Aku Bukan Tuan Muda!

terbangun sejak subuh.

Dan merapikan ranjang besarnyanya, dan menyusun baju baju lusuhnya yang tua pada lemari kayu yang ada dipojok kamar.

Dia selesai mandi dan mengganti bajunya dengan daster tua bermotif batik.

bajunya telah menipis dan terlihat lemas.

Namun tak mengurangi kecantikan wajahnya yang merona bagai pelangi senja ditepian sungai.

Bjbirnya memerah tanpa polesan dengan rambut yang digelung keatas melihat Lara tampak Anggun dalam kebersahajaannya.

Dan semua bahan yang melekat ditubuhnya semua berkesan menampilkan kemolekan tubuhnya.

Suara berdebam dari bagian ruang depan terdengar menggema. Seperti suara besi diletakkan secara kasar.

Lara melongok keluar.

Jantungnya seakan berhenti berdetak sa'at iris coklat itu bertemu dengan mata hitamnya.

Zachary yang baru saja meletakkan sesuatu disudut balkon, Penampilannya terlihat berantakan.

rambutnya kusut dengan kaos putih dilapisi jaket jeans biru yang terlihat menghitam dibeberapa bagian. Celana panjang Jeans hitamnya terlihat koyak dan berkerut seperti habis tergerus sesuatu.

Anak itu tak mempedulikan Lara.

Masuk kedalam kamarnya dan menutup pintunya berdebam didepan Lara.

Lara meremas jemarinya dengan cemas.

dengan langkah tak beraturan mengambil air hangat dari dalam Dispenser besar disisi samping balkon.

Menyiapkan handuk dan lotion kulit.

Dengan Jantung berdebar sambil menarik nafas panjang Lara ingin mengetuk pintu besar itu.

Namun tak ada keberanian untuk mengetuk. Tangannya terasa berat.

Akhirnya Lara duduk dikursi disisi balkon dan menunggu Anak itu keluar dari kamarnya.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Lima belas menit.

waktu berjalan seakan melambat.

Dan belum sampai dua puluh menit pintu besar berwarna gelap itu terbuka.

Zac telah mengganti bajunya dengan kaos coklat polos tanpa lengan dengan boxer hitam. Dia terlihat bersinar dengan wajah bak Cameo yang tersimpan baik.

Lara menghampirinya dengan langkah takut takut.

"Tuan muda , Jika kamu lelah Aku akan memijatnya," Katanya pelan seolah ditelan dinding abu abu dan kaku itu. Zac menilik wajah didepannya dengan pandangan tidak senang.

"Jangan panggil aku Tuan muda, Telingaku geli mendengarnya, Kau pikir ini zaman kolosal? Hei ini sudah abad keberapa?" Katanya dengan jengkel.

Dan mendengus tak senang. Tak memperdulikan Lara yang tengah menatapnya, Zac malah melengos pergi.

Mungkin dia ingin kebawah mencari makanan yang sesuai kelidahnya.

Lara mengekor dari belakang mengikutinya dengan tumit kecil telanjangnya dengan langkah tertinggal.

Anak ini berjalan dengan cepat.

melompati tangga putar dengan mudah dan lincah.

Dalam keadaan begini Pemuda remaja itu tampak seperti anak seusianya,Ceria dan bergerak bebas.

Sesampainya dibawah dia langsung menuju dapur melewati koridor ruang dalam.

mereka berbelok kekiri dan terus menuju kelemari pendingin besar yang berdiri anggun tak jauh dari kitcen set.

"Tuan dimeja itu ada roti isi dan daging asap yang dipanggang," Katanya memberanikan diri.

Zac berbalik kearah Lara tanpa sengaja dan menatapnya sambil menaikkan sebelah alisnya. Ditangannya sebotol air.mineral dingin .

"Kau yang membuatnya? Aku tak ingin membuang makanan pagi ini, Karena aku sedang bahagia," Katanya sedikit ramah.

Lara menghela nafas lega.

Lelaki remaja itu begitu dekat dengannya.

tubuhnya terlihat kecil dan pendek disisi pemuda yang berpostur tinggi ini.

Berkulit putih dan sedikit kasar ini.

Namun dia mulai duduk didepan Lara.

"Kau siapa," Katanya sambil membelah bola nasi yang berkulit telur gulung itu.

dengan isi daging dengan wangi rempah rempah kuat.

Menurut Samira Zac suka dengan tiga jenis makanan ini.

Bola bola nasi telur gulung isi daging cincang dengan lelehan keju. Roti isi sosis daging dan salami panggang bumbu rempah.

Lara belum bisa memasak namun dia akan belajar pada Ratih besok.

Para pekerja dirumah ini akan menghindar jika Zac datang.

Mereka akan mencari tempat aman agar luput dari kemarahan pemuda ini. Yang hal sepelepun dapat membuatnya meledak seketika.

Namun sekarang Dia makan dengan tenang.

Makannya banyak, Dan menghabiskan air putih satu poci besar.

"ini susu buat Tuan," Lara menyodorkan susu murni satu gelas besar. Dia terus menyebut Zac dwngan sebutan "Tuan"

Zac tertawa/mendengarnya sambil mengelap mulutnya dengan tissue. Bibirnya terlihat basah dan mengkilat terkena Butter putih yang lembut.

"Kamu lucu sekali, Atau kau memang bodoh, Mengapa harus minum susu sa'at perutku hampir meletus karena kenyang, Minum saja untukmu agar kau kuat melayani pelangganmu," Katanya dengan mata tajam menatap Lara sinis.

Deg!

Jantung Lara seakan melompat keluar.

Anak itu mengenalinya , Padahal Lara tak ingin mengingat peristiwa na'as dimalam itu sa'at ditaman.

"Dan mengapa kau berada dirumahku Pelac*r?" Tanyanya menyakitkan.

Lara menatapnya dengan bibir bergetar.

"Aku bukan wanita seperti itu ," Katanya ingin membela diri.

"Oh Ya," Katanya melipat tangan kedada menatap Lara dengan pandangan kasihan dibuat buat.

Lara terdiam .

percuma menerangkan keadaan yang sebenarnya.

Pemuda ini tak akan memahami.

Dan sama sekali tak peduli dengan penjelasannya.

"Tuan jangan pandangi aku seperti itu, Anda tidak pantas menuduh saya seperti itu.

usia saya sudah 30 tahun. Jauh diatas usiamu lagipula Anda tidak tahu siapa saya," Lara berkata dengan susah payah membela diri.

Sementara Zac membuang wajahnya kesamping dan dan menjangkau buah yang berada ditempat buah disisi kirinya, dan memasukkan bulatan kecil anggur hitam kemulutnya dan mengunyahnya pelan.

"Aku tak suka mencampuri urusanmu dan aku tak perduli sepeserpun tentangmu, Namun aku terganggu, Mengapa gadis malam sepertimu berada sisini melayani keperluanku, Pasti Pelayan bodoh itu yang memungutmu dari lingkungan kumuhnya untuk bekerja disini,Aku tak suka kau melayaniku, Enyah kau dari sini secepatnya atau kau akan merasakan akibatnya berdekatan denganku," Usirnya tajam.

Lara menunduk dengan pilu.

Harapannya untuk mendapatkan uang untuk membantu biaya hidupnya seketika musnah.

Anak ini tak.menyukainya.

Air matanya menetes tanpa dia sadari, Berdiri disini dengan kaki gemetar didepan Anak sombong itu tak akan membuat keadaan membaik.

Lara menangis dengan rambutnya yang menjuntai dikeningnya.

airmata bercampur keringatnya menjadi satu.

Sa'at dia merasa seseorang mengangkat dagunya.

Lara terbeliak melihat remaja itu menatapnya.

"Mengapa menangis? " Katanya dengan sorot mata dingin.

Tanpa sengaja ibu jarinya menyentuh bibir merah Lara yang sangat lembut.

Kulit wajah halus Lara terasa begitu lembut sa'at menyentuh jemarinya.

Pandangannya menelusur turun kearah tubuh Lara yang kecil ramping dia mengerutkan keningnya seakan berpikir.

"Bagaimana mungkin wanita malam ini bisa berjalan dengan cepat denga tubuh kecil dwngan dada yang begitu besar?" Katanya dalam hati melirik kearah dada Lara yang membusung besar dari balik daster tipisnya.

Lara menunduk dengan wajah yang menyedihkan dan terjengit kaget sa'at mendengar Pemuda itu berkata.

"Aku mempunyai fantasi liar terhadap wanita yang bisa membuatku merasa bagai hewan buas, Aku takut kau akan jadi sasaran berikutnya, Apa kau bisa untuk tidak berpakaian tipis mengundang seperti ini dihadapanku?" Bisiknya dengan suara yang serak dan nafas yang panas menyentuh telinga Lara.

Lara menatapnya denga sendunya yang memerah karena airmata.

Dengan ragu dia mengangguk pelan.

Tapi dia harus memakai baju tuanya yang tipis dengan benang yang aus karena Lara tak.memiliki baju tebal untyk menutupi tubuhnya seperti permintaan anak yang aneh ini.

Lara seorang wanita dewasa yang dingin terhadap pria. Dia bisa mengontrol segenap rasa sisi feminim dari tubuhnya selama ini.

Namun mengapa disa'at anak muda ingusan itu mengelus bibirnya dia merasa ada sensasi ganjil yang menderanya.

Zac meninggalkannya yang masih termenung berdiri disisi meja makan besar hitam itu.

Dari kejauhan Lara mendengar anak itu berteriak memanggil Pak Leo kepala satpqm digerbang depan.

Mengajaknya bermain Panahan dihalaman belakang.

Mereka terlibat percakapan seru dan sa'at menuju dari jalan samping berkerikil kecil.

Zac tampak bersemangat waktu menceritakan poinnya yang bagus akhir bulan lalu dalam mencetak angka.

Leo lelaki berusia 35 tahun itu mendengarkan dengan baik dan memberi argumennya sebagai masukan.

Tidak ada yang aneh dengan Zac.

Dia bisa tertawa seperti dia bisa marah pada orang orang.

Bagi Lara Zac adalah anak baik yang kekurangan perhatian dari kedua orangtuanya yang sangat sibuk.

Zac bukan anak setan, Melainkan anak matahari yang selalu ingin bersinar indah namun tertutupi oleh penghalang awan hitam yang membuat cahayanya terlihat redup.

Terpopuler

Comments

Bulung Bertik

Bulung Bertik

sabar ya lara ..

2022-12-27

0

Bulung Bertik

Bulung Bertik

dicerita cers aku cekikikan dgn tingkah si cersh yg kata2nya penuh dgn dosa😁,dicerita ini aku sedih dgn pemeran utama si wanita lara, hatiku sakit seperti disayat sembilu,🤣, semangat ya lara, pasti si zek bakalan bucin sama kamu,
lara,,,,Sok tahu kamu Bulung Bertik, kamu aja baru baca sampai paragraf 4
Bulung,,,oh iyanya lara🤭😁

2022-12-27

0

Andikong Perkesong

Andikong Perkesong

lanjuut terus baca jadi adem

2022-12-02

5

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!