Alasan

"Are you okay?" tanya Nathan dengan logatnya yang ke barat-baratan.

Giselle mengangguk ke arahnya.

"Oma, Giselle lagi makan jangan asal ngomong gitu dong," protes Nathan.

"Kan Oma cuman mau to the point, maaf ya sayang," ucap Oma merasa bersalah.

Giselle cengar-cengir dengan wajah groginya.

Diam-dian dari samping Nathan mengamati Giselle yang merasa tidak nyaman. "Oma, jangan langsung ajak dia program hamil. Nanti Edward marah loh, Oma tahu sendiri kan gimana kalau Edward lagi marah?"

"Edward tuh nggak mau dia hamil, Oma kan pengen cepet punya cucu!"

"Oma jangan egois gitu, kan Edward sama Giselle yang jalanin. Nanti kalau mereka siap tanpa Oma suruh pun pasti mereka lakuin sendiri," jelas Nathan, mencoba menentang keinginan Oma dengan halus.

Gisele hanya bisa diam, ia harap nego dari Nathan melunturkan tekad Oma yang begitu membara untuk cepat punya cucu.

Oma menghela napasnya. "Yaudah Oma ngalah hari ini," ujar Oma, membuat Giselle bernapas lega. "Tapi ingat, hari ini ya Oma ngalah. Besok Oma bakal nagih lagi!"

"Nah gitu dong, itu baru Oma yang baik hati yang Nathan sayang," jelas Nathan, ia tampak memijit-mijit pundak Oma saat kembali ke dudukkannya.

Usai makan di warung sambel mereka pergi dahulu menemani Oma untuk belanja sayur mayur di salah satu supermarket. Tak lama setelah itu, mereka kembali ke kediaman keluarga Van Lewis. Nathan mengantarkan Oma terlebih dahulu ke rumah kemudian ia kembali menyetir karena Oma menyuruhnya untuk mengantarkan istri Edward tersebut.

Awalnya Giselle bingung apa yang harus ia obrolkan dengan sepupu Edward itu, tetapi Nathan memang berbeda dari Edward. Dia tampak ramah dan banyak omong, sehingga tidak terjadi kecanggungan di antara mereka.

"Oma emang cerewet, wajarin aja kan udah tua jadi semakin kaya anak kecil," ujar Nathan, sambil mengemudi di hari yang sudah gelap.

"Iya, aku paham. Thanks ya tadi, udah dibantu," ujar Giselle juga, dengan sebuah senyum kecil.

Nathan membalas senyumnya. "Oh iya, aku cuman penasaran. Emang umur berapa?" tanya Nathan.

"Dua dua," jawab Giselle malu.

"What? Hahaha ... masih muda banget, pantes aja belum ada niatan punya anak."

"Hehe, kalau kamu? Seumuruan Edward?" tanyanya juga pada laki-laki itu.

"Selisih setahun aja sih, aku dua sembilan."

Giselle angguk-angguk. "Oh iya, aku panggil apa? Nathan? Mas? Abang? Pakde?"

"Haha, santai aja. Seenak kamu."

"Yaudah aku panggil Nathan aja ya, biar usia beda jauh tapi kelihatan akrab."

"It's okay," ucap Nathan, sekali lagi tiba-tiba mengacak-acak rambut Giselle.

Giselle kembali tercengang. "Nathan?"

"Hm?"

"Aku belum paham, kamu kan sepupu Edward. Jadi orang tua kamu ...."

"Papaku adiknya Papanya Edward," jelas Nathan sebelum Giselle menyempurnakan pertanyaannya. "Tapi Papaku udah meninggal."

Giselle terdiam, tak berani melanjutkan pertanyaannya.

"Jadi aku tinggal sama Mama aku aja, Mama menetap di Aussie nikah lagi. Tapi Oma ngasih hak waris hotel kemarin ke aku. Walau Papa aku udah nggak ada, Oma masih perhatian banget."

Giselle masih dalam keheningannya. Ia tak tahu sama sekali tentang hal itu.

"Kemarin Mama rencananya datang, tapi nggak dibolehin Papa tiri aku. Soalnya Mama lagi hamil tua."

"Oh, I see."

"Nggak usah kaget gitu, biasa aja kali!" seru Nathan mencoba asik.

"Jadi kamu bolak-balik Aussie?"

"Jarang sebenarnya aku di Aussie, cuman pas kemarin kangen Mama aku aja. Kalau hari-hari ya di sini, ngurus hotel."

Giselle semakin terharu, keluarga Van Lewis memang sebaik itu. Bahkan Nathan berkata, meski Papanya sudah tidak ada dan Mamanya menikah lagi, Oma masih begitu perhatian padanya.

Tak lama perjalanan mereka, Nathan memarkir mobilnya di parkiran basement apartement milik Edward.

"Mau aku antar?" tanya Nathan.

"Nggak usah, aku bisa sendiri. Makasih banyak ya," jelas Giselle sambil keluar dari mobil Nathan, begitu pun Nathan ia ikut keluar dari mobil. "Thanks ya," ucapnya sekali lagi saat Nathan kini berada di depannya.

Nathan mengangguk. "Sama-sama, nice to meet you!"

"Me too," balas Giselle sambil tertawa kecil.

Tawanya terhenti saat melihat mobil Edward masuk ke area parkir, kemudian tampak parkir pas di sebelah mobil Nathan.

Giselle dan Nathan yang melihat mobil itu, segera mendapati si pemilik mobil keluar dari mobilnya dengan pakaian rapi ala bos-bos perusahaan. Yah, memang Edward bos bukan?

Edward yang mendapati istrinya bersama sepupunya itu menatap seperti tidak suka, seperti hari pertama Giselle bertemu dengan Nathan.

"Hai, bro!" sapa Nathan ramah, seperti kemarin.

Tidak dengan Edward, dia tidak menanggapi Nathan. Dia langsung berdiri membuat Batasan antara Giselle dan Nathan. Tatapan Edward begitu tajam, membuat Giselle menyipitkan matanya karena ingin membuat tatapan yang lebih tajam dari Edward.

"Ngapain kalian berduaan?" tanya Edward kemudian.

"Gue habis anterin dia, tadi kita anter Oma belanja," jawab Nathan, sebelum Giselle menjawab.

"Oh, oke thanks udah anter istri gue," ucap Edward, tiba-tiba menggenggam tangan Giselle. "Tapi lain kali nggak perlu diantar, gue bisa jemput dia di rumah Oma."

Senyum Nathan menipis, ia hanya mengangguk kemudian berjalan untuk masuk ke mobilnya. "Gue pulang dulu, bye! Bye, Sel!"

"Bye, Nathan! See you!" ujar Giselle ramah full senyum, membuat Edward semakin kesal.

Mobil Nathan beranjak menjauh, hilang dipandangan.

Usai Nathan tak terlihat, Giselle melangkahkan kakinya masuk ke area aprtement yang diikuti dengan Edward di belakangnya. Selama perjalan ke lantai dua puluh lima, pasangan muda itu sama-sama diam. Tetapi saat langkah mereka masuk ke ruang apartement, barulah Edward berkicau.

"Jangan dekat-dekat dengan Nathan," larang Edward, sambil menutup pintu.

Giselle melepas sandalnya, lalu duduk di sofa melepas lelah karena seharian mengantar Oma usah kuliah. "Kenapa sih kamu jutek banget ke Nathan, dia baik padahal."

"Kamu nggak tahu apa-apa tentang dia, jadi jangan membela dia."

"Aku tahu tentang dia," sahut Giselle sambil menatap Edward yang masih berdiri dan sibuk melepas dasi itu. "Dia anaknya om kamu kan, tapi om kamu meninggal terus mamanya Nathan nikah lagi dan tinggal di Aussie. Ya kan?"

"Sekenal apa pun kamu tentang kehidupannya, saya nggak suka kamu dekat-dekat dengan dia."

"Kenapa sih? Kan dia sepupu kamu, Edward!"

"Saya nggak suka!" tegas Edward. "Pokoknya buat Batasan kamu dengan dia!" omel laki-laki itu. Edward tampak kesal, ia menaiki tangga dan menghilang dipandangan Giselle.

Melihat omelan Edward, Giselle makin kesal.

"Dasar ya tu cowok, lagi mens apa dia ngomel-ngomel ke gue cuman perkara itu doang," celetuknya.

...****************...

Merasa kesal dan tak adil karena sudah diomeli oleh Edward kemarin malam, pagi ini Giselle tak memasakkan Edward sama sekali. Di saat masakannya sudah benar dan tidak gosong, gadis itu sibuk menyatap sarapannya sendiri tanpa peduli dengan suami yang sejak tadi mondar-mandir di depannya.

Edward sebenarnya merasa bersalah, tak seharusnya memang ia membentak Giselle hanya perihal hal sekecil itu. Tapi ia pantang meminta maaf, entah kenapa ia gengsi untuk meminta maaf kali ini sehingga yang ia coba lakukan hanya memperbaiki keadaan dengan cara sok dekat seakan tidak terjadi apa-apa.

Meski begitu, Giselle tetap cuek padanya, merespon seperlunya dan tidak banyak omong.

"Sarapan saya mana?" tanya Edward, duduk di sebrang gadis itu.

"Katanya masakan aku gosong, nggak enak, kok nanya-nanya," jawabnya sewot, persis seperti bocil sedang ngambek.

"Ya saya kan juga butuh nutrisi untuk bekerja."

"Kan bisa beli di luar kaya biasanya."

Giselle masih saja sewot, bahkan untuk menatap Edward pun hanya beberapa detik saja.

"Kamu marah sama saya?"

"Nggak, biasa aja."

Edward menghela napasnya. "Hari ini ke kampus jam berapa?"

"Habis ini."

"Yaudah saya antar."

"Nggak usah, kamu kerja aja."

"Giselle, jangan kaya bocil deh."

"Kamu ngatain aku bocil lagi?" protesnya tak terima, padahal di dalam mulutnya sedang penuh dengan roti tawar.

Melihat itu, tentu saja Edward merasa lucu. "Ya kamu masalah gitu aja dibawa ngambek sampai sekarang."

"Edward Van Lewis, kamu kemarin bentak aku, aku nggak suka!"

"Hufth, kamu mau saya minta maaf?"

Giselle tak menjawab, ia sibuk menggiling makanan.

"Yaudah maaf, ya ...," ujarnya dengan kaku.

Mendengar kata maaf dari Edward, bukannya hatinya membaik ia malah kesal.

"Kok nggak di jawab?"

"Kamu, mau aku maafin?"

"Please Giselle Oliver, jangan kaya anak kecil gini."

"Beda emang kamu sama Nathan, Nathan tu baik. Kamu udah dingin, cuek, suka ngerjain."

"Nathan lagi Nathan lagi ...."

"Asal kamu tahu! Nathan kemarin nyelamatin kita."

Wajah Edward bertanya-tanya, begitu juga dengan pikirannya.

"Kemarin Oma ngotot ngajak aku buat program hamil, untung Nathan bisa ngeredam pengennya Oma. Coba nggak ada Nathan, bisa-bisa aku udah duduk di depan dokter di kasih banyak vitamin dan lain-lain," cerita Giselle.

Edward menggelengkan kepalanya. "Kenapa kamu nggak hubungin saya pas Oma kaya gitu? Kan saya udah bilang, kasih kabar. Kalau saya nggak bisa dihubungi, kamu bisa lewat Nico."

Giselle mengangkat bahunya. "Nggak kepikiran, soalnya deg-degan banget."

"Yaudah kita habis ini ke rumah Oma, biar saya bicara sama Oma."

"Emang kamu nggak kerja?"

"Gampanglah itu, jangan ikut mikir."

"Tch, gaya."

"Yaudah buatin saya roti, saya lapar."

"Nanti gosong lagi gimana?"

"Bilang aja kamu mau sengaja bikin rotinya gosong, kan?"

Giselle tertawa kecil. Edward memang tahu isi pikirannya.

...****************...

Sebelum ke kampus, Edward membawa Giselle mampir ke rumah kediaman Oma. Suasana rumah begitu sepi karena Oma sendirian tanpa ada Mami Edward yang periang dan suka bernyanyi itu.

Tentunya mendapat kejutan dari cucu sulung, Oma begitu senang. Bahkan Oma menyuruh art rumah untuk memasakkan makanan-makanan kesukaan Edward.

"Pasti kamu ke sini mau ngomel ke Oma karena kemarin ya kan?" terka Oma.

Edward tak berekspresi, mungkin memang ia orang paling susah untuk berekspresi kecuali sedang mood untuk menjahili Giselle.

"Oma pokoknya nggak mau tahu, Oma mau cepet-cepet punya cucu." Oma masih tak mau kalah sambil melipat tangannya di perut.

"Oma, Edward pasti akan kasih Oma cucu. Tapi paling enggak tunggu Giselle wisuda ya, paling setahun lagi," tawar Edward.

"Keburu Oma mati."

"Oma nggak boleh ngomong gitu!" potong Giselle cepat.

"Makanya kasih Oma cucu!" Oma masih ngambek.

Edward kehabisan kata-kata.

Giselle menunduukan wajahnya, ia diam hening seperti orang sedang bersedih. Tentu saja hal itu membuat Oma menjadi tidak enak. Oma dan Edward langsung bingung, kenapa gadis itu menunduk seperti itu.

"Giselle juga pengen Oma, tapi ...," ujarnya tiba-tiba, saat mengangkat wajahnya bola matanya sudah berair seperti hendak menangis. "Oma tahu kan Mama Giselle masih koma di ICU?"

Jleb.

Oma hanya bisa meneguk air liurnya.

"Giselle lagi stress, sedih, campur jadi satu. Apalagi Oma minta cucu kaya gini, Giselle makin stress," jelasnya sambil berakting, membuat Edward melongo sedangkan Oma merasa bersalah. "Oma tahu nggak rasa anak yang kehilangan orang tuanya, rasanya tuh kaya dunia nggak berpihak lagi. Hiks ...."

"Astaga Giselle, maafin Oma sayang ...," ujar Oma, iba pada gadis itu. Oma bahkan menghampiri Giselle lalu menepuk-nepuk pundak Giselle. "Maafin Oma, Oma nggak tahu kalau kamu sesedih ini."

"Hiks," katanya sambil mengangguk.

Edward menahan tawanya, ia tak menyangka istrinya itu pandai berakting sampai seperti ini.

"Giselle akan kasih Oma cucu, tapi jangan desak Giselle ya?"

Oma mengangguk sambil memandang haru.

"Oma janji ya akan sabar dan sehat sampai Giselle kasih Oma cucu?"

Oma mengangguk lagi. "Iya sayang, jangan sedih ya?"

Giselle mengangguk. "Makasih Oma, udah bisa ngertiin Giselle." Gadis itu memeluk Oma dengan erat, saat itu juga ia memberikan sebuah kedipan mata pada Edward bahwa aktingnya telah berhasil.

Edward tertawa gemas dibuatnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!