Gone

Semalaman Giselle tidak tenang.

Jujur ia bahagia karena kejadian di dalam mobil itu, saat dengan hangat dan romantisnya Edward menciumnya. Tetapi ia juga sedikit takut saat ini, ia takut jika Edward berbuat hal lebih dari sekedar ciuman mengingat mereka dalam bangunan yang sama.

Jadi yang Giselle lakukan saat pulang, langsung berlari meninggalkan Edward kemudian masuk ke kamarnya dan ia kunci dengan rapat.

Walau Giselle yakin Edward bukan lelaki mesum seperti di luaran sana, bukankah dia memang harus antisipasi? Apalagi Edward sempat menggodanya usai menciumnya tadi.

Sedangkan di luar sana, Edward hanya cekikikan melihat tingkah laku Giselle yang ke kanak-kanakan. Ia hanya rebahan di sofa menikmati malam weekend sambil berpikir akan dirinya yang tadi tak bisa menahan hasratnya untuk mencium gadis itu.

Selama berkendara, ia terus berpikir kenapa tiba-tiba ia menjadi agresif? Edward yang kaku itu akhirnya menyimpulkan bahwa ia sepertinya juga telah jatuh hati pada Giselle Oliver.

Hal itu tampak jelas setelah semua terjadi, mulai dari ia cemburu melihat Giselle dengan Nathan, ia merasa bersalah melihat Giselle menangis, dan ia tak ingin gadis itu kenapa-napa. Bukankah itu alasan yang sangat masuk akal untuk menyimpulkan dia sedang jatuh cinta?

\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-

Edward melangkahkan kakinya turun ke lantai satu, masih pagi buta ia sudah melihat kamar Giselle terbuka dan di dalam sana tidak ada gadis itu. Ia mencari ke mana-mana, masih saja tidak bisa mendapatinya.

Baru turun, ia naik lagi untuk mengambil ponselnya kemudian melakukan panggilan telepon untuk sang istri.

Tidak ada jawaban.

Sekali lagi Edward menelepon.

Tetap tidak ada jawaban, yang terdengar hanya suara sambungan tut-tut-tut.

"Ke mana ni bocah," ujarnya, langsung mengambil jaketnya yang ada di gantungan. Langkahnya cepat, menuruni lagi anak tangga, membuka pintu agar bisa keluar. Entah kenapa ia khawatir, padahal sebelumnya biasa saja.

Langkah Edward panjang, cepat, dan matanya menyorot tajam ke setiap titik. Ia memutari area di apartement mulai dari kolam renang, hingga beberapa kafe yang sudah buka di pagi hari sampai akhirnya ia menemukan gadis itu sedang duduk di salah satu kursi.

Tampak Giselle begitu lahap memakan sebuah makanan cepat saji. Melihatnya, Edward pun bernafas lega.

"Edward?" gumam Giselle, mendapati sosok itu kini berada di ambang pintu sambil menatapnya.

Edward tertangkap, mau tak mau ia pun menghampiri gadis yang sudah menangkap keberadaannya.

"Ngapain kamu di sini?" tanya Giselle bingung. Tak biasanya Edward berjalan-jalan di sekitar apartement.

'Nggak mungkin kan aku bilang nyariin dia, nanti di atambah geer gimana,' batin Edward yang gengsinya kembali muncul, padahal kemarin malam ia sudah mencium gadis itu tanpa ada gengsi sama sekali.

"Kamu cariin aku?" terkanya.

"Nggak lah," jawab Edward cepat. "Saya juga lapar, mau makan."

"Tumben," celoteh Giselle, kembali menyantap makanan cepat saji.

Edward hanya memandangnya.

"Katanya lapar, kok nggak pesan? Apa kamu tiba-tiba kenyang gara-gara liatin aku makan?"

"Iya lihat kamu makan kaya orang nggak makan setahun buat saya kenyang mendadak."

"Tch, alasan. Kamu nyari aku kan sebenernya?"

Edward tak bisa mengelak, faktanya seperti itu. "Iya, cari kamu. Cepetan makannya."

Giselle tersenyum seketika. "Kamu suka ya sama aku?"

Pertanyaan itu membuat Edward grogi, ia menelan ludahnya beberapa kali. "Jangan mikir aneh-aneh!"

"Terus kenapa kamu kelihatan khawatir banget tadi? Terus kalau kamu suka aku, kenapa kamu kemarin malam tiba-tiba cium aku?" tanya Giselle tak tahu malu.

"Saya, saya kan udah pernah cium kamu juga. Kemarin malam bukan yang pertama kali!"

"Tapi kemarin malam rasanya beda, kaya ciuman orang sama-sama suka."

"Emang kamu pernah ciuman sama siapa aja sampai bisa bedain ciuman iseng sama ciuman sama-sama suka?" Edward salah tingkah hingga bicaranya ikut melantur.

"Ssh, galak banget," celotehnya.

Edward yang hendak membalas, menutup katup mulutnya karena ada panggilan mendadak dari Nico.

Ia segera mengangkat panggilan itu, mendengar pesan mengejutkan yang membuatnya tak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa mengekspresikan dirinya sedang terkejut dan kebingungan di depan gadis itu.

"Oke, kamu urus semuanya, saya ke sana," ujarnya dengan suara sendu, kemudian menutup panggilan dari Nico.

"Kenapa?" tanya Giselle penasaran sambil mengunyah makanan di sendok terakhirnya.

Edward bingung, ia benar-benar bingung bagaimana menjelaskan pada Giselle apa yang terjadi. Jika ia memberitahu Giselle, ia yakin Giselle akan shock berat dan bisa-bisa pingsan di tempat.

Hal terbaik yang bisa Edward lakukan hanyalah menarik gadis itu pergi bersamanya.

"Edward! Kenapa sih? Mau ke mana?" tanyanya bingung.

Edward tak banyak bicara, ia hanya menarik gadis itu mengikutinya tanpa menjawab pertanyaan Giselle sama sekali.

Bukan pergi ke ruang apartement mereka, Edward malah membawanya menaiki taksi yang berjejer di area apartemen. Hal itu semakin membuat Giselle bertanya-tanya, apalgi saat Edward meminta sopir taksi untuk membawa mereka ke rumah sakit Ibu Giselle dirawat.

"Edward, ada apa?" tanya Giselle yang mulai merasa aneh, ia curiga, berbagai prasangka muncul di benaknya.

Tetapi Edward hanya diam, bahkan tak berani menatap mata Giselle.

"Edward please jelasin ada apa? Kenapa kok tiba-tiba kita ke rumah sakit?" tanyanya, ia makin curiga karena Edward tak bisa menjawab pertanyaannya sama sekali. Jika ini kabar baik, tak mungkin Edward bungkam. "Edward ...."

Edward memberanikan diri menatap gadis itu, ia bisa melihat mata Giselle yang tampak khawatir. "Giselle ...."

"Hm? Kenapa? Cepat jawab! Kenapa kamu tiba-tiba ajak aku ke rumah sakit? Mama aku kenapa?"

Tidak bisa menjawab, Edward menarik tubuh Giselle dalam peluknya.

Giselle tidak tahu ada apa sebenarnya, tetapi firasatnya yang membantunya berpikir. Ia menangis sesunggukan dipelukan Edward yang memeluknya erat seperti kemarin.

"Mama aku kenapa?" tanyanya terbata-bata sambil memukuli punggung Edward. "Mama kenapa? Hiks ...."

Pertanyaan Giselle nyatanya tidak Edward jawab hingga mereka menginjakkan kaki di rumah sakit. Kala itu Ibunda Giselle masih ada dalam ruang perawatan karena Nico memang memintanya agar tidak dipindah terlebih dahulu ke ruang jenazah.

Saat Giselle tiba di sana, ia tak lagi mendapati Ibunya yang bertahan hidup dengan bantuan alat-alat rumah sakit, melainkan sudah terbujur kaku tak bernyawa.

Tubuhnya terasa begitu lemas, hendak jatuh, rasanya ingin pingsan. Tapi benaknya menyemangatinya agar tetap kuat, agar tidak terlihat lemah di depan jasad sang Ibu.

"Ma ...," panggilnya sambil menahan isak tangisnya, ia meraih tangan Ibunya yang sudah dingin tersebut.

Di belakangnya, ada Nico dan juga keluarga Edward yang baru tiba. Sedangkan Edward berada tepat di sisi Giselle, ia takut gadis itu benar-benar pingsan karena hal ini.

Giselle menundukkan wajahnya, menutupi air matanya yang terus mengalir sebegitu derasnya. "Mama udah sembuh," ucapnya terbata-bata. "Mama udah nggak sakit lagi, Mama harus bahagia di surga."

Mendengar itu, bola mata Edward dan lain ikut berkaca-kaca, sedangkan Mami Edward dan Oma tak bisa menahan tangisnya. Mereka menghampiri Giselle, menenangkan menantunya itu sebisa mungkin.

"Mama harus bahagia, Giselle udah gede. Giselle udah bisa jaga diri, jangan khawatir, hiks ... terima kasih udah angkat Giselle jadi anak Mama."

"Sayang, udah," ujar Mami, memeluk gadis itu. "Jangan kaya gini, nanti Mama kamu makin sedih."

Giselle menggelengkan kepalanya. "Mama udah bisa ketemu Papa, kan?"

"Giselle ...." Oma tak kuasa menahan linangan air matanya.

Jauh dari dugaan Edward, istrinya tidak pingsan seperti prasangkanya melainkan begitu tegar saat ini.

"Giselle bahagia banget, pernah jadi keluarga Oliver. Terima kasih."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!