Satu minggu telah berlalu.
Waktu masih tetap sama, Pucuk pucuk daun yang mengkilat itu tetap seperti itu, terkena embun sa'at dipagi hari dan terkena cahaya matahari pada sa'at siang sehingga semuanya berjalan sesuai ketentuan yang telah ditakdirkan oleh Sang Pengatur semesta.
Lara menarik beberapa tali untuk pengganti pegangan pada keranjang plastik yang putus. Yang sering digunakan sebagai wadah penampung buah yang dikumpulkan
dan dibawa kegudang penyimpanan sementara.
Lara menarik tali yang tersangkut sesuatu itu dengan kuat dan....
Breeet! Tali tersebut putus dan Lara terjerembab kebelakang.
Menghempas sesuatu yang keras dibelakangnya. Punggungnya terasa sakit sa'at terbentur Barisan karung berisi Biji Melinjo yang masih berbalut cangkang yang keras.
Tangannya menggores sisi pintu samping yang berbahan besi tebal yang tajam.
Lara meringis kesakitan melihat darah dari dilengannya yang tergerus, Rasanya pedih dan panas. Airmatanya menetes. Mengapa nasibnya sangat malang? Hidup miskin didesanya, Pergi menuju kota dilecehkan dan diperkosa berulang ulang kali. Dan sekarang Selalu dibenci dan difitnah oleh Ibu Mandornya sendiri, Bahkan sampai sampai seutas tali pun dapat melukai tangannya dengan berdarah! Apakah sebegitu lemahnya dirinya yang sering ditimpa kemalangan ini. Inikah potret ketidak berdayaannya sebagai perempuan hina yang kesucian dan harga dirinya telah terenggut dengan semena mena?
Lara menangis sesenggukan ditumpukan karung yang bersusun rapi itu. Dan Lara berharap karung itu jangan lagi menimpanya. Dan menambah daftar panjang kepedihannya dalam kemalangan yang terus merundungnya.
Karena dia masih mempunyai seorang Ibu yang sangat dirindukannya. Secercah harapan selalu ada dihatinya.
"Ada yang Bisa saya bantu Nona?" Sebuah suara dari arah pintu masuk mengagetkannya.
Lelaki kira kira berusia 35 tahun, Berbody tinggi dan berwajah manis.
Dengan stelan olah raga yang berwarna putih dengan variasi hijau itu sangat serasi dipagi yang mulai cerah ini. Pria itu terlihat gagah dan segar dengan senyum yang simpatik mendekat kearah Lara.
Dan dengan wajah cemas menatap kearah tangan Lara yang berdarah dan terpana tatkala melihat wajah gadis dengan wajah menangisnya yang tampak terluka.
Cantik jelita dan sendu.
Demikianlah pandangan dan kesan yang timbul didalam didalam pikiran lelaki dewasa itu sa'at melihat Lara.
"Tanganmu terluka," Katanya pelan. Lara hanya diam dan kembali menunduk dalam, Matanya berlinangan dengan air bening bagai butiran kaca yang pecah dalam partikel yang kecil dan membulat bergulir dari pipinya yang mulus.
"Engkau salah satu dari pekerja?" Tanyanya menilik pakaian Lara yang kali ini mengenakan terusan polos longgar berlengan pendek berwarna pink, dengan rambut panjang tebal lurus menghitam yang diikat satu dengan karet gelang warna merah muda. Penampilannya yang sangat sederhana terlihat alami dan natural itu sangat menarik hatinya.
Lara menatap pria depannya dengan hidungnya yang memerah Karena tangis.
"Iya Pak,"Jawabnya pelan hampir tak terdengar.
Laki laki itu mengulurkan tangannya disambut dengan ragu oleh Lara.
" Aswin Halim Winata,"Katanya singkat. Lara dengan cepat menghapus wajahnya dengan telapak tangannya kemudian mengangguk pelan. Dia tahu Pak Aswin adalah pemilik perkebunan yang sangat luas dan pengusaha produk makanan tradisional yang sangat dikenal banyak orang.
Lara baru bertemu kali ini dengan beliau.
Lara mengira Pak Aswin adalah pria yang sudah tua. Namun ternyata Beliau adalah pria kharismatik yang masih muda.
"Saya,Lara Senja! Salah satu buruh pemetik dan masih baru disini,Pak," Katanya lirih dengan menunduk menatap kakinya yang indah diatas sandal jepitnya yang berwarna putih.
Sementara Bos AHW ini terlihat memakai sepatu olahraga berwarna putih yang bagus.Seperti baru selesai berolah raga.
"Pergilah beristirahat dibilikmu, Kamu terlihat pucat dan kelelahan," Saran Pak Aswin penuh pengertian.
Lara menggeleng pelan Dia tak ingin dimarahi dan dibentak bentak sebagai pemalas oleh mandornya yang galak itu.
"Ma'af, Pak! Lara takut nanti dimarahi Bu Loudy,"Keluhnya dengan nada khawatir.
Lelaki itu tersenyum melihat ketakutan Lara. Dia tahu Mandornya yang bernama Loudy itu memang pantas ditakuti, Galak dan garang dalam membasmi kemalasan para pekerja yang bermain main.
Itu perintah darinya sendiri. Dan Loudy adalah seorang pegawai yang sangat patuh kepada perintahnya.
Aswin! Adalah tipe lelaki yang tenang namun menghanyutkan.
Ada banyak misteri yang tersimpan didalam setiap senyuman lembutnya.
Aswin yang sebenarnya adalah lelaki ambisius dalam pekerjaan dan profesinya dan seorang petualang cinta, Masih betah melajang Diusianya yang ke 36 Tahun.
Aswin menatap Lara dan berusaha mencairkan ketakutan Lara terhadap Mandor Loudy." Pergilah, Nanti akan saya sampaikan kepada Ibu Loudy,"Katanya lagi dengan lembut.
Melihat kedalam manik mata Lara yang bersinar sinar jernih, Seperti ada intan didalamnya.
Hampir semua bagian negara dibumi ini yang pernah dikunjunginya, Namun kali ini sa'at melihat wanita itu ketakutan dan terluka Aswin merasa tergerak untuk memberi perlindungan. Yang entah untuk kepentingan siapa. Dia tak mengerti yang jelas Aswin ingin gadis itu merasa nyaman.
Bukan hanya tentang kecantikan dan nafsunya sebagai lelaki normal yang menginginkan sesuatu yang didamba dari seseorang wanita. Namun ada sebuah benang merah yang mendorongnya agar membantu gadis yang kelihatannya sangat malang dan tertekan itu.
Aswin menatap punggung mungil gadis itu yang sedang berjalan menuju mess wanita yang berbatu batu diantara semen dilapangan luas sebagai tempat penjemuran dan transportasi alat dan bahan pembuatan produksi Empingnya yang tingkat penjualan berskala Nasional bahkan ke Beberapa negara tetangga yang membuka restoran dengan label makanan tradisional/modern yang dengan sajian khas Indonesia.
Aswin adalah cerminan jiwa yang terlihat tenang dan penuh perhitungan dalam setiap mengambil keputusan didalam hidupnya.Dan kini dia mulainberpikir tentang suatu rencana yang akan disusunnya dihari depan. Namun semua tentang Aswun adalah misteri. Dibalik prilakunya yang sopan ada sesuatu jal yang mengerikan dan tak diketahui oleh orang orang.
Jalannya yang santai dan senyum manis yang memikat. Ada kilatan aneh dimanik mata coklatnya.Ponselnya berdering nyaring
dia mengambil Ponsel disakunya dan diam mendengarkan percakapan dari seberang.
"iya, Pantau terus dan buat dia menderita secepatnya," Tukasnya singkat sambil menutup telpon dengan wajah dingin dan kejam.
Pria pemilik beberapa perkebunan yang sangat luas itu melangkah pelan menyusuri jalan disamping gudang dan menuju kesebuah ruangan belakang gudang yang mirip ruang kuno dengan lemari kayu kuno yang menghitam dihiasi kaca tua. dengan cermin yang sudah gila.
Aswin berdiri didepan cermin yang memantulkan bayangan wajah bulat seperti labu, dengan mata persegi.
mulutnya berlekuk membentuk angka delapan dengan Kedua tangan melengkung bengkok.
Aswin tertawa geli melihat bayangannya sendiri dipantulan cermin tua itu.
"Hidup ini seperti cermin tua, Kadang pantulan yang jelek itu tidak seperti terdapat pada aslinya, Dan sebaliknya penampilan baik itu tak tercermin pada sifat yang sebenarnya
Dan itulah yang terjadi pada dirinya.
Dia membalut semua kejahatan dan rasa dendamnya dengan kebaikan dan senyum manis yang mengandung racun mematikan.
" Terutama kau! Zachary Hasril! Kau akan menderita dibalik sifat sombongmu.Akan kupastikan kau tak ingin hidup lagi setelah apa yang kulakukan kali ini,"Katanya dengan mendesis geram.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments