Orang Ketiga

Tatapan Edward ke arah Nathan semakin berkobar, seakan ada dendam yang tak tersampaikan. "Don't touch my girl!" terang Edward.

Kalimat Edward membuat Giselle melongo, bisa-bisanya Edward berkata seperti itu. Seperti sedang syuting film.

Edward langsung menarik Giselle memasuki rumah kediaman Oma, melewati Oma dan orang tuanya yang sedang karaokean bersama tamu yang lain di panggung yang sudah di sediakan.

Langkah panjang Edward membuat langkah Giselle sedikit berlari. Edward membawa gadis itu ke kamarnya di lantai dua yang hampir tak pernah ia tempati sejak tinggal di apartement.

"Edward apaan sih! Kaya dikejar anjing aja," celetuk Giselle dengan napasnya yang ngos-ngosan.

Edward menatapnya dengan tatapan marah. "Saya sudah bilang kan, jaga diri baik-baik. Jangan libatkan laki-laki lain biar nggak jadi perbincangan orang!"

"Kok kamu marah? Kan tadi nggak sengaja, Nathan cuman nolongin aku!" balasnya kesal.

"Giselle! Di sana banyak orang, apa kata orang kalau istri saya sedekat itu sama laki-laki lain walau Nathan itu sepupu saya sendiri?" Edward makin mengomel.

"Yaudah nggak usah marah-marah, iya-iya maaf!" ujarnya kesal.

Edward menghela napasnya beberapa kali, mencoba menurunkan emosinya agar tidak semakin marah.

"Nyuruh orang jaga jarak sama cowok, dianya sendiri malah kumpul sama mantan," ujar Giselle kecil sambil mencibir.

"Apa kamu bilang?" tanya Edward, yang tak sengaja mendengar cacian Giselle.

"Nothing."

"Kamu bilang apa? Saya tanya tolong dijawab."

Giliran Giselle yang menghela napasnya. "Kamu nyuruh aku jaga jarak sama cowok, tapi kamu sendiri berduan sama mantan kamu. Adil nggak tuh?"

Edward memicingkan matanya. "Nathan yang beri tahu kamu kalau Laura mantan saya?"

"Iya lah, masa burung hantu." Usai berkata itu, ia sadar sudah melanggar janji. Padahal baru saja ia berjanji pada Nathan, akan pura-pura tidak tahu tentang hal itu. Spontan Giselle menepuk mulutnya beberapa kali.

Edward membuang muka, rasanya hendak ia marah apalagi dengan ulah Nathan yang sudah mengompor-ngompori Giselle hari ini.

"Kenapa? Mau marah lagi sama Nathan?" tanya Giselle. "Kan bener kan, kamu larang aku tapi kamu lakuin hal itu."

"Kamu yang kasih ijin Laura untuk berbincang sama saya, ingat?"

Giselle diam sebentar, tapi ia tak mau kalah. "Mana aku tahu dia mantan kamu, kalau Nathan nggak kasih tahu nggak miungkin aku tahu."

"Nathan lagi Nathan lagi. Suami kamu itu saya atau Nathan?"

"Kan kita cuman kontrak!" kata Giselle mempertegas dengan suara kecil. "Ingat, jangan ikut campur urusan pribadi."

"Urusan kamu itu urusan saya!"

"Dasar egois!" omel Giselle, berjalan melalui sosok Edward lalu keluar dari kamar. Ia memilih pergi, daripada bertengkar tidak jelas seperti ini. Jika Giselle marah, yang ada dia makin menjadi-jadi kepada Edward.

Giselle melangkah cepat dengan emosi meluap, tak kalah meluap dari Edward. Ia heran apa salahnya, kenapa Edward selalu marah padanya dan ia yang selalu mengalah. Padahal jelas-jelas ini juga bukan salahnya seutuhnya, tetap saja Edward menyalahkannya.

Saat menuruni anak tangga, Giselle bisa melihat Nathan dan Laura yang juga menatap ke arahnya. Dua manusia itu terlihat baru masuk ke area rumah karena ingin melepaskan diri dari keramaian orang karaokean di luar sana.

Giselle secepat mungkin memperbaiki wajahnya yang merengut, ia tersenyum membalas senyum Nathan dan Laura ke arahnya. Tetapi saat ia sedang menuruni anak tangga, tiba-tiba Edward menyalip langkahnya. Edward berdiri menghentikan langkahnya dan menghadap ke arah Giselle.

Dengan gerak cepat, Edward yang berdiri satu tangga lebih rendah dari Giselle itu meraih wajah Giselle dengan tangan kanannya ke arah wajahnya.

Kiss.

Laki-laki berusia tiga puluh tahun itu tanpa ragu mengecup bibir Giselle di depan Nathan dan Laura. Bahkan tangan lelaki itu kini melingkar di pinggul Giselle, membuat tubuh mereka berhimpitan satu sama lain.

Giselle tidak bisa menutup matanya, bola matanya membelalak di saat Edward mengecupnya semakin dalam dan bibirnya terasa manis, mungkin karena Edward baru meminum minuman soda.

Laura dan Nathan yang ikut terkejut, langsung membalikkan tubuh. Seakan tak melihat kejadian itu. Padahal dalam hati mereka, mereka sedang shock terapi.

Perlahan Edward melepaskan bibir Giselle dari bibirnya, dengan tatapan hangat ia menatap gadis cantik berwajah menyebalkan tersebut. "Maaf ya udah marah," ujarnya lembut.

Giselle tak bisa berkata apa-apa, ia hanya bisa mengedipkan matanya. Sebenarnya yang ingin ia lakukan saat ini adalah menimpuk kepala Edward, atau paling tidak menginjak kaki Edward karena sudah dengan lancing mencium bibirnya yang masih belum ternoda oleh sentuhan lelaki. Tetapi tidak mungkin ia bertindak sejahat itu di kala ada Nathan dan Laura di bawah sana.

"Sial," umpat Giselle kecil, namun terdengar di telinga Edward. "Awas lo sampai rumah," gumamnya. "Selamat lo di sini gue sok cool karena ada Laura sama Nathan, tapi sampai apart gue cincang lo."

Mendengar umpatan itu, Edward tak bisa menahan tawanya. Bukannya takut apalagi marah dengan ancaman Giselle, ia malah mengcak-acak rambut Giselle kemudian menggenggam tangan gadis itu untuk berjalan bersamanya hingga terlihat mesra.

Edward menggandeng gadis itu sampai ke arah Nathan dan Laura berdiri. "Sori, kita pulang duluan. Giselle ngambek, capek katanya."

Giselle makin tak percaya, bisa-bisanya suaminya itu mengkambing hitamkan dirinya. Namun di saat itu ia bisa melihat, sebuah tatapan kecewa dari mata Laura kepada Edward. Giselle yakin, Laura sedang tidak baik-baik saja apalagi sudah melihat pertunjukan gratis saat Edward menciumnya di tangga seperti adegan drama Korea.

"Giselle, are you okay?" tanya Nathan, kepada gadis itu.

"Ngapian lo tanya-tanya istri gue?" tanya Edward, berbeda. Edward yang biasanya menggunakan bahasa super baku jadi pakai logat Betawi jika dengan Nathan.

"Gue cuman pastikan dia baik-baik aja," jawab Nathan tidak suka.

"Dia istri gue, nggak ada urusannya sama lo!"

"Gue tahu dia istri lo, tapi gue khwatir aja dia sama lo."

"UDAH-UDAH!" sela Giselle, sebelum dua lelaki dewasa itu bertarung sambil mengkambing hitamkan dirinya, padahal dibalik semua itu pasti karena Laura. Giselle rasa sempat terjadi cinta segitiga di antara Nathan, Laura, dan suaminya yang punya banyak kepribadian akhir-akhir ini.

"Aku pulang dulu, bye, Nathan, Laura," pamitnya, menarik tangan Edward agar segera melangkah maju.

Melihat kepergian Giselle dan Edward, Nathan dan Laura dalam keheningan satu sama lain. Mereka masih tak percaya Edward melakukan pertunjukan seromantis itu.

***

Giselle komat-kamit mengomel sepanjang perjalanan di mobil saat Edward membawanya pulang hingga sampai ke apartement. Ia tak bisa mengunci mulutnya sama sekali dan tidak terima karena Edward sudah mencuri ciuman pertamanya.

Edward sebenarnya pusing mendengarkan omelan gadis itu, Edward rasanya ingin melakban bibir Giselle agar Giselle tidak protes saja tentang kejadian barusan yang menurutnya sebenarnya biasa saja.

"Edward! Edward!" panggil Giselle kesal, Edward mengabaikannya dan kini malah berjalan menaiki anak tangga untuk tiba di kamar. "Edward!"

Laki-laki itu menghentikan langkahnya, ia mengembuskan napasnya lalu membalik tubuhnya. Ia bisa melihat gadis yang masih menggunakan gaun putih selutut itu kini berkacak pinggang seperti hendak menerkamnya berada di bawah sana.

Edward tak peduli, ia melangkahkan langkahnya lagi untuk ke kamarnya di lantai dua apartement.

"Edward!" omelnya, menaiki anak tangga dan mengikuti laki-laki itu hingga masuk ke dalam kamar.

Ini pertama kalinya Giselle naik ke lantai atas apartement Edward, begitu rapi dan lebih luas dari kamarnya, meski tak seluas kamar Edward di rumah Oma.

"Jelasin, kenapa kamu cium aku?" tanya Giselle yang kesekian kalinya sejak di mobil tadi.

Edward tidak menjawab, ia sibuk melepas jasnya dan membelakangi Giselle.

"Edward! Kamu udah langar kontrak! Kamu bilang nggak akan sentuh aku, tapi kamu malah cium aku! Mana di depan Nathan sama Laura lagi."

"Sesuai kontrak, kamu bisa minta apa aja untuk nebus kerugian kamu karena saya lakukan ini juga demi hubungan kita di mata orang," jelas Edward, ia melepas kancing bajunya satu per satu. "Mau minta apa? Saya kabulin."

"Ish! Aku mau bibir aku perawan, gimana caranya kamu udah cium."

Edward menahan tawanya. "Tadi cuman nempel dikit, nggak sampai ciuman."

"What? Walau itu nempel, sama aja bibir kita bersentuhan!"

Edward membalikkan badannya udai melepas kemejanya, ia pun membalikkan tubuhnya dan membuat Giselle melongo.

Bagaimana bisa Giselle tidak melongo saat melihat tubuh bidang Edward yang begitu nyata, ototnya membentuk begitu sempurna, bahunya lebar, dan ... Edward benar-benar om-om sempurna.

"Otak jangan ngeres!" ujar Edward sambil menjitak Giselle, otomatis Giselle mengalihkan pandangannya.

"Baru kali ini liat badan sebagus ini?" tanya Edward, sambil menggoda.

"Gila! Pede banget ya kamu! Pake kek lagi bajunya, kan masih ada aku!" protesenya mengamuk, seperti biasa hobinya memang mengamuk.

"Kamu yang masuk kamar saya, bukan salah saya nggak pakai kemeja. Mending kamu keluar, saya mau mandi."

Giselle berdiri kaku, sesekali ia mengintip badan bidang Edward yang membuatnya masih terpana.

"Atau ...." Edward semakin menggodanya, ia berjalan perlahan ke arah Giselle hingga gadis itu melangkah mundur. Edward semakin memojokkannya hingga berhimpit dengan tembok.

Giselle tak mampu menatap Edward yang begitu dekat dengannya, ia hanya bisa menelan ludah dan komat-kamit baca mantra agar Edward berhenti menggodanya.

"Atau mau ikut saya mandi?" goda Edward.

Mendengar pertanyaan itu, Giselle dengan spontan menapuk wajah Edward dengan kepalanya dengan sekali hentakan. Edward merintinh kesakitan karena kepala Giselle yang keras itu mengenai hidungnya.

"Giselle!" tukas Edward sambil memegangi hidungnya yang ia rasa akan mimisan saking kerasnya dihantam Giselle.

"Dasar mesum!" umpatnya, keluar dari kamar Edward dengan cepat.

"Dasar bocil, galak banget," celoteh Edward sambil memandangi kepergian Giselle.

***

Edward begitu serius mendengarkan masukan-masukan pada sebuah meeting di pagi hari dengan beberapa jajaran atas di perusahaannya. Selama meeting dua jam lebih berlangsung, masukan-masukan itu tentunya sangat membantunya untuk lebih baik mengelola perusahaan.

Lelaki itu memang pekerja kerja keras, usai meeting ia lanjut bertemu dengan para klien untuk bekerja sama. Tanpa lelah, seharian ia mondar-mandir di temani Nico hingga waktu menunjuukan pukul delapan malam dan ia baru tiba di kantornya. Nico tentunya tak kalah lelah, tapi ia sudah biasa. Begitu juga dengan Edward.

"Yaudah pulang aja, thanks today," ujar Edward pada Nico.

Nico mengatakan hal yang sama, ia pun pamit terlebih dahulu dan menuju luar ruangan Edward. Saat ia membuka pintu, betapa terkejutnya ia melihat sosok yang juga ia kenal berdiri dengan anggun dan tersenyum padanya.

"La ... Laura?"

"Edward di dalam?"

Nico hanya bisa mengangguk. Ini bukan pertama kali ia bertemu setelah tak bertemu sejak kepergian Laura, mereka sempat saling sapa di acara anniversary orang tua Edward waktu itu.

Laura tanpa pikir panjang melangkahkan kakinya masuk ke ruangan Edward, melihat kedatangan Laura, mood Edward semakin kacau.

"Ngapain ke sini?" tanya Edward dengan gaya cueknya.

"Temenin makan malam yuk, aku udah nunggu kamu dari sore. Kata sekretaris kamu, kamu belum pulang. Jadi aku tunggu sampai sekarang."

"Sori, aku nggak bisa," jawab Edward.

"Please, temenin aku makan," rengek Laura dengan wajahnya yang terkesan dimanja-manjakan.

Dari luar, Edward bisa melihat Nico yang memberikan aba-aba dengan menggeleng kepala, berharap Edward menolak ajakan itu.

"Aku harus pulang, istri aku nunggu," ujar Edward, ia tanpa peduli lagi dengan perempuan yang pernah berlabuh dihatinya itu langsung pergi melewatinya.

Laura hanya bisa mendengus kesal, memandang kepergian Edward yang menyakiti dirinya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!