Dok-dok-dok.
"Giselle? Kenapa?" tanyanya khawatir.
" Hiks ... hiks." Yang terdengar hanya suara tangisan Giselle.
Edward semakin bingung, ia hanya bisa mengetuk dan bertanya meski taka da jawaban. "Kamu kenapa? Sel?"
Dok-dok-dok.
Saking kesal dan marahnya, Giselle tak menjawab pertanyaan Edward sama sekali. Ia hanya bisa duduk di closet dengan handuk yang model piyama yang menutupi tubuhnya itu sambil terus menangis.
Dok-dok-dok.
Dok-dok-dok.
Terdengar di telinga Giselle, suaminya itu mencoba mendobrak dan mendorong pintu agar terbuka.
Krek.
Ia membuka pintu itu dengan wajahnya yang sudah penuh air mata.
Edward semakin bingung pada gadis itu. "Kenapa?"
"Hiks," tangisnya sambil menujuk kopernya.
Edward pun melangkahkan kakinya, ia ikut terkejut dengan pakaian dinas malam Giselle yang tanpa ia tanyakan lebih ia sudah tahu ini juga ulah Oma dan Mamanya.
"Hufth ...."
Laki-laki tinggi itu memandang Giselle yang kini hanya menggunakan handuk piyama, ia rasa pasti gadis itu sedang kedinginan menggunakan handuk basah.
"Yaudah pakai aja baju dinasnya," godanya.
"Gila! Kamu cari-cari kesemptan kan? Hiks...," tangis dan umpatnya jadi satu, ulahnya yang masih kekanak-kanakkan semakin membuat Edward merasa lucu.
"Terus gimana? Mau masuk angin pakai handuk basah?"
"Jadi kamu nyuruh aku pakai baju penimbul syahwat itu?" tanyanya sambil menahan isak tangisnya.
Edward tak bisa menahan tawanya. Melihat wajah Giselle yang penuh dengan air mata membuatnya tertawa seketika.
"Kok malah ketawa sih?" protesnya.
"Hahaha ...."
Baru kali ini Giselle melihat si kaku Edward tertawa terbahak-bahak, seperti bukan Edward.
"Haduh, gini banget nikah sama anak TK," goda Edward, mencoba kembali menahan tawanya.
Giselle merengut, ia tahu Edward selalu menganggapnya sebagai anak kecil. "Edward, aku serius! Aku pakai baju apa?"
"Mau pakai baju saya?" tanya Edward, melepas kancing-kancingnya.
"Gila! Nggak lah itu udah kena badan kamu!" katanya mendorong Edward agar berhenti dengan kekonyolannya.
"Terus gimana? Kamu mau pakai handuk basah itu terus?" tanyanya.
"Gimana lagi, ini pakaian paling aman."
"Nanti kamu masuk angin, saya lagi yang repot!"
"Terus kamu suruh aku pakai lingerie baju penuh dosa itu?"
"Ya nggak dosa lah Giselle, mau kamu nggak pakai baju juga nggak dosa kan saya suami sah kamu walau kita cuman kontrak nikah."
"Ya keenakan kamu lah liat aku pakai baju gituan!"
"Lagian saya nggak akan napsu sama kamu, kamu tenang aja."
"Eh, aku ini Giselle Oliver. Cewek cantik yang banyak penggemar, mana mungkin kamu nggak tertarik sama aku!"
"Bagi saya kamu itu masih kecil, saya bukan pedofil jadi saya nggak doyan sama kamu."
Giselle memicingkan matanya.
Pertengkarannya Dengan Edward ia rasa tak akan menghasilkan sebuah solusi.
Gadis itu berjalan melalui Edward hingga menabrak bahu Edward karena kesal. Ia sudah masa bodo, dengan handuknya yang masih basah ia merebahkan dirinya di kasur lalu menutupi tubuhnya dengan selimut.
Edward yang melihat aksi gadis itu hanya bisa geleng-geleng.
...****************...
Keesekoan harinya …
Pengantin baru itu sarapan di resto secara private. Mereka duduk berdua tanpa ada obrolan sama sekali. Edward kembali mendapatkan ponselnya, ia pun mulai sibuk dengan panggilan-panggilan dari rekan bisnisnya. Giselle pun akhirnya bisa menggunakan pakaiannya lagi setelah tadi pagi seorang karyawan hotel mengentarkan kopernya
Giselle harap, walau pagi ini ia tak bertemu dengan keluarga Edward, drama kekonyolan seperti tadi malam sudah berakhir. Hanya itu harapannya hari ini.
Ditengah kesibukan Edward menerima panggilan telepon, Giselle memilih untuk berjalan-jalan di bagian kolam renang dan meninggalkan suaminya itu sendiri. Langkah kakinya membawanya memutari kolam yang penuh dengan para tamu yang berenang, membuat perasaannya sedikit terhibur apalagi saat melihat anak-anak kecil berenang.
Ia berdiri dipinggiran kolam sambil terus mengamati objek-objek yang membantu pemulihan mood-nya yang buruk sisa tadi malam.
"Gimana malam pertamanya?" tanya seseorang, yang mengejutkannya.
Entah siapa dia, tetapi laki-laki yang mengajukan pertanyaan tak sopan pada Giselle itu tersenyum ramah dibalik wajah rupawan dan tubuh yang tinggi.
"Nathan," katanya menjulurkan tangannya.
Giselle hanya memandangnya bingung.
"Aku Nathan, dari keluarga Van Lewis," tambahnya.
Barulah Giselle menjabat balik tangan Nathan. "Giselle."
Nathan tersenyum ramah. "Gimana? Apa ada keluhan sama hotel ini?"
"Hm?"
"Oh iya, kebetulan aku yang pegang hotel ini. Jadi kalau ada keluhan terkait acara pernikahan kemarin sama ketidak nyamanan di kamar bisa complain ke aku."
"Oh kamu yang pegang hotel ini?" tanya Giselle memastikan.
Nathan mengangguk.
"Lain kali dicek dulu sambungan telponnya, terus jangan sengaja dikunci juga pintu kamarnya!" protesnya meluapkan kekesalan.
"Sori, itu permintaan Oma, aku juga nggak setuju tapi Oma ngotot. Ya gimana lagi sebagai cucu?"
Giselle mencibir.
Nathan masih tersenyum menatapnya. "Maaf ya? Aku harus gimana nih biar bisa kamu maafin?"
"Nggak ada, nasi udah jadi bubur juga."
"Hahaha ... maaf dong jangan ngambek gitu," ujar Nathan sambil mengacak-acak rambut Giselle dan membuat Giselle tercengang. Bisa-bisanya Nathan membelai rambutnya padahal mereka baru betemu beberapa menit.
Tatapan Giselle ke Nathan penuh teka-teki, entah mengapa ia rasa Nathan begitu aneh. Nathan sok kenal dan sok dekat padanya.
"Bro!" ujar Nathan kemudian, menyambut kedatangan Edward yang berjalan ke arahnya. Nathan melambaikan tangannya.
Edward berjalan dengan gagahnya, lalu berdiri tepat di sebelah Giselle. Berbeda dengan Nathan yang tampak sumringah menyapa kehadiran Edward, tatapan Edward kepada Nathan seperti tidak suka, entah apa yang terjadi.
"Sorry, kemarin pesawat aku delay jadi sampai sini pas acara udah selesai," jelas Nathan. "Apa kabar?"
"Baik," jawab Edward singkat, benar-benar seperti Edward si kulkas sembilan pintu.
"Giselle, nggak kesel apa punya suami jutek kaya dia?" tanya Nathan pada gadis itu.
Giselle menatap Nathan dan Edward secara bergantian.
"Edward emang gitu, cuek, jutek, arogan ... tapi baik kok, aku yakin dia suami terbaik buat kamu," tambah Nathan dengan gaya easy going-nya.
Giselle hanya tersenyum kecil menanggapinya.
Di tengah obrolan, lagi-lagi Edward menjauh karena ada telpon penting dari perusahaannya.
"Bulan madu ke mana?" kepo Nathan lagi pada gadis itu.
"Kepo banget sih," protes Giselle.
"Hahaha, galak juga ya kamu."
'Apaan ish sok asik,' batin Giselle.
"Oh iya, kalau butuh sesuatu bisa kabarin aku. Kita sekarang kan satu keluarga, kali aja aku bisa bantuin kamu," tawarnya.
Giselle hanya mengangguk.
"Giselle?" panggil Edward. "Yuk?"
Giselle melepas senyum sedikit pada Nathan sebelum meninggalkannya dan mengikuti jejak langkah Edward.
***
"Sepupu kamu sok asik banget," protes Giselle saat mereka sudah ada lagi di dalam kamar.
"Nathan?"
Giselle mengangguk.
"Dia bilang apa aja?"
"Kepo kita bulan madu ke mana," jawab Giselle sambil duduk di sofa yang kemarin Edward jadikan kasur emergency.
"Jangan dekat-dekat sama dia," ujar Edward, ia duduk tak jauh dari Giselle.
"Kenapa? Kalian ada masalah?" tanyanya kepo.
Edward melayangkan pandangan tak suka ke arah istrinya itu. "Ingat, jangan terlalu jauh mengenal keluarga aku. Jangan ikut campur urusan pribadi, itu poin yang ada di kontrak kita."
Giselle mengangguk tanda tahu. "I know."
"Kamu mau bulan madu ke mana?" tanya Edward tiba-tiba, membuat Giselle tersedak. "Mending kita yang atur, daripada Oma yang atur."
"Iya, bener!" katanya cepat. "Kalau Oma yang atur, nanti bisa makin ribet."
Edward menyimpan senyumnya.
"Tapi nggak usah bulan madu deh, buang waktu."
"Kalau nggak bulan madu, nanti orang-orang pada ngegosip," sahut Edward. "Bulan madu aja, anggap aja bonus buat kamu karena udah setuju menikah sama saya."
"Em, gimana kalau ke Korea?" goda Giselle. "Aku mau ketemu NCT!"
Edward mengangguk dengan begitu mudahnya. "Boleh."
"What?" tanya Giselle kaget.
Edward terkejut. "Kenapa?"
"Kamu setuju kita bulan madu ke Korea?" tanyanya tak percaya.
"Emang kenapa? Korea doang kan?"
"Heol!" Giselle menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kamu emang kaya banget ya pasti duit kamu banyak!"
Edward kembali menghela napasnya. "Bocil, bocil."
"Em, nggak deh. Nggak mungkin aku senang-senang di saat harus ngerawat Mama aku," ujarnya lagi. "Kita ke Bali aja, yang deket-deket. Cuman formalitas kan?"
Edward mengangguk. "Tiga hari cukup?"
Giselle mengiyakan. "Itu udah terlalu lama, aku harus jenguk Mama akhir pekan."
"Yaudah nanti malam kita ke Bali. Habis ini kamu siapin pakaian kamu, biar Nico yang antar kamu. Nanti kita ketemu lagi."
Giselle mengembangkan senyumnya pada laki-laki itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments