Lara menata bunga mawar merah yang segar itu ke Vas bunga panjang Kristal biru disudut sayap kiri Balkon lantai dua.
Lara terduduk dikursi besi berukir itu dengan tubuh lemah.
Badannya sangat lelah.
Pikirannya bagai benang kusut.
Sejak kejadian kemarin dikamar Zac, Dia sangat terpukul. Sepanjang malam dia menangis.
Tubuhnya terasa perih dan sakit.
berpuluh puluh bercak merah membiru itu bersarang dikulitnya, terutama dibagian paha dan dadanya.
Badan dan hatinya terasa sakit, Airmatanya semakin deras.
Anak remaja ingusan itu melecehkannya sedemikian jauh. Dan paling menyakitkan Lara dianggap wanita Nakal. Dan pria muda itu mempermainkan tubuh Lara bagai seorang maniak ****, Mencium dan Meremas dengan keras dan brutal, mencengkeram wajah dan lehernya sa'at memberontak kesakitan.
Tubuhnya dianggap tanpa nyawa dan tanpa sakit.
Sekarang anak Muda itu pergi entah kemana sejak kejadian malam kemarin.
Lara melihatnya dari Balkon keluar gerbang membawa" Zacko" sang Motor kesayangannya yang besar dengan kencang menuju jalan besar.
jacket kulit putih bergaris hitam dengan helm besarnya seakan terbang terbawa angin dan deru motornya yang meraung ganas.
"Selamat siang,Nona," Suara berat seorang lelaki mengejutkannya.
Pria tampan yang hampir sebaya dengan Lara.
Dewasa,Gagah dan Bertubuh Atletis itu menatapnya dengan wajah tersenyum.
"Se..Eh..Selamat siang," Sahutnya sambil membungkukkan kepala kepada si penyapa.
"Nama kamu siapa?" Tanyanya dengan ramah, memecah kebekuan Lara yang tampak gugup dengan mata cantiknya yang memerah.
"Namaku Lara,Tuan," Sahut Lara sambil terus menunduk.
Pria itu mengulurkan tangan disambut tangan mungil Lara yang lembut.
Pria itu memandang Lara dengan gemas, Melihat ketakutan sang Gadis yang tak biasa.
"Devon Hasril Rosyadi," Kenalnya pada Lara.
"Oh, Ternyata dia adalah Devon, Anak sulung keluarga Pak Hasril." Lara membathin dalam hati.
"Kamu sudah makan? kalau belum, Turunlah kebawah bersama Bu Ratna dan lainnya. Aku membawa sesuatu yang bisa dinikmati bersama sama," Tawarnya.
Oh Tuhan, Bagaimana mungkin kedua orang kakak beradik terlahir dari orangtua yang sama tercipta begitu baik, Bersifat Bagai langit dan Bumi dengan adiknya yang berwatak kasar? Pikir Lara.
seraya bangkit dari duduknya, Mengikuti Devon dengan pelan dan berjalan dibelakang menjaga jarak.
Lelaki bertubuh tinggi itu berjalan santai, Sesekali berhenti memperbaiki salah satu souvenir yang dilihatnya diletak tidak sesuai.
Dia terlihat rapi dengan kaos pendek berkrah biru dengan Jeans dengan warna sama.
penampilannya yang segar tampak anggun dan elegan.
ditangannya yang kekar melingkar Arloji yang sangat bagus sesuai dengan penampilannya yang galant.
Semua berlalu sedemikian cepat.
Membawa cerita siang yang indah. Tatkala sang Putra sulung menatap kearah Barat melihat matahari tenggelam.
Namun selalu ada harapan yang tersisa untuk esok.
Melihat Matahari pagi yang menembus dedaunan penghalang cahaya.
...****************...
Devon Note:
"Aku tertarik melihat Bunga cantik yang berada di Vas Kristal milik Mama.
Seseorang berambut panjang sepundak yang dilepas bebas merangkainya dengan sangat indah.
Aku mendekat dan mencoba melihat lebih dekat.
Alangkah indahnya makhluk Tuhan yang tercipta dengan sempurna itu.
Dengan Kecantikan yang sangat Natural.
Rambut hitam halus hitam itu tergerai berkilat ditimpa cahaya bias matahari.
wajahnya yang mengingatkanku pada seorang ratu dalam mimpiku selama ini.
wajah bujur sirih yang berhias sepasang mata lebar berbulu lentik dengan alis yang berbulu halus bagai diatur tangan Tuhan, Dipucuk hidung kecil dan mungil bagai lekukan bunga tulip yang menguncup dimusim semi.
Bibirnya yang memerah bagai bias merah diwaktu senja.
Wajahnya yang menyejukkan pandangan siapapun yang melihatnya.
Dengan tubuh indahnya yang yang mungil bagai boneka mahal dipajangan kaca.
satu nilai tertinggi buat seorang wanita dan satu kata untuk bentuk tubuh yang menggoda yaitu: Sexy!
Sa'at aku mendekat, Bibir yang sangat indah dari dekat. Bergetar indah dalam kejutan
Seakan menanti satu kecupan.
Mama, Aku telah menemukannya .
Seorang wanita dari latar belakang yang berbeda.
Aku ingin berada dalam dekapan dadanya yang memelukku sa'at hatiku terluka.
Dan satu kata untuk sebuah nama: Lara Senja,"
Devon menutup buku catatan berwarna emas itu dan memasukkannya kelaci meja kerjanya paling bawah.
Tersenyum penuh makna menatap kearah dinding biru kamarnya.
Entah mengapa hatinya begitu menggelora melihat mawar merah jambu itu.
Lara.
Namanya begitu sendu.
Diantara nama nama yang ada, Devon mulai menyelipkan nama itu disudut hatinya.
Tak peduli Gadis itu siapa.
Dan berasal dari mana.
Dia menyukai senyuman Lara yang malu malu sa'at disapa.
Perlahan Devon mengeluarkan ponselnya dan menghapus satu demi satu photonya dengan seorang gadis cantik berambut coklat dengan tampilan feminim dan modis.
"Selamat tinggal Glory"," Bisiknya sambil tersenyum penuh arti.
...****************...
Lara ingin bangkit dari tempat tidurnya.
Namun semua badannya merasa sakit dan ngilu.
Kepalanya sakit sekali.
Bercampur pusing dan seakan berputar putar.
Sudah dua hari dia hanya tuduran dikamarnya dan terkadang berdiri dibalkon atas.
Samirah telah memberinya obat penurun panas.
Dan Bu Ratna hendak mengelap Badannya dengan aur hangat.
Namun Lara menolaknya dengan halus.
Mencoba mandi sendiri.
Dia jengah dengan keringatnya yang terasa lengket dan berbau obat obatan..
Dengan terhuyung huyung menuju kamar mandi didalam kamarnya.
Dia membuka bajunyanya sa'at hendak mengenakan kain basahan batik yang dibawanya dari kampung.
mengguyur tubuh dan rambutnya yang menggigil menahan dingin.
Lara berharap setelah selesai mandi dan mengganti baju dia merasa lebih baik dan segar.
Lara mengerutkan keningnya dengan cemas.
Mengapa tanda bercak biru itu belum juga hilang?
Dia tak tahu cara menghilangkannya.
Dengan pelan menyabun seluruh badannya. Menuang sedikit Shampo kerambutnya.
Membilas kembali seluruh tubuhnya dengan siraman yang bersih. Menyudahi mandi siang yang terasa sangat dingin hingga ketulang sumsumnya.
Dengan cepat meraih handuk lebarnya.
Dan keluar menuju ruang tidur.
Lara hampir terpekik lirih sa'at melihat sesosok tubuh tengah berdiri dengan bersidekap didadanya.
Jacket putih bergaris hitam dengan celana jeans putih yang koyak dibagian bawahnya, Seperti baru digores benda tajam.
Menatap Lara dengan dengan nanap dengan wajah memerah
Dengan mata yang kian berkabut mendekat menghampirinya.
Lara tersudut hingga menyuruk kearah lemari merapat kesisi tempat tidurnya. Matanya membeliak ketakutan mencari jalan untuk lolos dari kungkungan yang menakutkan.
Dia semakin terdesak bagai tikus kecil yang terperangkap dihadapan kucing hutan yang buas.
Tak ada kata yang keluar dari wajah dingin didepannya.
Namun bahasa tubuhnya menyiratkan kebuasan sa'at melihat tubuh Lara yang terbuka dibagian atas.
Memperlihatkan leher dan dadanya yang halus bagai pualam dengan beberapa tetesan air yang masih tercetak dibahunya.
Tangan panjang pemuda itu terulur mengelus lehernya yang berbatang kecil berbentuk tabung mulus dan jenjang.
perlahan turun menuju pundak wanita yang terasa dingin bagai es krim yang segera mencair dari kehangatan tangannya.
Pemuda itu meremas bahunya dengan geraman menahan sesuatu yang ingin dipuaskan.
Pikiran kotor bermunculan dibenaknya.
Namun tiba tiba tangan Pemuda itu menghempaskan tubuh kecil Lara dengan kasar dan pergi menuju kearah kamarnya.
Lara terjerembab ketempat tidurnya yang empuk.
Menutup tubuhnya yang terasa dingin dengan selimut tebal.
Matanya nyalang dengan jantung yang berdebur kencang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
Yuyaa Yuya
S Zac Rapi Daddy!
2022-12-02
5
Yuyaa Yuya
AQ kan trs baca kak
2022-12-02
5
Fizaa No Counter
hiiyy
2022-12-02
7