Minggu berlalu.
Hari berjalan kian cepat,Seolah ada yang dikejar dalam suatu pencarian, Apakah pencarian yang berbentuk realistis atau Abstrak. Seperti Zac terus mencari dalam diam, Meraba keberadaan Lara dengan insting yang kuat bagai antena Jangkrik yang dapat mendeteksi keberadaan sang betina penghuni hutan seberang sungai. Matanya selalu awas sa'at mengitari malam dan siang. Terlewati dengan suram.
Bagai Elang rimba yang menatap tajam sampai kepelepah kayu tua yang telah lapuk.
Beberapa temannya mulai bergerak kesetiap lorong kota yang gelap.
...****************...
Malam itu.
Ambarwati bertabur cahaya. Dengan gaun hitam penuh butiran batu nefrit mungil berkilauan ditempa kilatan freon dan cahaya blizt yang simpang siur mengarah kepadanya dan pria muda disampingnya yang terlihat kaku, Namun tak mengurangi pendar dalam dirinya.
Ambarwati hadir diarea luas ini untuk menggelar ceremony yang diselenggarakan oleh squadnya yang tergabung dan turut serta atas kesuksesan perjalanan launching kerjanya yang membuahkan harapan dan mimpinya selama ini.
Dengan bangganya Ambarwati menggandeng lengan putranya dengan lenggangan yang anggun bagai Idol Internasional Angelina Jolie. Dengan tubuh tinggi semampai melandai seumpama nyiur ditepian pantai sa'at angin berhembus melewati pesisir yang indah. Dan tentunya melalui perawatan panjang dan mahal. Dengan rambut tergelung rapi divariasikan dengan jepitan berlian mungil bertengger dibelakang kepalanya dengan helaian rambut yang menjuntai melewati leher jenjang dan putih laksana pualam murni membuat penampilannya kian mempesona.
Dengan tubuh dan wajah yang indah memukau banyak mata dibawah cahaya dan spirit sang teman yang menyambutnya dengan sapaan manis diluas tempat mewah dan Classy membuat senyumnya seakan tak pernah hilang dari Bibirnya yang dipoles lipglos mengkilat sewarna jingga.
Bersamaan dengan amal dan donasi yang akan disumbangkan kesuatu Yayasan Panti asuhan dan pengelolaan anak anak terlantar, Disambut dengan meriah dan saling berlomba dalam memberikan support dan dana yang membelalakkan mata Seolah menunjukkan kepada sesama rekan mereka siapa yang paling dermawan diantara mitra mereka,Yang keluar sebagai penderma terbanyak akan disegani oleh rekan lainnya sebagai orang yang berjiwa sosial tinggi dan pamor mereka akan semakin dipandang dengan level gengsi yang tertinggi. Mereka berkumpul di malam yang penuh warna dan sukacita, Ambarwati membawa turut serta sang putra Bungsu dan berlanjut bertemu disalah satu Hall terbuka dengan orang orang yang menyapa disepanjang barisan manusia yang dibawah ribuan bintang yang cerah diatas langit. Disamping sebuah gedung besar sebagai tempat pertemuan para kolega penting meliputi rekan yang berpatisipati dalam jaringan bisnisnya yang memandangnya Dengan tatapan memuja. Sementara sosok yang disisinya itu memiliki mata setajam elang gurun yang melayang anggun membidik mangsa.
Zachary!
Sang putra kesayangan yang berjalan dengan angun diatas kakinya yang proporsional diiringi langkah teratur. Memiliki paras rupawan bagai pahatan halus tangan Tuhan, Namun kesan dingin dan misterius mendominasi rautnya yang memandang sekelilingnya dengan tatapan Angkuh tanpa senyum. Dengan stelan Jas hitam kemeja putih dilengkapi sepatu hitam mengkilat yang menampilkan sisi dirinya yang lain.
Berbeda dengan Sang Ibundanya yang penuh senyum, Sesekali memandang putra bungsunya dengan Bangga. Ambarwati sangat puas melihat keelokan sang anak yang dapat membawakan diri hingga menyedot perhatian banyak orang.
Ditengah keramaian malam ini Ambar mencoba mengingat kembali napak tilas dirinya yang kala itu sedang mengidam, Mengandung Zac dengan keadaan sangat payah mulai dari kesehatan dan resesi ekonomi yang pelik.
Oh, Ambar tersenyum geli dan meringis. Sa'at memohon kepada sang suami Yakni Pak Hasril. Mencoba meminta Uang seratus ribu. Sebagai pembeli tiket nonton konser westlife! Boyband sono yang memiliki members yang bernama Mark. Dengan mengomel pria cerewet itu memberikan juga dengan diiringi cecaran pertanyaan bagai sebuah debat panjang diruang sidang.
Membuat Ambarwati merajuk dan tak mau menerima pemberian sang suami.
Sejak sa'at itu Ambar nekat mejadi wanita pencari uang sendiri. Dimulai dengan mengkreditkan barang dan keperluan sehari hari, Dengan modal seadanya, Berkat kegigihannya dan perjuangan yang melelahkan hingga beranjak menjadi besar. Dengan pengorbanan harus meninggalkan kedua putranya yang masih kecil bersama pengasuh.
Dan hingga sa'at ini telah menjangkau produksi barang mewah dan custumer terbanyak sebagian berasal dari konsumen "the Have".
Yang hari demi hari merangkak kian pesat.
Menjadikan Ibu Zac terbiasa pergi meninggalkan Zac dan Devon selalu merasa kesepian dan kehilangan sosok seorang Ibu.
