"Udah mau berangkat?" tanya Giselle yang sadar diri memasak sarapan, walau hanya memanggang roti pukul setengah tujuh pagi saat melihat Edward menuruni anak tangga.
"Hm," jawabnya singkat sambil mengancingkan kancing lengannya. Edward sedikit shock, ternyata istrinya perhatian juga walau tampilan roti panggannya tak terlalu menarik.
"Sarapan dulu," tawar Giselle, ia sudah duduk di kursi meja makan.
"Nggak usah, nanti aja."
"SARAPAN DULU! AKU UDAH BUATIN ROTI!" omelnya kencang, membuat Edward terkejut.
Takut dengan Giselle, lelaki itu pun duduk di sebrang Giselle. "Saya kira kamu bisa masak karena terlihat mandiri, ternyata buat roti aja gosong."
"Udah deh nggak usah menghina, dimakan aja jangan bawel," jelasnya makin galak.
Edward memakan roti gosong itu dengan suka rela, ia hanya memakan selembar tanpa selai apapun. "Saya nanti pulang paling cepat jam tujuh malam, kalau kamu butuh apa-apa bisa hubungi Nico."
Giselle mengangguk tanda mengerti. "Tapi aku juga pulang malam kayaknya."
Edward langsung menatap gadis itu. "Ke mana emang kamu?"
"Mau ke kampus jam sebelas ini, terus main sama Shania sama Morgan," jelasnya riang, benar-benar kekanak-kanakan.
"Jangan sampai malam, maksimal jam lima sore."
Giselle memicingkan matanya. "Kan di perjanjian kita udah sepakat nggak ikut campur urusan masing-masing!"
"I know, tapi kayaknya nggak semudah itu. Saya yakin Oma sama Mama hari ini bakal mengintai kamu."
"Mengintai?"
Edward mengangguk. "Tahu kan Oma minta apa?"
Giselle balik mengangguk. "Minta cucu?"
"Yes. Kalau Oma lihat kamu pulang malam, yang ada Oma berulah lagi. Bisa-bisa kamu dipaksa ke dokter kandungan buat program hamil. Mau?"
Giselle langsung menggelengkan kepalanya. "Nggak lah, kan kita nggak mau sampai punya anak."
"Makanya jangan berulah dulu beberapa hari ini, biar saya yakinkan Oma masalah cucu itu."
Giselle mengangguk lemas.
"Dan ingat, jangan terlalu dekat dengan laki-laki lain," ucap Edward kemudian membuat wajah Giselle bertanya-tanya. "Kamu udah menikah, nanti nggak enak dilihat orang."
"Morgan maksud kamu?"
"Siapa pun itu."
"Tenang aja, walau cowok yang naksir aku banyak, aku nggak tertarik."
"Pede banget," celoteh Edward, padahal dia lebih pede.
Di saat Giselle masih mengunyah, Edward sudah bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan ruang apartement usai berpamitan seadanya pada Giselle.
...****************...
"Giselle!" panggil Shania yang langsung berlari kecil lalu menghamburkan pelukannya pada Giselle saat melihat sahabatnya itu menunggunya di dudukan kampus.
Begitu pula Morgan, senyum Morgan begitu lebar saat melihat istri orang.
"Ya ampun sahabat gue, sibuk banget ya habis nikah!" ujar Shania sambil menyikut lengan Giselle.
"Hehe."
"Apa kabar, Giselle?" sapa Morgan.
"Baik dong," jawab Giselle ramah.
"Gimana? Lancar nggak? Enak nggak? Haha," kepo Shania seperti biasa.
"Apanya?" Giselle tampak bingung.
"Malam pertama uh, gue jadi pengan nikah," jawab Shania yang spontan membuat wajah Giselle memerah.
Giselle jadi ingat kejadian bulan madu kemarin, di saat dia dan Edward tidur sambil pelukan. "Kepo banget lo!"
"Hahaha," tawa nyaring Shania.
"Kelas yuk," ajak Morgan.
Dua mahasiswi itu menganguk. Mereka mengikuti langkah Morgan hingga tiba di kelas. Kedatangan Giselle spontan membuat teman sekelasnya yang lain heboh, karena kaabr Giselle menikah dengan Edward Van Lewis menyebar di mana-mana terutama di sosial media.
Banyak orang yang mengucapkan selamat padanya, banyak juga orang mengaku iri padanya. Tentunya hal itu membuat Giselle menjadi tidak nyaman, jika semua orang tahu ini hanyalah pernikahan kontrak apa yang kira-kira akan terjadi? Pasti dia akan dicap sebagai cewek terburuk di bumi yang hanya peduli soal uang.
Perkuliahan kali ini berjalan cukup singkat, masalahnya dosen hanya menyampaikan bahwa masa pengumpulan judul skripsi telah tiba dan para mahasiswa diharap lekas untuk mengerjakan skripsi mengingat mereka sudah masuk hampir di semester ke tujuh.
Usai dosen cuap-cuap, Giselle dan Shania begitu juga Morgan memutuskan untuk ke mall terdekat dari kampus. Jika jalan kaki, hanya sekitar tujuh sampai sepuluh menit, itu dari gerbang utama. Jika dari fakultas, bisa sampai dua puluh menit.
Hanya saja mereka bertiga sudah biasa, kerjaan mereka dari semester pertama memang sering jalan kaki ke mall sebelah kampus karena lebih nyaman daripada harus mengendarai kendaraan yang bolak-balik parkir dan waktu tempuhnya terhalang macet.
"Gimana Edward, dia perlakukan kamu dengan baik kan?" tanya Morgan, di saat mereka duduk di kursi foodcourt sedangkan Shania sedang ke toilet.
"Baik banget," jawab Giselle jujur, karena faktanya Edward memang sebaik itu meski suka menggodanya.
"Syukurlah, gue ikut lega."
"Lagian kenapa lo buru-buru nikah sih, Sel? Kan masih kuliah." Morgan masih heran, biasanya orang yang buru-buru nikah adalah orang yang menikah karena terpaksa contohnya pihak wanita hamil duluan.
"Pasti lo pikir gue korban MBA ya kan?" terkanya to the point.
Wajah Morgan memerah.
"Tenang aja, gue mah orangnya lurus. Gue masih perawan!" jawab Giselle keceplosan.
"What? Masa lo masih perawan!" celetuk Shania, duduk di sebelah gadis itu. "Emang lo ngapain aja malam pertama?"
Giselle terdiam.
"Giselle, lo gila ya. Jangan sia-siain Edward!"
"Ih apa sih Shania, lo ya kepo banget kesel gue."
"Kalau gue jadi lo, gue mah udah menunggu-nunggu malam pertama!"
"Kalian ya masih kuliah otak ngeres!" omel Giselle.
"Lo juga masih kuliah, bedanya lo udah jadi ibu-ibu!"
"Shania lo ngeselin banget sih!"
Pertengkaran Shania dan Giselle membuat Morgan tertawa kecil, meski ia sudah jarang sekali bisa berkumpul dengan teman seangkatannya itu ia masih nyaman berada didekat mereka.
"Eh Sel, si Nico ...."
"Nico kenapa?" tanya Giselle penasaran, masalahnya Shania juga selalu kepo dengan Nico akhir-akhir ini.
"Udah punya cewek belum sih?"
"Mana gue tau."
"Tanyain dong, kayaknya gue jatuh cinta sama dia."
Morgan menggelengkan kepalanya. "Shan, Shan ... tetep aja lo ya semua cowok lo sukain."
"Lo sih nggak mau sama gue!" sahut Shania. "Padahal gue sama cewek lo si Erna yang jutek itu masih cantikan gue."
"Cantikan cewek gue lah." Morgan tak mau kalah. Erna memang jutek dan tidak mudah bergaul, tetapi Morgan selalu membela Erna. Wajar saja Erna adalah pacar Morgan sejak masuk kuliah hingga saat ini.
Bisa dikatakan hubungan mereka langgeng.
"Ya Giselle, lo kepoin si Nico ya. Please."
"Iye ntar gue tanya kalau ketemu," sahut Giselle berbaik hati sambil mengecek ponselnya yang taka da notifikasi selain notifikasi dari grup kpop fans berat NCT.
Baru ia hendak membuka grup, sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Sebuah panggilan dari salah satu keluarga Edward itu spontan membuatnya spot jantung.
"Ssst, gue angkat telpon dulu!" ujar Giselle, agar dua temannya itu tak banyak bicara.
Gadis itu langsung mengangkat telpon tersebut.
"Halo oma," sapanya riang.
Dari rumah, Oma tak kalah riang mendengar suara menantunya. "Giselle, lagi di mana?"
"Ini baru selesai ngampus, Oma."
"Oma jemput ya, Oma mau ngajak kamu jalan-jalan."
"Sekarang, Oma?"
"Iya sayang, ini Oma mau otw. Kamu di kampus kamu tunggu di depan fakultass kamu aja, ya?"
"Oh, iya Oma. Giselle tunggu."
"Yaudah Oma otw ya sayang, tunggu ya!" ujar Oma, langsung menutup ponselnya lalu beranjak pergi.
Giselle pun begitu, ia langsung memasukkan ponselnya.
"Guys, gue harus balik kampus. Mau diajak jalan."
"Sama mertua?" tanya Shania dengan temannya yang tampak terburu-buru itu.
Giselle menggelengkan kepalanya. "Neneknya Edward."
"Yaudah sekalian aja yuk balik," ajak Morgan.
"Yah kan kita baru nyampe, nenek suruh langsung ke sini aja."
"Gila lo, mana berani gue sama orang tua. Udah kalian lanjut aja, gue duluan oke bye!"
Tanpa basa-basi Giselle langsung berjalan cepat meninggalkan dua sahabatnya yang lontang-lantung itu.
Bagi Giselle tidak mungkin ia berjalan sendiri, khawatir jika Oma lebih dahulu sampai. Ia pun memesan ojek yang ada di pangkalan, menyuruh sang ojek menyetir secepat mungkin sebelum Oma tiba.
Supir ojek menuruti kemauan penumpuang, ia menyetir dengan kencang terobos sana terobos sini. Tidak sampai lima menit, Giselle tiba di depan fakultasnya.
Sembari menunggu Oma, ia duduk di pinggiran sambil merapikan rambutnya yang acak-acakan karena angin.
Sekitar tujuh menit menunggu, Oma tiba tepat memberhentikan mobil di depannya dan memberikan bunyi sebuah klakson. Giselle pun dengan langkah ceria langsung menuju mobil itu, masuk ke dalam.
"Hai," sapa seseorang yang kini menyetir dan tersenyum menyapanya.
"Nathan?" ujar Giselle.
"Iya ini Nathan nganggur pas di rumah Oma, jadi Oma suruh setirin aja," sahut Oma yang duduk di sebelah Nathan.
Giselle angguk-angguk tanda mengerti. Tak seberapa lama, Nathan kembali mengemudikan mobil yang membawanya dan Oma ke sebuah tempat.
"Mau ke mana, Oma?" tanya Giselle.
"Makan yuk, Oma lagi pengen makan di warung kesukaan Oma."
"Oh, sambelan pinggir kali itu?" tanya Nathan.
Oma mengangguk. "Iya sayang, duh kamu emang cucu Oma paling perhatian."
Melihat keakraban Nathan dan Oma, membuat seutas senyum muncul di wajah Giselle.
"Giselle bisa makan sambelan, kan?" tanya Nathan, melihatnya dari spion tengah.
"Bisa, tenang aja."
"Yaudah, meluncur!"
Siapa yang sangka Oma si konglemerat dengan harta melimpah begitu merakyat. Bukannya makan di restoran mewah, Oma memilih rumah makan sederhana yang ada dipinggiran kali namun tak sepi pengunjung. Bahkan Oma rela antri beberapa menit untuk mendapatkan tempat duduk.
Rumah makan yang lebih tampak seperti warung kekinian itu memang sangat ramai, Giselle pernah sekali makan di situ bersama dengan Morgan dan Shania usai sebuah acara. Rasanya memang enak, sambelnya begitu khas dan membuat siapa saja ketagihan. Tak heran banyak yang suka.
"Mami Bila tumben nggak ikut," ujar Giselle saat mereka sudah mendapatkan tempat duduk dan sajian terhidang di meja.
"Mami lagi ke Sumatra sayang, nemenin Papinya Edward."
Giselle angguk-angguk tanda mengerti sambil mulai menjamah makanannya. Giselle sesekali memperhatikan Oma, Oma bahkan makan menggunakan tangan. Begitu juga dengan Nathan yang duduk di sebelah Oma. Keluarga konglemerat Van Lewis memang luar biasa.
"Habis ini ke mana, Oma?" tanya Nathan yang makannya secepat kilat, padahal Giselle baru habis separuh.
"Em, sayang," panggil Oma.
Giselle mendongakkan kepalanya.
"Kamu mau nemenin, Oma kan?"
Tanpa bertanya, tentu saja Giselle angguk-angguk. "Iya kan emang hari ini Giselle temenin Oma."
"Emang Oma mau ke mana, toh?" tanya Nathan.
"Oma kan pengen cucu tuh, jadi Oma ajak kamu buat promil ya?"
Giselle tersedak seketika. Bahkan beberapa biji nasi menyembur ke meja, untung tak mengenai Oma.
Nathan buru-buru memberikan gadis itu segelas air, beranjak dari duduknya lalu menepuk-nepuk punggung Giselle sambil duduk di sebelah.
Rasanya hidung Giselle begitu perih saat mengeluarkan nasi, panas dan memerah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments