Bertemu Untuk Berpisah

Aini duduk diatas ranjang kecilnya melipat beberapa pakaian yang masih tersisa. Dan melihat kearah Lara yang masih sibuk mengepak barang barang yang akan dibawa.

Satu tas besar berisi beberapa baju lusuhnya yang berbahan makin menipis. Termasuk beberapa potong kain pemberian Ibunya dari kampung.

salah satunya kain sarung untuk sholat dan satu stel mukena yang terlipat dengan rapi di tas kecilnya yang terletak dibawah dipan kecil kayu itu.

"Kamu yakin, Si Brengsek kecil itu tak akan menemukanmu dan melacak jejakmu sampai ditempat kerjaan barumu itu La?" Tanyanya dengan ragu.

sambil menilik kewajah Lara dengan sedikit cemas. Karena Aini tahu Zac akan terus memburu Lara.

Anak itu mencari Lara persis psikopat gila, Mengerahkan anak anak pemuda setempat yang sering mangkal diujung gang sempit itu terus memata matai rumahnya.

Sehingga Lara harus mengumpet didalam kamar seperti buronan hampir satu bulan penuh, Tiap kali Aini berangkat pemuda yang duduk sambil bermain gitar dan bermain kartu gaple itu selalu meliriknya dengan sikap awas sambil berpura pura mengobrol dengan topik yang tak jelas juntrungannya.

Seakan akan disetting agar Aini tidak curiga. Aini tersenyum sinis, Dengan kebodohan para pemuda itu.

Sikap mereka yang penuh pura pura itu malah menimbulkan kecurigaan yang kuat dihati gadis yang berprofesi sebagai pelayan sebuah cafe pinggir jalan yang berlampu remang remang. Didekat sebuah taman yang ramai.

Aini adalah seorang gadis yang cerdas, Hanya saja dia kurang beruntung seperti gadis gadis kaya yang cerdas lainnya.

Yang bisa mengenyam pendidikan sampai ketujuan mewujudkan mimpi mimpi mereka.

Sedangkan Aini hanya berbekal ijazah SMP yang berusaha merubah hidupnya menjadi lebih baik.

Namun apa yang hendak dikata semuanya tak berjalan seperti mimpi yang telah disusunnya.

Aini kembali menatap Lara yang tengah memasukkan beberapa pakaian dalamnya yang berukuran kecil kedalam plastik kecil dan diikat Dengan rapi menggunakan tali plastuk. dan kemudian dimasukkan kedalam tas besar yang telah disusun sedemikian rupa.

"Menurut info yang kubaca, Tempat pembuatan emping dan perkebunan melinjo itu. Jauh didaerah pinggiran yang sepi penduduk." Kata Lara dengan yakin.

"Lagi pula perkebunan yang besar itu memiliki pengaman dan tamu yang melapor harus 24 Jam penuh dijaga ketat. Di situ ada perkampungan khusus para buruh dan pegawai perkebunan yang bekerja diperusahaan itu," Katanya kembali.

Meyakinkan Aini yang masih terlihat ragu.

"Jujur saja La, Aku lebih suka kau tinggal bersamaku dirumah petak ini, Walau bagai manapun disini kau aman," Kata Aini tulus.

"Ai, Biarkan aku pergi, Mungkin dengan demikian aku bisa mengirimkan sedikit gajiku kepada Emak,Jika aku terus terusan disini menyembunyikan diri, Aku hanya menjadi beban buatmu dan tak bisa memberikan apa apa buat Emak," Kata Lara sedih. Hampir menangis.

"Sudah kepalang basah Ai, Aku bukan lagi Lara Senja yang dulu. Aku sudah ternoda, Aku malu pada diri sendiri untuk menunjukkan wajahku yang gagal kekampung kita, Aku lebih baik tinggal jauh dari Emak, Mungkin Allah akan membantu kita dengan cara yang lain," Katanya dengan nada terluka.

Aini tak berhenti menatap Lara dengan mata yang berkaca kaca.

Aini tak ingin Lara mengalami nasib seperti dirinya. Tidak mempunyai pekerjaan yang berarti untuk membantu Lara dan Ibunya.

"Anak itu sangat biadab," Desisnya dengan gusar.

Ingin rasanya Aini mencekik batang leher pemuda jahat itu.

yang menyebabkan Lara trauma dan ketakutan dalam memulai langkahnya.

Dan kini spirit Lara datang kembali untuk menata hidupnya yang telah hancur.

Aini hanya berdo'a agar Lara berbahagia ditempat kerjanya yang baru.

