Mulai Suka

Bola mata Edward terus mengikuti arah pukul dua belas, karena di sana istrinya dan Nathan tampak asik bersama. Entah apa yang mereka berdua obrol dan candakan, yang jelas Giselle sampai tertawa terbahak-bahak.

Edward risih, masalahnya sejak tadi dua manusia itu membuat kebisingan saja sedangkan ia sibuk berkerja melalui ponsel.

"Masa sih? Hahaha," tawa Giselle saat Nathan bercerita tentang kebaikan hatinya sebagai CEO hotel dan kebaikannya malah dimanfaatkan oleh para pekerja.

Nathan mengangguk sambil sibuk memanggang sosis. Saat melihat ada kotoran arang di wajah gadis itu, dengan sigapnya ia menghapusnya. Hal itu tentu semakin membuat Edward tak bisa tinggal diam, Edward menghampiri mereka lalu menarik Giselle menjauh dari Edward.

Giselle keheranan, tapi lagi-lagi mendapat perlakuan seperti ini dari Edward membuat jantungnya berdetak kencang.

'Tuhan, perasaan apa ini. Kenapa aku senang banget diginiin Edward.’

"Aku, aku cuma bersihin mukanya tadi kotor," jelas Nathan meski Edward tidak meminta penjelasannya. "Nggak usah cemburu."

'Cemburu? Apa Edward emang cemburu?'

Giselle tak bisa membendung senyumnya.

Di saat itu juga, ponsel di tangan Edward bergetar. Sebuah nomor asing ia angkat tanpa ragu. Tidak tahu siapa itu, baru beberapa detik Edward mengangkat panggilan, raut wajah Edward berubah, ia seperti orang kebingungan.

"Giselle, saya ada urusan mendadak. Nanti kamu pulang diantar sopir Oma ya!" ujar Edward, tak menunggu balasan Giselle, ia langsung pergi cepat meninggalkan kediaman rumah Oma.

'Edward? Kenapa? Kamu kenapa terburu-buru?' batinnya, agak kecewa.

"Nanti biar aku antar," tawar Nathan, ia paham gadis itu kecewa.

Giselle mengalihkan pandangannya pada Nathan. "Tapi aku nggak langsung pulang."

"Mau ke mana?"

"Jenguk Mama aku di rumah sakit."

"Ya udah aku temani, kan kita saudara harus saling membantu."

Senyum Giselle kembali mengambang.

...****************...

Berbeda dari kunjungan sebelumnya yang biasanya ditemani oleh Edward, siang ini gadis itu duduk di dudukan salah satu kamar VVIP dengan Nathan. Nathan bisa melihat, betapa rindunya Giselle pada sosok yang kini terbaring lemas tak berdaya tersebut.

Yang gadis itu lakukan hanya menyeka beberapa bagian tubuh sang Ibu dengan air hangat sambil mengajak berbicara meski tak ada balasan. Giselle memang setegar itu, seakan hatinya terbuat dari tembok cina.

"Aku tahu kok rasanya kehilangan," ujar Nathan yang sejak tadi berdiri di belakang Giselle. "Waktu Papa meninggal, aku juga terpukul. Apalagi kamu."

Giselle tak menanggapi Nathan, ia hanya mencoba tersenyum.

"Yakin aja, pasti suatu saat Mama kamu bakal siuman," ujarnya lagi sambil menepuk pundak Giselle.

"Cuman keajaiban," sahut Giselle. "Syaraf otak Mama udah nggak berfungsi, ibaratnya udah mati otak."

"Giselle ...."

"Harapannya sangat amat kecil, Nathan." Gadis itu beranjak dari duduknya, lalu kembali memasangkan selimut sebatas perut untuk sang Ibu. "Tapi bukannya kehidupan emang gitu? Bertemu lalu berpisah?"

Yang Nathan tangkap, gadis di depannya itu hanya berpura-pura tegar saat ini.

"Udah yuk, kita balik!" ajak Giselle.

Nathan mengangguk.

"Ma, Giselle balik dulu ya. Sampai jumpa minggu depan," ujarnya, kemudian membalikkan badannya yang diikuti oleh Nathan.

Mereka berdua berjalan berdampingan, saat berjalan Nathan mencoba menghibur gadis itu dengan ceritanya yang lebih menyedihkan terkait hidupnya saat Ayahnya sudah meninggal. Ia harap dengan begitu, Giselle bisa lebih membaik.

Hanya saja langkah Giselle dan Nathan berhenti bersamaan, seseorang yang tak asing tampak memasuki sebuah kamar perawatan. Tanpa pikir panjang, Giselle yang penasaran pun langsung melangkahkan kakinya menuju ruangan tersebut. Nathan masih mengikutinya.

Langkah Giselle terhenti, dari bilik kaca di pintu itu bisa melihat dengan jelas bahwa kini Edward yang tadi pergi mendadak sedang ada di ruangan itu. Lebih terkejutnya lagi, kini Edward sedang dipeluk oleh seorang perempuan yang pernah berkenalan dengannya.

Nathan buru-buru menarik Giselle menjauh, menjauh sejauh mungkin karena gadis itu tidak berbuat apa-apa, hanya mengikuti langkahnya hingga sampai di area parkiran mobil.

Giselle shock berat, entah kenapa hatinya jadi terluka padahal dia dan Edward tidak saling cinta, mereka hanya menikah kontrak. Namun, kenapa melihat hal itu membuatnya menjadi sangat sedih dan marah? Rasanya tidak terima sampai ia mematung seperti ini.

"Jangan salah paham," ucap Nathan, meraih pundak gadis itu. "Aku yakin mereka nggak ada hubungan apa-apa."

Giselle mencoba bersikap biasa saja. "Em, iya tenang aja. Aku yakin kok tadi cuman nggak sengaja."

"Laura emang masih suka sama Edward, tapi Edward kayaknya nggak ngerespon dia. Jadi jangan khawatir."

Iya, Edward memang tidak merespon Laura. Terlihat jelas tadi yang memeluk dahulu adalah Laura sedangkan Edward tidak melakukan apa pun. Tapi tetap saja ini salah bukan?

"Jadi Laura masih suka sama Edward?" tanya Giselle. "Aku kira itu cuman masa lalu mereka, aku kira mereka udah nggak ada perasaan apa-apa."

Nathan menghela napasnya. "Giselle ...."

"Hm?" ujarnya sambil mendongakkan wajah.

Nathan menatapnya dengan penuh makna. "Kalau Edward nggak bisa bahagian kamu, biar aku yang bahagiain kamu."

Kalimat Nathan semakin membuatnya tercengang.

"Tenang aja, aku akan selalu ada buat kamu."

Giselle tak mengerti apa maksud dari Nathan, ia melepaskan tangan Nathan dari pundaknya. "Nathan, maksud kamu ...."

"Wajar Laura masih suka sama Edward, karena cinta mereka belum usai. Jadi aku udah prediksi, kedatangan Laura pasti akan berimbas sama hubungan kamu dengan Edward."

"Nathan ...."

"Jadi tenang, aku pasti jagain kamu."

"Nathan, aku ini istrinya Edward dan kamu sepupunya. Kamu nggak boleh bilang gini," tegurnya dengan halus.

"Aku nggak peduli, aku nggak peduli kamu istri Edward. Yang jelas, aku akan bahagian dan lindungin kamu."

"Nathan." Giselle tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya melongo, seakan ini mimpi.

Bisa-bisanya Edward dipeluk Laura dan kini Nathan menunjukkan rasa suka padanya yang sudah bersuami.

"Cukup Laura aja dulu yang terluka karena Edward, aku nggak mau kamu terluka juga."

"Makasih, Nathan. Tapi yang perlu kamu lakukan cuman satu, jangan kaya gini. Aku nggak mau pernyataan kamu ini membuat hubungan pertemanan kita jadi nggak nyaman."

Nathan mendengus.

"Aku anggap kamu nggak pernah kaya gini, jadi tolong jangan kaya gini lagi."

"Giselle ...."

"Please," pintanya.

Nathan menyerah, ia mengangguk. "Sori."

Giselle berusaha bersikap baik-baik saja, meski hatinya kacau balau. "Yuk balik!"

Seorang laki-laki mengungkapkan rasa suka pada Giselle bukan lah hal luar biasa. Faktanya Giselle memang sering kali di tembak oleh para lelaki, jadi ia sudah biasa. Hanya saja kali ini agak lain karena yang menyatakan rasa tertarik padanya adalah sepupu dari suaminya sendiri.

Meski Edward dan dirinya menikah kontrak, bukankah aneh jika sepupu Edward berkata seperti itu? Bahkan membawa masa lalu Edward yang terkesan melukai Laura.

Tetapi mengingat kebaikan Nathan, Giselle tidak bisa berbuat apa-apa selain menganggapnya seperti tidak pernah terjadi.

...****************...

Sedangkan di dalam ruang perawatan, saat dia dengan lancangnya dipeluk oleh mantan kekasihnya, ia langsung melepaskan pelukan itu.

Laura terkejut, laki-laki yang bernaung dihatinya menjadi sedingin ini padanya.

"Edward," ucapnya dibalik wajahnya yang pucat.

Edward meletakkan makanan pesanan Laura di atas meja. "Jangan kelewatan, aku udah menikah," ujarnya tegas.

"Kamu masih sayang kan sama aku?" tanya Laura, membuat Edward mempertaman tatapannya. "Nggak mungkin kamu buru-buru ke sini kalau kamu nggak ada perasaan sama aku."

"Laura, aku ke sini karena kamu nggak ada wali di sini waktu perawat hubungin aku. Jadi wajar kan aku buru-buru ke sini di saat rekan aku sakit?" tanya Edward balik.

"Jangan bohong!"

"Aku nggak bohong, rasa aku ke kamu udah nggak ada!"

"Kamu cuman cinta sama aku," ujarnya sambil menangis. "Aku tahu kamu masih sayang sama aku Edward!"

Edward hening, ia tak bisa melihat tangisan wanita.

"Kamu waktu itu sengaja kan cium Giselle di depan mata aku biar aku cemburu?"

"...."

"Kamu menikah cuman terpaksa karena di desak Oma, ya kan? Hiks...."

"Laura!" potong Edward. "Aku menikah karena aku emang cinta sama dia, bukan karena terpaksa!"

"Edward, aku udah kenal kamu lama. Aku tahu kamu kaya gimana jadi jangan bohong!"

"...."

"Hubungan kita belum berakhir Edward, kita belum ada kata putus."

"Bagi aku, hubungan kita sudah berakhir lama sejak kejadian itu, Laura."

"Kamu salah paham! Berapa kali harus aku bilang, aku sama Nathan di Beijing itu nggak pernah pacarana sama sekali, kita cuma teman aja!"

Edward memandangnya masam. Kejadian beberapa tahun silam memang membuatnya sangat marah hingga malas untuk berpacaran karena tak bisa lagi mempercayai lagi yang namanya wanita. "Nggak ada orang cuman berteman tapi tidur satu ranjang."

Laura masih menangis sambil tersedu-sedu. "Hiks ... itu kita lagi mabuk, tapi kita nggak ngapa-ngapain."

"Andai waktu itu teman kamu nggak upload story, aku nggak bakal tahu tentang itu karena kamu nggak akan cerita ke aku. Ya kan?"

"Edward, sumpah aku nggak ngapa-ngapain. Aku sama Nathan cuman teman aja!"

"Aku nggak peduli Laura, yang jelas saat ini aku udah punya istri dan kamu udah nggak ada lagi hak untuk mempermainkan aku kaya gini."

Edward membalikkan tubuhnya, meninggalkan Laura yang masih memanggil namanya berkali-kali agar tidak pergi. Namun Edward tetapi pergi meninggalkannya, tidak peduli apa kata Laura. Ia berjalan menjauh.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!