Harimau Yang Terluka

Dengan perlahan Lara meneteskan antibiotik itu keluka bekas tembakan didada sebelah kanan Zac yang telah mengering dan tertutup daging hasil transplasi itu. Bekasnya yang memerah dan terlihat mengkilat. Namun terlihat hampir sembuh total.

Epidermis luar kulit yang baru tumbuh itu harus dirawat dengan anti kuman dan harus dibersihkan secara berkala.

Zac hanya memperhatikan wajah lara yang sedang menunduk kearah dadanya yang terbuka.

Gadis itu memakai daster kamar Ibunya yang bagus,Rambut panjangnya dikuncir dengan karet gelang dengan wajah Ayu yang sangat jelita itu memukau matanya .Baju cantiknya yang bercorak bunga berwarna kuning yang kecil. Dengan dasar kain putih lembut yang berbahan sutra dengan serat halus berlengan pendek dengan belahan dada yang rendah sehingga menampilkan belahan dada Lara yang membusung dengan indah, Membuat Zac gelisah dengan wajah memerah. Tanpa sadar tangannya memegang bahu Lara dan mengelusnya pelan. Lara jadi tersipu dan Mencoba mengalihkan perhatian pemuda itu dengan terbatuk-batuk kecil.

Zac tersadar dan menoleh kesamping dengan wajah kecewa."Lara, Kenapa kau tidak pergi saja dari rumah ini,"Katanya Dengan perlahan.

Membuat Lara tersentak dan bangkit dari duduknya disamping Zac.

"Zac, Apa kau benci jika aku disini?"katanya balik bertanya.

"Aku tidak membencimu,Tapi aku takut kamu menderita jika terus berada disini, Disa'at aku menderita, Aku tak memiliki apa apa dan tak punya siapa siapa lagi," Jawab Zac dingin. Matanya menyorot tajam kearah Lara.

"Tapi kau Masih punya Ibu Ambarwati yang selalu melindungi dirimu,"Kata Lara memberanikan diri menyahut sa'at melihat mata Zac yang memerah.

Zac melihat kearah pintu kamarnya. Dengan wajah yang sulit ditebak.

"Ibuku tak akan pernah kembali kerumah ini lagi, Ibuku telah melarikan diri ketempat yang sangat jauh da dan tak diketahui oleh siapapun.

Ibuku berbohong sa'at meninggalkanku dirumah ini, Tak ingin aku lebih terpukul, Sedangkan kemarin aku depresi berat dan hampir bunuh diri, Jika saja kau tak datang disiang itu aku mungkin sudah mati,"Katanya dengan wajah tegang dengan rahang yang bergerak gerak.

Dunia ini sama sekali tak indah lagi bagiku sudah Sejak lama,"Kata Zac seakan menerawang.

"Dan rumah ini! Aku harus segera pergi dari sini, Rumah ini sudah disita oleh Negara terkait dengan tuduhan penipuan dan perusahaan illegal keluargaku, Dan tak ada yang tertinggal." Terang Zac tenang sambil memakai kemeja putihnya dengan tergesa sehingga kerahnya terlipat kedalam. Lara hampir menangis mendengar keterangan anak itu, Terlihat tenang namun menyimpan luka yang sangat dalam.

Berjalan kearah Lara yang mematung disisi ranjang besarnya yang bagus. Dengan wajah tak percaya. Dan seakan bermimpi dengan kejatuhan keluarga Nyang kaya raya ini. Sekarang benar benar hancur bak istana pasir.

"Pergilah Lara! Kau akan hidup bahagia, Baru saja si Laknat Aswin meneleponku, Dia sangat menyukaimu! dan akan segera melamar mu agar menjadi istrinya, Hidupmu akan mudah dan bahagia. Dan anak yang kau kandung itu, Gugurkan saja! Kalaupun dia terlahir kedunia ini aku takut dia akan menjadi sepertiku!Jahat, pengacau, memiliki banyak musuh daripada teman, Pergilah dari sini Atau kau akan menyesal karena telah mengenalku!" Katanya tegas.

Sambil meraih dompetnya yang menyatu dengan kunci kontak "Zacko" miliknya satu satunya sa'at ini yang terletak di atas meja kecilnya yang berukir indah dilapisi kaca.

Melangkah melintasi Lara yang tengah terpaku ditempatnya tanpa berkata apapun.

"Kalau aku tidak mau pergi apa yang akan kau lakukan?"Katanya dengan berani walau dengan suara bergetar. Melihat punggung Zac yang menjauhinya menuju tangga kelantai satu.

Zac berhenti dan berbalik memiringkan wajahnya dengan tersenyum sinis. Wajahnya yang ditumbuhi brewok halus itu terlihat menyeringai kejam.

Dan mendekat perlahan Mengulurkan tangan kewajah Lara dan mencengkeramnya dengan kuat.

"Jangan paksa aku untuk menyakitimu tubuhmu yang telah banyak memberi kenikmatan untukku, Gadis Bodoh! Sekarang aku sudah bosan denganmu! Aku lebih suka menikmati pelacur murahan diluar sana! Pergilah kembali kepengusaha kaya itu! Ya Aswin Halim! Kelihatannya dia mulai Sangat menyukai tubuh indahmu, Pergilah! Brengsek! Pergi sana!" Katanya dengan kasar sambil menghempas pipi Lara kesamping sehingga kepala Lara pusing dan kepalanya bagai berputar. Dan Zac melangkah cepat menjauhinya.

Pandangan Lara menjadi kabur lantai yang dipijak seperti terasa terbalik dan tubuhnya terjatuh mengenai meja berukir kecil didekat ranjang mengenai Vas bunga kaca kristal tipis transparan berisi bunga tiga tangkai bunga mawar yang telah layu.

Vas kaca itu jatuh menghempas lantai granit mengkilat itu dan meninggalkan dering yang keras dengan kondisi hancur berderai.

Zac terhenti dan berhenti sejenak dan meneruskan langkahnya kearah lantai bawah.

Namun dengan kening berkerut dia penasaran dengan suara pecahan dilamarnya

Ini bukanlah sifatnya, seperti biasa yang dilakukannya, Dia tak akan pernah berhenti atau menoleh kebelakang walau apapun yang terjadi dibelakangnya, Zac tak akan perduli.

Dia akan terus melangkah tak ingin ada yang menhalangi langkahnya.

Namun kali ini Dia berbalik kebelakang dan setengah berlari melewati tangga putar langsung menuju kamarnya dan menggeleng gelengkan kepalanya melihat tubuh Lara yang tergeletak dilantai disampingnya vas bunga itu hancur berderai berantakan.

Dengan cepat Zac membopong Lara dengan ringannya menuju kelantai bawah dan mendudukkannya kesofa. pergi ke Bar mini dan mengambil segelas besar air putih dari wastafel.

Menyiramkannya kewajah Lara Sehingga gadis itu membuka matanya dengan pelan dan kaget.

"Ayo, Ikut aku! Kau membuat pilihan yang salah didalam hidupmu kali ini, Dan jangan menyesal telah mengenalku!" Katanya dengan geram dan menarik keras tangan Lara agar mengikutinya keluar kejalan menuju gerbang depan dimana sepeda motor besar itu telah terparkir tegap menunggu mereka.

Dengan sekali sentakan Zac menghentak motornya sehingga Lara tersentak kebelakang sambil memeluk pinggang Zac dengan erat.

Zac membawa Lara dibelakang punggungnya bagaikan terbang menuju kesuatu tempat jauh kepinggiran kota yang mulai menghitam kelam.

Namun deretan rumah penduduk yang masih terlihat ramai itu tampak berlalu lalang dijalankan yang mulai dipenuhi asap dan motor yang terparkir seperti tak berfungsi dalam waktu lama.

Zac berhenti tiba tiba dan Lara terdesak kedepan memeluk pinggang Zac yang berada didepan dan tubuh mereka jadi terlihat menyatu dengan sangat rapat.

Zac dengan pelan turun dari kendaraannya. Langkahnya terlihat tegap sa'at mendatangi beberapa pemuda dengan tampang sama menyeramkan dengan Zac yang berpostur tinggi dan berkepala plontos.

Lara duduk dengan gemetar dijok motor Zac.Sa'at melihat Zac menunjuk nunjuk kearah dirinya.Apakah Zac sejahat itu menjualnya kepada beberapa pemuda berpenampilan preman itu? Dan dia akan digilir bergantian?

Zac Dan para pemuda yang berjumlah delapan orang itu berjalan kearahnya. Wajah Lara semakin memucat sa'at Zac tiba dan merapat kearah dirinya.

"Zac,Jangan jual...!.(Aku"Katanya dalam hati) Kata Lara terputus sa'at melihat Zac mengelus motornya.

"Aku harus menjual Zacko, Kita akan membutuhkan sedikit uang untuk hidup dan tempat tinggal,"Katanya melotot kepada Lara.

Lara menarik nafas lega, Dia telah berprasangka buruk pada Zac. "Minggirlah Lara! Kau merepotkan ku! Seharusnya aku bisa tidur di gerbong kereta api yang usang itu, bersama para gelandangan sana! Aku juga tak bisa membawamu tidur dengan begundal tengik ini! "Katanya sambil menoleh kearah preman yang ternyata adalah temannya Itu.

Para pria seram itu tertawa terbahak bahak dengan suara dengan seperti orang yang tengah mabuk.

"Atau kami akan ikut ambil bagian, karena tak akan tahan melihat permainan panas kalian dimalam hari,"Kata salah seorang dengan rambut gondrongnya melihat kearah Lara dengan penuh minat.

"Jaga matamu Joe, Atau aku akan mencongkelnya sampai buta,"Kata Zac pelan. Membungkam mulut preman yang bernama Joe itu.

Kelihatannya mereka takut pada Zac. Zac yang pendiam dan tak suka tertawa itu,Terlihat bagai air tenang yang dalam. serta memiliki pusaran yang deras.

"Uangnya harus cash aku tak punya kartu kredit atau perangkat Bank lainnya."Kata Zac tenang sambil mengeluarkan rokoknya , Salah satu dari mereka menyalakan pemantiknya dan menyulutkan kearah Tangan Zac yang memegang rokok lalu Zac menghisapnya dengan dalam dan nikmat.

Lara mendekat kearah Zac karena udara yang menghembus terasa dingin.

Terpopuler

Comments

Andikong Perkesong

Andikong Perkesong

ahhh nanggung😁

2022-12-02

2

Seniwati Spdi

Seniwati Spdi

siaaaap Ndan ha ha hah!

2022-12-02

3

Zahra Desky

Zahra Desky

Thoooor

2022-12-02

4

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!