Taxi kecil seperti Holden mini itu telah tiba dengan cepat Lara bergegas keluar namun berbalik sejenak, Memeluk Aini dengan erat.

Airmata itu tak lagi tumpah kini.

Lara merasa dimana pada sa'at ini dia harus kuat dan mulai mantap menapaki hidup.

Dengan jauh dari tempat ini mungkin semuanya akan berjalan lebih baik.

Zachary tak mengganggu hidupnya seperti bayangan hitam.

Lara berusaha tak akan menyesali hari kemarin. Dan berjanji pada dirinya sendiri agar terus kuat demi Ibunya yang kini terus berdo'a untuknya.Dan masa depannya yang masih panjang menunggu untuk ditata kearah yang lebih baik.

Dan haripun mulai siang sa'at Holden mini itu mulai memasuki jalanan berdebu dan menuju jauh kedaerah perkebunan yang seakan akan tak ada habisnya.

Ditempat ini harapan dan impian Lara digantungkan untuk menggapai asa yang sempat tertinggal.

...****************...

Setelah menempuh dua jam perjalanan. masuk jauh kedalam lokasi perkebunan yang luas ini.

Lara tiba diperkebunan Melinjo yang berbaris rapi dengan dekorasi bentuk buah yang indah. Dihiasi pucuk daun yang hijau licin yang mengkilap yang diantara buah buahnya yang hijau bercampur buah masak yang merah terang, Musim berbuah telah tiba! Pohon yang tinggi menjulang dengan batang yang keras kecoklatan, berkulit tipis tampak bagai pohon cemara dengan balutan buah yang sangat lebat.

Lara langsung disambut oleh seorang petugas dan membawanya masuk menuju kesebuah bangunan besar berbentuk kantor administrasi di Perusahaan produksi Emping Melinjo didaerah yang sangat luas ini.

Lara mengisi beberapa formulir dengan identitas dirinya. Dan menanda tangani dokumen ini dengan cepat.

Tertanda perjanjian kontrak kerja atas namanya.

Admistrasi selesai.

Seorang wanita berpakaian rapi mengantarnya menuju kelokasi perumahan para pekerja.

Menuju rumah tinggalnya selama disini Lara melihat dari kejauhan.

Para pekerja sedang membersihkan dan mengelupas kulit Melinjo bagian luar dengan air bersih dan meninggalkan cangkang keras pada lembaga biji berwarna ciklat gelap yang berisi daging melinjo yang berwarna putih dengan lemak yang banyak. Daging bagian dalam inilah yang nantinya diolah dan digeprek hingga melebar berdiameter 7 cm kemudian diletakkan keatas anyaman bambu yang lebar.

Untuk kemudian dijemur dengan tenaga matahari. Hingga kering dan apabila hujan tiba maka dipanaskan dengan mesin pemanas khusus lalu dikemas dan dikepak dengan rapi sebelum siap dipasarkan kekonsumen lokal dan untuk diekspor keluar negeri.

Malaysia dan Brunei, Dan bahkan sampai juga ke Singapura.

Lahan ini amatlah luas dilengkapi dengan perumahan dan jatah hidup bagi pekerja.

Ditempat ini tersedia juga fasilitas kesehatan dan mini market milik perusahaan. Yang disediakan khusus pegawai dan pekerja lepas.

Bisa mengambil keperluan mereka sehari hari disa'at gaji mereka sudah habis. Dan menunggu gaji berikutnya dengan pembayaran terjangkau, Rumah kayu dengan bentuk desain sederhana bercat putih dengan bentuk sama.

Perkebunan dan pabrik tradisional ini milik seorang pribumi yang kaya raya bernama Aswin Gunarta.

Pengusaha yang sukses dan mempunyai perindustrian produk makanan dan perkebunan sebagai penyedia bahan mentah dan dikerjakan oleh ratusan pegawai tetap dan ribuan pegawai lepas.

Lara masih berstatus pekerja lepas dengan masa training enam bulan.

Lara memasuki rumah kecil itu, Bergabung dengan tiga pekerja lainnya, Dan mereka akan tinggal bersama dirumah kecil ini.

dalam tempo tak terbatas.

Lara tinggal satu kamar dengan seorang wanita parobaya bernama Sari, Berasal dari kota yang dulunya bekerja sebagai seorang pekerja dipabrik rokok yang tidak jauh dari lokasi perkebunan ini.

Sari mempersilahkan Lara masuk dan menunjukkan tempat bagi lara.

Wanita pendiam ini lalu menuju dipannya dan merebahkan dirinya dan mulai berusaha beristirahat dengan tenang untuk menghadapi kerja yang telah menunggunya esok hari

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!