Menikah

Giselle Oliver tidak pernah menyangka sama sekali seumur hidup jika dia akan menikah di usianya yang masih dua puluh dua tahun, apalagi dia menikahi seorang laki-laki berusia yang berumur tiga puluh tahun.

Kini mereka saling bertukar cincin disaksikan oleh ribuan mata tamu yang datang di acara super mewah pernikahan cucu keluarga Van Lewis. Pesta yang diadakan pun bertempat di hotel bintang lima keluarga Van Lewis, ballroomnya super besar dan bisa menampung lima ribu manusia.

Ballroom yang mewah ditambah dekor yang aesthetic dengan nuansa putih membuat siapa saja meninggalkan kesan kagum. Puluhan ribu mawar putih berjejer tersusun rapi di panggung utama dan jalan pengantin. Belum lagi makanan yang disajikan begitu bervariasi mulai dari Indonesia food, Italian Food, Japanese food, dan masih banyak lagi.

Tak hanya itu, bahkan pernikahan mewah itu memanggil penyanyi ternama dan orkestra yang menghibur para tamu. Sebenarnya jangankan mengundang penyanyi lokal, jika Giselle meminta syarat untuk mengundang penyanyi idolanya pun Edward bisa sekali memenuhinya. Hanya saja Giselle tahu diri, pernikahan ini hanyalah bisnis baginya dan Edward sehingga ia hanya mngikuti alur yang sudah dipersiapkan.

"Cium! Cium! Cium!" sorak para tamu termasuk oma dan orang tua Edward kegirangan usai pertukaran cincin itu. Mereka juga bertepuk tangan dan mengelilingi pengantin yang ada di tengah panggung kecil untuk berdansa itu.

Giselle dan Edward saling pandang.

Edward amat tampan apalagi dengan setelan jas mewahnya yang harganya begitu fantastis. Begitu juga dengan Giselle, anak kuliahan yang sedang menggunakan gaun putih pengantin ala Asia Timur itu sangat cantik dengan make up tipis natural, ditambah rambutnya yang tersanggul modern.

"Cium! Cium!" sorak mereka lagi.

Giselle yang kini ada di depan Edward hanya bisa meneguk air liurnya saat setengan badannya dipeluk oleh Edward dan melihat kepala Edward yang semakin maju menuju wajahnya secara perlahan hingga bibir Edward mengepuk keningnya dengan hangat.

"Huuuu!!"

Prok-prok-prok.

Tepuk tangan para tamu dan lainnya membuat wajah Giselle dan Edward memerah. Untungnya sebelum menikah Edward dan Giselle sudah membuat kesepakatan, jika ada permintaan cium dari para tamu mereka hanya akan berciuman sebatas dahi saja.

Usai tukar cincin dan kecup dahi, mereka melanjutkan pemotongan kue pernikahan yang amat besar. Setelah itu, melodi dari para pemain orkestra melantunkan irama lagu berjudul So Close by Jon Mclauglhin dan dinyanyikan oleh penyanyi kelas atas tersebut.

Selama lagu itu melantun, para tamu yang ingin berdansa diperkenankan berdansa di tempat yang disediakan. Begitu juga dengan Edward dan Giselle yang tampak menikmati lagu sambil berdansa tanpa ada rasa kaku satu sama lain.

Dansa yang dibawakan oleh pengantin itu mendapat big applause dari para tamu. Mereka berdua mengucapkan terima kasih dengan sedikit membungkuk kemudian melanjutkan acara ramah tamah dan makan-makan.

"Giselle! Gue happy banget, gue sampai nangis terharu lihat lo pas udah sah sama Edward," ucap Shania yang masih tak bisa menahan tetesan air matanya saat Giselle menghampirinya.

"Selamat ya, bahagia selalu," ucap Morgan yang datang dengan kekasihnya. Kekasih Morgan juga mengucapkan selamat pada Giselle.

Giselle mengangguk dan menahan sedihnya. Sebenarnya pernikahan ini bukan yang ia impikan, yang ia impikan adalah menikah dengan orang yang ia suka.

"Giselle! Lo walau udah jadi crazy rich bakal masih nongkrong sama kita kan?" ujar Shania lagi.

Giselle tertawa dibuatnya. "Yaiya lah, gue juga masih ke kampus kali buat ngurus skripsi."

Giselle dan Shania masih asik berbincang, sedangkan Morgan dan kekasihnya menjauh. Dua sahabat itu seakan sudah lama tidak bertemu, meski faktanya mereka hanya tidak bertemu dua minggu karena Giselle amat sibuk mengurus pernikahannya dengan keluarga konglomerat.

"Males banget gue, ceweknya Morgan tuh judes banget," cerita Shania.

"Erna masa judes sih?" tanya Giselle penasaran sambil melihat arah Erna dan Morgan.

Shania mengangguk. "Banget, manja lagi. Kok betah ya Morgan sama dia."

"Ya namanya juga cinta."

"Kaya lo ya, saking takutnya Edward direbut orang karena banyak yang ngincar jadi lo nikah diumur muda," ledek Shania.

"Apaan sih lo rese!"

"Yes bentar lagi gue punya keponakan!"

"Shania!"

"Hahaha!"

Giselle menggerutu, ia berniat meninggalkan Shania yang membuatnya kesal dengan membalikkan badan. Baru saja berbalik tubuhnya menabrak Edward dengan tidak sengaja.

"Hai kakak ipar!" sapa Shania tak tau malu sambil tertawa riang.

Edward hanya membalas senyum Shania dengan seutas senyum lalu mengalihkan pandangannya pada istri sahnya itu. "Udah mainnya?"

Giselle mencibir. "Aku nggak main, cuma nyapa teman aku."

Edward menahan tawanya melihat ekspersi Giselle. Wajar saja Giselle terlihat seperi sedang main, karena dari tadi Edward mengamati istrinya itu hanya berdiri bersama dengan Shania. Berbeda dengannya yang sibuk menyapa para pebisinis.

"Yuk ke panggung, Oma mau ngobrol."

Giselle mengiyakan, ia meninggalkan Shania dan Edward menyuruh Nico untuk menemani teman Giselle satu-satunya itu.

Nico dan Shania membaur bagai air tepung, begitu cepat. Meski baru bertemu beberapa kali, Shania merasa tertarik dengan asisten Edward yang memiliki sikap periang dan ramah itu.

"Oh jadi kamu anak kosan di sini?"

Shania mengangguk mendengar pertanyaan Nico. "Mas ganteng sendiri? Asli sini?"

"Kalau saya sih asli sini. Kalau adek cantik sering pulang ke kampung?" tanya Nico lagi.

Shania tersipu malu saat Nico menyebutnya adik cantik. "Jarang mas ganteng. Hihihi."

"Tuh lihat deh teman kamu, beruntung banget jadi bagian keluarga Edward," tunjuk Nico ke arah perkumpulan keluarga Van Lewis yang mana terlihat Giselle sedang disambut dengan ramah oleh keluarga Edward lainnya yang datang dari berbagai pulau dan negara.

Meski semua keluarga Edward ramah padanya, namun ada beberapa orang yang tampak tak suka dengannya, mereka adalah sepupu-sepupu seumuran Edward dan mayoritas berjenis kelamin perempuan. Entah apa yang membuat raut wajah mereka masam pada Giselle, Giselle tidak peduli sama sekali.

Ia lebih peduli dan khawatir saat kini Oma dan Mama Edward mendudukkannya di sebuah meja bersama Edward dan tanpa basa-basi menyuruhnya agar cepat melahirkan cucu.

"Oma, Mam ... Giselle kan masih kuliah, tunggu habis dia kuliah selesai baru minta cucu dong," tawar Edward yang sadar jika istrinya kini sedang salah tingkah karena permintaan itu.

Oma memasang wajah ngambeknya lagi. "Kalau Oma keburu mati gimana?"

"Oma jangan bilang gitu!" sahut Giselle. "Oma pasti berumur panjang."

"Makanya beri Oma cucu, ya?" pinta Oma lagi kenak-kanakan.

Giselle meneguk air liurnya.

"Lagi pula kamu masih muda, pasti subur," sahut Hanabila Ibunda Edward tak kalah heboh. "Mama juga nggak sabar loh."

Edward menghela napasnya.

"Kalian tuh juga, bikin Oma hampir shock. Kata kemarin di rumah cuman berteman, nggak taunya pacaran," bahas Oma lagi yang kesekian kalinya mengingat kejadian waktu itu, saat Giselle naik motor ke kediamannya hujan-hujanan. "Keterlaluan kamu Edward, masa ia gadis kecil kaya dia sampai hujan-hujanan ngejar kamu karena berantem hal sepele dan kamu nggak maafin."

"Oma udah bahas ini berapa kali? Toh Edward udah minta maaf," kesal Edward tapi masih sabar menghadapi Omanya itu.

Itulah skenario Edward kala itu, usai di depan kamar Giselle menyetujui penawarannya untuk menikah kontrak mereka langsung menjelaskan kepada Oma dan Hanabila bahwa mereka sebenarnya sedang menjalin hubungan, meski nyatanya tidak.

***

Pesta pernikahan berakhir pukul setengah sembilan malam, para tamu sudah meninggalkan jejak mereka. Para penyelenggara sibuk membereskan sisa-sisa pernikahan di dalam ballroom dan para keluarga Van Lewis mulai kelelahan sehingga masuk ke kamar hotel masing-masing.

Begitu juga dengan pengantin baru itu, mereka menginap di kamar paling mewah tipe Suite. Kamarnya begitu lebar, ada mini bathup, ada kolam renang kecil hanya untuk berendam, kasur jumbo, dan tatanan super elegant.

Tentu saja mereka grogi karena satu kamar, tapi karena perjanjian mereka yang tak akan saling menyentuh mereka pun bersikap professional.

"Kok kasurnya cuman satu?" tanya Giselle saat pertama kali menginjakkan kakinya.

Edward menghela napasnya, padahal di tipe ini seharusnya memiliki dua kasur tetapi saat ia masuk hanya satu kasur. Ia yakin Oma dan Mamanya lah yang meminta pihak hotel untuk menyingkirkan satu kasur agar mereka bisa tidur bersama. "Yaudah kamu aja tidur di sana, saya tidur di sini," ujar Edward sambil menepuk sofa di dekatnya.

Giselle mengangguk tanda mengerti lalu berjalan ke arah meja rias dan duduk di kursinya. Ia melepaskan satu persatu benda-benda yang membuat rambutnya menjadi ke atas itu dengan hati-hati sedangkan Edward tak perlu susah-susah, ia tinggal mandi dan tidur saja.

"Bantuin kek!" omel Giselle yang tampak kesulitan melepas jepitan-jepitan di belakang kepala.

"Harus saya bantuin kamu?" tanya Edward pada gadis yang masih menggunakan gaun pengantin itu. "Mending kamu ganti pakaian dulu, ribet banget pakai gaun seperti itu."

"Ya biar sekalian, bersihin make up baru mandi," jelasnya. "Ayolah bantuin!" ujarnya lagi.

Edward mengalah, ia membantu Giselle melepaskan jepitan-jepitan sebisanya.

"Aduh sakit!" omel Giselle saat Edward tidak sengaja menarik rambutnya yang terjebak di kancing kemeja Edward. "Argh, argh jangan ditarik!"

Edward pun bingung, saking panjangnya rambut Giselle ia bingung bagaimana caranya agar rambut itu lolos dari kancingnya.

"Om! Sakit!" rintihnya lagi.

"Saya bukan om!" omel Edward di sela-sela ia mencoba melepaskan lilitan rambut itu. "Gunting aja ya?"

"Gila! Jangan lah!"

"Terus gimana benerinnya? Saya nggak bisa!"

Yang Giselle lakukan diluar dugaan, ia menyuruh Edward mendekatkan bagian kancing yang melilit rambutnya ke arahnya lalu mengigiti rambut itu dengan giginya karena tak ada gunting di dalam kamar. Alhasil lipstick Giselle menempel disekitar tangan dan pakaian kemeja Edward.

"Udah deh nggak usah bantu, mandi aja sana biar gentian!" omel Giselle saat rambutnya telah lepas.

"Saya kan emang nggak mau bantu, kamu yang maksa!" protes Edward lagi sebelum berjalan ke arah kamar mandi.

Di saat Edward mandi, Giselle membersihkan wajahnya dengan berkali-kali hingga make up itu tampak hilang di wajahnya.

Sekitar tiga puluh menit Edward di kamar mandi, laki-laki itu keluar menggenakan piyama dan rambutnya yang basah. Kini giliran Giselle yang masuk ke area kamar mandi.

Ia mencoba melepaskan gaun pengantinnya, namun tak bisa karena tangannya tak mampu menjangkau kancing-kancing dibelakang punggungnya. Berkali-kali ia berusaha sampai lelah, menghapad kaca, duduk di lantai area kamar mandi, tetap saja ia tak bisa melepaskan kancing itu.

"Mampus, gimana lepasnya," gerutunya. "Oh iya, gue minta bantuan pihak hotel aja!"

Gadis itu keluar lagi dari kamar mandi, ia mendapati suaminya itu tengah duduk di sofa sambil merilekskan diri. Ia mengambil ganggang telpon dan ia arahkan ke telinganya, tetapi tidak ada nada sambung.

"Ed, Edward!" panggilnya.

"Hm?" ujar Edward yang sudah terlihat pewe dan tinggal tidur saja.

"Ini telponnya rusak ya?" tanyanya.

"Nggak mungkin lah telponnya rusak."

"Ini nggak ada suaranya."

"Ada lah pasti."

"Nggak ada ih nggak percaya banget."

Kecerewetan Giselle membuat Edward bangkit dari rebahan, tetapi setelah ia cek memang benar. Tak ada sambungan telpon.

"Kan nggak bisa kan?" tanya Giselle memastikan.

"Emang kamu mau ngapain mau telpon siapa?" tanya Edward.

"Resepsionis, mau minta tolong bukain kancing gaun nih banyak banget di punggung," jelas Giselle.

Edward menghela napasnya. Ia berniat mengambil ponselnya, tetapi ia baru ingat ponselnya ia titipkan pada Nico. "Yaudah saya ambil hape sekalian minta tolong ke resepsionis," katanya mengalah.

Giselle mengangguk mengiyakan.

Krek-krek.

"Kok nggak bisa?" tanya Edward bingung saat mencoba membuka pintu kamarnya.

"Kenapa?" tanya Giselle penasaran.

Krek-krek.

Pintu kamarnya benar-benar terkunci, tidak bisa terbuka.

"Nggak bisa dibuka?" tanya Giselle lagi.

Edward masih bingung, ia coba berkali-kali tetapi tidak bisa terbuka hingga akhirnya otak jeniusnya sadar, ini semua pasti olah Oma dan Mamanya yang sengaja mengurungnya dengan Giselle agar tidak keluyuran.

"Kok nggak bisa dibuka?" tanya Giselle lagi, saat mencoba membuka pintu.

"Hufth, hape kamu mana?" tanya Edward.

"Di bawa Mama kamu," jawabnya dengan tatapan polos dan bingung.

Edward menghela berat napasnya. "Kita dikunciin, jadi nggak bisa keluar."

"What?" Bola mata Giselle mendelik. "Why? Kenapa?"

"Oma sama Mama emang gitu, ini pasti ulah mereka biar kita konsen malam pertama."

Giselle mendengus kesal. "Terus ini gimana?" tanyanya pada Edward.

"Yaudah sini saya bantu buka," ujar Edward tak mau ribet.

"Gila! Kamu liat punggung aku dong kalau kamu yang buka!" omelnya sambil meletakkan tangannya dengan tanda silang di dada.

"Giselle, saya bukan cowok mesum. Mau kamu bugil juga saya ngak akan sentuh kamu," jelas Edward kesal.

Giselle menggelengkan kepalanya.

"Yaudah kamu tidur aja pakai gaun kamu yang ribet itu," ujar Edward makin tak mau pusing karena badannya sudah lelah dan hatinya kesal karena kekonyolan ini.

"Yaudah bantuin!" serunya cepat.

Sambil melepas kancing-kancing gaun Giselle, Giselle terlebih dahulu menutup kepala Edward dengan handuk bekas Edward tadi agar Edward tak bisa melihatnya tanpa busana. Jadi lelaki itu hanya menerka dengan tangan di setiap kancing dari atas hingga bawah ia lepas satu per satu.

"Udah, udah!" ujar Giselle, ia langsung berlari cepat masuk ke kamar mandi dan menutup pintu dengan kencang.

Brak.

Usai pintu itu tertutup, barulah Edward melepaskan handuk di kepalanya. Laki-laki itu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil melihat ke kamar mandi. "Gini banget punya istri masih bocil."

Edward kembali merebahkan dirinya di sofa untuk melepas penat, sedangkan Giselle membasahi seluruh tubuh termasuk rambutnya hingga bersih dan memakan waktu lebih dari setengah jam.

Usai tubuhnya wangi, ia mengeringkan tubuhnya dengan handuk sambil membuka koper yang sudah ia bawa untuk mengambil selembar piyama tidur yang sudah ia siapkan.

Hanya saja ia semakin terkejut, yang ia temukan saat membuka kopernya bukanlah piyama yang sudah ia siapkan tetapi sebuah baju dinas malam pertama dengan model super seksi dengan kain terawang.

Mulutnya sampai menganga. Bagaimana bisa lingerie transparan ini bisa ada di dalam kopernya? Di mana piyama tidur kesayangannya? Apa ini semua juga ulah Oma dan Mama Edward?

"ARGHHH!" teriaknya kencang, membangungkan Edward yang sudah tertidur sebentar. "Hiks ... hiks," tangisnya kesal.

Edward langsung bangun dari sofa dan bergegas menuju arah teriakan itu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!