Tiiit.
Giselle masuk ke apartement dengan tampilan yang sudah tak karuan, di tambah matanya bengkak karena menangis kesal.
Baru ia melangkah, Edward yang sudah menggunakan pakaian tidur menyambutnya dengan tatapan tidak enak.
"Dari mana aja jam segini baru pulang?" tanya Edward, masih menatap gadis itu.
"Emang Nico nggak ngadu ke kamu? Tumben," tanyanya balik dengan nada tak nyaman di dengar.
Edward terdengan menghela berat napasnya. "Giselle ... saya udah bilang kan jangan pulang malam-malam?"
"Kenapa? Kamu aja pulang tengah malam aku nggak pernah protes. Masa aku diprotes terus," ujarnya semakin nyolot.
"Saya kerja, wajar saya pulang malam. Kalau kamu apa? Main?" Edward mulai kesal, tetapi berusaha menahan emosinya pada gadis yang sedang sinis padanya itu.
"Kerja? Tch ... kerja di mana? Kerja di kantor atau nemenin Laura?" tanyanya makin sinis, ia juga tak tahu kenapa tiba-tiba mengunkit Laura.
Dahi Edward berkerut. "Kenapa jadi bawa-bawa Laura?"
Giselle mengangkat bahunya. "Pikir aja sendiri."
"Giselle!" panggil Edward lagi sambil menarik tangan Giselle agar tak menjauh darinya. "Maksud kamu apa? Kenapa kamu bawa-bawa Laura?"
Giselle menatapnya tajam, rasanya begitu marah mengingat Edward sudah membiayai kehidupan Yohan dan begitu cemburu mengingiat kejadian Edward berpelukan dengan Laura.
"Aku tahu, aku lihat kamu pelukan sama Laura di rumah sakit," jelas Giselle, mencoba tegar dibalik kesedihan dan kecemburuannya.
Perlahan Edward melepaskan genggaman tangannya. "Kamu salah paham, saya nggak peluk dia."
"Tapi kamu menikmati, kan?"
"Giselle! Kalau kamu nggak tahu apa yang terjadi, kamu jangan asal menuduh!"
Giselle menitikkan air mata. Ia rasa cinta membuatnya terlihat sangat bodoh. Bagaimana bisa ia tiba-tiba jatuh cinta pada Edward di saat ia yakin ia tak mudah jatuh cinta? Apa karena Edward selama ini begitu baik dan diam-diam perhatian padanya?
"Kamu salah paham ... saya sama Laura udah nggak ada hubungan apa-apa!"
"Aku nggak peduli lagian, kan kita udah sepakat nggak ikut campur urusan satu sama lain," potong Giselle. "Jadi mau kamu pelukan atau ciuman ya bukan masalah sih, cuman aku nggak suka aja kamu larang-larang aku tapi kamu sendiri melakukan itu."
"Hufth ...." Edward mencoba mengontrol emosinya yang juga semakin membara. "Oke sori, maaf. Maaf kalau saya udah buat kamu nggak nyaman."
Giselle mengangguk. "Terus mulai sekarang, jangan pernah kirim uang saku lagi buat Yohan."
Edward meluruskan pandangannya. "Kamu ketemu Yohan?"
Giselle mengangguk. "Iya, dia udah cerita semuanya dan asal kamu tahu, aku marah banget sama kamu karena itu. Nggak seharusnya kamu kasih dia uang, dia nggak akan pernah berhenti repotin kamu kalau kamu ...."
"Saya nggak peduli," potong Edward. "Bagi saya, yang penting kamu aman. Walau kita nikah kontrak, saya wajib melindungi dan menjaga kamu!'
Tangis Giselle semakin tumpah. Bagaimana bisa ia tidak menyukai Edward jika Edward terus memberinya harapan seperti ini?
"Hiks ...."
"Why? Kenapa kamu nangis?" Edward mencoba meraihnya, namun gadis itu menepis tangannya.
"Sebenarnya kamu anggap aku apa?" tanyanya dengan nada bergetar. "Kalau kamu terus baik kaya gini, aku bakal salah paham terus."
"Giselle ...."
"Stop Edward, please stop khawatir sama aku! Stop kasih uang ke Yohan, stop mengandalkan uang untuk kehidupan kamu! Gara-gara kamu, aku udah nggak ada harganya lagi tau nggak?"
Edward terdiam mendengar kalimat itu.
"Aku nikah karena uang, bahkan setelah menikah aku merepotkan kamu karena Yohan yang minta kamu uang. Aku malu sama diri aku sendiri!"
"Oke aku akan berhenti kasih Yohan uang, tapi kamu harus diawasin setiap saat sama orang suruhan saya. Mau?"
"Edward!"
"Kalau kamu kenapa-napa, saya yang bakal disalahkan!" bentak balik Edward, ia sudah tak mampu menahan amarahnya. Tetapi setelah membentak kecil, ia kembali menahan amarahnya dan merasa bersalah. "Sori ... saya udah bentak kamu."
Giselle terkejut, pada akhirnya Edward juga membentaknya dan ia bisa menangkap isi hati Edward. Edward perhatian padanya bukan karena rasa suka seperti yang ia rasakan, tetapi karena rasa takut disalahkan oleh keluarganya jika tidak bisa menjaganya.
Gadis itu melangkahkan kakinya dengan cepat, masuk ke kamar dan mengunci pintu untuk meninggalkan Edward yang kini berdiri kaku dengan rasa sedikit menyesal karena telah membentaknya.
...----------------...
... ...
Giselle masih menatap layar ponselnya yang pagi menerima uang dengan jumlah besar hasil jerih payahnya menyamar sebagai istri seorang Edward Van Lewis sambil duduk di sebuah bangku rumah sakit.
Belum ada setengah tahun, ia sudah bisa mengumpulkan ratusan juta. Ia rasa ini akan sangat cukup untuk pergi ke tempat terpencil kemudian membuka sebuah usaha. Hanya saja Mamanya yang masih terbaring di rumah sakit membuatnya tak bisa berbuat apa-apa, tentunya ia harus menjaga sang Ibu.
Ia mengembus napasnya berkal-kali dengan panjang. Sambil menatap langit, otaknya mengingat akan semua permasalahan akhir-akhir ini yang membuatnya jadi susah tidur.
Mulai dari ia jatuh cinta pada Edward, Edward yang sepertinya masih menyukai Laura, belum lagi masalah Yohan, skripsi yang banyak revisi, dan masih banyak lagi.
Meski begitu, Giselle tidak merasa hidupnya paling berat karena ia tahu masih banyak yang masalahnya lebih berat di luaran sana.
Langkahnya pergi menjauh, meninggalkan area rumah sakit di saing hari yang mendung dan kilat menyala. Ia menaiki sebuah taksi yang akhirnya membawanya hingga ke area apartement tempat ia tinggal.
Terus melangkah, menaiki lift, dan sampai pada lantai apartemen. Ia melangkah lagi dengan kepala menunduk sedangkan di luar sana rintik hujan mulai terdengar.
Namun langkahnya terhenti, ia tercengang melihat seorang laki-laki kini berdiri di depannya sambil tersenyum manis lalu mengangkan beberapa barang bawaan.
"Nathan?"
"Aku dari tadi tunggu di sini, nggak ada yang buka," jelas Nathan tanpa dimintai penjelasan. "Oh iya, ini dari Oma. Oma lagi masak-masak tadi sama chef di hotel aku, jadi aku dimintain tolong antar masakan ini buat kalian."
Giselle masih diam, hanya memandangnya.
"Aku telpon kamu, tapi telpon kamu mati. Aku telpon Edward, nggak diangkat."
Mendengar penjelasan itu, Giselle mengangguk tanda mengerti. "Edward lagi sibuk, ada grand opening klinik baru," jelasnya.
"Em Giselle?"
"Hm?"
"Aku boleh numpang ke toilet? Dari tadi aku nahan kebelet."
Mendnegar pertanyaan itu, sontak Giselle tertawa kecil. "Boleh lah, yuk," ujarnya, membuka pintu ruangannya dan Nathan ikut masuk bersamanya.
Giselle yakin Nathan bukan orang seburuk yang Nico ceritakan. Walaupun Nathan memang berbuat tidak baik di masa lalu, faktanya selama ini Nathan selalu baik padanya.
Bahkan terakhir kali, saat Giselle memperingatkan Nathan agar tidak menyukainya dan melupakan kejadian pengakuan cintan itu, Nathan benar-benar menepati janjinya.
Selama bertemu Giselle sejak kejadian itu, Nathan tidak pernah sama sekali lagi mengutarakan rasanya. Ia bersikap sewajarnya dalam pertemanan.
Giselle berdiri memandang luar gedung, melihat rintikan hujan yang mulai deras membasahi bumi ketika Nathan sedang berada di toilet. Tak lama di toilet, Nathan keluar dan berdiri di sebelahnya sambil ikut mengamatik rintikan hujan tersebut.
"Lagi sedih?" tanya Nathan tanpa melihatnya.
Giselle tak menjawab.
"Main aja yuk dari pada sedih," ajak Nathan.
Giselle tertawa kecil. "Main? Kaya anak kecil aja kamu ajak aku main."
"Dari pada ngelamun, ntar kesambet loh."
"Hahaha ...."
"Udah jangan banyak mikir, nanti banyak ubannya."
Giselle masih dalam tawa kecilnya. Kata-kata hiburan kecil dari Nathan ta kia sangka bisa mempernaiki sedikit rasa tidak nyaman di hatinya. "Nathan?"
"Iya?"
"Aku boleh nanya? Tapi jangan marah."
Nathan mengangguk. "Apa pun, boleh banget."
"Aku cuman penasaran, sebenarnya kenapa Edward bisa benci banget ke kamu dan kamu juga bisa nggak suka ke Edward?"
Nathan tersenyum tipis, lalu kembali memandang langit. "Edward salah paham."
Giselle bertanya hanya untuk memastikan cerita dari versi Nathan, meski ia sudah mendengar dari Nico.
"Edward kira aku sama Laura dulu tuh ada hubungan spesial, padahal nggak ada."
"...."
"Aku tahu aku salah, tapi aku lakuin hal yang buat dia marah itu bukan karena sadar, tapi waktu itu lagi dibawah pengaruh alkohol."
"Emang hal apa?" tanyanya polos.
Nathan memandangnya lagi. "Aku harap aku cerita ini nggak bikin kamu ilfil dan benci sama aku."
Giselle mengangguk. "Aku cuman penasaran, lagi pula itu masa lalu kamu dan aku nggak ada di sana. Aku nggak berhak untuk benci kamu."
Nathan kembali tersenyum mendengar jawaban sedewasa itu dari seorang mahasiswi di tingkat akhir. "Aku tidur sama Laura satu ranjang."
Nathan tidak berbohong, dia jujur apa adanya.
"Malam itu aku lagi party sama teman-teman di Beijing, termasuk Laura. Kami mabuk, capek, ketiduran satu ranjang. Pas itu ada teman Laura, dia kenal juga sama Edward. Teman Laura itu upload story kita lagi ketiduran di ranjang yang sama. Pas lah si Edward lihat."
"Terus?"
"Aku sama Laura udah jelasin sejujur-jujurnya, tapi Edward nggak percaya dan malah memblockir semua sosmed aku dan Laura. Pokoknya semuanya di blockir sampai nggak ada jalan sama sekali buat hubungin Edward."
Giselle terdiam, ia tak tahu harus membela siapa padahal dalam cerita ini intinya hanya karena salah paham.
"Aku tahu Edward pasti marah, aku pun gitu. Tapi maksud aku paling tidak kasih Laura kesempatan. Gara-gara Edward yang menghilang, Laura di sana hampir gila. Tiap hari kerjaan nangis aja, sampai study-nya berantakan. Hubungan mereka sampai sekarang nggak ada kata putus, ngegantung aja."
"Terus kenapa kalian nggak ke Indo buat jelasin langsung?"
"Nggak segampang itu Giselle, di sana kita kuliah dan kuliah di sana nggak sesantai di sini."
Giselle angguk-angguk tanda mengerti. "Aku nggak bisa membela siapa-siapa sih, karena semuanya salah."
Nathan mengangguk setuju.
"Kamu dan Laura salah karena udah kelewatan, aku pun kalau di posisi Edward pasti aku cemburu, kecewa, marah, dan nggak bisa percaya lagi. Tapi Edward juga salah karena langsung memutus kontak tanpa ada kepastian buat Laura. Harusnya paling enggak dia bilang kek hubungannya udah berakhir, biar nggak ngegantung hubungan."
Nathan mengangguk lagi. "Makanya aku nggak mau ada yang terluka lagi karena Edward, makanya waktu itu aku kelewatan ke kamu sampai bilang mau lindungin kamu padahal kamu istrinya Edward. Maaf ya?"
Giselle menggelengkan kepalanya. "Udah lupain aja, aku anggap itu nggak pernah terjadi."
Mereka berdua saling tersenyum.
"Aku ke toilet dulu, habis ini kita main,"' ajak Giselle.
"Jadi main?"
Giselle mengangguk. "Bentar ya, tunggu! Agak mules, hehe."
Nathan mengiyakan, sambil melihat gadis itu berlari kecil ke toilet sebelah kamarnya.
Di saat itu, Nathan hanya berputar-putar ke sekeliling ruangan di apartement yang Giselle tinggali. Ia hanya bisa tersenyum masam sambil melihat pigora denga nisi foto pernikahan saudaranya itu.
Dengan tangannya, ia membuka pintu kamar Giselle.
Melihat kamar Giselle yang berantakan, membuatnya semakin lebar menampakkan senyumnya. Ia masuk ke kamar itu, melihat pajangan-pajangan poto di atas meja, make up yang berhamburan, hingga sebuah laci yang membuatnya penasaran.
Nathan tahu ia lancang, tetapi karena semakin penasaran ia membuka laci itu. Ia menemukan beberapa tumpuk buku kuliah Giselle hingga dibagian paling bawah ia menemukan sebuah amplop coklat yang membuat otaknya bertanya-tanya.
Celingak-celinguk melihat keadaan, dia menarik beberapa lembar kertas di dalam amplop coklat tersebut dan begitu terkejut saat melihat isinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments