"Em kami ... kami kenal dengan Ibu Rosa, kami ingin menjenguk," jawab Nico asal.
Melihat kebohongan Nico, Edward hanya geleng-geleng kepala. Sedangkan Giselle mengangkat alisnya antara percaya dan tidak percaya. Ia pikir mana mungkin Ibunya bisa punya kenalan dengan dua laki-laki muda seperti yang ada di depannya. Seingatnya Ibunya hanya punya teman arisan satu komplek.
"Beneran, kami teman Ibu Rosa," tambah Nico mencoba meyakinkan gadis itu.
Hanya dengan melihat wajah Nico yang meyakinkan, Giselle yang memang memiliki sifat polos itu menghilangkan kecurigaannya. Wajahnya yang tadi bertanya-tanya kini tersenyum.
"Syukurlah," kata Giselle sambil tersenyum haru. "Masih ada yang peduli sama Mama."
Nico tercekat, ia tak percaya gadis kuliahan di depannya percaya pada kebohongannya.
"Yuk, yuk masuk!" ajak Giselle.
Namun sebelum masuk ke kamar rawat, Edward berdiri di ambang pintu dan menghalangi jalannya.
Nico memberi aba-aba agar Edward minggir, tetapi Edward tidak menghiraukannya.
"Maaf kita bukan teman Ibu kamu," kata Edward kemudian.
Nico menepuk dahi. Amat merepotkan baginya karena memang Edward terlalu jujur dan kaku sebagai seorang laki-laki.
"Terus? Katanya teman sekarang kok ...." Giselle semakin bingung dibuatnya.
"Saya ke sini untuk menawarkan kamu sebagai istri saya. Saya mau mengajak kamu menikah," jelas Edward tanpa basa-basi.
"WHAT?!" Bola mata Giselle hampir keluar.
Nico tak bisa berkata apa-apa lagi. Semua rencananya gagal untuk mendekatkan Giselle dan Edward. Nico hanya bisa mengelus dada.
"Oh tapi tenang saja, kita tidak benar-benar menikah. Kita menikah kontrak," tambah Edward, seperti sedang presentasi kerja. "Selain itu sebagai istri kontrak, saya akan bayar kamu setiap bulan. Anggap saja kamu sedang bekerja sebagai istri saya."
PLAK!
Edward bungkam saat tangan gadis di depannya itu tiba-tiba menampar wajah tampannya. Rasanya hendak membalas, tapi ia sadar gadis muda di depannya bukanlah lawannya.
Nico menengahi Edward dan Giselle, ia takut dua orang itu semakin ribut di rumah sakit. Yang ada Nico yang paling dirugikan karena harus mengurus ke duanya.
"Jadi kamu laki-laki yang mau dikenalkan sama Yohan?" tanya Giselle, tatapan matanya begitu mematikan.
"Bu ... bukan, dia bukan laki-laki itu," sahut Nico yang sadar Edward sudah naik pitam karena sebelumnya tidak ada yang berani menampar Edward. Baru kali ini Edward merasa harga dirinya jatuh.
"Jangan pernah ikutin aku lagi," pinta Giselle. "Aku nggak butuh menikah dengan orang rendahan seperti kamu!"
"Iya-iya, maaf ya Giselle ...," ujar Nico lagi, mendorong-dorong tubuh Edward untuk pergi dari tempat itu sedangkan Giselle masih menatap Edward dengan tatapan marah, begitu juga sebaliknya. "Pergi kalian!"
"Ayo, ayo pergi!" tarik Nico pada Edward.
...****************...
Edward mencoba menahan amarahnya saat di dalam mobil menuju kembali ke rumah. Emosinya meledak di dalam hati, namun tidak bisa ia ungkapkan apalagi ia utarakan.
Berkali-kali ia menghela napas, bahkan ia sampai membeli minuman manis untuk memperbaiki mood-nya. Tetapi tatapan penuh marah, tamparan, dan kata-kata menyakitkan Giselle masih saja bernaung di hatinya.
"Gue udah nggak tahu mau gimana ke elo," ujar Nico tiba-tiba sambil menyetir di tengah gelapnya malam.
"Emang salah gue di mana? Harusnya lo yang tampar, lo udah bohongin dia!" Edward masih tak mengerti letak kesalahannya. Ia rasa Nico yang salah bukan dia.
"Duh bro! Susah punya teman kaku kaya lo tuh," omel Nico. "Oke gue salah udah bohongin dia, tapi itu salah satu strategi buat deketin dia."
"...."
"Bro, Giselle itu bukan cewek nakal, jelas dia marah ke elo karena tiba-tiba lo ajak dia nikah. Mana mau cewek baik-baik kaya dia nikah sama orang nggak jelas asal-usulnya. Ngerti kan lo maksud gue?"
Edward mencoba memahami maksud dari Nicolas.
"Lah elo, kenal dia enggak tiba-tiba ngajak nikah terus nawarin gaji. Udah kaya om-om pedofil lo yang ada."
Edward memicingkan matanya pada Nico. Jika Nico sedang tidak menyetir, Edward pasti sudah menghantamnya.
"Lagian gue bingung sama lo, katanya tadi nggak mau sama bocah kuliahan eh tiba-tiba nyosor aja ngajak dia nikah."
Laki-laki itu terdiam sebentar.
Benar yang Nico katakan. Giselle memang cantik, tetapi beberapa wanita lain yang sebelumnya Nico kenalkan padanya bahkan ada yang lebih cantik, seksi, mandiri, dan dewasa seumurannya. Tetapi entah kenapa, tiba-tiba saja Edward mengajak gadis itu menikah?
Kenapa? Ada apa? Apa jangan-jangan Edward merasa iba? Tidak mungkin, Edward adalah sosok laki-laki yang tak mudah goyah jika berurusan dengan hati. Atau mungkin karena melihat Ibunda Giselle membuatnya teringat akan Oma di rumah, Oma yang sudah sakit-sakitan dan mengancamnya akan mencoret namanya dari kartu keluarga? Edward sendiri bingung, mengapa ajakan itu keluar secepat kilat.
"Ini udah akhir tahun, dua bulan lagi berakhir. Kalau kebanyakan nyari, nggak dapat-dapat gue yang ada," jawab Edward asal.
"Yaudah pilih aja yang sebelum-sebelumnya."
"...."
"Menurut gue yang lumayan pas sama lo tu si Niken, tuh pegawai bank yang hobi main TikTok."
Edward hanya diam mendengarkan.
"Atau si Salsa, yang body-nya bahenol kaya gitar Spanyol. Beuh, gue jamin lo puas kalau nikah sama dia," jelas Nico sambil cengar-cengir.
Edward kembali mengalihkan tatapannya pada Nico. "Gue nikah kontrak, bukan nikah beneran."
"Iye-iye. Sewot banget lo."
"Nico, udah deh mulai besok lo nggak usah kerja. Gue pecat lo."
Nico langsung membungkam mulutnya.
...****************...
Dengan langkah tergesa-gesa gadis itu masuk ke sebuah gedung kampusnya yang kini sedang melangsungkan sebuah acara Beauty Class. Peserta yang mendaftar jumlahnya lebih dari seratus orang, hingga tak heran jika kondisi gedung begitu ramai.
*Tidak hanya melangsungkan Beauty Class*, tetapi juga ada pameran dari hasil karya mahasiswa yang di jual di pinggiran secara berjejer mulai dari produk tas, dompet, sandal, dan lainnya. Sedangkan di gedung bagian tengah ada kursi berjejer untuk acara Beauty Class.
"Rame banget, tumben padahal biasanya nggak sampai seratus peserta," ujar Giselle saat tiba di gedung dan berdiri bersebelahan dengan Shania, sahabatnya di kampus.
"Yaiyalah kan kali ini brand-nya Van Luice," sahut Shania sambil merapikan meja registrasi.
"Emang Van Luice sebagus itu?"
*Shania mengangguk. "Banget, nih skincare* gue sampai make up gue merk Van Luice semua," ujarnya menunjukkan riasan tipis wajahnya. "Udah gitu hari ini CEO-nya bakal kasih sambutan, makanya banyak yang nggak sabar."
"Nggak sabar gimana?" tanya gadis polos itu.
Shania berdecak pinggang. "Giselle, lo pasti nggak tau kan kalau CEO-nya Van Luice itu wajahnya setampan malaikat?"
"Emang lo pernah lihat malaikat?"
Shania menghela napas. "Tahu ah, intinya ganteng banget."
"Ganteng mana sama Morgan?" tanya Giselle sambil senyum-senyum sendiri saat melihat kehadiran Morgan dan sedang berjalan ke arah mereka.
Shania mengalihkan pandangannya juga pada kedatangan Morgan. "Sama gantengnya sih, tapi menurut gue gantengnya CEO-nya Van Luice itu lebih nggak masuk akal."
Morgan tampak tersenyum menyapa orang-orang yang sedang bekerja keras hingga ia sampai di tempat Giselle dan Shania berdiri.
Morgan juga salah satu sahabat baik Giselle selain Shania. Awal masuk kampus, Giselle sempat jatuh hati kepada Morgan. Selain karena Morgan tampan, dia juga memiliki etika yang baik. Hanya saja saat itu dan sampai sekarang Morgan sudah memiliki pacar.
*"*Kalian nanti jadi role model ya, jangan lupa," ujar Morgan.
Giselle dan Shania mengangguk bersamaan.
"Eh, abang lo kemarin telpon gue dua hari berturut-turut," ujar Shania sambil menyikut lengan Giselle. "Dia marah-marah karena nggak bisa nemuin lo."
Giselle hanya tertawa kecil. "Kan udah gue bilang lo block nomornya."
"Udah pea! Dia hubungin lewat Instagram!" terang Shania. "Kenapa lagi sih? Dia mau jodoh-jodohin lo lagi?"
"Bukan dijodohin, tapi gue di jual ke om-om," terang Giselle.
Spontan wajah Morgan jadi keheranan. Selama ini ia tidak tahu menahu dengan dengan hal itu meski Giselle adalah sahabatnya. Akhir-akhir ini memang Morgan begitu sibuk mengurus dirinya sendiri yang terlalu aktif di kampus sehingga jarang berkumpul dengan Giselle dan Shania.
"Maksud lo apa?" tanya Morgan.
"Iya gue mau di jual ke om-om biar dia dapat duit. Gila kan abang gue?" ucap Giselle pada Morgan.
Morgan menghela napas-nya. Tak ia sangka kehidupan Giselle yang dulu serba kecukupan dan mewah seperti putri kerajaan kini berubah sedrastis ini. "Lo temuin gue sama abang lo, biar gue yang bicara sama dia."
"Ckckck ... Morgan, boro-boro elo yang bicara. Gue yang udah satu atap belasan tahun sama dia aja dia nggak peduli."
"Seenggaknya ada yang lindungin elo, Giselle." Tatapan Morgan penuh makna.
Giselle terdiam, ia juga menatap laki-laki yang ada di depannya itu.
"Gue sahabat lo, gue bisa lindungin lo."
Shania senyum-senyum sendiri, ia merasa seperti sedang menonton drama Korea.
Giselle mengangguk. "Iya kapan-kapan gue ...."
"Lo sekarang tinggal di mana?" potong Morgan, ingin lebih tahu.
"Di panti asuhan waktu dia kecil," jawab Shania. "Karena cuman di situ tempat yang aman buat sahabat gue yang cakep ini tinggal biar nggak di kejar sama abangnya yang mata duitan itu."
Giselle menundukkan kepalanya, ia kembali menata yang berserakan di meja. Sedangkan Morgan menatapnya pilu, ia menyesal beberapa bulan ini tidak perhatian pada sahabatnya yang ia anggap sedang kesusahan.
"Giselle, bisa bicara berdua?" tanya Morgan.
Giselle mengangguk.
Mereka pergi ke luar gedung, meninggalkan sebentar Shania yang masih sibuk akan pekerjaannya.
Mereka berdua menghentikan langkah di taman kampus belakang gedung. Gedung kampus mereka memang dikelilingi oleh taman yang asri, namun yang paling ramai adalah taman di samping kiri dan dan kanan sedangkan taman depan dan belakang tidak seramai itu.
"Maaf," ujar Morgan tiba-tiba sambil menghentikan langkahnya.
"Kenapa?" tanya polos Giselle.
"Gue terlalu sibuk sampai nggak tahu kalau lo ngalamin ini."
Senyum Giselle mengambang. "It's not a problem, Morgan."
"Giselle ... kalau lo butuh bantuan, lo bisa kabarin gue. Gue pasti bantu lo."
Giselle mengangguk dan masih mengambangkan senyumnya.
Tiba-tiba Morgan membawa tubuh gadis yang lebih pendek darinya itu ke dalam sebuah pelukan.
Giselle tercekat, meski mereka sudah berteman sejak masuk ke kampus dan ini sudah tahun ke tiga, baru kali ini Morgan memeluknya. Jantung Giselle berdetak kencang dibuatnya.
Tanpa mereka sadari dari kejauhan ada yang memperhatikan mereka, tak lain adalah tamu undagan yang sedang ditunggu-tunggu oleh para mahasiswi yaitu pemilik brand Van Luice yang tak lain bernama Edward Van Lewis.
"Bos, itu Giselle kan?" ujar Nico, memperhatikan secara seksama.
Sedangkan Edward ikut memperhatikan. Ia juga yakin gadis yang sedang berpelukan itu adalah Giselle, seorang gadis yang sudah menampar wajah tampannya sekitar tiga hari lalu.
"Cowoknya apa ya? Tapi setahu saya dia nggak punya pacar kok," terka Nico. "Benar deh, dia jomblo statusnya."
"Mau di jomblo mau dia punya pacar itu urusan dia," ujar Edward, melangkahkan kakinya pergi untuk masuk ke ruang tunggu yang sudah disediakan oleh panitia penyelenggara.
Nico & Edward (in frame)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
Anonymous
Nico bengek 🤣
2022-11-19
0