Giselle tak tahu harus ke mana sehingga kini ia duduk di kursi belakang mobil milik Edward sambil menunggu kedatangan Edward. Sedangkan Nico duduk di kursi kemudi, sesekali ia melirik melalui kaca spion tengah untuk memastikan Giselle tidak kabur keluar.
Mereka sama-sama diam. Nico sebenarnya ingin mengajak gadis itu bergibah, namun ia tahu pasti Giselle sedang tidak baik-baik saja saat ini jadi ia memilih untuk diam juga.
Tak lama menunggu, terlihat sosok Edward yang berjalan ke arah mereka berdua dengan gagahnya menggunakan setelan jas dan kacamata mewahnya.
"Kenapa dia ngajak gue nikah?" tanya Giselle sambil menatap sosok Edward yang semakin dekat dengan keberadaannya.
"Iya neneknya sakit-sakitan. Katanya sebelum neneknya meninggal, neneknya pengen lihat dia nikah. Kalau dia nggak nikah sampai akhir tahun ini, dia bakal di coret dari kartu keluarga Van Lewis. Makanya dia nyari cewek yang bisa diajak kerja sama buat nikah kontrak karena dia sendiri nggak tertarik buat beneran menikah," jelas Nico panjang lebar sebelum Edward membuka pintu mobil.
Penjelasan Nico yang cepat bisa dipahami oleh Giselle. Kebingungan Giselle pun terjawab, sekarang ia tahu kenapa laki-laki yang narsis dan tak ia kenal itu mengajaknya menikah kontrak.
Edward duduk di kursi sebelah Giselle, ia menoleh ke arah Giselle yang juga menatapnya. "Are you okay?" tanyanya ingin terlihat ramah, padahal itu bukan jati dirinya. "Mau ke rumah sakit?"
"Nggak perlu, thanks," ucap Giselle. Meski ia kesal dengan Edward yang terus mengajaknya menikah, ia masih tahu terima kasih. Edward sudah menyelamatkannya baru saja.
Saat itu juga, Edward meminta Nico keluar mobil sebentar karena ia ingin berbicara empat mata dengan Giselle.
"Saya tanya sekali lagi, gimana tawaran saya?" tanya Edward dengan tatapan serius.
Giselle diam, tak menjawab, ia hanya menatap Edward.
"Meski kita menikah, saya janji nggak akan apa-apakan kamu. Kita akan tinggal di apartement saya, di sana ada dua kamar jadi kita bisa tidur secara terpisah."
"Kenapa kamu pilih aku buat jadi istri kamu?" tanya Giselle lagi. "Bukannya banyak wanita lain yang bahkan nggak perlu menikah kontrak, pasti mereka mau sama kamu?" kali ini Giselle berbicara agak sopan pada Edward, tidak seperti sebelumnya.
"Karena saya yakin sejak pertemuan kita di rumah sakit itu, kalau kamu nggak akan memanfaatkan saya," jelas Edward. "Selama ini saya membatasi diri saya dengan perempuan karena tujuan mereka mendekati saya hanya karena uang dan ketampanan saya," tambahnya masih dengan PD-nya.
Giselle membatin dalam hati, bisa-bisanya Edward senarsis itu padahal dari luar terlihat begitu cool bagai kulkas sepuluh pintu.
"Pertama kita bertemu, bahkan kamu mengusir saya. Coba cewek-cewek lain, pasti dia udah genit-genit ke saya."
Giselle tak bisa menahan rasa lucu, ia pun tertawa kecil.
"Kenapa? Ada yang lucu?"
Giselle menggelengkan kepakanya. "Terus?"
"Yah selain saya yakin kamu bukan seperti gadis-gadis lainnya, di sisi lain saya butuh bantuan karena keluarga saya. Nenek saya ngebet banget saya nikah, kalau nggak nikah bakal di suruh nikah paksa atau paling jelek di coret dari kartu keluarga."
"Bukannya kalau orang kaya emang dijodoh-jodohin cari yang sebanding? Emang keluarga kamu mau terima aku yang miskin nggak ada harta gini?" tanya Giselle lagi.
"Keluarga saya bukan seperti itu, mereka menganggap semua orang sama yang penting punya tata krama."
Giselle angguk-angguk tanda mengerti.
"Gimana? Setuju?"
"Apanya?"
"Jadi istri saya, nikah kontrak, mungkin setelah setahun dua tahun atau setelah kamu lulus kuliah kita bisa bercerai. Saya akan beri kamu rumah atas nama kamu, mobil, apa pun itu. Saya juga akan akan mengurus Ibu kamu yang di rumah sakit."
"Cerai? Jadi janda dong gue di usia muda, nggak ah," omel Giselle, meski sebenarnya ia agak tertarik dengan tawaran Edward kali ini. Ia rasa jika menikah dengan Edward, pasti Yohan tidak akan mengganggunya dan Ibunya bisa mendapatkan perawatan lebih baik.
"Ya nggak papa janda, lagian sekarang cowok-cowok nggak peduli janda apa enggak, perawan apa enggak, nggak ada yang peduli."
"Aku masih perawan kali!" sewot Giselle lagi.
"Kan saya nggak nanya dan nggak bilang kamu nggak perawan," balas Edward. "Kenapa sewot?"
Giselle mengembungkan mulutnya.
Edward melirik gadis itu, ia paham tidak semudah itu memutuskan untuk menikah apalagi gadis di depannya ia rasa masih berpikiran seperti bocil. "Ya sudah, saya beri kamu waktu tiga hari. Kalau kamu nggak mau, saya akan berhenti meminta kamu untuk menikahi saya."
Giselle menghela napasnya.
"Oh iya tapi ... kamu punya pacar?" tanya Edward lagi.
"Kok kepo sih?"
Edward menahan rasa gemasnya pada gadis polos ini. "Ya bukan kepo, kalau kamu punya pacar kan semakin ribet nanti urusannya."
"Ada, banyak," jawab Giselle sambil tersenyum, membuat alis Edward naik. "Jaehyun, Sehun, Taehyung, Ji Chang Wook, banyak pokoknya."
Kini Edward yang menghela napas. Ia rasa jika Giselle mengiyakan tawarannya, ia tak hanya mengurus seorang bocah kuliahan tetapi seorang fans fanatik dunia Korea-an.
"Yaudah teserah sama ke haluan kamu. Saya antar kamu pulang hari ini."
Edward mengetuk kaca pintu mobil, Nicolas kembali masuk dan duduk di bagian kemudi.
"Nggak usah, aku bisa pulang sendiri," ujar Giselle hendak keluar.
"Jangan, masih ada abang kamu di sini. Nanti kamu di tangkap lagi," sahut Nico sambil menyalakan mesin, kemudian mengemudikan mobil untuk keluar dari kampus.
^^^ ^^^
...****************...
Giselle menatap Ibunya yang juga masih tak membuka bola matanya. Meski dia adalah Ibu angkat, dia adalah Ibu terbaik bagi Giselle. Ibu Rosa menyayangi Giselle seperti anak sendiri. Selama hidup di panti asuhan dan ingin merasakan kasih sayang, Giselle selalu berdoa pada Tuhan.
Dia berdoa ingin mempunyai keluarga setiap hari karena iri dengan teman-teman di sekolahnya, hingga datang suatu hari Tuhan mengabulkan doanya. Ia hidup sebagai anak dari keluarga terpandang dengan segala kecukupan, tetapi kebahagiannya tidak berlangsung lama karena kecelakaan itu terjadi.
Sedih, Giselle amat sangat sedih di dalam lubuk hatinya. Rasanya ia ingin menangis, berteriak, dan marah pada Tuhan. Kenapa Tuhan harus mengambil Ayahnya dan membuat Ibunya koma berbulan-bulan seperti ini. Meski ia berdoa dan berdoa, Tuhan tak juga mengabulkan doa-nya. Yang ada malah ujiannya datang bertubi-tubi.
Tak hanya sedih akan kejadian yang kini menimpa Ibunya, ia juga sedang kebingungan masalah tagihan rumah sakit karena batas asuransi sudah habis sedangkan asuransi kematian Ayahnya sudah di klaim oleh Yohan semuanya.
"Aku harus gimana, Ma?" tanyanya pada sosok wanita yang koma dan menggunakan berbagai macam peralatan medis. "Mama kapan bangun? Giselle kangen."
Tidak ada jawaban, yang ada hanya suara lalu lalang suster di luar ruangan.
...****************...
Di hari Minggu pagi yang disambut dengan mendungnya awan dan angin sepoi-sepoi, kondisi kampus ramai oleh para wisudawan.
Beberapa dari mereka berfoto bersama keluarga, teman, mau pun pasangan. Raut wajah para wisudawan tidak bisa berdusta, mereka tampak behagia karena pada akhirnya bisa lulus setelah bertahun-tahun mengabdi.
"Ini pacar Burhan, Ma, Pa," ujar Burhan, memperkenalkan seorang gadis cantik dan anggun yang kini memakai dress selutut berwarna biru gelap.
"Oh makanya kamu nggak mau balik ke Bali, ternyata ada cewek secantik dia," goda Papa Burhan.
Burhan tertawa kecil sambil merangkul pundak Giselle, yang sedang bekerja menjadi pacar sewaan saat wisuda.
"Iya Ma, Pa ... Burhan mau tinggal di sini aja cari kerja biar nggak jauh-jauh sama dia," jelas Burhan lagi. "Boleh kan?"
"Boleh lah, kamu kan udah besar. Itu pilihan hidup kamu, asal ingat ya ... kamu walau punya pacar harus jaga diri. Ya nak ya?"
"Pasti Om, Tante ... pasti kita jaga diri nggak akan aneh-aneh," sahut Giselle sambil melambungkan senyum manisnya.
"Yaudah kalau gitu, yuk kita makan-makan yuk!"
Giselle mengikuti keluarga Burhan yang tidak ia kenal itu. Jangankan dengan orang tua Burhan, Giselle bertemu dengan Burhan saja baru satu kali saat pernjanjian kontrak mereka satu minggu lalu.
Menurut Giselle menjadi pacar sewaan saat wisuda sangat menguntungkan. Ia hanya pura-pura menjadi pacar yang menyewanya maksimal enam jam. Selama enam jam ia mematok harga lumayan standard yaitu enam ratus ribu rupiah. Harga itu Giselle terapkan karena mengikuti teman-temannya yang lain yang sudah lebih dahulu bekerja sebagai pacar sewaan sebelum dirinya.
Tentu saja yang minat memilih Giselle ada banyak, tetapi Giselle juga pilih-pilih klien. Ia tak mau menerima klien yang ada niat lebih jauh dengannya.
Seperti pada Burhan, Burhan beralasan pada Giselle menyewa pacar sewaan saat wisuda hanya agar orang tuanya tidak menyuruhnya kembali ke Bali. Burhan bisa dikatakan good looking dan berduit, demi menyewa Giselle ia bahkan menawarkan bonus uang jika misinya kali ini berhasil.
"Di sini makanannya enak-enak," ujar Burhan pada orang tuanya dengan sangat sopan.
"Oh ya?"
Burhan mengajak Giselle dan orang tuanya di sebuah restoran mewah yang sudah ia pesan jauh beberapa hari sebelumnya untuk merayakan wisudanya.
"Nih sayang, makan yang banyak," ujar Burhan lagi sambil mengambilkan beberapa lauk pauk di piring Giselle.
Giselle mengangguk dan membalas senyum lelaki itu.
"Sudah berapa lama kalian pacaran?" tanya Ibu Burhan.
"Em, baru mau setahun." Giselle asal menjawab sambil memakan makanannya.
"Giselle asli mana?"
"Dia dari sini asli, Ma."
"Oh ... kuliah juga apa gimana?"
"Ini mau masuk skripsi tante."
"Pantes dia nggak mau balik Bali," goda Ayah Burhan yang tak kalah ramah dari Burhan.
Gelak tawa terjadi di meja yang mereka tempati. Giselle pun begitu, meski Burhan adalah kliennya yang ke sebelas baru kali ini ia merasa sangat enjoy makan bersama keluarga orang.
Namun tawa Giselle terhenti saat bola matanya tak sengaja bertemu dengan sosok Edward Van Lewis dan juga Nico. Bahkan gadis itu tersedak dibuatnya.
Melihat Giselle tersedak, Burhan buru-buru memberikannya segelas air putih.
Giselle langsung menarik tatapannya dari Edward, ia mengalihkan tatapannya itu pada makanan-makanan yang masih ada di atas meja.
"Cowoknya banyak banget ya," bisik Nico sambil mengamati Giselle. "Eh tapi kayaknya itu dia lagi kerja, kan dia jadi pacar sewaan."
"Yaudah itu urusan dia," ujar Edward, kembali melangkah menuju ruangan VIP yang sudah di pesan Nico untuk menemui beberapa investor.
...****************...
"Thanks ya." Burhan tersenyum lega pada Giselle karena acara hari ini telah berakhir dan menurutnya Giselle berperan besar. "Nanti bonusnya aku kirim ke rekening kamu."
Giselle mengangguk dan membalas senyum Burhan. "Oke, santai aja aku percaya kok kamu bakal kasih aku bonusan."
Burhan tertawa kecil. "Berkat kamu orang tua aku udah nggak ngotot lagi nyuruh aku balik ke Bali."
"Emang kenapa kamu nggak mau balik ke Bali?" tanya Giselle asal, padahal ia tidak kepo juga.
"Lebih nyaman aja di Surabaya," jawab singkat Burhan.
Giselle angguk-angguk tanda mengerti.
"Yaudah yuk, aku antar kamu balik," tawar Burhan.
Giselle menggeleng kepalanya. "Nggak usah, aku masih ada urusan."
"Yakin?"
Gadis itu mengangguk.
"Yaudah, see you. Hati-hati ya!" ujar Burhan sebelum ia memasuki mobilnya yang terparkir di parkiran resto.
Giselle melambaikan tangan kearah Burhan yang sudah menjalankan mobil dan menjauh darinya.
"Hufth, kelar juga." Senyum gadis itu mengambang, ia tak sabar menunggu bonusan dari Burhan entah berapa yang Burhan tambahkan.
"Laris juga ya," ujar seseorang tiba-tiba berbisik dan membuat Giselle terkejut.
Edward dan Nico hadir, menyapa kembali gadis itu meski baru dua hari lalu mereka bertemu.
Giselle hanya mencibir pada lelaki itu.
"Gimana tawaran saya?"
Giselle menggelengkan kepalanya. "Nggak mau."
Edward menaikkan alisnya. "Kenapa sih nggak mau? Padahal kamu sangat diuntungkan."
"Ya kali aku nikah mendadak sama konglemerat, bisa di hujat netizen."
"Kan saya bakal lindungin kamu, kamu juga pasti saya kasih pengawal."
Giselle tertawa mendadak. "Udah kaya putri istana aja ada pengawal."
"Saya serius, Giselle Oliver."
"Nggak mau, aku mau menikah sama laki-laki yang aku cinta."
"Ya kali aja kan kalian beneran jatuh cinta," celetuk Nico, membuat tatapan Edward menjadi gemas padanya.
"Ya sudah, besok saya tunggu keputusan kamu."
Edward menjauh pergi, ia melangkah dan Nico mengikutinya.
Kepergian Edward kembali membuat Giselle bingung. Ia memang sangat diuntungkan, tetapi bukankah sangat tak masuk akal gadis sepertinya tiba-tiba menikah? Apalagi dia menikah dengan Edward Van Lewis yang kaya raya dan selisih umur lumayan jauh dengannya.
”Tapi gue nggak suka dia, tapi gue butuh duit. Terima nggak ya?”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments