Gedung mulai dipenuhi oleh peserta sebelum acara di mulai pukul sebelas siang. Panitia penyelenggara memulai acara sesuai dengan rundown, tepat pukul sebelas sang MC mulai membuka acara yang tentunya di sambut meriah oleh para peserta.
MC langganan kampus yang berasal dari mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi itu cuap-cuap dengan lihainya, mulai dari memperkenalkan brand Van Luice dan MUA utama yang akan memandu para peserta.
Giselle dan Shania yang berada di belakang panggung ikut tertawa mendengar candaan-candaan dari sang MC itu saat ia mengajak bercanda para peserta. Sedangkan Morgan sebagai ketua pelaksana terlihat begitu sibuk, ia jalan ke sana ke sini memberi perintah pada panitia yang lain karena kali ini tamu undangan yang tak lain adalah Edward Van Lewis bukan sembarang tamu.
Tak seberapa lama MC menyampaikan rundown acara pada peserta, Edward mulai melangkahkan kakinya masuk di area belakang panggung.
Bola mata Giselle membelalak, sedangkan Shania klepek-klepek karena kehadiaran itu.
"Argh, ganteng banget," bisik Shania sambil mencubiti lengan Giselle.
Edward menatap Giselle sebentar, lalu mengalihkan pandangannya ke lain arah dengan begitu cueknya. Berbeda dengan Nicolas, ia menyapa Giselle dengan amat ramah membuat Shania keheranan.
"Hai, apa kabar?" sapa Nico.
"Sel! Lo kenal?" kepo Shania, menarik-narik lengannya.
Giselle menjawab sapaan Nico dengan sedikit senyum di wajahnya.
"Giselle! Lo kok bisa kenal?" tanya Shania lagi.
"Sst, nanti gue ceritain," jawabnya sambil memberi aba-aba diam.
Di saat itu juga sang MC mempersilahkan CEO brand ternama Van Luice naik ke atas panggung.
Dengan gagah dan manly Edward naik ke panggung, meski ia tak tersenyum sama sekali semua peserta termasuk para panitia langsung heboh seperti menyambut artis idola mereka. Bahkan para peserta langsung mengarahkan ponsel mereka untuk merekam adanya Edward saat ini.
Giselle rasa dia akan seheboh para peserta juga jika yang naik ke atas panggung adalah BTS atau NCT.
"Iya perkenalkan saya Edward Van Lewis, pemilik brand Van Luice," ujarnya seramah mungkin dibalik suaranya yang begitu dalam.
"Kami nggak nanya, kami sudah tahu!" sorak para peserta heboh.
"Jadi hari ini memang kampus kalian sengaja menawarkan kerja sama dengan brand kita, maka dari itu hari ini saya juga akan memberikan beberapa produk secara gratis untuk para peserta."
Jepret, jepret, jepret.
"Seperti yang kalian ketahui, Van Luice sudah berjalan selama tiga belas tahun dan tetap menjadi brand teratas di tengah ketatnya persaingan. Mulai dari make up, skincare, dan rencananya kami juga akan memperbanyak gerai khusus Van Luice tentunya dengan harga yang bersahabat dengan kantong kalian."
Prok-prok-prok.
*Semua peserta bertepuk tangan, membuat senyum Edward sedikit mengambang. Edward terus memberikan sambutan hingga waktu menjukkan sesi acara demo make up* yang mana role modelnya adalah Giselle dan Shania.
*Dua mahasiswi itu naik ke panggung, duduk di kursi yang disediakan. Masing-masing MUA mulai mengoleskan make up* demi make up di wajah dua remaja itu. Para peserta bisa melihat dengan jelas karena di dalam gedung sudah ada beberapa LCD dan televisi yang terpasang.
Saat para MUA menyulap wajah dua gadis itu, sesekali Edward menjelaskan apa saja keunggulan produk dari Van Luice mulai dari bahan yang terbuat alami, daya tahan produk, dan lainnya.
Edward mengamati Giselle dan Shania bergantian. Ia akui kemampuan MUA andalan perusahaannya sehandal itu, bisa menyulap wajah siapa saja sesuai karakternya.
Wajah Shania usai di make up tampak begitu memukau, sesuai dengan karakter Shania yang sedikit bad girl. Berbeda dengan Shania, wajah Giselle di make up tipis dengan warna dominan pink-peach sesuai karakter Giselle yang periang.
Para peserta mulai mengaplikasikan make up yang sudah tersedia di meja mereka pada wajah mereka masing-masing sambil di pandu beberapa beauty advisor yang berkeliling di setiap meja.
Acara yang memakan waktu kurang lebih tiga jam itu berlangsung ramai dan menyenangkan. Di akhir acara para peserta tampak foto bersama dengan yang lain, sayangnya Edward melarikan diri terlebih dahulu ke belakang panggung karena ia sebenarnya tidak terlalu suka di foto.
"Tawaran itu masih berlaku," ujar Edward tiba-tiba kepada Giselle yang juga ada di belakang panggung sambil menghapus make up tipisnya.
Giselle tak bertanya, ia hanya melirik Edward dari cermin.
"Tentang pernikahan kontrak," tambah Edward. Ia berani menjelaskan karena hanya ada dia, Giselle dan Nico. Shania sudah pergi terlebih dahulu karena ada urusan.
"Gila ya? Gue masih kuliah mana mau nikah sama om-om," celetuk Giselle tiba-tiba.
Edward menghela nafasnya. "Umur saya baru aja tiga puluh, belum om-om."
"Walau bukan om-om juga gue nggak mau nikah," jelasnya.
"Kamu nolak saya?" tanya Edward tak percaya. "Saya, saya tampan lho."
Spontan Giselle tertawa kecil. "Terus? Terus kenapa kalau tampan?"
"Saya tampan, saya kaya raya, kenapa kamu nolak saya?"
Nico yang ada di belakang sambil berjaga memantau orang agar tidak masuk hanya bisa tertawa kecil agar Edward tak mendengarnya.
"Okeh kamu tampan, kamu kaya raya ... terus kenapa mau nikahin saya? Kan pasti banyak yang mau sama sugar daddy."
*"Hufth." Edward kembali menghela napasnya. "Saya masih single*, bukan sugar daddy."
Giselle semakin lihai mengejek laki-laki yang tidak ia kenal itu.
"Seperti yang kamu tahu, bahkan mahasiswi di sini banyak yang mengidolakan saya. Harusnya kamu bersyukur saya ajak nikah."
"Alasan kamu ajak akh nikah apa?" tanya Giselle, membalik tubuhnya agar bisa menatap langsung laki-laki narsis tersebut.
Belum Edward menjelaskan, Nico memberi aba-aba bahwa ada beberapa petugas yang akan masuk sehingga Edward memilih bungkam dan tak menjawab pertanyaan Giselle.
Giselle pun tak ambil pusing, meski ia bingung kenapa Edward mengajaknya menikah kontrak padahal mereka tidak saling mengenal, ia tidak terlalu penasaran.
...****************...
"Apaan sih!" protes Giselle ketika seorang pria yang kini ada didekatnga menarik lengannya.
Giselle menepis tangan itu.
"Dia emang gitu, jaim gitu," ujar Yohan yang sudah dengan lancangnya membawa seorang pria ke kampus Giselle.
Teriknya sinar matahari membuat emosi Giselle semakin meledak. Bisa-bisanya di saat ia masih bertugas di penutupan acara kampus kakaknya itu malah menyuruhnya bertemu. Jika tidak bertemu, Yohan mengancam akan membuat ulah di acara yang diselenggarakan itu.
Mau tak mau akhirnya Giselle keluar dan menemui Yohan yang ternyata membawa seorang pria hidung belang, pria yang sejak tadi menatapnya dengan penuh rasa tertarik.
"Nggak usah marah-marah gitu, ini loh kakak bawain calon pendamping kamu," ujarnya sambil merangkul pundak gadis itu.
"Hai, gue Tomi udah diceritain sama abang lo nih kalau dia punya adik jomblo, jadi gue minta kenalin," jelas pria itu.
"Ya kali gue mau sama om-om kaya lo!" protes Giselle, menjauhkan tangan Yohan dari pundaknya dan menatap kesal pada Tomi.
Mendengar jawaban tidak enak dari Giselle, Tomi hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya.
"Sel, jaga omongan lo jangan hancurin bisnis gue," ancam Yohan. "Dia bukan pria sembarangan!"
"Siapa suruh lo jual gue ke dia! Siapa elo berani jual hidup gue?" omel Giselle tak tahu takut sama sekali.
"Giselle!"
Tomi tertawa melihat tingkah kakak beradik itu.
Melihat tawa Tomi, Giselle makin murka. "Om-om kaya lo tu mending tobat, ingat sama kematian! Umur tinggal sejengkal aja masih berani-beraninya ngajak gue kenalan!"
"Lo bilang apa?" tanya Tomi mulai kesal karena perkataan gadis itu.
"Kamu nanya?" ejek Giselle, ia sengaja agar pria hidung belang itu tidak tertarik padanya.
Tomi emosi, ia menarik kerah pakaian Giselle hingga sedikit berjinjit. Melihat kejadian itu, beberapa orang di sekitar mulai berbisik keheranan.
"Apa? Mau marah? Mau tampar? Silahkan! Daripada gue punya hubungan sama om-om jelek genit kaya lo mending lo tampar gue!" tantang Giselle.
Yohan hanya diam dan melihat, ia sudah tidak heran dengan sikap Giselle yang suka menantang akhir-akhir ini. Padahal dulu sebelum orang tuanya kecelakaan, Giselle tak berani sama sekali melawannya.
Tomi yang hendak menampar Giselle menahan amarahnya, ia sadar beberapa orang sedang merekam mereka dan bisa-bisa ia berurusan dengan polisi jika memang menyakiti gadis yang ada di depannya itu.
Senyum licik Giselle membuat Tomi semakin marah, tidak menampar Giselle, Tomi malah mendorong gadis itu dengan kencang sambil meredam amarahnya.
Brak.
Giselle mundur dan terjatuh di paving kampus, tak sengaja saat ia terjatuh tubuhnya menabrak kaki seseorang yang ternyata sejak tadi mengamatinya. Giselle mendongakkan wajahnya, betapa terkejutnya ia saat ternyata yang berdiri menahan tubuhnya adalah Edward Van Lewis.
Edward menatap Giselle sebentar, tiba-tiba dengan manly-nya ia membantu Giselle berdiri. Saat berdiri, Nico langsung bergegas membantu mengamankan Giselle sedangkan Edward melangkahkan kakinya maju ke arah Yohan dan Tomi.
Melihat wajah Yohan dan Tomi yang tampak tak berdosa, membuat Edward ingin sekali mengepalkan tangannya lalu menghajar wajah para lelaki sok tampan di depannya. Hanya saja ia sadar, di sini ia datang sebagai tamu yang memberikan contoh pada para mahasiswa, tidak mungkin ia malah membuat onar meski hatinya sedang sangat kesal melihat perlakuan kasar para lelaki itu.
Edward memang begitu, ia pemarah dan tempramen dalam segala hal, apalagi menyangkut tata krama. Jangankan melihat seorang perempuan di perlakukan kasar, melihat hewan di aniyaya manusia saja membuatnya sangat geram.
"Siapa lo? Mau sok jadi pahlawan?" tanya Tomi sok jagoan seperti hedak mengajak ribut.
Mendengar pertanyaan receh Tomi, Edward langsung memasang senyum piciknya. "Kalian nggaktahu siapa saya?" tanyanya garang. "Yang jelas saya akan memproses lewat jalur hukum karena kalian sudah mengganggu calon istri saya."
Giselle dan Nico menganga secara bersamaan, begitu juga dengan Yohan dan orang-orang yang mendengar.
"Sebenarnya saya ingin sekali menghajar wajah kalian yang polos ini, tapi saya rasa lebih baik kalian dibuat jera oleh hukum daripada saya repot-repot mengotori tangan saya."
"Tch." Tomi tertawa terbahak-bahak. "Lapor aja silahkan, gue pasti bebas mau lo laporin kaya gimana aja," katanya dengan bangga.
Edward mengeluarkan kartu namanya, ia memberikan kartu namanya kepada Tomi. Tomi yang baru saja membaca langsung membelalak.
"Va ... Van ... Lewis?" ujar Tomi mulai gemetar. Para pengusaha pasti mengenal keluarga konglemerat itu, termasuk Tomi. Meski Tomi memang bisa dibilang pria berduit, keluarga Van Lewis masih jauh di atasnya.
Yohan pun begitu, ia sedikit tahu tentang keluarga Van Lewis karena saat hidup Ayah sempat bercerita padanya jika sudah lulus kuliah ia akan di masukkan dalam salah satu perusahaan milik keluarga Van Lewis, meski fakatanya sekarang ia hanyalah pengangguran yang menghabiskan sisa tabungannya yang ada.
"So ... ri," ujar Tomi menundukkan kepalanya. "Maaf, saya nggak tahu kalau dia calon istri anda." Tomi melirik ke arah Yohan. "Karena dia bilang adiknya jomblo cantik cari jodoh, jadi saya kira itu benar."
Yohan masih hening, tak bisa berkata apa-apa selain kebingungan dengan semua ini. Edward tak merespon Tomi, saat ia membalikkan tubuhnya Tomi malah berjalan terlebih dahulu melewatinya dan menghampiri Giselle yang kini sedang dijaga oleh Nicolas.
"Sori, please sori!" ujar Tomi pada Giselle dengan tatapan penuh ketakutan. "Maaf gue udah dorong lo!"
"Jangan sentuh-sentuh nyonya gue!" timpal Nico, masih menjadi penengah Giselle dan Tomi.
"Giselle, gue janji sumpah nggak akan ganggu lo lagi! Gue kaya gini karena udah bayar dp ke abang lo tuh Yohan! Katanya kalau gue bayar dp, gue bisa milikin lo," jelas Tomi lagi sambil menunjuk Yohan.
Mendengar penjelasan Tomi, Edward makin geram pada Yohan. Edward hanya bisa melayangkan tatapan murkanya pada Yohan.
"Giselle, please maafin .... Giselle! Giselle Oliver!" panggil Tomi saat Giselle pergi menjauh darinya.
Nico mengikuti Giselle sesuai perintah Edward, sedangkan Edward masih berada di antara Yohan dan Tomi. Tomi tanpa henti meminta ampun pada Edward yang kini berhadapan dengan Yohan.
"Lo kakaknya Giselle, bisa-bisanya lo jual adik lo sendiri," ujar Edward, gaya bahasa formalnya mulai menghilang.
"Sori, gue nggak tahu kalau ternyata adik gue sangat membanggakan. Gue nggak tahu adik gue bisa dapat calon suami kaya elo," katanya sumringah. Senyum dan tatapan Yohan membuat Edward semakin kesal dan kesal. "Gue sangat bersyukur punya saudara ipar kaya lo, kita harap kita bisa akur!" Yohan seperti tak terjadi apa pun, menepuk pundak Edward.
"Walau lo keluarga Giselle, gue nggak akan sudi anggap lo sebagai bagian dari keluarga gue," jelas Edward, menghentikan senyum Yohan. "Sekali lagi gue tahu lo ganggu calon istri gue, gue nggak akan sesabar ini."
Yohan terdiam.
"Bahkan sekali aja lo tunjukkin muka lo di hadapan dia, lo bakal terima akibatnya. Jangan lo anggap remeh ancaman gue, karena Giselle selalu dalam pengawasan gue," terang Edward sambil menunjuk-nujuk tubuh Yohan dengan jari tangannya.
Edward membalikkan tubuhnya, ia berjalan menjauh meninggalkan Yohan dan Tomi yang kini menangis sesunggukkan.
Mendengar ancaman Edward, membuat Yohan semakin terhina. Rasanya ia semakin ingin memberi pelajaran pada adik angkatnya itu dengan cara apa saja.
”Sialan lo Giselle, ternyata selama ini lo pacaran sama dia. Pantas aja sikap lo jadi sok berani dan suka ngelawan gue,” gumam Yohan. “Ck, lihat aja nanti.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments