Tidak hanya Giselle yang bernafas lega karena ia berhasil membujuk Oma, namun Edward juga.
Sambil mengemudikan mobil ke arah kampus Giselle, laki-laki dewasa itu tak bisa membendung rasa bangganya pada sang istri yang kini tampak sedang kelelahan hingga tertidur di mobil padahal sebentar lagi ia akan tiba di kampus.
Edward menghentikan mobilnya di pinggiran jalan tepat area fakultas Giselle, hanya saja ia tak tega menggugahnya. Tetapi, mau tak mau Edward memang harus menggugah Giselle. Ia pun menepuk pundak Giselle beberapa kali hingga Giselle membuka matanya.
"Udah sampai?" tanyanya sambil meregangkan badan di area seadanya.
"Nanti pulang jam berapa?" tanya Edward sebelum gadis itu turun.
Giselle mengangkat bahunya. "Nggak tahu."
"Oke, bye."
Giselle hanya menaikkan alisnya sambil tersenyum pada Edward, ia pun bergegas turun karena melihat Morgan dan Shania yang juga baru tiba di kampus.
"Morgan! Shania!" panggilnya sambil memeluk ke dua sahabatnya itu dari belakang, kemudian berjalan bersama.
Dari dalam mobil, Edward terheran-heran. Kelakuan Giselle memang di luar nalar, jelas-jelas Edward sudah memperingatkannya agar tidak terlalu dekat dengan para laki-laki, tetapi gadis itu malah main peluk laki-laki lain.
Bukan, bukan Edward cemburu. Hanya saja mereka sudah menikah bukan? Lalu jika orang lain salah paham bagaimana? Itu maksud Edward.
Tak mau ambil pusing, Edward langsung menginjak pedal gasnya lalu menghilang bagai di telan bumi.
...****************...
Edward duduk di ruang kerjanya pada bangunan gedung perusahaan yang megah dan tinggi itu. Tak seberapa lama ia datang, Nico sudah menyambutnya bersamaan dengan sang sekertaris yang menaruh beberapa file untuk di tanda-tangani.
Sekertaris itu hanya menaruh di meja, karena Edward memang memintanya untuk meninggalkan file-file itu. Sedangkan Nico, dia duduk di sebrang Edward sambil keheranan karena ekspresi wajah Edward kali ini yang tampak linglung.
"Kenapa, bos?" tanya Nicolas penasaran.
Edward melayangkan tatapan seriusnya pada Nico. "Kamu tahu teman Giselle yang laki-laki itu?"
"Oh Morgan, kenapa sama Morgan?"
"Kamu cek, dia ada hubungan apa sama Giselle."
Mendengar perintah Edward, Nico menjadi senyum-senyum nada mengejek.
"Kenapa? Ada yang lucu?" tanya Edward garang.
"Bos cemburu ni ye!"
"Ehem!" Edward langsung batuk-batuk tidak jelas. "Saya bukan cemburu! Saya hanya jaga imej, daripada saya dan dia digosipkan macam-macam."
"Iya-iya jaga imej, bukan cemburu. Baiklah Nico selidiki hubungannya."
"Yaudah sana, saya mau tanda tangan dulu."
"Siap bos!"
Nico melangkah mundur, meninggalkan Edward.
Bekerja secepat kilat, Nico langsung meraih ponselnya dan dengan sumringah ia melakukan panggilan telpon pada sebuah nomor yang baru-baru saja ia dapatkan saat pernikahan Edward dan Giselle berlangsung.
Baru bunyi satu sambungan, si pemilik ponsel di sana begitu cepat dan sigap mengangkat sambungan telpon itu.
"Halo, iya, ada apa, mas Nico?" sapa Shania, senyum-senyum tak karuan.
"Sssst, Shania. Di dekat kamu lagi ada Giselle nggak?" tanya Nico.
Shania celingak-celinguk. "Nggak kok, dia lagi beli jajan sama Morgan."
"Oke langsung aja ya dedek Shania, mas Nico mau nanya tapi jangan bilang-bilang Giselle, ya?"
"Hm, oke-oke!" Shania angguk-angguk.
"Morgan sama Giselle ada hubungan apa ya?"
"Nggak ada hubungan," jawab Shania cepat. "Aku sama Morgan, Morgan sama Giselle, itu sahabat aja dari masuk kuliah."
"Yakin?"
"Yakin banget mas ganteng."
"Hm, nggak ada tanda-tanda mencurigakan gitu?"
"Nggak ada mas ganteng, percaya deh. Lagian Morgan udah punya cewek, kenapa emang?"
"Nggak apa, kepo aja."
"Yah kirain aku, si mas ganteng telpon karena kangen aku," gombal Shania.
Mendengar gombalan Shania, Nico tertawa lantang, membuat sekitar kaget karenyanya. Termasuk Edward, yang baru membuka pintu ruangannya.
"Dedek udah makan?" tanya Nico, ia tak sadar Edward kini di belakangnya sedang menguping.
"Emang kenapa kalau belum? Mas ganteng mau ngajak makan siang gitu?"
"Makan lah dek biar ada tainya, hihihi," ujar Nico, membuat Shania tak kalah terbahak-bahak di kampus sana.
"HAHAHA! Mas ganteng apaan sih."
Saat Nico membalikkan tubuhnya, ia baru sadar jika Edward ada dibelakangnya. "Dek, abang matiin dulu ya bye."
Klik.
Nico tersenyum lebar pada Edward.
Edward mendengus, ia geleng-geleng dengan kelakuan Nico. "Abang dedek? Mas dedek?"
"Biasalah, itu cara buat hati perempuan bahagia," jelas Nico.
"Siapa emang?"
"Shania, temannya Giselle."
"What?" Edward tak habis pikir, ternyata Nico seganjen itu pada anak kuliahan. "Kamu kekurangan orang? Kenapa gombalin anak kuliah?"
"Si bos malah nikahin anak kuliah," balas Nico.
"Ehem ...." Edward garuk-garuk kepala, padahal tak ada yang gatal.
"Oh iya bos, Morgan sama Giselle cuman sahabatan. Nggak ada yang perlu dicurigai. Nggak usah cemburu."
"Saya nggak cemburu!"
"Iya maksud saya nggak usah khawatir, imej tetap terjaga."
"Yaudah, saya pergi dulu. Kamu beresin kerjaan saya."
"Siap bos!"
...****************...
Hari demi hari semua orang lalui, termasuk dengan keluarga baru itu yang setiap hari ada saja pertikaian kecil masalah spele. Hanya saja seiring berjalannya waktu, mereka berdua mulai terbiasa satu sama lain akan sifat dan perilaku.
Meski sering ribut dan adu mulut, satu hal yang Giselle sadari sejak ia hidup dengan Edward, bahwa Edward tidak secuek dan sedingin dari tampilan luarnya. Edward Van Lewis sebenarnya adalah seorang laki-laki yang penuh dengan perhatian, hanya saja dia begitu gengsi untuk mengutarakannya.
Begitu pula dengan Edward, satu hal yang ia sadari dibalik tingkah ke kanak-kanakan Giselle, gadis itu begitu tangguh melewati segala macam ujian. Hari demi hari itu membawa mereka melewati perayaan tahun baru sampai ke sebuah acara yang Van Lewis adakan untuk merayakan pernikahan orang tua Edward yang ke tiga puluh tiga tahun di kediaman rumah utama.
Tamu yang diundang tidak terlalu banyak, hanya keluarga dan kerabat dekat saja yang berjumlah kurang lebih lima puluh orang. Pesta di malam hari itu berlangsung tak terlalu meriah seperti pernikahan Edward dan Giselle sekitar dua bulan lalu.
"Giselle?" sapa Nathan, di kala Giselle sedang asik makan sendiri dan Edward sibuk bersama Nico dipinggiran kolam.
"Hai!" sapa Giselle. "Kapan balik ke Indo?"
"Baru tiga hari lalu," jawabnya ramah. Nathan tampak tampan menggunakan setelan jas abu-abu.
"Gimana kabar Mama kamu?"
"Udah lahir adik aku," jawabnya sambil mengeluarkan ponsel, lalu menunjukkan poto adiknya yang masih bayi dan baru lahir itu. "Ini, lucu ya?"
Giselle mengangguk. "Lucu banget. Namanya siapa?"
"Nauren Alexa Xavier," jawab Nathan, kembali memasukkan ponselnya.
"Wah, cantik banget namanya kaya bayinya. Pasti kamu seneng banget, yak an?"
Nathan mengangguk mengiyakan. "Kamu juga cantik," ujarnya, membuat wajah Giselle luntur senyumnya.
"Hehe, bisa aja."
"Aku nggak bohong, kamu emang ...."
"I know," potong Giselle. "I know im pretty. Makanya banyak orang suka aku," jelasnya dengan pede diiringi tawanya dan Nathan yang nyaring, membuat pandangan Edward mengarah padanya.
Melihat kedekatan itu, Edward langsung melangkahkan kakinya ke arah Giselle dan Nathan. Hanya saja langkahnya terhenti, saat seorang perempuan yang pernah bernaung di hatinya mencegat langkahnya.
"Edward?" sapanya dengan senyum anggun, membuat Edward terdiam seribu bahasa.
Di saat itu juga, Giselle melihat moment itu. Moment yang membuatnya penasaran, siapa perempuan bertubuh tinggi dengan pakaian anggun dan wajah cantik tersebut.
Nathan mengikuti arah mata Giselle, hanya Nathan yang tersenyum melihat perempuan itu.
"Dia siapa?" tanya Giselle penasaran.
"Aku kenalin, yuk," tanpa ragu, Nathan menggandeng tangan Giselle dan membawanya ke pijakan kaki area Edward bersama perempuan itu.
"Hei, Nathan!" sapanya saat melihat Nathan, ia memberikan sebuah pelukan layaknya sahabat.
"Hei, Laura!" sapa balik Nathan sambil menerima pelukan itu.
Laura mengalihkan pandangannya pada Giselle, gadis kuliahan yang lebih pendek darinya itu. Ia memberikan senyumnya pada Giselle. "Kamu pasti Giselle, ya? Istrinya Edward?"
Giselle mengangguk, saking cantiknya Laura, Giselle sampai tercengang. Giselle rasa ia akan minder jika menyombongkan dirinya di depan Giselle yang terlalu sempurna.
"Salam kenal, aku Laura."
"Dia sahabat aku sama Edward dari kecil," jelas Nathan. "Cuma pas lulus kuliah dia lanjut study di Beijing, jadi kita jarang ngumpul. Ya nggak, Ed?" ujar Nathan.
"Oh gitu," respon Giselle, rasa penasarannya mulai hilang.
"You are so pretty, lucu. Pantes Edward tertarik sama kamu," ujar Laura lagi, membuat pipi Giselle memerah.
"Thanks."
"Oh iya, Giselle. Boleh pinjam suami kamu sebentar? Ada yang mau aku bicarin sama dia."
"Boleh silahkan, ambil aja!" jawab Giselle sambil melawak, spontan membuat Edward geram sedangkan yang lain tertawa.
Giselle memberi ruang untuk Edward dan Laura. Ia melanjutkan memakan cemilan yang masih tersedia ditemani oleh Nathan. Sesekali Giselle melirik, suaminya dan Laura itu kini duduk di kursi sambil berbincang serius. Meski Edward terlihat banyak diam, tak bisa dipungkiri Edward terlihat sangat terkejut dengan kehadiran Laura.
"Kamu nggak cemburu?" tanya Nathan pada gadis itu.
"Hm? Ngapain aku cemburu?" tanyanya balik.
"Laura sama Edward itu pernah pacaran," terang Nathan, yang entah kenapa tiba-tiba membuat Giselle melongo. Bukan karena Giselle marah apalagi cemburu, tetapi karena terkejut. "Mereka pacaran lima tahun, cuman karena Laura pergi ke luar negri, mereka putus."
"Oh ya?"
Nathan mengangguk. "Iya, tapi jangan cerita Edward ya kalau kasih tahu kamu ini."
Giselle mengangguk tanda mengerti. "Terus?"
"Terus?" tanya Nathan bingung.
"Terus gimana kelanjutannya?"
"Nggak ada, itu aja."
"Dih nggak asik, aku kira ada apa," ujar Giselle santai, ia masih memakan pudding coklat di tangannya.
Melihat Giselle yang begitu santai, Nathan mulai curiga. "Kok kamu santai banget? Itu suami kamu loh, lagi sama mantannya."
"Terus aku harus gimana? Pisahin mereka gitu?"
"Ya paling enggak kan ada rasa cemburu, Giselle," ungkap Nathan.
"Aku emang gini orangnya Nathan, mau cemburu nggak cemburu ekspresi aku emang gini."
Nathan semakin curiga, apalagi Giselle begitu santai dan lebih fokus pada pudding daripada Edward. "Jangan-jangan kamu nggak cinta ama Edward?"
"Uhuk!" Mendengar itu, Giselle otomatis tersedak, membuat gaun putihnya ketumpahan pudding yang keluar dari mulutnya.
"Giselle, sori." Nathan buru-buru mengambil tisu di meja, ia membantu Giselle membersihkan gaun Giselle yang bernoda coklat di bagian perut. "Sori, aku bikin kamu kaget."
"Nggak apa, udah biar aku aja," Giselle mencoba menghentikan Nathan yang masih meraih pakaiannya, namun Nathan bersikeras membantunya.
Hanya saja tiba-tiba tangan Nathan ditarik dan di hempas oleh Edward. Edward yang tak sengaja melihat hal itu, langsung berjalan cepat meninggalkan Laura dan menghampiri mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments