oma semuanya penyayang," jelas Oma pada Giselle.

"Iya maaf ya, Edward itu anak kandung saya tapi entah kenapa dia sekaku itu sampai memperlakukan temannya sendiri seperti tadi," tambah Hanabila.

Giselle senyum-senyum sambil mengangguk. Gadis yang kini memakai pakaian milik Hanabila itu merasa sedang tahan tawa, baru kali ini ia bertemu keluarga kaya raya tetapi seperti sedang berada di antara sitcom komedi.

"Kamu rumahnya di mana?"

"Kamu kenal Edward dari mana?"

"Menurut kamu Edward gimana?"

"Udah punya pacar atau belum?"

"Ngapain kamu ke sini hujan-hujan kejar Edward?"

Pertanyaan-pertanyaan penasaran dari keluarga Edward muncul membuat Giselle takt tahu harus menjawab apa. Yang ia bisa lakukan hanya cengar-cengir.

"Oma, Mami ... jangan buat Giselle bingung. Dia beneran cuman teman Edward aja," sahut Edward, mencoba menyelamatkan gadis itu.

Oma dan Hanabila saling melirik.

"Jadi kamu cuman temannya Edward? Nggak lebih?" tanya Oma agak kecewa.

Giselle hanya tersenyum kepada Oma.

"Oma heran loh sama kamu!" omel Oma lagi sampai Giselle terkejut. "Kamu tampan, kaya, pintar ... tapi kenapa nggak bisa dapatin satu istri aja! Oma kan pengen punya cucu Edward, hiks .... Kamu mau Oma mati dulu baru nikah terus ngelahirin cucunya Oma?"

"Oma, jangan bilang gitu!" tegur Hanabila. "Kan waktunya masih ada satu bulan lebih lagi, pasti Edward kenalin kita sama pasangannya."

"Ingat ya pesan Oma, kalau sampai akhir tahun kamu nggak bawain Oma calon istri kamu, pilihan kamu cuman dijodohin atau Oma coret dari kartu keluarga."

Giselle hening, ia mengamati keluarga heboh Van Lewis. Melihat raut wajah Edward yang sejak tadi diomeli oleh keluarganya sendiri membuatnya menjadi tidak tega.

"Em, tante, Oma ... kayaknya saya perlu permisi, saya nggak enak kalau di sini di saat semuanya membahas ...."

"Nggak papa," potong Oma saat Giselle belum menyelesaikan kalimatnya. "Biar malu dia diomelin di depan temannya."

Edward mencoba sabar dan sabar, menghadapi semua ini.

"Ingat ya, Oma bakal keluarin kamu dari keluarga ini sesuai janji Oma kalau kamu nggak nurut!" tegur Oma lagi.

Edward beranjak dari kursi. "Terserah Oma sama Mami aja. Kalau emang itu keputusan Oma, apa boleh buat," katanya kemudian sambil pergi menjauh.

"Astaga ... astaga baru kali ini dia ngelawan, astaga." Oma yang tadi uring-uringan kini menangis. Hanabila mencoba menenangkannya.

Sedangkan Giselle, ia melangkahkan kakinya mencoba mengejar laki-laki yang menaiki anak tangga tersebut.

"Edward," panggil Giselle. "Edward!"

Edward menghentikan langkah kakinya sebelum masuk ke kamarnya yang ada di lantai dua. "Kenapa? Mau ketawain saya lagi?"

"Bukan gitu, kok kamu marah malahan."

Edward mengalihkan pandangannya. "Sori."

"Aku akan bantu kamu," ujar Giselle kemudian.

Edward langsung mengalihkan pandangannya lagi ke arah Giselle.

"Aku akan bantu kamu, jadi istri kamu."

Bola mata Edward semakin melebar. Ia tak percaya kini gadis remaja itu menerima tawarannya, entah setan apa yang merasuki gadis itu hingga setuju.

"Really?" tanya Edward.

Giselle mengangguk.

"Bukannya kamu bilang kamu nggak mau jadi janda setelah kita bercerai?"

"Aku rasa itu bukan masalah lagi, yang penting kamu janji bantu perawatan Mama aku sampai sembuh."

Edward menampakkan sedikit senyumnya. Tanpa ia sadari tangannya membelai rambut basah Giselle dengan halus. "Kamu nggak perlu jadi istri aku kok kalau untuk biaya rumah sakit, aku beneran ikhlas. Nggak perlu sampai seperti ini."

Giselle menangkap tangan itu. "Aku juga beneran, aku mau bantu kamu."

Mereka berdua saling pandang, diiringi oleh bunyi rintikan hujan yang semakin deras terdengar dari luar rumah.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!