Dan sedikit demi sedikit memberi dampak negatif pada anak bungsunya yang masih sangat kecil kala itu. Namun Devon yang mulai merasa memiliki tanggung jawab besar berperan sebagai anak sulung yang patuh dan penurut. Mengawasi sang adik yang menjadi temperamen keras dan dominan.
Meskipun demikian Ambarwati tetap puas dengan pencapaian kerjanya.Dia selalu memuji untuk dirinya yang dianggapnya telah berhasil.
perfect! Anaknya tumbuh dengan sangat baik juga memiliki kegantengan yang original. Muthlak tak bisa diganggu gugat.
semua menyapa mereka berdua ramah, penuh dengan senyuman
"Hai , Zus Ambar! Senang melihatmu disini dan menggandeng..." Seorang perempuan menyapa didepan Ambarwati Dengan kalimat menggantung, Menatap Zac yang tengah memandangnya, Dingin!
"Oh, Zus Amietha, Kenalkan ini putra bungsuku, Zachary!" Ambarwati memperkenalkan sang putra yang terkesan elegan dan santai dengan sapaan dan senyuman orang orang disekelilingnya.
Namun malah menciptakan daya tarik tersendiri, Begitu memikat bagai kabut yang tertutup misteri.
Seolah dia terlahir dari kelas yang berbeda dari anak sebayanya.
Seorang pemimpin, Pemikir,Kritis dan Dengan kemarahan yang membara.
Dia mendingin dan menghangat hampir dalam waktu bersamaan.
Sehingga sering menimbulkan persepsi yang salah bagi seorang penilai sifat dan karakter tersembunyi.
"Putramu ganteng sekali lho Zus Ambar! kita besanan yuk!" Katanya sambil tertawa renyah memperlihatkan giginya yang berlapis serbuk emas mengilau transparan dari barisan yang tersusun rapi.
wanita itu memakai terusan sutra lembut dan halus warna merah. Gaun yang ringan itu terlihat bagai terbang meninggi dengan liukan ringan dan pelan tatkala melintas didaerah berangin. Sesekali terangkat menyingkap memperlihatkan paha rampingnya yang mulus.
Mata Zac yang secara terang terangan melihat kearah belahan paha bagian atas dan beralih kedadanya yang berpotongan sangat rendah sehingga dua benda yang indah membulat itu seakan tumpah keluar.
Wanita cantik seusia Ibunya yang terlihat muda dengan kulit yang kencang mengkilat efek nyata botox dan colagen mahal itu menyulapnya menjadi boneka hidup terlihat berlebihan dimata Zac.
Tatapan mata anak muda itu bukan tatapan penuh nafsu syahwat yang lapar seperti terhadap keinginannya pada tubuh Lara. Melainkan terlihat bagai sebuah ejekan yang tak terlihat.
Seolah tertutup dengan senyuman misterius dengan garis bibir yang miring seakan mengejek.
Seolah senyum Zac berkata"Kau terlalu tua dengan style ini,"
Amietha, Teman Ibunya itu merasa sangat jengah sa'at melihat kevulgaran dan ejekan bahasa tubuh anak muda ini. Sedikit banyak membuatnya malu.
Dengan tergesa dia menunduk dan mohon izin kepada Ambarwati.
Ibu Ambarwati yang sebenarnya sedang bersemangat ingin pamer tentang putranya yang hebat original itu tampak agak kecewa sa'at Amietha undur dari hadapannya.
Ambar hanya mengangguk kecil merespon pamitan Amietha. Ametha Berlalu melewati para pengunjung yang seakan saling berlomba menarik perhatian dari seluruh manusia lainnya.
Yang tergabung dalam komunitas elit sosial mereka.
Malam semakin larut semua acara berakhir seperti biasa seperti acara acara yang lumrah terjadi dimuka bumi ini.
Penghargaan dan pujian semua berlalu tanpa kesan bagi Zachary. Dia merasa ada yang hilang dari sisi hatinya. Dan dia yakin pasti akan menemukan jawaban sang waktu yang akan membawa Lara kembali kedalam pelukannya.
...****************...
Disebuah kamar sempit dirumah petak yang berseprei putih lusuh.
Lara merebahkan dirinya.
Dan berusaha memicingkan matanya.
Dia benar- benar ingin berusaha membantu Aini sahabatnya.
Yang telah begitu banyak menolongnya.
Lara berjanji besok dia akan mencari pekerjaan apa saja yang menurutnya halal.
Dan tak ingin terulang kisah kelam yang terjadi selama tiga minggu yang lalu.
Membuatnya kehilangan harga dirinya yang terjaga selama ini dengan sekejap menghilang disebabkan oleh anak muda yang telah memporak porandakan hidupnya.
Dan selama 3 minggu dia mengurung diri didalam kamar kecil ini, Dan keluar kamar disa'at waktu makan.
Dan pintu yang selalu terkunci dari luar. Pada sa'at Aini bekerja.
Dan Samirah yang berulangkali mengetuk pintu pulang dengan nihil.
Pasrah terhadap keterangan Aini.
Kalau Lara telah kembali kekampung.
Samirah berharap Lara baik baik saja. Dengan kejadian yang menimpanya.
Bu Ratna bercerita kepada Samirah sambil menangis. Mereka tak berani melakukan apa apa pada Zachary.
Namun dirumah besar itu kembali ribut dan ramai dengan bentakan dan bantingan benda rumah dan kemarahan Zac yang tak terkendali. Membuat derita bagi penghuni rumah besar itu. Yang sebelumnya mulai tenang.
Sejak kedatangan Lara.
Namun setelah Lara pergi, Rumah itu berubah seseram rumah jagal.
Para pekerja lebih suka menjauh daripada mencari masalah.
Dan!
Mata Larapun terpejam menyambut mimpi Esok yang belum pasti.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments