Berangkat Kekota.

Berbekal biaya hasil pinjaman sang Ibu.

Lara tiba dikota yang ramai pada sa'at matahari masih bersinar.

Suasana kota yang ramai membuatnya merasa tak nyaman.

Namun matanya melihat jauh kedepan dengan penuh harapan, Berkali kali nasehat sang Ibu terngiang ditelinganya.

"Harga diri itu lebih penting dari uang yang bisa saja mencelakakan diri sendiri, karena melupakan harga diri kita," Ucapnya.

Lara sebagai gadis dewasa yang terbiasa hidup didesa merasa tidak perlu mengorbankan harga diri.

karena uang dan hidup mewah tak akan bisa membiusnya kedalam kubangan dosa.

Dia terbiasa makan dengan sedikit garam dipiringnya.

dan terbiasa memakai pakaian yang telah bertambal disana sini dibadannya.

Jika mau mengorbankan harga dirinya mungkin sudah bisa hidup layaknya istri Lurah yang makmur dan memiliki perhiasan yang banyak. Sehungga Ibunya tak perlu bersusah payah merebus dan mengolah daun pandan berduri sebagai mata pencaharian mereka berdua.

"Mbak, Mau turun dimana?" kondektur itu membuyarkan fikiran Lara yang sedang melamun.

"Simpang II, Jl.Bandang 5," Balasnya sedikit kaget.

Kondektur Bis itu mengangguk mengerti.

"Turunnya diperempatan jalan didepan ya Mbak?" Katanya. Sambil memasukkan uang lembar lima ribuan itu ke Tasnya.

Dan lima menit kemudian Larapun turun bersama para penumpang yang satu arah dengannya.

Sambil menapak dijalan yang berdebu diantara para manusia dan kendaraan yang berlalu lalang, Lara mendengar teriakan dari Pom bensin tempat temannya Aini menunggu kedatangan Lara yang baru tiba. Berdiri diseberang jalan dengan kepala tertutup helm diatas motornya yang mendekat kearah Lara.

"Lara! Bagaimana keadaanmu diperjalanan?" Tanyanya mendekat dan memeluk Lara penuh kerinduan.

Lara tersenyum dengan penuh haru.

"Baik baik saja, Cuma krpalaku terasa pusing sedikit," Balasnya sambil membalas pelukan temannya itu.

Lara menatap Aini terkesima dan takjub.

Aini terlihat berbeda sekarang, Dia semakin cantik dan make up tebalnya terlihat menyolok.

"Ayo La, Kita kekost tempat tinggalku," Ajaknya dengan ramah.

Lara naik keboncengan dan merekapun meluncur pelrlahan menuju rumah kost kostan Aini.

Rumah itu adalah rumah petak tanpa kamar.

sehelai kasur yang mulai lusuh terhampar dengan seprei tipis.

dan merangkap tempat tamu dan ruang dapur kecil berisi beberapa peralatan masak sederhana.

"Lara, Beristirahatlah dahulu. Kamu kecapaian kan? aku akan menyiapkan makanan dulu," Saran Aini menuju dapur sambil bernyanyi nyanyi kecil.

Lara melihat sekelilingnya.

...Rasa capek yang menyerangnya begitu hebat dan tak sadar telah menutup matanya menghempaskan semua lelah yang didapatnya dari perjalanan yang memakan waktu hampir 20 jam....

...***...

Aini mematut Lara didepan cermin sambil berputar putar mematut diri sejak tadi.

seolah merasa ada yang kurang pada make up nya yang memukai menor.

baju karet berbahan tipis itu membalut tubuh sintalnya yang bahenol.

lipstick merah cabe yang menyala itu tampak meriah dan berkilau disa'at Aini berbicara.

Dengan bedak tebal entah berapa lapis menutup bekas jerawat yang menghitam menjadi seputih tepung.

Mereka mulai bergerak dari kost kecil digang sempit dan terlihat kumuh itu.

Lara hanya mengenakan terusan berbahan lembut berbunga bunga kecil berwarna lila.

wajah dan bibirnya dipoles seadanya.

Mengenakan sepatu teplek tipis tanpa tumit.

Dengan ragu naik keboncengan belakang Aini.

Dan motor Aini yang bercat kusam dan mulai tua itu membelah jalanan kota yang gemerlap.

Disisi kiri kanan jalanan tampak lampu lampu yang menyinari kesegenap penjuru.

begitu benderang dan kerlip yang indah.

sangat berbeda dari suasana desanya.

Yang sunyi sepi bermusik jangkrik malam.

diterangi pelita berbahan minyak tanah diatas kendil yang kerlap kerlip samar dan meliuk liuk dihembus angin malam.

"Ayo kita turun Lara," Ajaknya ramah.

Lara turun dan melangkah masuk memegang tangan Aini, Dan merasa ketakutan dan salah tingkah tatkala berpuluh puluh pasang mata lelaki yang menatap kehadirannya dengan tajam.

"Aini, Mengapa mereka menatapku seperti itu?" Tanyanya dengan tangan gemetar, mirip tatapan Tarman yang penuh nafsu sa'at melihatnya dimanapun berjumpa. Dan Aini selalu mengelak daru suatu pertemuan dengan lelaki itu dan lelaki lainnya.

"Karena kau sangat cantik dan....Sexy!" Sahut Aini sambil tersenyum senang. Bercampur genit.

Aini merasa tak enak dengan suasana seperti ini.

"Aku tak mau bekerja disini, Aini, Bolehkan aku dusuk saja dibangku dekat taman sana? sampai menunggu pulang? Besok Aku akan mulai mencari pekerjaan yang cocok," Mohonnya hampir menangis.

Dia tak merasa aman.

"Oh boleh saja, Lara! Janganlah bersedih, Aku hanya mengenalkan pekerjaanku Padamu, Jika kau merasa tertarik kau boleh bekerja disini.

Tapi jika tak tertarik juga tak apa apa," Kata Aini tersenyum tulus. sambil membelai wajah Lara.

Dan mengisyaratkan agar duduk dibangku yang ada ditaman kota dekat kelokasi tempat dia bekerja.

Sebagai pramusaji minuman dan makanan kecil di Cafe Biru ini.

Pelan pelan Lara melangkah ringan sambil menunduk , Dia benar benar jengah dengan tatapan beberapa orang pria yang masih lekat menatapnya.

Baru saja dia meletakkan pantatnya dikursi kayu taman yang temaram dipinggir jalan itu seseorang telah menyapanya dengan suara berat dan parau.

"Kau sangat Cantik Nona," Sapa suara itu.

Lara kaget dan menggeser duduknya dengan cepat.

matanya awas menatap sekeliling.

beberapa orang yan berlalu lalang tak memperdulikan ketakutannya.

Dua orang lelaki lain muncul duduk mendekatinya.

sambil mengendus ngendus nakal kearah Lara duduk.

Lara gemetar.

keringat dingin mulai mengeruak dari keningnya.

"Oh..Pergi! Aku tak mengenal kalian!" Usirnya spontan dengan panik.

"Makanya kita kenalan dulu Neng, Jangan sok jual mahal dong! Kita mau kok temenan," Kata pria itu sengau,Salah satunya yang berdiri disisi bangku taman menatap kearah dada Lara sambil menjilat bibirnya sendiri.

Lara semakin panik dan hendak bangkit ketika salah seorang dari mereka menarik lengannya membuat Lara terjatuh kepangkuan temannya yang bertubuh ceking.

"Tolong, Tolong aku!" Mohon Lara pada seorang pemuda remaja yang sedang memperbaiki kaca spion motornya yang keren agak dekat dengan taman.

Anak itu cuma diam sambil memiringkan wajahnya dari balik helm yang besar bertuliskan logo Balap dunia.

Dengan sekali sentakan keras Lara terbebas dari tangan pemabuk yang sedang fly tersebut.

Lara menghambur kearah pemuda yang hanya diam tak mau menolongnya itu.

Pemuda itu sibuk menatap kebenda yang didepannya sambil melihat dengan teliti apakah letak kaca itu sudah benar atau masih kurang kekiri.

"Mas, Tolong saya, Mereka mengganggu saya," Mohonnya sambil mrnangis mengguncang guncang lengan anak muda yang lagi fokus pada objek yang lain.

Dengan wajah horror pemuda berhelm itu menatap kearah tiga pemuda penganggu tersebut.

"Hentikan gangguan cecungguk itu ,Ben! Aku tak suka diganggu sa'at Zacho terluka begini! Perempuan malam ini bisa merusak konsentrasiku" Ucapnya pelan namun mengerikan.

sehingga Pemabuk gila yang dipanggil Ben itu mundur bersama kedua temannya.

Lara membungkukkan kepalanya berulang kali sambil mengucapkan terima kasih.

Prmuda itu hanya diam, tak menggubrisnya walau sedikit.

Lara terkesiap sa'at pemuda itu membuka helm besar penutup kepalanya yang berambut agak gondrong.

Tampan, Dingin dan menakutkan.

Tubuh Tinggi itu melewati Lara yang menatapnya dengan terima kasih yang tak terbalas.

Lalu melihat sekilas kearah Lara dengan malas dan dengan tatapan jijik dan menghina.

"Kau bisa memakai ponselmu untuk memulai pekerjaanmu, Dan melayani mereka dihotel jangan dipinggir jalan dan berpura pura takut. Mengganggu saja! Perempuan menyebalkan!" Desisnya dengan marah.

Dan deru Motor bagus dan besar besar itu berkeliling didekat pemuda kejam itu.

"Boss, Apa spionmu masih utuh? , Jika belum Ayo kita buat rusak wajah rivalmu yang dungu itu," Kata anak anak muda yang sebaya dengan pemuda itu sambil tertawa tawa.

Dan seorang remaja cantik memeluknya pemuda didekat Lara dari belakang dengan mesra.

"Hai Zac, Apa kau tak merindukanku?" Tanyanya sambil mencium pipi si Pemuda yang dipanggil Zac.

pemuda itu hanya diam.

Naik kemotornya dan meletakkan kaki ke sadel motor.

derum motornya meraung raung.

Gadis itu dengan cepat naik keboncengan dan memeluk tubuh sipemuda dari belakang dengan erat.

Dan motor itupun menderum menjauhi Lara meninggalkan Angin dan debu halus kewajah Lara

Terpopuler

Comments

Bulung Bertik

Bulung Bertik

kasihan kali kamu lara, dikira bos zacho wanita malam, padahal murni mencari rezeki yg halal, nga tahunya kehidupan dikota sangat mengerikan(mungkin zacho julukan motor si jek ya thor, keren amat nama motornya, ngalah2in nama tetangga aku siponiran🤭)

2022-12-27

2

Muhammad Zulhamid

Muhammad Zulhamid

apakah yang terjadi

2022-12-04

4

Andikong Perkesong

Andikong Perkesong

akhirnya bikin penasaran ni😁🥰

2022-12-04

5

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!