Pernikahan yang mendadak Edward umumkan ke keluarga besarnya membuat kegembiraan luar biasa terutama bagi Oma. Apalagi mengetahui calon istri Edward adalah Giselle, Oma makin girang dan langsung mempersiapkan acara semewah mungkin untuk pernikahan pertama cucunya.
Sedangkan Giselle, ia baru saja membuat kontrak bersama Edward di kantor Edward yang dihadiri oleh Nico sebagai saksi.
Ada pun isi kontrak itu:
Dalam kontrak ini, pihak satu adalah Edward Van Lewis dan pihak dua adalah Giselle Oliver, yang mana akan menyetujui hal-hal berikut:
Pernikahan ini hanya pernikahan kontrak yang disetujui oleh kedua belah pihak tanpa ada paksaan sama sekali.
Pernikahan kontrak ini akan berakhir dua tahun sejak kontrak ini di buat.
Selama menikah, kedua belah pihak dilarang ikut campur urusan pribadi masing-masing.
Selama menikah, pihak ke satu akan memberikan gaji senilai Rp. 33.000.000 setiap bulannya, ditambah biaya lain yang pihak dua inginkan dengan nilai tidak terbatas.
Selama menikah, pihak ke satu akan membiayai seluruh kehidupan pihak ke dua.
Setelah pernikahan berakhir, pihak ke dua akan mendapatkan satu unit rumah, mobil, dan motor dari pihak ke satu.
Pihak ke dua hanya wajib berakting menjadi istri yang baik hati kepada keluarga pihak ke satu.
Selama menikah, pihak ke satu dan pihak ke dua tidak ada yang boleh membocorkan surat kontrak ini.
Selama menikah, pihak ke satu dan ke dua dilarang keras menjalin hubungan dengan orang lain.
Selama menikah, pihak ke satu berjanji tidak akan menyentuh sama sekali pihak ke dua termasuk tidur satu ranjang.
Selama menikah, pihak ke satu dan pihak ke dua akan mempunyai kamar masing-masing di dalam satu bangunan.
Surat perjanjian ini dibuat dan ditanda-tangani di atas materai agar dipergunakan sebagaimana mestinya.
Edward Van Lewis (Pihak 1) Giselle Oliver (Pihak 2)
Nicolas (saksi)
...****************...
"What? Giselle lo nggak bercanda kan?" tanya Shania yang kesekian kali masih tak percaya akan kata-kata Giselle yang menerangkan bahwa ia akan menikah di akhir tahun nanti.
Giselle hanya tersenyum pada Shania. Ia pun jika menjadi Shania pasti akan terkejut jika ada hal seperti ini.
"Giselle? Gue beneran nggak ngerti lagi, gue bingung. Ini mimpi?"
"Ini bukan mimpi, Shan," sahut Morgan. Morgan pun tak percaya, tapi ini semua nyata.
"Giselle, jangan-jangan lo ...."
"Apaan?" tanya Giselle bingung, yang saat itu sedang duduk di kantin kampus sambil menikmati hidangan makan siang bersama.
"Lo hamil ya?" terka Shania. "Lo hamil kan? Makanya lo mendadak nikah kaya gini?"
Mendengar terkaan Shania, bola mata Morgan langsung melirik ke arah Giselle.
"Gila lo! Gue nggak hamil, gue masih virgin!" tukasnya cepat.
"Lah terus lo kenapa tiba-tiba nikah? Dan yang paling nggak masuk akal, lo ... lo nikahnya sama Edward Van Lewis, Giselle! Kalian kenal dari mana coba? Baru ketemu minggu lalu masa udah nikah!"
"Gue udah kenal lama sama dia, Shan," bohongnya. "Cuma gue pura-pura nggak kenal aja."
"Kenal di mana coba?"
"Ya dulu, waktu bokap gue masih ada gue dikenalin," bohongnya lagi.
Shania angguk-angguk mengerti. "Iya juga ya, pasti bokap lo kenal sama keluarganya."
Morgan menghela napasnya. "Giselle, kamu yakin? Menikah nggak seindah yang kamu banyangin."
Giselle menatap lelaki yang pernah bernaung dihatinya itu. "Iya aku yakin."
"Giselle, bukan aku melarang kamu. Menikah itu bukan tentang perasaan suka sama suka, tapi butuh komitmen."
Shania angguk-angguk setuju.
"Apalagi kamu masih kuliah, lulus aja belum. Ini kita masih di tahap awal skripsi. Ya walau aku yakin kamu nggak perlu susah-susah cari kerja karena Edward itu tajir melintir, tapi apa kamu yakin kamu bisa lewati semua permasalaah rumah tangga nantinya?"
Giselle masih mengangguk. "Aku yakin, tenang aja. Keputusan aku udah bulat."
Morgan kembali menghela napasnya.
'Ya yakin lah, walau nanti kalau udah cerai jadi janda kayaknya juga udah bukan masalah besar. Lagian gue emang nggak niat kawin, yang penting biaya rumah sakit mama aman udah cukup buat gue,' batinnya.
"Berarti lo pensiu dong dari job lo yang jadi pacar sewaan?" tanya Shania lagi.
"Iya lah Shan, bisa-bisa gue dibegal sama Edward kalau masih kaya gitu."
Shania mengigiti bibirnya. "Gue jujur turut bahagia karena suami lo nanti adalah Edward yang pastinya bisa membantu kehidupan lo lebih baik dan bisa ngelindungin lo dari kakak lo yang brengsek itu, tapi gue juga khawatir sama lo, Giselle."
Giselle kembali tersenyum sambil menepuk pundak Shania. "Tenang aja! Lo kaya nggak kenal gue aja."
"Yaudah, gue percaya sama lo!"
"Gitu dong."
"Morgan, gimana? Ikhlas nggak lo sahabat kita nikah bulan depan?" tanya Shania pada lelaki yang saat ini tampak tidak baik-baik saja itu.
"Ikhlas sih ikhlas, cuman gue khawatir," ujar Morgan sambil menatap Giselle. "Sell, kalau ada apa-apa lo janji harus cerita ke kita."
"Of course! Gue selalu cerita, makanya gue cerita ini."
Di tengah keseruan dan keasikan mereka, tanpa Giselle duga ternyata Nicolas datang dan memintanya untuk ikut.
"Giselle, halo!" sapa Nicolas, yang sikapnya memang periang sepertinya.
"Nico! Kok di sini?"
Melihat kehadiran Nico, Shania langsung tercengang. "Asistennya Edward kan?"
Giselle mengangguk.
"Hehe, iya pak bos nyuruh jemput kamu," jawabnya sambil duduk di sebelah Morgan dan menyapa Morgan mau pun Shania dengan senyuman.
Melihat senyuman Nico, Shania merasa jantungnya seperti tersayat karena terlalu manis.
"Sel, Sel!" desak Shania yang duduk di sebelah Giselle dari tadi. "Dia udah punya cewek belum?" bisik Shania.
"Nico, kamu udah punya cewek belum?" tanya Giselle blak-blakan meneruskan pertanyaan Shania.
"Giselle!" Shania melotot ke arah sahabatnya itu.
Nico tertawa lantang mendengar pertanyaan dari gadis yang ia rasa memang masih bocah daya pikirnya. Ia juga tak segan mengambil lalu memakan cemilan yang tersedia.
"Giselle, bete gue!" Shania malu bukan main.
"Aku jomblo kok, tenang aja. Belum ada niatan nikah juga," jawab Nico dengan pedenya.
Shania tersipu malu. "Baguslah kalau gitu, kali aja kita berjodoh."
"Dih, tadi kata bete sekarang malah gatau malu," celetuk Giselle.
"Hehehe. Oh iya, katanya mau jemput Giselle. Nih bawa aja dia!" Shania mendorong-dorong gadis itu.
"Iya, yuk nanti pak bos ngomel lagi kalau kelamaan," ucap Nico.
"Lagian ngapain sih di jemput-jemput segala, kok dia nggak bilang?" tanya Giselle, ia agak kesal karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya tiba-tiba Nico yang menjemputnya.
"Ya gitu si bos, perhatian kan tandanya ke calon istri," goda Nico sambil tertawa.
'Sialan, padahal Nico tau kalau kita cuma kawin kontrak,' batin Giselle sambil mengambil tasnya dan hendak beranjak pergi.
Belum Giselle melangkah, Morgan menghalangi jalannya. Laki-laki itu mendadak merapikan rambut Giselle yang berantakan seperti biasanya. "Jangan lupa ya sama janji kita, kalau ada apa-apa harus cerita."
Kini Giselle yang tersipu malu dibuatnya. "Iya, kan aku udah janji."
*"Hush Morgan! Jangan bikin Nico salah paham, tuh Nico bingung liat body* language kamu ke calon istri bosnya," timpal Shania.
Morgan mengarahkan matanya pada Nico, Nico memang tampak keheranan. "Tenang aja mas, kita udah biasa kaya gini."
Nico angguk-angguk tanda mengerti. "Nggak masalah sih, tapi kalau dia udah nikah sama bos, mending jangan kaya gitu lagi," saran Nico. "Yuk, Sel!"
...****************...
*Langkah Giselle cepat mengikuti langkah Nico yang berjalan disebuah gedung kantor milik keluarga Van Lewis. Awalnya Giselle kira Van Lewis hanya memiliki usaha skin care* dan make up nya yang viral, tetapi ternyata keluarga konglemerat itu memiliki banyak usaha termasuk usaha properti, hotel, dan lainnya. Namun usaha properti masih dipegang oleh ayah Edward yang bernama Leo Van Lewis.
Nico membawa anak kuliahan itu hingga sampai ke ruang kerja pribadi Edward, di dalam sana Edward tampak sedang sibuk menandatangani berbagai macam dokumen yang mana ada seorang perempuan berdiri di dekatnya.
Melihat kedatangan Nico, perempuan itu menyapa sambil tersenyum.
"Dia sekretarisnya," jelas Nico.
Giselle angguk-angguk tanda mengerti. Yang Giselle lihat, sekretaris Edward agak berbeda dari sekretaris lainnya.
Pada umumnya, seorang sekretaris akan digambarkan secara ideal seperti wajah cantik, badan langsing, dan mencakup semua kesempurnaan lainnya. Tetapi sekretaris Edward, sangat berkebalikan dari tipe ideal good looking yang sekarang bertebaran di mana-mana menjadi salah satu syarat untuk melamar kerja.
"Keluarga Edward tuh nggak peduli penampilan dan latar belakang, pokoknya niat kerja dan tulus sama perusahaan aja, pasti keterima," jelas Nico lagi.
Giselle tersenyum mendengar penjelasaan Nico. Keluarga Van Lewis memang sebaik itu, mereka memperlakukan setiap orang dengan sama tanpa pandang bulu.
Tak lama menunggu, sekretaris itu di suruh Edward keluar terlebih dahulu dan akan memebrikan sisa dokumennya nanti jika sudah selesai di tanda tangani. Giselle dan Nico pun menghampiri Edward yang masih duduk di kursinya.
Belum Nico berbicara, Edward sudah sibuk lagi dengan sebuah panggilan telepon yang memakan waktu belasan menit.
"Sabar ya, calon suami kamu emang ribet," ejek Nico, menyeruput sebuah minuman yang tersedia.
Giselle pun duduk di sofa ruangan itu bersama dengan Nico. Sembari menunggu Edward yang sibuk dengan panggilan telepon, mereka berdua tampak asik bercanda satu sama lain. Nico memang bisa menyesuaikan diri dengan siapa saja, berbeda dengan Edward yang kaku.
"Nico, kamu keluar dulu aja, saya mau bicara berdua sama dia," ujar Edward, meletakkan ponselnya di meja lalu berjalan ke arah sofa.
"Oke bos!" Nico keluar langsung sesuai perintah, meninggalkan calon pengantin itu.
"Kenapa? Kenapa tiba-tiba nyuruh Nico jemput aku terus suruh aku ke sini?" tanya Giselle pada pria tampan yang duduk di dekatnya itu.
"Hm ... Giselle Oliver, selain jadi penyanyi kafe, jadi model produk, sama pacar sewaan wisuda, kerjaan kamu selama ini apa aja?" tanya Edward tanpa basa-basi dengan tatapan serius.
"Hm, apa ya? Kayaknya itu aja."
"Oke, kemarin saya lupa sematkan di perjanjian kontrak kita. Tapi selama menikah saya minta kamu berhenti dari pekerjaan itu."
Giselle mengangguk. "Tenang aja, aku juga akan jaga nama baik keluarga kamu jadi aku tau harus berhenti."
"Mengenai gaji bulanan kamu, kalau kamu merasa kurang kamu bisa langsung minta ke saya. Jadi jangan jadikan gaji itu alasan kurang sehingga kamu melakukan kegiatan lainnya selain menjadi istri saya dan seorang mahasiswi."
"Iya tenang aja, aku nggak akan aneh-aneh."
"Good."
"Udah itu aja?"
Edward mengangguk. "Iya kamu boleh pulang, sambil siapkan barang-barang kamu karena sebelum menikah barang kamu sudah harus dipindah ke apartemen saya. Kita akan tinggal bersama."
"...."
"Apa kamu perlu asisten juga seperti saya? Jika perlu saya akan siapkan seorang asisten untuk menemani kamu."
Mendengar pertanyaan Edward, Giselle tertawa lantang. "Hahaha ... ngapain aku pakai asisten? Aku cuman anak kuliahan nggak perlu asisten kali."
"Tapi kamu kan juga akan jadi istri saya."
"Nggak, pokoknya aku mau hidup bebas di luaran. Jadi jangan kasih asisten. Ingat kan sama kontrak kita, dilarang ikut campur urusan masing-masing."
Edward angguk-angguk tanda mengerti. "Oke, tapi tolong jaga etika kamu ya. Walau kamu sering menyombongkan diri ke saya kalau banyak cowok-cowok yang suka sama kamu, tolong di jaga dulu hatinya selama dua tahun."
"Iya om, jangan bawel kenapa."
"What? Om?"
"Om Edward?"
"Saya belum setua itu, umur kita cuman beda delapan tahun."
"Tapi kalau udah kepala tiga kan biasanya dipanggil Om," ejek Giselle.
Edward menahan rasa kesalnya. "Terserah kamu aja lah."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments