Bola mata gadis itu fokus pada satu titik genangan air kolam renang yang hanya bergerak karena tersipu oleh angin malam.
Sejak bertemu dan membuat kontrak dengan Edward, ia rasa hidupnya serba mudah tanpa mengkhawatirkan apa pun seperti sebelumnya. Apa saja yang ia inginkan saat ini, akan bisa terwujud. Bahkan jika saat ini ia meminta Edward membelikan album NCT terbaru, ia rasa album itu akan langsung dibelikan.
Apalagi uang saku yang Edward akan berikan padanya setiap bulan, jika dibagi perhari dia bisa menghabiskan satu juta lebih untuk foya-foya. Sungguh semua kekayaannya secara mendadak tidak masuk akal, tetapi itu nyata adanya.
Tak hanya sudah damai dengan kondisi ekonominya, ia juga merasa tenang karena Mamanya setiap hari ada yang mengawasi yaitu salah satu orang kepercayaan Edward. Berkat Edward juga, kakak tirinya sudah sama sekali tak menampakkan batang hidung.
Dalam hati yang paling dalam, Giselle Oliver sungguh amat bersyukur. Rencana Tuhan mempertemukannya dengan Edward Van Lewis bisa mengubah hidupnya lebih baik untuk saat ini, meski ia tak yakin jika kontrak itu berakhir dan ia cerai dengan Edward masih ada atau tidak laki-laki yang ingin bersamanya karena statusnya adalah janda, walau jaman sekarang janda lebih menggiurkan kata orang-orang.
Lamunan Giselle terhenti, saat pintu kamar di hotel cottage yang ia sewa terbuka. Dari luar, Edward masuk dengan pakaiannya yang casual tak seperti biasa. Laki-laki itu baru usai jalan-jalan malam sendirian memutari area Bali sambil berolahraga, padahal mereka baru sampai di Bali dua jam lalu.
Pasangan muda itu saling pandang, namun dengan pandangan yang tak memiliki arti. Tak lama, Giselle kembali mengalihkan pandangannya pada kolam renang.
Selagi Giselle melamun, Edward kembali membersihkan diri usai keringatnya mengering. Edward memang cukup lama membersihkan diri, maklum di adalah tipe laki-laki bersihan dan selalu wangi serta rapi. Keluarnya ia dari kamar mandi, matanya celingukan mencari sosok Giselle yang sudah tak berada di kamar.
"Ke mana tu bocil malam-malam gini," desisnya sambil melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia segera mengambil ponselnya, menekan sebuah panggilan untuk ponsel Giselle.
Bunyi getaran ponsel terdengar di telinga Edward, ponsel Giselle tidak dibawa. Ponsel itu ada di meja dekat televisi.
"Hufth," helanya sambil mematikan panggilan. "Yaudah lah lagian dia udah gede, biar aja." Edward mencoba tak peduli, ia mendudukkan tubuhnya di ayunan kayu yang menghadap ke kolam sambil mengecek laporan terbaru kantornya.
Meski sedang bulan madu, tak pernah sama sekali Edward melupakan tugasnya sebagai seorang CEO yang mengelola perusahaan besar dan memperkerjakan ribuan orang. Ia sangat bertanggung jawab dengan warisan dari kakeknya itu.
Sedangkan di luar hotel, Giselle menapakkan kakinya dengan lamban sambil menikmati udara Bali dengan angin yang lumayan kencang. Menemukan sebuah dudukan, ia duduk di salah satu kursi sambil melamun lagi memikirkan hidupnya.
Kencangnya angin membuat matanya mengantuk, menutup terbuka dengan gerakan lamban seperti ada yang menghipnotis.
Plak-plak-plak.
Gadis itu menampar kecil pipinya sambil mencubit. "Giselle sadar! Ya kali mau tidur di sini!" omelnya pada diri sendiri, ia langsung berdiri dari dudukkan dan berjalan kembali menuju kamar.
Krek.
Seketika Giselle masuk, ia bisa melihat bahu Edward yang lebar membelakanginya. Matanya beralih ke arah jam yang sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam.
Yah, bagi Giselle, Edward memang tak akan peduli padanya. Jika suami istri saling cinta, pasti Edward akan mencarinya.
Bukan itu yang Giselle harapkan, ia sama sekali tak mengharapkan Edward mencarinya. Hanya saja ia berandai-andai, jika menikah dengan orang yang ia cintai pasti momen bulan madu ini akan terasa indah. Namun ia sadar, ini adalah pernikahan bisnis.
Tanpa mempedulikan Edward lagi, ia langsung menghamburkan tubuhnya di kasur yang empuk. Sesuai perjanjian seperti kemarin, dia akan menguasai ranjang dan Edward akan tidur di sofa.
Se-cuek dan sedinginnya Edward, Edward masih sadar diri dia adalah seorang laki-laki dan dia tidak akan membiarkan ke egoisannya menguasai apapun sehingga ia membiarkan gadis remaja itu untuk tidur di kasur.
...****************...
Jam terus berputar ke arah kanan, Giselle Oliver tertidur dengan begitu nyenyaknya sambil menutup tubuhnya dengan selimut tebal karena hawa begitu dingin semakin lama, ditambah hujan begitu deras mengguyur Bali. Ia hanya menyisakan wajahnya yang keluar dari selimut.
Ia tak bermimpi sama sekali, namun malam ini tidurnya begitu nyenyak berbeda dengan kemarin malam karena ia tidur menggunakan handuk basah yang membuatnya tak nyaman.
Nyenyak tidurnya pun terhenti karena mendengar sebuah suara petir yang cukup keras hingga bangunan terasa ikut bergoyang. Gadis itu perlahan membuka bola matanya yang masih mengantuk.
Secara perlahan, ia bisa melihat seorang Edward Van Lewis yang tidur di sebelahnya. Giselle rasa ini hanya mimpi, ia mengucak kedua matanya berkali-kali, namun benar adanya Edward kini tidur dengannya. Bahkan yang Giselle sadari, kepala Giselle bertumpu pada lengan berotot Edward.
Bola mata Giselle membelalak. Ia langsung mendudukkan tubuhnya karena terkejut. Segera ia mengecek pakaiannya, ternyata masih lengkap. Tetapi kenapa bisa Edward tidur satu ranjang dengannya? Apa yang terjadi? Seingatnya ia kemarin malam masih tidur sendiri.
'Sial! Edward kenapa bisa satu ranjang, kenapa aku tidur di pelukan Edward? Aku ngapain aja kemarin sama Edward? Apa jangan-jangan aku sama dia ngapa-ngapain? Kalau aku hamil gimana?' pikirnya dengan panik, membuat jantungnya berdetak tak karuan hingga matanya ingin mengeluarkan tangis.
"EDWARD!" panggil Giselle dengan nada kencang sambil mendendangi tubuh Edward yang masih tertidur di ranjang.
Mendapatkan tendangan kaki Giselle, Edward segera membuka matanya. Ia mendudukkan tubuhnya yang menggunakan kaos putih itu dan mencoba mengumpulkan energinya.
"Edward kamu ngapain tidur di sini? Kamu apain aku?" tanya gadis itu kesal.
"Apaan sih bocil, pagi-pagi berisik," protes Edward sambil menatap gadis yang hendak menangis itu. "Kenapa? Ada apa lagi?"
"Kamu ... kamu ngapain tidur di sini? Kan kamu janji tidur di sofa!"
Edward mencoba menahan emosinya yang belum stabil usai bangun tidur, masalahnya ia baru tidur puku mo setengah tiga malam karena mengurus laporan yang berantakan karena ia sedang cuti menikah. "Kemarin malam dingin banget, jadi saya kedinginan dan tidur di sini."
Bola mata Giselle semakin terlihat marah.
"Kenapa? Kamu ngira saya apa-apain kamu?"
"Ya kamu harusnya bilang dulu kalau mau minta selimut, bukan seenaknya nimbrung di kasur!" protesnya marah.
"Iya-iya maaf, saya nggak tega bangunin kamu nyenyak banget kaya manusia nggak tidur sebulan."
"Kamu sengaja kan curi kesempatan biar tidur sama aku?"
"What?"
"Kan kita udah janji, nggak akan saling menyentuh walau menikah!" Giselle mengomel bagai tacik-tacik jual emas yang dibohongi oleh pelanggan.
Edward menutup matanya sebentar, ia benar-benar tak mau marah pada bocil yang satu ini. Edward merasa berhutang budi pada Giselle, jadi dia sudah berjanji tidak akan membuat gadis ini terluka akan kata-katanya yang biasanya kasar.
"Tapi saya beneran nggak apa-apain kamu, cuman numpang tidur!"
"Terus kenapa ... kenapa aku ...."
Mata Edward bertanya-tanya.
"Kenapa aku bisa sandaran di lengan kamu?" tanyanya terbata-bata.
Melihat ketakutan Giselle, Edward menjadi licik. Ia pikir daripafa menjelaskan hal secara berulang dan Giselle tetap tak percaya padanya, lebih baik ia mengerjai Giselle karena ia merasa gemas.
Edward mendekatkan tubuhnya pada gadis itu. "Saya juga nggak tahu, kok bisa kamu tidur di pelukan saya," godanya.
Wajah Giselle semakin menjadi-jadi kebingungannya.
"Apa jangan-jangan kita ngapa-ngapain kemarin malam?" tambah Edward.
"Maksud kamu, kita ...."
Edward mengangguk. "Kemarin saya agak mabuk, apa jangan-jangan waktu mabuk saya apa-apain kamu?"
"Ma ... mabuk?"
Wajah polos Giselle sungguh ingin membuat Edward tertawa terbahak-bahak. Entah kenapa tiba-tiba ia hobi sekali menggoda bocah kecil itu.
"Tenang aja, kita suami istri. Kalau kamu kenapa-napa, saya tetap akan tanggung jawab karena anak kamu adalah anak saya," godanya semakin menjadi.
Mendengar kalimat itu langsung membuat air mata Giselle menetes. Ia terisak ketakutan, takut jika tanpa ia ketahui dirinya dan Edward sudah melakukan hubungan suami istri.
"DASAR COWOK GILA! COWOK MESUM!" omel Giselle sambil menimpuk Edward dengan bantal secara berkali-kali.
"Giselle! Hei!" Edward menahan timpukan dari Giselle sambil tertawa puas.
"Ngaku! Kamu ngapain kemarin ngaku! Hiks!"
"Stop, Giselle!" ujar Edward, sambil memegangi kedua tangan gadis itu. Melihat wajah Giselle yang berderai air mata membuat tawa Edward semakin terbahak-bahak. "Hei, hahaha!"
"Hiks ...." Berbeda dengan Giselle, wajahnya sudah merah dan becek karena candaan tak lucu Edward yang ia percayai adanya.
"Hahahaha!"
"Hiks ...."
"Saya bohong, saya cuman bercanda," jelas Edward. "Sumpah saya cuman tidur, nggak nyentuh kamu sama sekali. Urusan kamu tidur di pelukan saya, saya juga nggak tahu. Tapi saya berani bersumpah saya nggak nyentuh kamu."
Mendengar penjelasan Edward, isak tangis itu sedikit mereda.
"Kamu ... haha, kamu percaya saya apa-apain kamu? Saya udah bilang berapa kali, tipe saya bukan anak kecil kaya kamu. Saya juga punya standard untuk ketempanan wajah saya," tambahnya dengan pede.
Giselle melepaskan tangannya dari Edward, ia menghapus air matanya dengan pakaiannya. "Sumpah kamu nggak apa-apain aku?"
Edward mengangguk.
"Terus kenapa pake bercanda segala bilang kamu mabuk?"
Edward tak bisa membendung senyumnya. "Lucu, kamu kaya anak kecil. Lucu aja kalau digodain."
"Awas sekali lagi kamu bercanda kaya gitu, kita cerai!" ancamnya sambil beranjak pergi dari kasur.
Ancaman Giselle tak membuat Edward takut, yang ada dia malah semakin tertawa. "Bocil ... bocil."
***
Tak seusai rencana yang awalnya akan menginap tiga hari dua malam di Bali, sore di hari pertama Edward sudah mengajak Giselle pulang ke kota asal mereka karena Edward ada rapat mendadak esok pagi. Padahal Giselle berniat besok adalah harinya jalan-jalan di pantai, tetapi kondisi berkata lain.
Mau tak mau, Giselle hanya menurut. Awalnya Giselle memberikan penawaran pada Edward jika hanya Edward yang kembali dan dia tetap di Bali, tetapi Edward menolak keras permintaannya meski ia sudah merengek. Se-mandirinya Giselle, Edward tetap saja khwatir bocil itu akan kenapa-napa jika sendirian di pulau orang. Jika Giselle kenapa-napa, yang ada dirinya akan di coret dari kartu keluarga oleh Oma.
Sesampainya di kota asal, hari yang lain terjadi pada Giselle. Ia tak lagi tinggal di panti asuhan yang mengurusnya saat kecil, melainkan tinggal di apartemen mewah milik Edward.
Benar kata Edward, ruang apartemennya ada dua kamar. Edward menempati kamar atas dan ia menempati kamar bawah. Apartemen yang Giselle rasa luas bagaikan bangunan rumah itu sangat rapi, semua barnag senada dengan warna tembok yang mengusung tema minimalis. Peralatan yang ada pun canggih-canggih. Dari lantai dua puluh lima, tentunya Giselle bisa melihat keindahan kota yang memukau.
Baru tiba di aprtemen, Edward sudah sibuk sendiri masuk ke ruang kerjanya yang juga ada di dalam kamarnya. Ia mengurung diri dan memperbaiki beberapa data yang salah, ia tampak sangat sibuk. Bahkan terdengar berkali-kali suaranya saat bertelpon.
Sedangkan Giselle, gadis itu hanya merebahkan diri di kasur kamar barunya sambil mengirimkan pesan-pesan untuk Morgan dan Shania. Mereka bertiga berencana besok akan main bersama usai perkuliahan telah usai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments