Tit.
Pintu tempat tinggalnya terbuka.
Tak seperti biasa, biasanya saat ia datang ada gadis cerewet itu sambil tertawa menonton drama Korea di ruang tengah. Tetapi hari ini tidak ada, entah di mana dia berada.
Edward melirik jam di tangan kirinya, sudah lebih dari pukul sembilan malam. "Apa dia masih ngambek?" tanya Edward sambil masuk melangkah and meraih ponselnya di dalam saku celananya.
Edward berniat melakukan panggilan pada ponsel Giselle, hanya saja sebelum ia menelpon, malah Giselle dahulu yang menelponnya.
"Hm?" ujar Edward, sambil melepas dasinya. "Di mana kamu? Tumben belum pulang."
Sedangkan dari area Giselle, suara begitu ribut, membuat Edward semakin penasaran di mana istrinya itu berada.
"Giselle, kamu di mana?" tanyanya lagi, bukan bermaksud perhatian, hanya saja bertanggung jawab dengan istrinya meski pernikahan Merika hanya karena sama-sama terpaksa.
Giselle yang berada di sebuah tempat itu saling pandang dengan Shania, mereka berdua ragu untuk memberitahu Edward. Tetapi tidak ada lagi selain Edward untuk menjadi wali Giselle. "Edward aku ... aku di ... kantor polisi."
"What?" Edward terkejut bukan main. "Ngapain?"
"Nanti aja aku jelasin, kamu bisa ... ke sini nggak?" tanyanya terbata-bata.
Dari apartement-nya, Edward menghela napasnya berkali-kali. Ia tidak tahu apa lagi yang sudah Giselle perbuat kali ini hingga ia menerima kabar semengejutkan ini.
"Edward ... halo?"
Klik.
Edward mematikan sambungannya.
"Edward!"
Tut-tut.
"Ish!" kesal Giselle dengan wajahnya yang lumayan memar.
"Gimana?"
"Boro-boro, dimatiin! Dia nggak nanya aku di mana, langsung matiin aja!" jelasnya pada Shania.
"Terus gimana dong?" tanya Shania pada gadis itu. Mendadak muncul ide cemerlang di otaknya. "Nico! Gimana kalau minta tolong Nico?"
Giselle angguk-angguk, menyuruh Shania cepat menelpon Nico.
Berbeda dengan respon Edward, Nico langsung bergegas menuju kantor polisi tempat Giselle dan Shania berada.
Tidak butuh waktu lama, Nico hadir dengan pakaiannya yang rapi. Melihat Nico, Shania melupakan semua masalahnya di kantor polisi. Tak lama Nico datang, di belakang Nico ada sosok Edward yang hadir dengan setelan lebih rapi dari Nico.
"Lah itu," ujar Shania menunjuk kehadiran Edward.
Melihat kedatangan Edward, Giselle tersenyum dibuatnya.
Tak lama setelah Shania menelpon Nico tadi, Edward juga menelpon Nico. Maka dari itu Edward bisa mengetahui kantor polisi Giselle berada.
"Kamu urus jadi wakil mereka," perintah Edward yang matanya tak bisa lepas dari sosok Giselle yang sejak tadi sumringah melihat kehadirannya.
"Siap bos!" ucap Nico, ia langsung menghampiri petugas yang mengurus kasus Giselle dan Shania kali ini.
Kasus yang melibatkan Giselle dan Shania kali ini bisa dibilang kasus yang lumayan merajalela saat ini. Setelah Nico telusuri dengan pernyataan Giselle dan Shania, Shania mengaku bahwa ia telah menjadi korban begal salah satu bagian tubuh di area pantat.
Saat itu Shania dan Giselle baru keluar dari perpustakaan kampus untuk mengerjakan skripsi bersama. Baru Shania dan Giselle berjalan bersebelahan sekeluarnya dari kampus, saat berjalan di jalan utama kampus yang banyak kendaraan lalu lalang seorang pria yang tak ia kenal dengan tidak sopannya meremas bagian pantatnya karena Shania berjalan di pinggir.
Hal itu spontan membuat Shania berteriak, Giselle pun yang mengetahui hal itu langsung mengejar pria itu dengan kecepatan larinya yang bukan main sambil meminta tolong. Beberapa orang yang mendengar dan duduk di dudukan kampus, ikut mengejar pelaku hingga tertangkap.
Di saat tertangkap, Giselle yang sudah marah besar karena temannya menjadi korban pelecehan langsung menghajar wajah si pelaku dengan emosi. Si pelaku tak terima, ia balik menghajar Giselle hingga gadis itu tersungkur. Keributan terus terjadi ketika Shania ikut menyerang si pelaku. Beruntungnya, para penolong melerai mereka hingga pelaku diamankan sampai polisi datang.
Edward menghampiri gadis itu dengan langkah buru-buru. Ia bisa melihat gadis kecil itu kini sedang terluka, bahkan diujung bibir dan jidatnya berdarah meski darah itu sudah dibersihkan. Entah apa yang dilakukan pelaku itu kepadanya.
Melihat hal itu tentu saja Edward murka, ia juga tak tahu kenapa ia menjadi sangat marah melihat Giselle terluka. Tatapan Edward beralih pada pelaku yang kini sedang dimintai keterangan dan duduk tak jauh dari Nico. Edward berjalan menghampiri mereka, lalu ia menarik tubuh pelaku itu hingga berdiri berhadapan dengannya.
Tentunya hal itu membuat semua tercengan, terlebih Nico yang baru kali ini melihat Edward bisa se emosi itu.
"Kamu apain istri saya?" tanyanya mencekam, membuat Nico dan seorang polisi yang memintai keterangan itu menarik tubuhnya agar tak membuat keributan.
"Bos, tenang! Tenang," ujar Nico.
Edward masih menatapnya marah, hendak menghajar laki-laki itu tetapi Nico menahannya dengan kuat.
"Tenang pak, kita bisa selesaikan ini secara hukum!" ujar si polisi.
Pelaku itu tak berkutik, ia hanya menundukkan tatapannya dengan takut.
"Saya tidak mau berdamai, tolong hukum dia sesuai hukum berlaku," tegas Edward.
"Maaf ...."
"Saya tidak akan terima maaf dari kamu!" potong Edward.
Pelaku itu terdiam lagi.
"Giselle, serem juga suami lo kalau marah," bisik Shania.
Giselle melongo lagi, dia memang hobi melongo jika sedang terkejut.
"Tenang bro, biar gue yang urus," ucap Nico lagi. "Lo pulang aja, obtain istri lo. Shania biar pulang sama gue."
Edward mengembuskan napasnya yang berat berkali-kali, sampai akhirnya ia kembali menghampiri Giselle dan mengajak gadis itu pergi.
Edward mengendarai mobilnya dengan emosi yang masih membara. Melihat Giselle luka saja ia marah, apalagi jika sampai Giselle yang menjadi korban pelecehan itu. Ia rasa ia akan langsung menjebloskan si pelaku ke penjara dan menerornya sepanjang pelaku itu hidup.
Bukan, ini bukan karena ia mencintai Giselle. Ia rasa siapa saja seorang laki-laki pasti marah jika orang terdekatnya dilukai seperti ini.
"Laper," ucap Giselle di dalam keheningan sedari tadi.
Edward menghela napasnya. "Masih bisa lapar kamu di saat seperti ini?"
"Belum makan dari siang," ceritanya manja, meski ia tahu Edward tidak akan mempan jika ia bermanja-manja.
"Di apart ada Indomie, masak aja sendiri," jelasnya ketus.
Giselle mencibir, ia kesal lagi. "Kan aku lagi luka-luka, kamu lah yang masakin nanti."
"Siapa suruh kamu jadi pahlawan pakai sok kuat ngajak itu preman berantem?" tanya Edward sambil mengomel.
"Edward! Shania tuh di lecehin, ya jelas aku marah lah aku emosi jadi langsung aku hajar. Eh dia hajar balik ternyata," ceritanya lagi berapi-api.
Edward kembali menghela napas.
"Tapi seru sih, kaya di film gitu,” ujarnya sambil nyengir.
Kembali, lelaki itu menghela napasnya. "Mulai besok kamu harus ke kampus di antar jemput Nico, atau asisten aku yang lain."
"Hah?" Giselle terheran-heran sambil menatap Edward yang sibuk memarkir mobil. "Kok kamu jadi protektif, kamu suka aku ya?"
Pertanyaan Giselle membuat Edward kesal lagi. "Bukan karena saya suka kamu! Saya lakuin ini untuk menjaga kamu, kalau Oma dan Mami saya tahu kejadian ini pasti saya dimarahin habis-habisan karena dibilang nggak bisa jagain kamu."
"Ya tapi ini musibah nggak ada yang tahu, intinya Oma sama Mami kamu jangan sampai tahu."
"Nggak semudah itu, Giselle Oliver," tukas Edward yang sudah diam di kursinya tanpa mengemudi karena ia telah memarkir mobilnya dengan rapi. "Kamu pasti paham kan apa aja kelakuan Oma selama kamu udah jadi istri saya? Menguntit itu hal yang mudah buat mereka lakukan, tinggal suruh orang, lapor."
Giselle terdiam, yang Edward katakan sangat benar.
"Pokoknya besok jangan ke kampus dulu, tunggu sampai sembuh luka kamu. Terus untuk selanjutnya biar saya minta orang untuk antar jemput kamu."
Giselle melipat tangannya. "Nggak mau!"
"Giselle!"
"Aku nggak suka diginiin, Edward!" protesnya. "Nggak nyaman!"
"Makanya harusnya kamu bisa jaga diri selagi kemarin saya kasih kebebasan!" protes Edward balik. "Jangan kamu kira sayang nggak tahu ya kegiatan kamu di kampus kaya gimana."
"Kamu nguntit aku selama ini?"
"Bukan, Giselle! Oma yang kasih tahu, Oma ceritain semua kegiatan kamu termasuk hari ini pasti Oma akan tahu."
Giselle mulai emosi, rasanya hendak menangis. Menjadi menantu konglemerat memang tidak seindah bayangannya dahulu kala.
"Kenapa ... kenapa keluarga kamu ikut campur terus!" omelnya. "Aku tahu keluarga kamu sangat baik sama aku dan Mama aku yang masih di rumah sakit, tapi kenapa kalian malah ngawasin aku!"
Edward bungkam. Ia juga merasa bersalah, yang ia tahu begitulah Oma-nya. Bukan maksud ingin mengawasi dengan tujuan jahat, tujuannya sebenarnya baik, hanya saja caranya salah.
"Ya udah kita bicarain aja di apart," ajak Edward.
Giselle menggelengkan kepalanya. "Aku mau ketemu Oma, aku mau protes lagi! Aku nggak mau diawasin, aku bukan anak kecil."
"Biar saya yang bicara, kamu diam aja jangan ikut campur. Kita masuk dulu, udah malam."
"Nggak mau! Aku mau ketemu sekarang!" katanya ngotot.
"Giselle!"
"Temuin aku sama Oma sekarang, kalau nggak kamu turutin aku nggak mau keluar dari mobil."
"Ya udah terserah kamu, kamu di sini aja terus," ujar Edward menyerah.
"Oke, kalau kamu masuk, aku kabur," ancamnya. "Aku kabur ke tempat yang nggak bisa kamu temuin, toh uang saku aku udah banyak dari kamu. Aku bisa pakai itu."
"Giselle!" Edward naik pitam. Tak banyak bicara, ia keluar dari mobilnya. Ia tak keluar sendiri, ia membuka pintu sebelah Giselle lalu dengan kekuatan otot-nya ia menggendong gadis itu tanpa ragu.
"Edward! Apaan sih! Turunin!" protesnya saat Edward menggedongnya paksa. "Edward!"
Edward berjalan gagah, seperti tidak membawa beban mesti sedang menggedong Giselle di pundaknya.
"Edward! Gila! Malu!" ujarnya saat naik lift berbarengan dengan penghuni yang lain.
Tapi Edward tidak peduli, ia terus membawa tubuh gadis itu hingga masuk ke dalam apartementnya.
Giselle ia taruh di sofa ruang tengah, gadis itu sudah berkaca-kaca matanya. "Hiks, cowok gila!"
"Hufth ...."
"Kamu udah langgar janji!" omelnya sambi menangis sesunggukan.
Air mata Giselle berjatuhan.
Edward berjalan pergi meninggalkannya, tak lama ia kembali lagi sambil membawa kota P3K. Dengan romantisnya, lelaki itu mulai mengoleskan lagi antiseptik di luka yang ada di wajah Giselle.
Hal itu menghentikan isak tangis Giselle, Giselle kembali melongo karena sikap Edward yang seromantis itu.
Sentuhan dari Edward membuat jantungnya berdetak kencang, ia terperdaya dengan ketampanan dan perilaku Edward Van Lewis. Bahkan mata Giselle tak bisa sama sekali beralih dari wajah Edward.
'Tuhan ... perasaan apa ini? Kenapa aku deg-degan,' pikirnya dalam hati.
Usai membersihkan luka Giselle, Edward pun membelai rambut panjang gadis itu. "Kaki kamu ada yang luka juga?"
Giselle hanya bisa menggeleng kaku.
"Biasanya juga ada yang luka walau kamu pakai jeans panjang. Jadi nanti olesin ini kalau ada yang luka," ujar Edward sambil menunjuk kotak P3K itu.
Giselle mengangguk.
Tak hanya Giselle yang menatap, kini Edward yang tepat berada di depannya juga menatapnya dengan tatapan hangat. "Maaf ya udah buat kamu marah."
"...."
"Besok kita bicara sama Oma, jadi sekarang istirahat dulu. Oke?"
Seperti dihipnotis, Giselle hanya bisa mengangguk dan menggeleng.
"Di dapur ada Hokben, kamu makan aja. Tadi saya dapat dari kantor."
Giselle mengangguk lagi tak berkata apa-apa.
"Ya udah, good night," kata Edward dengan senyum tipisnya, lalu mengangkat tangannya dari kepala Giselle dan pergi ke lantai atas meninggalkan gadis itu.
Usai Edward pergi, napas Giselle berbunyi lumayan kencang, seperti habis lari marathon puluhan kilo. Ia celingak-celinguk, bahkan menepuk-nepuk wajahnya serasa sedang bermimpi.
Giselle tahu Edward di luar cuek dan di dalam perhatian, namun ia tak mengerti kenapa jadi salah tingkah seperti ini. Bahkan jantungnya berdetak kencang seperti orang sedang jatuh cinta.
Apa jangan-jangan Giselle memang mulai jatuh cinta pada suaminya itu?
Tidak, itu tidak mungkin. Lelaki seperti Edward yang hanya memanfaatkan kekuasaan untuk membeli waktu orang lain bukan lah tipenya. Tapi kenapa? Ah, sudahlah. Giselle rasa lebih baik saat ini ia makan karena perutnya terasa lapar.
***
Edward menepati janjinya. Pagi hari ia sudah membawa istrinya itu ke rumah Oma dan mengatakan apa yang ingin Giselle katakan.
Awalnya Oma dan Mami marah, marah pada Edward karena menantu mereka terluka atas kejadian kemarin malam. Tapi dengan penjelasan lembut dari Giselle, mereka bisa mengerti.
Giselle tidak hanya menjelaskan kejadian tadi malam, tapi dia juga ikut menjelaskan yang sudah Edward katakan perihal tidak nyaman karena terus diawasi. Tentunya Oma berdalih itu hanya demi kebaikan Giselle, tapi Giselle tetap ngotot akan pandangan kebebasan hidupnya walau ia adalah keluarga Van Lewis.
"Jadi tolong, jangan awasi Giselle lagi."
Oma dan Mami saling pandang.
"Giselle nggak nyaman, Oma ... lagian Giselle kan istri aku, biar aku yang awasi dia. Aku juga nggak suka kalau istri aku diawasi laki-laki lain walau laki-laki itu suruhan Oma," tambah Edward, mengibul.
"Kamu awasin gimana, buktinya Giselle sampe terluka," celoteh Oma.
"Please Oma, kalau Oma kaya gini ... Giselle beneran nggak nyaman kalau ketemu Oma. Giselle nggak mau ada penghalang rasa nyaman Giselle ke Oma hanya karena ini," sahut Giselle.
"Ya sudah Ma, kita turutin aja. Toh itu rumah tangga mereka," sambung Mami Bila.
"Hm ...." Oma berpikir sejenak. "Ya sudah lah, mau gimana lagi."
Giselle terlihat girang. "Janji Oma?"
Oma mengangguk.
Saat itu juga Giselle langsung menghamburkan pelukannya pada Oma, seperti anak pada ibunya. Ia juga memeluk Mami Bila, membuat Glenn tak bisa menyembunyikan senyumnya. Ia rasa ia tak salah memilih istri kontrak.
"Mumpung kalian di sini, kita makan bareng yuk," ajak Mami.
"Boleh, boleh," sahut Giselle semangat karena sedang happy.
"Aku nggak ikut ya, di kantor lagi banyak kerjaan," ujar Edward.
Mami dan Oma tampak kecewa.
"Sibuk terus, sekali-kali senang-senang dong. Masa istri kamu ditinggal," ujar Mami lagi.
"Persis kaya suami kamu, gila kerja," sindir Oma.
Edward hanya tersenyum.
"Ya sudah pergi aja sana," usir Oma.
Edward pun berdiri dari duduknya.
"Kita tunggu Nathan sekalian aja, dia lagi otewe," celetuk Oma, sepontan langkah kaki Edward tak jadi beranjak mendengar nama Nathan. "Nathan udah Oma suruh bawa sosis serenteng, Oma mau bakar sosis."
"Nathan ikut?" tanya Giselle.
Mami mengangguk. "Iya sayang, dia ikut."
"Kok nggak pergi-pergi, Ed?" tanya Oma. "Nggak jadi pergi?"
"Em, Edward lupa. Meeting-nya ternyata besok," bohongnya.
Oma terkekeh, ia sadar cucu pertamanya itu sedang berbohong dengan alasan klasik seperti itu hanya karena tidak ingin meninggalkan Giselle sendirian. "Ya udah, siapin sana grill-nya di taman belakang!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments