Problem

"Kenapa? Tumben banget teman gue yang cerewet ini jadi pendiam," tanya Shania.

Kala itu dia, Giselle, dan juga Morgan sedang duduk di sebuah kafe dekat kampus sambil membuka laptop masing-masing untuk menyusun skripsi yang tak kunjung selesai. Niat mereka memang fokus mengerjakan skripsi, tapi faktanya mereka lebih banyak makan dan makan.

"Iya, udah tiga harian ini lo jadi pendiam," sambung Morgan.

Giselle meletakkan kepalanya di atas meja. Hatinya benar-benar sedih, sudah tiga harian ini memang ia merasa kesepian.

Padahal sebelum-sebelumnya ia dan Edward begitu akrab meski sering ribut karena masalah sepele, hanya saja sejak kejadian ia melihat Edward dan Laura berpelukan semuanya jadi berbalik.

Sejak itu, Edward lebih pendiam dan cuek. Terlihat lelaki itu sedang menanggung beban berat di otaknya. Tak hanya itu, mereka jarang sekali bertemu. Edward berangkat lebih pagi dan pulang larut malam, entah apa yang Edward lakukan.

Padahal Giselle pura-pura tidak tahu akan kejadian mereka berpelukan, tetapi kenapa Edward terkesan menghindarinya? Apa memang Edward begitu sibuk sampai-sampai jarang di apart?

"Kayaknya gue jatuh cinta beneran deh sama Edward," ujar Giselle tiba-tiba, spontan membuat Shania tersedak dan menjitak kepalanya.

"Yaiyalah! Kalau nggak cinta ngapain kalian menikah!" protes Shania. Meski Shania sahabat Giselle, Giselle tak ingkar janji. Ia tidak memberitahukan siapa pun terkait pernikahan kontraknya. "Ya kali lo nggak cinta mau diajak satu ranjang."

"Shan ...," sahut Morgan.

"Ya maksud gue, gue beneran cinta gitu, udah beneran sayang gitu," jelas Giselle lagi. "Dulu sayang sih, tapi nggak sesayang ini," bohongnya kemudian.

"Lah, terus apa masalahnya?" Shania masih tak terima akan pernyataan Giselle. "Kan dia suami lo."

"Hufth ... iya ya, masalahnya apa? Kan dia suami gue."

Di saat Giselle gundah gulana, Shania langsung menyikut tangan gadis itu dan membuat arah pada beberapa laki-laki di kasir.

Giselle ikut terkejut, salah satu laki-laki yang ada di situ juga terkejut melihatnya.

"Adik gue yang paling cantik, hai! Apa kabar!" sapanya seperti tak terjadi apa-apa.

Giselle sudah tidak bertemu kakak tirinya itu sejak sebelum pernikahannya dengan Edward, sekitar empat sampai lima bulan berlalu. Giselle sebenarnya heran, kenapa bisa Yohan tak menganggungnya sama sekali. Tapi ia tak mau ambil pusing, malah bagus baginya tidak bertemu Yohan.

"Siapa?" tanya Morgan pada Shania.

"Kakak tirinya, yang keparat itu," jawab Shania.

Morgan memandangnya dengan tatapan tak suka, apalagi menginat cerita akan kakak tiri Giselle yang memperlakukan Giselle seperti barang dagangan. Tentu saja ia tidak suka sahabatnya diperlakukan seperti itu.

"Kalian duluan, gue mau ngobrol ama adik gue, lama nggak jumpa," ucap Yohan pada teman-temannya. "Giselle, nggak kangen sama abang?"

Tak mau membuat onar di dalam kafe, Giselle berdiri dari dudukkannya. Moran melarangnya, tetapi Giselle menjamin keselamatannya sendiri hingga Morgan membiarkannya.

Kakak beradik itu berdiri di halaman depan kafe. Yohan menatap Giselle dengan bangga, sedangkan Giselle menatapnya masih penuh dendam dan kebencian.

"Mau apa lo?" tanya Giselle sewot.

"Jangan sewot dong, gue cuman kangen aja ama adik gue yang sekarang udah sukses jadi menantu konglomerat. Gue ikut bangga!" jawab Yohan sambil menepuk pundaknya. "Sibuk banget ya lo sampai nggak bisa gue temuin."

Giselle hanya berkacak pinggang dan tak mau menanggapinya.

"Oh iya, gue juga rajin jenguk Mama. Perhatian banget kan gue?"

Dari dalam kafe, Morgan dan Shania terus mengawasinya.

"Baguslah kalau sadar diri."

"Kan lo yang nggak sadar diri," ujar Yohan. "Masa pas nikah nggak undang-undang gue. Gini-gini kan gue kakak lo, gue mau banggain ke teman gue kalau adik gue jadi orang kaya."

"Tch." Giselle membalikkan badannya, berniat pergi.

"Oh iya! Salam buat Edward, bilangin makasih!" kata Yohan lagi, spontan menghentikan langkah Giselle dan membuat Giselle menatap bingung. "Berkat dia, ekonomi gue membaik."

"Maksud lo?" tanyanya bingung.

"What? Hahaha." Yohan tertawa terbahak-bahak. "Lo nggak tahu selama ini kalau suami lo udah sangat dermawan ke gue?"

Kedua alis Giselle naik. Ia benar-benar tak mengerti maksud Yohan.

"Giselle Oliver, suami lo tuh setiap bulan ngasih gue uang saku. Yah semacam simbiosis mutualisme."

Deg, perasaan Giselle menjadi marah dalam sekejap. Kenapa ia tak tahu menahu akan hal ini?

"Yah dia bilang, dia akan ngasih gue uang saku asal gue nggak ganggu lo lagi. Makanya gue nggak pernah ganggu lo kan selama ini? Ini semua berkat suami lo yang tajir dan baik hati itu."

Giselle tak bisa berkata-kata, apa benar Edward melakukan semua ini?

"Makanya jaga dia baik-baik, gue suka banget sama suami lo yang dermawan itu."

PLAK!

PLAK!

PLAK!

Dengan entengnya tangan Giselle menampar wajah Yohan, membuat Shania dan Morgan yang melihatnya langsung berlari keluar kafe. Kekerasan yang Giselle lakukan bahkan membuat pengunjung lain terkejut.

"GISELLE!" Yohan kini menarik kerah bajunya.

"Berhenti ganggu Edward! Jangan bawa-bawa Edward dalam kemiskinan hidup lo!" celotehnya dengan jiwa emosi.

"Lepasin teman gue!" ucap Shania yang baru tiba, begitu juga dengan Morgan yang langsung menyingkirkan tangan Yohan dari Giselle lalu berdiri sebagai penengah.

"Salah gue apa?" tanya Yohan tak kalah emosi. "Wajar dong dia kasih gue duit karena udah nikahin adik gue! Gue juga saudara lo!"

"Lo setan bukan saudara gue!" balas Giselle.

"Udah, Giselle ... udah!" lerai Shania, menariknya menjauh.

Morgan pun begitu, ia mendorong tubuh Yohan agar menjauh.

...****************...

Gadis itu menangis sesunggukan di kediaman Shania. Ia sama sekali tak menyangka jika selama ini Edward memberikan uang untuk Yohan hanya agar Yohan tidak mengganggunya lagi.

Jelas bagi Giselle ini sangat salah, tidak seharusnya Edward melakukan itu tanpa sepengetahuannya apalagi ini berhubungan dengan keluarganya. Ia sangat malu, sampai-sampai kemarahannya meledak-ledak meski jam sudah berlalu cukup lama sejak keributan tadi.

"Udah nggak usah nangis terus, percuma lo nangis yang ada mata lo makin bengkak tapi masalah nggak selesai," ucap Shania, ia sudah kewalahan. Bahkan Morgan sudah menyerah dan pulang terlebih dahulu karena ada janji dengan pacarnya.

"Gue kesel hiks ... kenapa Edward sampai keluarin banyak duit buat itu setan! Gue nggak terima, Shan."

"Ya udah kali, lo bicarain baik-baik sama Edward."

"Gue kesel Shan, marah gue tuh, gue marah banget!"

"Iya gue tahu perasaan lo, tapi bukan dengan kabur kaya gini lo selesain."

Giselle masih menangis kesal, seperti anak kecil yang sedang marah pada orang tuanya. Matanya membengkak, hatinya meledak-ledak.

"Eh, Nico udah datang," jelas Shania ketika mengecek pesan di ponselnya.

Wajah Giselle bertanya-tanya. "Kok Nico?"

"Hehe, iya dia gue suruh ke sini bawa lo pulang karena lo nggak mau pulang. Ini udah jam sepuluh, Giselle. Gue ngantuk."

"Shania!"

"Hehe maaf, yuk pulang yuk. Kasihan Nico nanti di marahin suami lo kalau nggak berhasil bawa lo pulang."

Giselle menghela napasnya. Benar kata Shania, yang ada Nico akan kerepotan karena ia tak mau ikut pulang. Giselle menyerah, ia beranjak pergi ke depan kosan Shania lalu memasuki mobil yang Nico bawa.

Saat ia masuk, dari dalam mobil ia bisa melihat kedekatan Shania dan Nico yang seperti sedang menjalin sebuah hubungan. Giselle sedikit tersenyum dibuatnya, ia rasa pengorbanan Shania mulai membuahkan hasil.

Nico mengendarai mobilnya dengan laju normal, menerobos gelapnya malam menggunakan pakaian casual. Nico memang berbeda jika menggunakan pakaian santai, wajahnya terlihat lebih muda dibanding biasanya.

"Maaf ya, aku udah repotin malam-malam," ujar Giselle pada lelaki yang ada di sebelahnya itu.

Nico tersenyum dibuatnya. "Tenang aja, santai. Lagian besok kan weekend."

"Nico?"

"Hm? Kenapa nyonya?"

"Ish apaain sih panggi nyonya."

"Hehe, bercanda. Kenapa?" tanyanya lagi.

"Boleh aku tanya? Tapi jangan bilang Edward."

Nico sedikit menolehkan wajahnya, kemudian kembali fokus pada jalanan di depan. "Ada apa? Masalah Edward kasih abang kamu uang saku?"

Giselle menggelengkan kepalanya. "Bukan itu, ini masalah Laura."

"Laura? Oh ... kenapa?"

"Laura itu mantan pacar Edward kan?"

Nico mengangguk tanpa ragu. "Hm, bukannya kamu udah tahu?"

"Aku cuman penasaran, hubungan Laura, Edward sama Nathan. Kenapa Edward kayaknya benci banget ke Nathan?"

"Oh itu ...." Nico diam sebentar, kemudian menjelaskan semuanya. "Jadi dulu waktu Laura di Beijing, Nathan kan juga kuliah di Beijing, sedangkan Edward tetap di Indonesia karena di larang Oma kuliah jauh-jauh dan mau diajarin bisnis juga."

"Terus?"

"Ya terus, Edward sama Laura kan pacaran LDR tuh. Awalnya hubungan mereka baik-baik aja, tapi suatu hari terbongkarlah kalau Laura sama Nathan itu ada apa-apa."

"Maksudnya? Laura selingkuh sama Nathan gitu pas di Beijing?" tanya Giselle tak percaya.

"Entah ya, yang jelas suatu hari temannya Laura upload story kalau Nathan sama Laura lagi tidur bareng."

Giselle makin melongo.

"Ya sebenarnya story biasa, kaya mereka habis party, mabuk, terus tidur bareng gitu. Tapi walau mereka mabuk, kan tetap salah juga menurut aku. Harusnya Laura sama Nathan nggak sampai kaya gitu."

Giselle masih setia mendengarkan cerita Nico.

"Sejak itu, Edward sama sekali nggak ngerespon Laura. Bahkan Edward block semua sosmed dan nomor Laura, termasuk sosmed dan nomor Nathan. Sampai akhirnya Laura menyerah ngejar Edward, eh nggak tahu kok dia tiba-tiba muncul lagi setelah kalian menikah."

"Emang, Laura masih tinggal di Beijing?" tanya Giselle penasaran.

"Harusnya iya, dia udah jadi warga sana. Dia punya usaha rumah makan gitu di sana sama orang tuanya."

"Jadi sebenarnya Laura sama Nathan pacaran apa enggak?"

"Giselle, meski mereka nggak pacaran, tapi kamu lihat orang yang kamu sayang tidur satu ranjang sama cowok lain gimana perasaan kamu? Marah kan?"

Giselle mengangguk. Jangankan Edward yang tulus menyukai Laura saat itu, Giselle yang tiga hari lalu melihat Edward dipeluk Laura saja cemburu sampai tidak tenang menjalani hidup akhir-akhir ini, padahal ibaratnya ia baru mulai jatuh cinta pada Edward. Apalagi Edward yang sudah pacaran bertahun-tahun, ya kan?

"Kenapa emang?" tanya Nico kemudian. "Bukannya kalian sepakat nggak ikut campur urusan masing-masing?"

"Em, penasaran aja."

"Yakin? Jangan-jangan kamu mulai suka sama si bos."

"Dih, ya nggak lah!" sahutnya langsung, membuat Nico tertawa.

"Terus masalah si bos ngasih kakak kamu sangu, jangan terlalu marah deh. Maksud si bos tuh baik kok, biar Yohan nggak ganggu kamu aja."

"Ya tapi bukan gitu juga! Aku nggak terima! Dia juga nggak pernah rundingin ini ke aku!"

"Iya aku paham, nggak usah ngomel ke aku dong Giselle," protes Nico. "Edward emang salah, tapi jangan terlalu marah ya. Kasihan si bos, pikirannya udah banyak banget, ya kerjaan lah, ya ini lah, itu lah."

"Kamu kayaknya pro banget ya sama Edward, kenapa nggak kamu aja yang nikah sama Edward?" celetuk Giselle.

"Ya elah, aku masih normal kali Giselle. Masih banyak cewek cantik antri, ngapain sama cowok." Kini giliran Nico yang protes.

Pertikaian mereka di mobil membawa Giselle hingga sampai apartemen. Nico hanya menurunkannya, lalu kembali pergi karena ada janji dengan Shania usai mengantarkan Giselle.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!