Time Flies

Dua minggu berlalu sejak Ibunda Giselle menaninggal, yang Giselle lakukan hanya berbaring di kamar, makan, ke toilet, begitu selalu. Edward sangat khawatir, bahkan gadis itu sempat sakit demam tinggi tapi tidak mau di bawa ke rumah sakit sehingga ia mendatangkan dokter langganan keluarganya.

Tak hanya itu, untuk menghibur Giselle, bahkan ia mengijinkan teman-teman Giselle yang tak lain Shania dan Morgan untuk main ke tempat tinggalnya agar Giselle merasa terhibur.

Hari demi hari Giselle memang membaik, lambat laun ia bisa tersenyum di balik kesedihannya. Tetapi tetap saja, gadis itu tak seceria dulu.

Lepas dari dua minggu, bahkan ia kembali menyusun skripsinya yang tinggal beberapa revisi saja sudah selesai. Ia mencoba menerima kenyataan. Giselle rasa ini bukan kali pertama, saat kehilangan Ayah angkatnya itu juga ia begitu sedih tetapi seiring waktu ia membaik.

Itu lah yang Giselle lakukan saat ini, mencoba memperbaiki suasana hatinya, memperbaiki tingkah lakunya yang terkesan seperti benalu sejak kematian Ibunya.

...----------------...

Hampir dua bulan berlalu, Giselle mulai ikhlas akan kepergian itu.

Semua itu berkat bantuan teman-teman terdekatnya, keluarga Edward, dan tentu saja berkat Edward yang akhir-akhir menghibur dan memanjakannya. Entah Edward kemasukan jin apa, yang jelas Edward semakin menampakkan rasa sayang padanya. Tentu saja hal itu membuat rasa suka Giselle pada Edward bertambah.

"Mau ke mana?" tanya Edward siang itu, saat ia sedang mengambil cuti dan hanya menghabiskan waktu di apartementnya.

"Kampus, mau bimbingan," jawab gadis itu dengan pakaian casual ala anak kuliahan.

"Saya antar, yuk," tawarnya, meletakkan laptop di meja dan langsung berdiri dari dudukannya.

"Nggak usah, nanti nunggu lama. Biasanya dosennya lama," ujar Giselle sambil mengikat rambutnya di depan laki-laki dewasa itu.

Belum Giselle mengikat, Edward menarik ikat rambut itu hingga rambutnya berhamburan. "Jangan diikat!" serunya.

Giselle tertawa kecil. "Kenapa? Kalau diikat aku makin cantik ya?"

Edward mendengus kesal.

"Lagi musim panas Edward, gerah," ujarnya lagi, mencoba merebut ikat rambutnya tetapi Edward malah menaikkan tangannya hingga Giselle tak bisa mengambil ikat rambut itu. "Edward!"

Melihat Giselle kembali ceria seperti dahulu, Edward bisa bernapas lega. Sejak kematian mertuanya, gadis itu seperti mayat berjalan. Baru beberapa hari ini ia benar-benar kembali ceria dan cerewet meski Edward tahu, pasti hati gadis itu begitu kosong.

"Kalau nggak mau saya antar, nggak boleh pergi," ujar Edward dengan jarak begitu dekat dengan gadis itu.

Giselle menelan air liurnya, sejak Ibunya tak ada Edward memang sangat banyak berubah. Ia begitu perhatian dan what, hari ini menjadi protektif?

"Kok maksa sih," omel Giselle.

"Saya bosan di rumah, mau keluar juga."

"Ya udah ke kantor aja."

"Kan saya cuti."

"Ya udah temuin aja tuh Laura," sinisnya.

Ke dua alis Edward naik bersamaan. "Laura udah kembali ke Beijing, jangan di ungkit-ungkit lagi."

Laura memang sudah kembali ke Beijing beberapa minggu lalu. Laura menyerah untuk mendapatkan Edward karena melihat perlakuan Edward yang sangat nampak sudah tidak mencintainya lagi.

Meski Laura menyukai Edward, kala itu ia sadar bahwa masa mereka sudah habis. Ia pun kembali ke Beijing agar bisa kembali melupakan cinta pertamanya itu.

Jujur Giselle masih kesal. Laura memang baik saat bertemu dengannya, tetapi niat Laura yang ingin merebut Edward darinya membuatnya geram. Giselle ingat betul kata-kata Laura sebelum kembali ke Beijing. "Jangan sia-siakan Edward ya, Edward laki-laki baik."

Itu ucap Laura saat berpamitan dengan Giselle.

"Ayo saya antar," kata Edward ngotot, meraih kunci mobilnya.

...----------------...

Edward begitu kaku dan hanya diam saja di depan teman-teman Giselle yang tak lain adalah Shania dan Morgan. Dia bagai patung bergerak.

Namun diam-diam Edward mengamati Shania, seperti ada yang mengganggu pikirannya akhir-akhir ini. Beberapa minggu terakhir ini, orang kepercayaannya yang tak lain adalah Nicolas menjadi lebih alay dibanding biasanya. Nico sering senyum-senyum sendiri, bahkan minta pulang cepat setiap hari.

Edward curiga, jangan-jangan Nico dan Shania benar-benar berkencan. Maka dari itu kinerja Nico mulai menurun.

Sebenarnya Edward tidak mempermasalahkan staffnya berkencan karena itu hak semua manusia. Hanya saja, menurutnya Nico terlalu bucin dan tidak tahu tempat saat kasmaran hingga membuat Edward jengkel beberapa kali.

Sekitar setengah jam kemudian, Giselle keluar dari ruang bimbingan dengan raut wajahnya yang begitu bersinar. Sekeluarnya ia, ia langsung berteriak girang dan memeluk Shania.

Dua gadis itu menyorakkan kebahagian satu sama lain. Giselle bercerita bahwa ia lulus revisi terakhir dan tinggal menjalankan sidang skripsi. Tentu saja kebahagian itu membuat Edward tersenyum seketika, sedangkan Morgan ikut memeluk dua sahabatnya tersebut sambil berjingkrak-jingkrak.

Melihat kedekatan itu, Edward terganggu. Tanpa ragu suami Giselle Oliver tersebut menarik tangan Giselle, menjauhkannya dari Morgan.

"Sori, sori," ujar Morgan se-cool mungkin.

Edward menatapnya kesal, namun tatapan kesal itu buru-buru ia alihkan ke sebuah senyum pada Giselle.

Giselle tercekat, suaminya kini menjadi murah senyum.

"Congrats!" ujarnya, membelai rambut gadis itu. "Mau adain pesta?"

"Hah?"

"Kamu kan udah lulus, mau saya buatin pesta?"

"Buset, orang kaya emang lain," bisik Shania kepada Morgan.

Giselle sontak tertawa terbahak-bahak. "Kan belum wisuda."

"Oh iya, saya lupa." Edward menggaruk belakang kepalanya.

...----------------...

Giselle Oliver tertawa tanpa batas saat masuk ke hari di mana ia akhirnya bisa menggunakan toga dan dinyatakan lulus oleh pihak kampus, sambil membawa Ijazah-nya yang tersemat rapi di sebuah map universitas.

Senyumnya yang tak bisa lepas, membuat siapa saja yang melihatnya ikut tersenyum tak terkecuali keluarga besar Van Lewis yang ikut datang memberikannya selamat di hari Sabtu ini.

*Bahkan untuk merayakan kelulusan Giselle, keluarga Van Lewis sampai menyewa beberapa food truck* untuk memberikan beberapa makanan, minuman, maupun camilan gratis kepada siapa saja di area kampus, yang mana logo food truck itu ala poto Giselle saat menikah beberapa bulan lalu.

Awalnya Giselle malu, namun melihat ketulusan keluarga Van Lewis membuatnya sangat bersyukur karena telah bisa menjadi istri dari Edward, yah meskipun pernikah mereka masihlah pernikahan kontrak.

Tak hanya Giselle yang berbahagia, Morgan dan Shania juga mengambil waktu wisuda yang sama, sesuai janji mereka saat baru masuk ke universitas, di akhir gelar, mereka akan wisuda bersama.

"Untuk merayakan kelulusan Giselle, Oma udah siapin kejutan," ujar Oma, di tengah-tengah saat makan siang di sebuah restoran sambil menunggu makanan datang, sedangkan kala itu Giselle masih menggunakan kebaya wisudanya.

Melihat kesumringahan Oma, Giselle spontan tertawa.

"Jadi keluarga Van Lewis jam enam nanti akan berangkat ke Bali, Oma udah sewa Cottage," jelas Oma, membuat Edward geleng-geleng.

Nathan yang juga ada di situ mengangkat tangannya. "Nathan juga di ajak?"

"Of course, kita semua berangkat. Termasuk Papanya Edward nih," ujar Oma melirik anaknya itu.

Papa Edward yang memiliki sifat pendiam seperti Edward itu hanya mengangguk pasrah.

"Terus Nathan sendiri aja dong, Oma? Nathan belum punya pacar," canda Nathan, membuat mereka tertawa tak terkecuali Giselle.

"Ssst, makanya kamu cepat cari jodoh! Biar Oma punya cucu!" sahut Oma.

"Ada yang Nathan suka, Oma," jelas Nathan lagi. "Tapi dia udah jadi milik orang lain."

Mendengar hal itu, spontan Giselle tersedak. Edward yang duduk di sebelah Giselle buru-buru menuangkan minuman di gelas Giselle.

"Ya sudah cari yang lain!" sahut Oma. "Kamu cucu Oma, pasti banyak yang mau sama kamu. Jangan ambil punya orang."

Nathan tersenyum sambil melirik ke arah Giselle. "Iya nanti, kalau Nathan udah bisa lupain dia."

Saat itu mata mereka berdua bertemu, termasuk mata Edward yang menatap tak suka ke arah Nathan.

"Emang tipe kamu seperti apa, nanti tante bantu cariin," sambung Hanabila.

Nathan masih dalam senyumnya. "Nanti aja tante, Nathan lagi nunggu dia. Nunggu dia pisah."

Edward semakin tak bisa mengalihkan pandangannya, ia menatap Nathan dengan tajam, seakan tahu maksud siapa yang Nathan maksud. Sedangkan Giselle kembali menundukkan pandangannya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!